Saturday, 1 February 2014



Untuk Amak dan keluarga di pesisir selatan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Terimakasih.

Ada masa, saya bertanya-tanya apakah saya masih bisa memancing? Sementara pekerjaan saya begitu padat dan seringnya hanya berada di sekitar dan mengacak-acak dapur saja? Bukan dapur sendiri pula, melainkan seluruh dapur di berbagai penjuru Indonesia yang merupakan tempat produksi olahan-olahan unik/khas daerah bersangkutan. Kegelisahan saya tidak terbukti, setidaknya setelah melewati beberapa bulan hanya berkawan dengan asap saja setiap hari. Ada masa memang, dimana sehari tidak memancing membuat pikiran berantakan. Kuncinya adalah “nerimo”. Semua harus dikembalikan ke tempatnya masing-masing, barulah kita dapat belajar dan mewujudkan semua hal dalam harmoni. Jika memang saatnya bekerja, bekerjalah sebaik mungkin, sekeras mungkin. Beri arti pada kepercayaan yang diberikan, beri orang-orang yang percaya kepada kita bahwa “Ya, kita pantas dipercaya” berkaitan dengan pekerjaan yang kita emban. Jadilah inspirasi orang-orang di sekitar, jadilah panutan sebisa mungkin. Jadilah rekan kerja yang bisa menjadi bagian tim dengan baik. Beri kontribusi. Jangan jadi “benalu” atas apapun namanya itu.


Tuhan saja konon libur saat menciptakan dunia. Jadi omong kosong jika ada manusia yang hanya (atau dipaksa) bekerja terus setiap waktu. Seberat apapun, sepadat apapun waktu kita mencari hidup, pasti ada saatnya jeda sejenak. Itu yang harus kita nikmati sebaik mungkin. Jika waktu luang bagi kita berarti adalah keluarga, luangkanlah waktu itu sebaik mungkin bersama mereka. Jika waktu luang bagi kita adalah teman-teman, bermainlah bersama mereka. Jika waktu luang adalah pacar, jangan kecewakan mereka yang telah merindukan anda. Jika waktu luang adalah waktu untuk mencari tambahan rezeki, semangatlah. Jika waktu luang adalah memancing, jadilah pemancing yang baik. Jangan bilang ke orang terdekat pergi memancing, tetapi “nyangkut”-nya di tempat lain.

Waktu luang bagi saya adalah melewatkan waktu bersama orang tercinta, dan atau memancing. Terkadang semuanya bisa terjadi bersamaan, namun seringnya silih berganti. Jika bulan ini saya memancing, berarti waktu luang bulan depan berarti menemani orang tercinta, atau sebaliknya. Saya bersyukur, bahwa meski saya tidak bisa melakukan trip memancing ke lokasi-lokasi yang dahsyat seperti di televisi, saya masih diberi banyak kesempatan untuk bertatap muka dengan ikan-ikan GT besar yang saya harapkan. Terkadang sebulan sekali bisa memancing ikan GT dengan teknik popping yang saya sukai. Terkadang belum tentu tiga bulan sekali bisa melemparkan popper menggoda predator karang yang merupakan keluarga ikan Carangidae tersebut. Saya hanya yakin, ikan-ikan GT tersebut akan menunggu saya, jadi saya tidak pernah khawatir kapan saya bisa memancing mereka. Hehehe.



Suatu hari yang panas di bulan Januari, hari yang aneh karena Januari harusnya Januari cenderung hujan, saya telah berada di sebuah gubuk kecil milik seorang nelayan di daerah pesisir Selatan Pulau Lombok. Nelayan yang tidak saya kenal sama sekali, karena saya hanya mengandalkan insting saja. Saya dan driver memilih gubuk tersebut karena letaknya terisolasi dari keramaian dan jauh dari perkampungan utama, dan juga memiliki halaman luas untuk parkir (baca: pantai). Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Waktu yang sangat aneh untuk memulai sebuah trip memancing. Karena seharusnya (dan biasanya) saya sudah berada di laut pada pukul enam pagi, yang artinya perahu atau kapal yang saya sewa sudah berangkat sejak pukul lima pagi hari. Saya berbicara ke anak yang ada di gubuk tersebut, dimana ayahmu. Dia menjawab sambil menunjuk, itu di laut. Saya melihat di tengah teluk sebuah sampan kecil sedang entah apa. Kalau bisa ditelpon, tolong bilang ayahmu, ada menteri datang, suruh menepi. Anak kecil tersebut menelpon ayahnya dan berbicara dalam bahasa Sasak, saya tidak tahu artinya. Yang pasti setengah jam kemudian ayahnya sudah memamerkan gigi ompongnya kepada saya di baruga pinggir pantai miliknya. Baruga yang juga sangat ala kadarnya. Saya bilang ke ayahnya, menteri sudah pulang duluan karena kelamaan, oleh karenanya saya saja yang tinggal menanti bapak. Di tertawa. Pagi hari di daerah Pao tersebut memang ada menteri berkunjung, saya mendengar dari rekan jurnalis lokal Lombok. Tidak ada hubungannya dengan saya, saya hanya bercanda dengan nelayan yang ingin saya temui tersebut.

Sebelumnya driver yang menemani saya menyarankan bertanya ke resort-resort yang memiliki kapal mancing bagus. Kapten atau abk mereka pasti tahu lokasi-lokasi popping. Saya jawab, tidak. Kapal-kapal mancing bagus di resort-resort mewah tersebut bukan untuk saya yang “kere” kata saya. Untuk orang-orang kaya dan bule-bule yang membawa segunung uang. Selain itu, mereka saya yakin tidak tahu lokasi ikan besar, sehebat nelayan setempat yang merupakan penduduk asli daerah ini. Memang nelayan yang kami temui hanya memiliki sampan kecil kapasitas dua orang, tetapi mereka mengetahui lokasi ikan-ikan besar, baik di pinggir atau di tengah lautan sana. Masalah kapal, kita bisa meminta bantuan mereka mengusahakannya, mereka khan orang asli sini, hubungannya pasti luas. Kuncinya cuma satu kata saya, mari kita bertanya mereka dan dengarkan mereka berbicara. Jika kita tidak diterima, boleh kita cari tempat lain lagi. Meski saya meragukan kita akan ditolak oleh orang-orang “kampung” bersahaja seperti nelayan tersebut.

Kami pun mengawali pembicaraan kami dengan apa kabar. Adakah hasil tangkapan hari ini bagus dan lain sebagainya. Jawaban nelayan yang dipanggil Amak ini pun langsung ramai bergemuruh seperti “tsunami”. Musim ikan sedang berlangsung memang, tetapi karena angin Baratan sedang meledak, dia tidak bisa melaut terlalu ke tengah dengan sampan kecilnya yang besarnya hanya seukuran pohon pisang tersebut. Hanya ikan-ikan kecil yang dia dapatkan, cukup untuk hari ini. Saya melihat di samping baruga anaknya membawa ikan trevally ukuran satu kiloan satu, dan ikan bandeng laki dua ekor. Total kira-kira tiga kilogram saja. Taruhlah harganya jika dijual per kilogram 10 ribu, berarti pendapatan hari ini Amak hanya tiga puluh ribu rupiah saja. Sedang asyik kami berbicara, istri Amak sudah menyajikan kopi. Inilah yang selalu luar biasa saat bersama orang-orang biasa seperti mereka, ramah dan tidak dibuat-buat. Bandingkan jika kita menggali informasi ke orang-orang, atau pihak-pihak yang merasa diri sebagai bagian dari “the have”. Bisa-bisa kita ditanya untuk apa bertanya-tanya, ada maksud apa, ada kepentingan apa, dan lain sebagainya yang malah membuat kita tersinggung karena merasa direndahkan dan tidak diterima. Saya berterimakasih ke istri Amak, dan menyeruput kopi hitam panas yang begitu nikmat.

Setelah saya tunjukkan foto-foto di ponsel saya, akhirnya Amak setuju mengantarkan mancing. Tetapi karena dia tidak memiliki kapal besar, dia harus meminta kenalannya yang punya kapal besar yang mengantar. Amak hanya akan menemani dan menunjukkan lokasi-lokasinya saja. Deal kata saya! Dia tidak menyebut tarif apapun, hanya untuk kapal dia menyebutkan ongkos sewanya. Dan ongkos itu memang ongkos real yang dikenakan pemilik kapal ke siapapun yang menyewa kapalnya. Artinya, Amak rela mengantar saya tanpa meminta imbalan apapun. Hanya karena ingin mengantarkan saja karena saya adalah tamunya hari itu yang rela datang mewakili menteri hari itu, datang ke gubuknya di Pao. Dia mengatakan ini dengan becanda, karena dia juga tahu saya bukan bagian dari rombongan menteri yang datang berkunjung hari itu ke Pao entah untuk apa. Hanya untuk meyakinkan dirinya, saya pegang pundak Amak, tenang Amak, semua saya urus, termasuk Amak hari ini saya urus. Cukup antar saya ke lokasi ikan besar yang mungkin Amak tahu. Dia tertawa dan menjawab, kenapa baru datang siang begini kalau mau memancing?! Saya banyak pekerjaan Amak, baru bisa berangkat dari Mataram tadi pukul sebelas siang jawab saya.

Singkat cerita, pukul tiga sore, kapal kami sudah berada di sebuah tanjung yang bergelora karena pertemuan arus dan ombak yang cukup besar. Melihat lokasi baru yang berarus besar, membuat saya bersemangat. Setiap memancing saya selalu berkata dalam hati, memancing bukan untuk mencari ikan. Apapun hasilnya, kita harus bersyukur karena “masih untung kita bisa pergi memancing”. Saya memasang popper Batanta pink 100 gram yang saya bawa. Ini adalah jenis popper paling klasik buatan saya tahun 2011 yang sekarang dipasarkan oleh Batanta Popper. Rod kebetulan saya sedang ingin memakai rod triple XH dari sebuah merk rod terkenal Jepang. Reel kebetulan yang saya punya hanya reel biasa-biasa saja, keluaran Amerika. Yang jelas di reel sudah terpasang tali PE 6 dan juga leader 130 lbs. Lebih dari cukup untuk popping di lokasi yang belum saya kenal karakternya, paling-paling kalau disambar “kapal selam” tinggal terima nasib.

Popper saya lemparkan sejauh mungkin mendekati posisi drop off, tepat di kepala arus. Dua sentakan dan langsung “BOOOOM!”. Reel saya menjerit keras dan joran triple HX saya melengkung. Di haluan kapal saya pun gedubrakan sendirian. Lebih tepatnya menderita sendirian untuk waktu setengah jam ke depan. Driver saya mabuk laut saat berada di kapal, praktis tidak bisa membantu saya. Memotret saya pun setelah saya teriaki berkali-kali, bukan karena saya marah ataupun keras ke dia, tetapi karena saya ingin difoto saja saat sedang fight dengan ikan. Amak di belakang menemani kapten mengarahkan kapal agar bergerak ke lokasi yang tidak berombak besar. Praktis saya menderita sendirian. Memakai joran triple XH seharusnya lebih mudah menaikkan ikan, apalagi jika ukuran ikan juga tidak monster. Namun jika arah lari ikan dan arah pergerakan kapal tidak sesuai, hasilnya sakit pinggang saya semakin menjadi. Namun saya pantang menyerah, justru inilah yang dicari, strike ikan besar. Jadi meski pinggang sakit luar biasa, juga dengkul agak gemeteran karena tenaga terkuras akibat lamanya fight, saya terus meladeni ikan hingga berhasil di naikkan. Konsentrasi saya terpecah karena harus mengarahkan kapal, meneriaki driver saya untuk memotret, dan juga memandu Amak membantu saya menaikkan ikan. Belum ditambah dengan ombak besar akibat pertemuan arus, saya harus tetap berkonsentrasi menjaga keseimbangan. Saya seharusnya tidak terlalu repot menaikkan ikan GT dengan teknik popping, namun bersama kapten yang tidak pernah popping, bersama Amak yang juga tidak pernah popping, dan bersama driver yang mabuk laut, ceritanya menjadi lain. Untungya ikan berhasil landed setengah jam kemudian. Lumayan, good size GT meskipun bukan monster. Saya mengucapkan terimakasih ke Amak, ke driver saya dan juga ke kapten kapal. Saya tidak bermaksud membanggakan hasil popping sekali lempar ini, namun saya memang gembira, pemancing biasa saja seperti saya ini pantas bergembira. Karena masih bisa strike meski dengan segala keterbatasan yang saya punya baik waktu, dana, dan lokasi. Beberapa lemparan berikutnya, saya berhasil mendapatkan ikan bluefin trevally kecil yang nekat menyambar popper 100 gram yang saya pakai. Ikan yang sangat cantik di senja yang telah mengintip.


Mungkin jika di total sejak perjalanan berangkat, hari itu saya ada dua setengah jam berada di laut. Efektif melemparkan popper sekitar satu jam. Lumayan, untuk hasil mancing ala kadarnya di spot dekat kampung pula. Pukul setengah enam sore kami sudah berada di gubuk Amak lagi. Di baruga saya melihat ikan bakar sudah tersaji, berikut sambal, nasi dan sayur bening khas Lombok. Siapa menyangka? Keluarga kecil yang hidup sangat sederhana ini akan menjamu saya seperti ini? Tetapi inilah berkat. Siapapun bisa memberi berkat ke orang lain, meski dalam kondisi yang sangat terbatas dengan segala keberadaannya. Saya mengucapkan terimakasih kepada mereka atas sambutan luar biasa tersebut. Apalagi yang bisa saya berikan? Sesaat sebelum pulang kembali ke Mataram, saya menyalami Amak dengan beberapa lembar lima puluhan ribu. Cukup untuk menyokong hidup keluarganya selama seminggu kemudian. Semoga Tuhan selalu memberi kesehatan dan hasil ikan yang cukup untuk Amak menghidupi keluarganya. Amin.

* Pictures taken by M Nasir. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

3 comments:

Hussain Halim said...

Suka membaca karangan tuan ....
Mungkin bisa memancing bersama dilain masa.

Michael Risdianto said...

Abang tinggal dimana kah? Kita orang pemancing biasa bang... Jika ada kesempatan boleh kita pergi bersama...

lilik gus ananta ananta said...

�� ini cerita yg aku tunggu2. Walaupun hanya dapet ceritanya saja, tapi setidaknya saya bisa tahu dunia luar sana. Dan yang paling penting adalah inti dari cerita bloger ini. Inspiratif bagi saya om Mich... Hehehee... Dengan segala keterbatasan saya. Terimakasih. Salam sukses om Mich... ����

Popular Posts

Google+ Followers