Saturday, 6 June 2015



Mengingat kembali Pulau Bangkurung, di Kabupaten Banggai laut, Sulawesi Tengah, ada sedikit yang ingin saya sampaikan. Semacam pendapat pribadi, menyampaikan opini saya dalam konteks kebebasan berpendapat, yang siapa tahu, bisa menjadi perenungan bersama siapapun yang berkepentingan dengan kehidupan di Pulau Bangkurung. Inspirasinya sederhana. Setiap sore hari di dekat basecamp kami di Desa Kalupapi bocah-bocah Bangkurung begitu ramai bermain sampan bersama-sama. Entah mereka sedang mencari perhatian kami, atau memang begitulah keseharian mereka. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan Bajo, yang berarti memang setiap hari mereka pasti akrab dengan laut. Kabarnya orang Bajo itu, sejak lahir ceprot pun sudah berenang di laut bukan? Bukan waktunya mereka memikirkan kerumitan dunia, saya mengerti kenapa mereka begitu riang.

Melihat Bangkurung dengan pemikiran yang lebih mendalam. Ada pertanyaan sederhana yang menggelisahkan dengan masa depan bocah-bocah ini. Dari beragam informasi di internet saya mendapati bahwa perairan sekitar pulau konon sudah begitu menurun ‘kesehatannya’ akibat overfishing dan juga cara tangkap tidak ramah lingkungan. Memang ini kabarnya juga terjadi dahulu, sekarang tidak lagi seperti itu. Dapat saya mengerti jika sekarang tidak lagi dilakukan, karena memang ikannya sudah sangat jauh berkurang. Saya buktikan dengan dua kali memancing di reef-reef dangkal sekitar Bangkurung. Untuk reef denganjumlah lusinan dan luasnya mungkin ratusan hektar terhampar di segala penjuru perairan, sangat sulit mendapatkan sambaran dari ikan target saya. Hal yang sama dikeluhkan tukang kapal yang mengantarkan saya. Jika ingin ikan yang banyak, setidaknya kita harus memancing di areal laut dengan jarak tempuh 5 hingga 7 jam dari pulau. Berarti? Perairan sekitar pulau ini sudah begitu rusak bukan? Tidak dijawab oleh tukang kapal saya hanya meringis sambil menyuruh saya melemparkan umpan lagi. Mungkin rejeki kita tidak baik hari ini. Rejeki ada dua hal jika kita sudah berusaha. Memang tidak ada rejekinya, karena memang tidak mungkin rejeki itu datang. Dan atau memang kita tidak dikasih meski sudah berusaha di tempat yang tepat.

Di kawasan reef yang saya datangi waktu itu, yang saya lihat memang rejekinya (baca: ikannya) memang tidak ada. Sebab dasar reef berupa terumbu karang sudah ‘halus’ yang kemungkinan tersapu oleh ledakan bom ikan. Lalu bagaimana memberi makan dan penghasilan ke generasi penerus jika lautnya sudah hancur? Bukankah seluruh Pulau Bangkurung sangat tergantung dengan perairan ini? Ada usaha dari berbagai pihak untuk menghentikan cara tangkap ikan yang merusak, dan saya jelas mendukung dan mendoakan mereka supaya programnya lancar jaya dan berhasil. Namun tidak dapat dipungkiri, apa yang telah terjadi di perairan Bangkurung perlu waktu lama untuk kembali pulih. Pak Haji Rahman, juragan ikan dan sekaligus tuan rumah kami selama di Desa Kalupapi menegaskan kondisi perairan Bangkurung ini secara implisit. Kalau mau hasil bagus, sekarang kami ya harus memancing di perairan Taliabo dekat Halmahera. Taliabo berjarak hampir lima puluh mil laut dari Kalupapi!!

Secara tidak sengaja, saya merasa bahwa masa depan Pulau Bangkurung ada di pegunungannya. Gara-garanya suatu hari kami (tim Jejak Petualang Trans|7) begitu rindu sayuran segar, yang ternyata juga tidak dimiliki oleh warga. Rupanya, sayuran yang dijual di Desa Kalupapi adalah sayuran yang dikirimkan dari Luwuk yang notabene berada di darata utama Sulawesi! Pertanian ternyata bukan bidang yang populer di Bangkurung. Padahal pegunungan di pulau ini begitu luas dan hingga hari ini tidak dimanfaatkan secara maksimal. Semua orang fokus ke laut! Pegunungan di Bangkurung hanya ditanami kelapa untuk dibuat kopra, dan juga tanaman menahun lainnya yang kebanyakan buah-buahan hutan yang memang aslinya sudha tumbuh disitu. Budidaya pertanian belum ada yang menggarap, padahal say amelihat tanahnya sangat subur. Memang pegunungan di pulau ini memiliki tanah yang tidak kuat karena berpasir. Tetapi melihat lebatnya hutan di pegunungan Bangkurung, bukankah itu subur dan bisa dimanfaatkan? Bayangkan misalnya 25 % saja warga Bangkurung mengolah lahan di pegunungan, hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan pangan non ikan warga Bangkurung. Jika misalnya 50 % warga juga mengolah lahan yang ada, bisa jadi hasilnya sebagian dapat dijual ke luar daerah. Sehingga ada sandaran baru selain laut yang sudah mulai ‘pingsan’.

Menurut saya, pertanian setidaknya dapat membantu menguatkan kehidupan masyarakat Bangkurung. Karena menurut saya tidak masuk akal, seikat sayur kangkung segar, harus didatangkan dari Luwuk dengan waktu tempuh sembilan jam. Padahal di belakang rumah di Bangkurung ada pegunungan yang hanya dipenuhi  tumbuhan hutan! Jangan hanya menggantungkan kehidupan pada laut saja. Karena isi lautan belum tentu abadi. Jika cara kita salah, meski lautan berisi miliaran ton ikan sekalipun bisa tandas dan hanya menyisakan kisah hidup yang hanya indah ketika dikenang, namun begitu pahit ketika dijalani sekarang. Salam!





* Pictures taken on April 2015. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers