Thursday, 17 April 2014

Sudah sepuluh hari saya berkeliling Kalimantan Tengah; Katingan, Palangkaraya, Sebangau, Pulang Pisau dan Kuala Kapuas. Ada rindu mancing. Ketika membuka album-album foto mancing rupanya ada yang belum sempat saya upload ke blog iseng ini, dari hasil trip kasting di Korowelang Kendal, Jawa Tengah akhir bulan lalu. Sebelum lupa, saya mengucapkan terimakasih kepada dua sahabat mancing saya di Semarang, Tommy Parto & Mr. Polo atas persahabatannya yang luar biasa selama ini, pada trip kemarin kapal mereka pun rela 'diserahkan' selama tiga hari kepada saya. Soalnya orangnya malah 'kabur' mancing tuna ke rumpun di selatan Yogyakarta pada saat bersamaan. Hehehe.


Kasting ikan talang-talang di Indonesia kini begitu meriah. Di Karang Korowelang yang dahulu sunyi dari pemancing kasting kini hampir tiap hari ramai dengan lemparan spoon, pencil, dan minnow. Apalagi kalau weekend, spot Korowelang sudah seperti pasar dadakan. Tommy Parto harus disebut untuk areal ini karena dia yang mempopulerkan kasting talang-talang di Korowelang. Keramaian di spot mancing ada plus minusnya. Jelas kompetisi mendapatkan ikan target menjadi lebih ketat. Populasi ikan juga sedikit banyak akan terpengaruh akibat padatnya trip. Saya lebih menyukai sisi positif ramainya sebuah spot mancing. Ada suasana 'silaturahmi' pada kondisi spot seperti itu. Kawan yang biasanya kenal di sosial media saja bisa tiba-tiba papasan sedang uncal (melempar umpan) di kapal sebelah. Kawan yang diam-diam katanya tidak mancing bisa kepergok narik ikan di kapal lain. Dan lain sebagainya. Yang pasti, ramainya trip mancing membuat dapur para pemilik kapal mancing menjadi berasap lebih tebal. Hobi kita bukan hanya menjadi kesenangan pribadi saja, tetapi menjelma menjadi berkah untuk banyak orang lain.

Jika ditarik jauh ke belakang (setahu saya), di Indonesia ikan talang-talang mulai populer dipancing dengan teknik kasting oleh rekan-rekan pemancing di Tegal, Jawa Tengah. Ini jika saya mengamati komunitas mancing dan sosial media-nya para pemancing sejak tahun 2007. Mereka mengawali trend ini di spot Karang Jeruk, sebuah reef dangkal di Utara kota Tegal. Awalnya hanya sekelompok pemancing dari kalangan muda saja yang sibuk kasting di spot tersebut. Kini di Karang jeruk sampai harus dibuat jadwal dalam satu minggu siapa yang harus turun kasting. Maklum kapal mancing di Tegal sangat terbatas, sehingga demi keadilan, agar semua bisa turun kasting, harus dibuat jadwal. Kita sebagai pengunjung misalnya, harus minta atau bertanya ke 'pemilik' kapal di hari tersebut jika ingin turun kasting. Tetapi tenang saja, rekan-rekan pemancing di Tegal begitu welcome dengan kedatangan rekan pemancing dari seluruh dunia. Tamu biasanya diutamakan, toh mereka sehari-hari ibaratnya ngopi di sebelah lokasi. Jadi mereka tidak perlu khawatir kapan pun sebenarnya bisa turun kasting. Yang pasti berkat mereka, kini talang-talang telah menjadi spesies target kasting yang populer di berbagai fishing ground di seluruh negeri.



Ada pertanyaan dari beberapa rekan pemancing di Indonesia kepada saya melalui email dan juga saluran komunikasi lainnya. Bagaimana sebenarnya kasting talang-talang tersebut dilakukan. Saya mohon maaf menjawabnya, meski secara ilmu memancing sebenarnya saya juga masih belajar. Ini dari pengalaman saya selama ini, jadi saya yakin masih ada banyak jawaban lain yang dapat melengkapinya. Lure yang dapat digunakan untuk kasting talang-talang dari pengalaman saya selama ini antara lain popper, pencil, minnow, spoon, dan micro jig. Beratnya tinggal disesuaikan dengan kelas tackle kita. Tetapi jika mengingat bahwa tackle kita untuk kasting ini antara PE 1 & PE 2, sekitar 8-25 lbs, maka baiknya lure yang digunakan antara 10-24 gram. Sebenarnya masih bisa lebih rendah atau tinggi lagi, tergantung kelas tackle yang kita gunakan.

Teknik kasting yang paling efektif sebenarnya dapat disesuaikan dengan karakter ikan di lokasi. Slow retrieve bisa dilakukan. Begitu juga fast retrieve. Bisa slow twitching, begitu juga fast twitching. Intinya kita harus bisa fleksibel dengan irama atau tempo kita dalam memainkan umpan. Jangan ragu mencoba irama dan tempo baru, begitu juga dalam mengganti umpan jika dirasa rate strike dari salah satu umpan dipandang rendah. Pada awal kasting kita bisa saja frustasi karena ikan target tidak kunjung juga menyambar umpan. Tetapi itulah tantangannya, mencari irama atau tempo yang paling cocok dengan habit ikan target saat itu memang tidak mudah. Kita tidak boleh putus asa. Banyak pemancing yang drop di awal-awal kasting, lalu kemudian beralih ke teknik mancing lain karena tergoda dengan hasil ikan kapal sebelah misalnya, yang rupanya dipancing dengan teknik koncer atau bottom misalnya. Saya tidak bermaksud membuat pertentangan teknik mancing, karena semuanya baik bagi 'penganutnya. Akan tetapi menurut saya, kasting memang memerlukan mental sportfishing yang cukup tinggi. Tetapi percayalah, sensasi strike talang-talang dengan teknik kasting itu luar biasa!


Kembali ke penggunaan minnow untuk umpan kasting talang-talang. Kita harus melihat dahulu lokasi kita 'bermain'. Jika reef memiliki kedalaman maksimal 5 meter, baiknya gunakan minnow jenis shallow saja, biasanya lidahnya (bib-nya) kecil. Panjang lure baiknya dalam range 9-12 cm saja. Ini supaya kita enak melempar dan juga ringan dalam memainkannya. Gerakan umpan dengan size yang tepat biasanya sangat atraktif, dan gerakan atraktif sangat disukai oleh ikan target yang sehari-hari biasa berkompetisi mengejar ikan umpan. Kita harus ingat, ikan talang-talang adalah ikan pelagis (permukaan) yang terbiasa berenang cepat mengejar ikan umpan (bait fish). Lure sekarang selalu mencantumkan kedalaman selamnya berikut spesifikasi lainnya. Di reef dangkal, bisa kita gunakan lure yang menyelam antara satu hingga dua meter. Lure floating maupun sinking sama-sama bisa digunakan. Floating lebih make sense menurut saya di reef dangkal, supaya ketika ada sesuatu yang membuat kita terpaksa menahan retrieve setelah dilempar (tali kusut misalnya), tidak ada resiko lure tersangkut di karang akibat terus tenggelam. Putus karena line break masih terasa enak di hati dibandingkan terpaksa memutus tali karena lure kita memilih 'pegangan' karang. Betul?

Sedangkan untuk reef dengan kedalaman 5-10 meter, sebaiknya menggunakan minnow jenis deep diving. Ada yang menyelam 3 meter dan bahkan hingga 5 meter. Banyak merk yang beredar di pasaran, saya sendiri tidak fanatik dengan merk, jadi saya tidak bisa rekomendasikan apa-apa. Saya memilih spesifikasi umpan yang tepat dibandingkan merk. Meskipun berdasarkan pengalaman saya, memang ada merk tertentu yang dapat dikatakan 'killer'. Akan tetapi mungkin predikat 'killer' ini relatif. Karena bisa jadi karena hanya lure merk itu yang ada di pasaran kita, jadi kita tidak ada pembanding lain. Karena seperti kita tahu, pasar lure di negeri kita ini entah kenapa hanya didominasi merk tertentu saja. Jadi sebaiknya jangan berpatokan pada merk, tetapi lebih pada spesifikasi lure yang tepat.

Untuk lokasi reef antara 5-10 meter, minnow jenis sinking mungkin yang paling efektif. Karena lure jenis ini akan cepat menyelam, menjangkau kedalaman yang diperlukan dimana ikan target banyak 'lalu-lalang'. Sebenarnya lure bisa saja langsung ditarik atau diretrieve sesaat setelah jatuh ke air, tetapi bisa juga dibiarkan dahulu agar menyelam beberapa meter, baru kita retrieve ataupun kita twitching. Semua kembali ke karakter ikan di lokasi. Ada saat makan saat kita hanya retrieve saja (baik cepat ataupun lambat), ada saat cara twitching yang lebih efektif.

Terakhir sebelum saya lupa, setelan drag reel kita. Ikan talang-talang memiliki mulut dan juga daging yang tergolong rentan robek. Ini khas karakter ikan jenis pelagis seperti tuna dan tenggiri misalnya. Setelan drag sebaiknya hanya setengah saja dari drag maksimum yang ada pada reel tersebut. Atau jika terpaksa, 75 % dari maksimum drag yang dimiliki. Saya tidak punya drag scale, biasanya saya akan menyetel pada posisi, tali sedikit keluar saat kita melakukan twitching. Mungkin ini terkesan aneh. Satu hal yang pasti, mulut ikan talang-talang mudah sobek jika kita paksa terlalu kuat, bahkan terkadang saat pertama hooking bisa langsung sobek jika drag kita terlalu berat. Ditambah dengan karakter ikan yang meloncat ke udara saat fight, dan bukannya mencari persembunyian di antara karang, drag ringan menurut saya paling tepat.


Kemudian terakhir tentang warna minnow yang kita pakai. Kita tinggal menyesuaikan dengan jenis bait fish yang banyak terdapat di lokasi mancing kita. Ambil contoh lokasi-lokasi kasting di pesisir utara Pulau Jawa, yang rata-rata bait fish nya adalah ikan teri dengan warna silver transparan. Praktis minnow yang paling efektif digunakan yang warna putih, silver dan transparan. Sampai-sampai banyak pemancing membuang warna asli umpan dengan cara dikerok catnya, agar menyerupai warna ikan umpan yang banyak terdapat di lokasi. Hingga kemudian muncullah istilah "minnow masuk angin" yang dipopulerkan rekan-rekan pemancing kasting di Tegal, Jawa Tengah. Di lokasi lain di daerah Anda mungkin saja tidak perlu demikian. Anda sendiri yang paling paham.

Kiranya demikian, semoga kedangkalan pembahasan saya ini dapat menjadi panduan awal kasting ikan talang-talang (queenfish) di fishing ground Anda masing-masing. Semua pembahasan sederhana kasting talang-talang ini hanya mungkin, setelah sejak 2007 saya sering diajak kasting oleh rekan-rekan pemancing Tegal di Karang Jeruk. Dan juga mulai 2013 dikenalkan oleh rekan-rekan di Semarang dengan spot Karang Korowelang di Kabupaten Kendal. Salam uncal kemawon kagem sadayanipun nggiiiih, suwun!








* Pictures taken by Mas Yanto (skipper). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

1 comments:

lilik gus ananta ananta said...

Mantaaap om... Maturswun infone

Popular Posts

Google+ Followers