Monday, 9 December 2013


Terkadang saya masih terpana dengan 'laku' alam liar. Pada bulan Juli 2013, bersama Tim Mancing Mania dan Jejak Petualang Survival Trans|7, saya sendiri sebenarnya kru 'cabutan' karena sudah bertugas di program lain (Jejak Si Gundul) kami mengadakan ekspedisi besar ke pedalaman Sungai Wapoga, Papua, sebuah sungai besar yang bermuara di Teluk Cendrawasih. Lokasinya kira-kira sekitar sembilan jam jika ditempuh dari Pulau Serui dengan speedboat 80 PK, atau sekitar lima jam jika diakses dari Nabire. Kami sendiri waktu itu mengaksesnya melalui Biak, Biak - Serui kami tempuh menggunakan 'capung'-nya Ibu Susi (Susi Air). Bulan Juli seharusnya cuaca sangat bersahabat untuk melakukan freshwater wild fishing di kawasan ini. Namun apa daya selama sepuluh hari kami ‘menggempur’ hulu Sungai Wapoga, hasilnya sangat mengecewakan. Jangankan monster black bass yang kami cari-cari, kami malah harus ‘mengais-ais’ gambar demi mendapatkan tiga buah episode mancing dan survival yang kami rencanakan sejak di Jakarta.

Lokasi yang kami datangi konon sebelumnya telah disurvai oleh tim pemancing Biak dengan hasil yang sangat luar biasa, saya melihat sendiri foto-foto dan videonya di sebuah akun Facebook pemancing Biak dan seorang pemancing bule berkebangsaan Perancis, namun ternyata saat kami datang rupanya Tuhan memiliki kehendak lain. Sebelum kami tiba, rupanya telah turun hujan selama beberapa hari, praktis ketika kami masuk wilayah Wapoga sungai utama banjir besar dan meluap kemana-mana, termasuk ke hot spot yang sebenarnya berada di aliran anak sungainya. Belum ditambah dengan sedikit gangguan dari orang-orang yang merasa berhak mengambil paksa separo bahan bakar perahu-perahu kami (orang suku entah dari mana datangnya), karena mereka merasa memiliki wilayah dimana kami membangun camp (padahal ya camp kami di hutan yang tak satu setan pun pernah bermalam). Belum lagi ‘gempuran’ hebat dari nyamuk, lintah dan teror dari ular dan buaya-buaya Papua jangan ditanya. Kesemuanya itu hanyalah ‘warna’ khas ekspedisi di pedalaman liar ini. Mungkin ini adalah ujian, agar kami tertantang untuk kembali lagi ke Sungai Wapoga atau memang kami sedang tidak beruntung saja.  Entahlah!


Namun yang pasti, saya merasa begitu bersemangat selama menjalani ekspedisi 'liar' ini. Mungkin karena tim ekspedisinya juga luar biasa. Bukan hanya tim inti yang dari Jakarta, tetapi juga rekan-rekan dari Biak, dan terutama tim asli Papua yang menemani kami dan mengurus banyak hal berkaitan hidup dan berpetualang di alam liar. Masih terasa kuat kesan saya pada kebersamaan, perjuangan, semangat, dan juga hasrat pantang menyerah yang ditunjukkan seluruh anggota tim, apapun itu halangannya. Mengangkat perahu ber ton-ton menembus hutan besar, mengusir buaya dari jalur penyusuran, menembus badai halilintar di Danau Hitam, dan lain sebagainya. I SALUTE YOU ALL!!! Terlalu panjang jika semua kisah di alam liar Papua saya tuliskan, semoga beberapa foto yang saya pasang di sini dapat sedikit memberi gambaran tentang ekspedisi Sungai Wapoga yang kami lakukan. Salam wild fishing!































































* Pictures taken by various person, most by me. No watermark in the pictures, but please don’t use or reproduce, (especially for commercial purposes) without my permission. Please don’t only make money from my pics without respect!!!

5 comments:

lilik gus ananta said...

Tetep keren kok om... Hehehe...

Michael Risdianto said...

Suwun brooo

teddy nugroho pamungkas said...

unlucky day with weather cause..
hope someday we can go there again..
wild wapoga

yasin usman said...

Mantap mas Bro. Amazing.

Lee Zam said...

Salam mas dari Brunei Darussalam. Kalau mas tidak keberatan minta bantuan dari mas bagaimana mahu pergi mancing Black Bass yang ada di Papua yang spot nya mas tahu. Keinginan mahu pergi sana mas.

Popular Posts

Google+ Followers