Friday, 5 June 2015





















Saya bukan pemancing yang kaya, hanyalah seorang pekerja biasa dengan penghasilan biasa, namun memang saya memiliki semangat dan perjalanan memancing yang mungkin tidak bisa diremehkan. Beberapa perjalanan tersebut mungkin malah membuat banyak orang terkesima. Benar kata orang, tidak ada hobi yang murah. Apapun dibelain agar kita dapat menikmati hobi yang kita sukai. Teknik popping adalah salah satu teknik memancing yang sangat saya gemari. Memancing ikan-ikan saltwater dengan teknik ini menurut saya salah satu yang luar biasa dari sekian banyak teknik mancing yang ada. Karenanya saya harus memiliki peralatan yang mumpuni untuk menunaikan hasrat ini. Setelah menjalani ikhtiar panjang demi mendapatkan peralatan popping terbaik (menabung maksudnya) saya pun akhirnya memiliki dua buah popping yang tidak bisa diremehkan oleh predator manapun. Popping set premium dari pabrikan ternama yang berpusat di Jepang. Salah satu di antaranya adalah Gipang Tidelezz 75 XXH. Bersama kedua popping set tersebut kemudian terciptalah serangkaian perjalanan memancing popping beberapa tahun ke beberapa fishing ground terbaik di Indonesia.

Kesialan menghampiri saya pada bulan September, ketika seorang kawan baru (demikian saya menganggapnya) dari Singkawang, Kalimantan Barat tiba di Jakarta. Kawan yang cukup populer di media sosial, dan juga terkenal kaya. Orang memanggilnya Adi/Adhie/Adi Krisna/Adhi Khrisna atau entah apalah! Karena kabarnya merupakan bos tambang emas di Singkawang. Hari itu saya kebetulan saya sedang berada di Jakarta, kemudian dikenalkan oleh seorang kawan lama saya yang sudah seperti saudara sendiri, kepada seorang bos emas tersebut. Kawan dari Tanah Borneo ini kemudian menyatakan niatnya tertarik untuk mencoba memancing popping di perairan Lombok namun tidak membawa popping set, karena selama ini seringnya hanya wild fishing predator sungai dan danau di Kalimantan saja. Entah kenapa saya begitu percaya (dan memang menurut saya, saya adalah orang baik), kemudian saya pinjamkan peralatan saya tersebut. Saya pikir toh saya juga belum memiliki niat memancing popping dalam waktu dekat ini. Ada empat reel kelas 10000, dua popping rod, dan juga satu rod jigging, termasuk satu bazooka Plano besar. Yaaah anggaplah nilai semuanya hampir mendekati angka tiga puluhan juta, karena beberapa tackle lainnya hanya kelas medium saja bukan kelas premium.

Kini sudah beberapa bulan berlalu. Tidak ada kabar dari 'kawan' tersebut. Saya mencarinya kemana-mana melalui berbagai cara dan juga tidak dapat saya temukan apa-apa. Rekan saya yang mengenalkan saya kepada bos emas tersebut juga kelimpungan mencari keberadaannya. Kabar terakhir yang saya dapatkan, dia masuk penjara karena sebenarnya perjalanan ke Lombok adalah pelarian menghindari kejaran polisi. Karena dia saat itu sebenarnya sedang ada kasus hutang yang luar biasa besar dengan rekanan bisnisnya. Tetapi ini juga simpang siur karena kawan saya di Lombok tersebut juga lagi-lagi kemudian seperti kehilangan jejak bos emas ini. Gusti Allah!!! Bermasalah kog ya masih sempat-sempatnya membawa lari popping rod hasil jerih payah menabung saya???

Kalau sekedar nilai dari tackle saya yang hilang, tidak seberapa dan itu hanyalah tackle, hanya benda mati. Tetapi yang lebih parah kemudian adalah nama baik saya yanghancur di Lombok. Bos emas ini saat itu mengaku hendak melebarkan usaha ke luar Kalimantan, perlu dipandu keliling Lombok oleh orang yang mengerti pulau ini. Saya kemudian merekomendasikan bos emas ini ke seorang kawan dekat di Lombok, seorang pemilik vendor mobil yang selama beberapa tahun terakhir ini selalu menemani saya berkeliling Lombok dan Sumbawa. Hasil dari rekomendasi saya, bahkan sewa mobil kepada rekan saya di Lombok ini pun oleh bos emas tidak dibayar!!! Apa yang saya bangun bertahun-tahun dengan sebaik mungkin pun hancur berkeping-keping. Efek dari polah bos emas ini menjadi tidak sederhana, dan ini sungguh di luar akal sehat dan niatan baik saya berteman di dunia mancing.

Dari kejadian ini saya menjadi belajar, bahwa menjadi orang baik itu terkadang dilematis. Saya hanya berharap apa yang menimpa saya, jangan sampai terjadi juga ke rekan-rekan pemancing yang lainnya. Demikianlah sekedar curhat pemancing popping yang kehilangan tacklenya. Saya masih memiliki niat baik, ada keluarga ataupaun sahabat dekat orang ini dapat membantu saya mendapatkan kembali popping set saya. Apapun bantuan dari rekan-rekan pemancing yang mungkin bisa membantu saya mendapatkan kembali popping set saya, saya ucapkan terimakasih!!! Salam!!!

* Captured on 2014 - 2015 by boatmans and some good friends. No watermark or credit title on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers