Skip to main content

Bersandar Hidup Pada Ayam Penggoda: Kisah Perburuan Masyarakat Desa Taima, Sulawesi Tengah


Taima adalah desa kecil yang jika kita berangkat dari kota Luwuk, Sulawesi Tengah pada pukul tujuh pagi, maka kita akan sampai di Taima tujuh jam kemudian. Seharusnya tidak selama ini waktu yang diperlukan andai saja jalanan antara Poh menuju Taima sudah halus. Tetapi begitulah keadaannya, jalanan dari Poh menuju Taima adalah jalanan aspal yang telah berubah menjadi semacam galian bakal pondasi rumah. Sehingga kita memang tidak bisa melaju kencang, apapun kendaraan yang kita bawa. Andai saja jalanan sudah sehalus seperti jalanan dari Luwuk - Poh, mungkin perjalanan menuju ke Taima hanya akan memerlukan waktu paling lama empat jam saja. Untungya, inilah hebatnya kita orang Indonesia, selalu memiliki untung, pemandangan alam antara Poh - Taima luar biasa indah, sehingga meski pantat panas hati lumayan sejuk dihibur oleh keindahan alam sekitar Teluk Poh yang tersaji alami di depan mata. Saran saya bagi siapapun yang akan melintasi jalur ini kapanpun itu, baiknya gunakan kendaraan yang sangat sehat, sebab sekali saja ada trouble dengan kendaraan kita, mungkin bengkel terdekat yang ada adalah di kota Luwuk. Kami sudah mengantisipasi hal-hal seperti ini sehingga saat itu juga tidak ada hambatan karena faktor kendaraan ini. Tidak banyak kendaraan roda empat yang melintasi jalur ini, kalaupun ada, jedanya jam bisa setengah jam bahkan lebih. Selebihnya adalah motor-motor warga yang berangkat atau pulang dari kebun di sepanjang jalur sunyi ini.








Saya menjejakkan kaki di Desa Taima menjelang pukul dua sore hari, dan langsung menuju perbukitan terdekat desa bersama warga yang berprofesi sebagai pemburu ayam hutan. Jenis ayam hutan yang banyak terdapat di daerah ini adalah ayam hutan merah (red junglefowl). Jenis ini memang banyak terdapat di Pulau Sulawesi. Dua pemburu yang menjadi kontak kami di daerah ini tak lupa sudah membawa dua ekor ayam hutan yang sudah dijinakkan (satu jantan dan satu betina). Keduanya istilahnya adalah teaser atau ayam penggoda yang akan dipakai memanggil ayam-ayam hutan liar yang ada di perbukitan. Berkat dua ayam penggoda inilah, para pemburu ayam tidak perlu menelusuri setiap pojok hutan untuk mendapatkan ayaa ayam hutan liar, sebab suara ayam teaser dapat memikat ayam-ayam hutan liar untuk menunjukkan diri keberadaannya di dalam hutan (dan terkadang malah akan mendatangi ayam hutan tesaer yang dibawa oleh warga).

Cara berburu ayam hutan ala masyarakat Desa Taima kira-kira seperti ini runutannya. Pemburu akan mencari titik di perbukitan yang menurutnya paling tinggi dibandingkan dengan kawasan sekitarnya. Ini akan berpengaruh pada suara ayam teaser agar dapat lebih menyebar ke segenap penjuru hutan. Posisi lokasi yang tinggi juga memudahkan para pemburu untuk melakukan orientasi medan mengenali kawasan berburunya. Setelah itu kemudian pemburu akan memotong sebuah dahan, dan meletakkan ayam teaser di dahan tersebut (caranya seperti dilemparkan agar terbang). Secara refleks, ayam jantan ketika diterbangkan seperti itu, ketika hinggap di dahan akan bersuara, menegaskan keberadaan dan kejantanannya, 'memanggil' ayam hutan lainnya yang tersembunyi entah dimana.

Menurut warga ada dua target dari suara ayam hutan jantan teaser. Pertama jika yang mendengar suaranya adalah ayam hutan liar yang jantan, suara kokok ayam teaser dianggap sebagai tantangan berkelahi. Bagi betina yang berkeliaran, suara ayam jantan teaser dianggap sebagai panggilan untuk bercinta. Demikianlah setelah beberapa kali suara kokok ayam jantan teaser membuat hutan panas yang sunyi itu tergoncang, kehadiran ayam hutan luar mulai terasa di sekitar kami berada. Pada kondisi ini kemudian para pemburu meletakkan ayam teaser di semacam kalangan jerat dan kemudian para pemburu bersembunyi di sekitar lokasi agar tidak terlihat oleh ayam hutan liar. Ayam hutan jantan yang liar,  ketika datang otomatis menjumpai ayam jantan teaser yang sudah berada di dalam 'kalangan' dari rangkaian tali senar yang tersamar. Pertarungan dua jagoan ayam hutan tak bisa dihindarkan, ayam jantan liar yang tidak menyadari adanya bahaya, tiba-tiba saja sudah akan menggelepar terkena lilitan tali senar perangkap. Pemburu tinggal mengambilnya dari jerat dan kemudian memulai lagi proses perburuan dari awal lagi. Begitu seterusnya dilakukan berulang-ulang.

Tetapi sebenarnya perburuan di alam sebenarnya tidak sesederhana seperti catatan ini. Banyak faktor dan detail yang harus dipertimbangkan. Dalam sehari, belum tentu didapatkan hasil seperti diharapkan. Namun jika beruntung para pemburu bisa mendapatkan tiga hingga lebih ayam hutan liar untuk kemudian dibawa ke kampung untuk dijual kepara tetangga. Memang hasil perburuan seperti ini terkadang tidak menentu, namun ada masa para pemburu akan tersenyum lebar usai mendapatkan ayam hutan liar. Harga ayam hutan di Desa Taima cukup menjanjikan, bisa dua hingga tiga ratus ribu rupiah untuk yang jantan, dan atau jika yang didapatkan ayam hutan betina, harganya kurang lebih dua ratusan ribu rupiah,

* Pictures taken on November 2014. Captured by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

Comments