Tuesday, 22 October 2013

Berkeliling Kabupaten Wonogiri berminggu-minggu adalah pengalaman yang berharga sekaligus melelahkan. Wono (hutan), giri (gunung), begitu asal mula nama Wonogiri. Panasnya udara di daerah ini minta ampun! Mungkin karena dimana-mana bukit berbatu. Ada waktu break satu hari selama berkeliling di daerah ini (narasumber liputan terkadang juga punya kesibukan mendadak, sehingga waktu terkadang missed karena kami meliput hampir 17 lokasi suting!). Namun dalam kondisi geografis yang menurut saya kurang bersahabat ini, masyarakat Wonogiri begitu terbuka menerima kami liputan. Ramah, gembira dan nothing to lose bersama-sama repot menyukseskan tugas kami di sini. Mereka juga sangat giat dan tekun dalam bekerja dan apapun itu kegiatan lainnya. Alam yang keras rupanya membentuk masyarakat di sini untuk banyak bersyukur dan terbuka apa adanya. Kesederhanaan yang bersahaja terpancar kuat dalam keseharian mereka. Kembali ke waktu break tadi, mumpung lagi senggang saya langsung tancap gas menuju ke pesisir selatan-nya. Perjalanan yang lumayan panjang, dua jam dari pusat kota, jalanan sempit bergelombang. Pemandangan kiri kanan selama perjalanan identik sekali dengan Wonogiri; panas, bukit-bukit batu, tanah yang kering, dan tanaman meranggas. Banyak teluk kecil dengan pasir putih di kawasan Pantai Nampu ini. Saya langsung jatuh cinta melihat keindahan pantai yang tidak begitu terkenal ini. Pantai Nampu, sama seperti semua pesisir selatan di Wonogiri juga cukup sepi dari kebisingan wisatawan. Tinggal jalan beberapa meter dari parkiran, sudah terhampar pantai alami yang bersih, sepi dan indah. Kalaupun kita bertemu orang, itu adalah warga desa terdekat yang sedang mencari rumput laut saat air laut bergerak surut. Sayangnya saya datang ketika ombak dari Samudera Hindia cukup tinggi dengan angin yang lumayan, 20an knot. Dengan piranti surfcasting 50an lbs yang saya bawa agak sulit melemparkan umpan jauh ke tengah melintasi drop off di tepian, padahal panjang rod saya sudah 3,05 meter. Kondisi pantainya banyak reef dangkal sekitar lima puluhan meter yang menjorok ke arah laut, sehingga kalau melempar pada kondisi angin, cenderung jatuh masih di dalam areal reef atau justru di 'bibir' drop off. Umpan otomatis banyak putus karena tersangkut tonjolan batu. Hanya popper dan pencil yang selamat dari eksplorasi di Pantai Nampu ini, umpan lainnya putus. Saya terpaksa, dengan resiko kehilangan banyak umpan, menggunakan minnow shallow water dengan berat 25 gram-an, karena ingin tahu kondisi tepian di Pantai Nampu ini. Kalau tidak dicoba bagaimana kita bisa mengetahui kondisi lokasi yang baru seperti ini? Apapun itu, saya masih bersyukur bisa 'menyentuh' alam meski hanya sesaat dengan segala keterbatasan waktu dan lain sebagainya. Deo Gratias!






* Pictures by me. My picture drink water by Apriadi Kurniawan. No watermark in the pictures, but please don’t use or reproduce, (especially for commercial purposes) without my permission. Please don’t only make money from my pics without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers