Skip to main content

Ikan Black Bass Pertama di Sulawesi, Setelah Hampir Tujuh Bulan Menepi Dari Badai


Tampaknya judul postingan ini sebenarnya sudah menjelaskan kemalangan saya selama hampir tujuh bulan terakhir ini. Dikarenakan oleh sesuatu hal, yang sebenarnya juga karena kemuakan saya oleh omong kosong dari beberapa rekan mancing yang sebelumnya sudah saya anggap saudara sendiri, yang kemudian berimbas kepada kehidupan saya dan cukup rumit efeknya (baik itu kehidupan pribadi hingga pekerjaan saya), saya kemudian memilih 'menepi' dari hingarnya dunia mancing di Indonesia. No fishing trip. No hangout with sportfisher. Even, I'm not thinking about fishing. It sucks!!! Tetapi terpaksa saya lakukan, dengan harapan, saya memberi waktu kepada banyak pihak yang juga adalah rekan-rekan mancing yang mungkin mengenal saya selama ini untuk memikirkan dengan jernih kabar yang ada dan kemudian melihat sendiri tanpa bias. Apakah semua omong kosong itu benar atau tidak. I'm not famous angler, tetapi melihat perhatian banyak pemancing yang bahkan berdomisili di berbagai negara (Jepang, Belanda, Singapore, Perancis, dan lain-lain) ketika mendengar kabar jelek tentang saya yang beredar luas di komunitas mancing Indonesia, saya melihat bahwa berita jelek tentang saya rupanya cukup serius tersebar (atau sengaja disebarluaskan).

Namun kini saya melihat pada akhirnya orang kemudian menemukan jalannya sendiri-sendiri sehingga dapat melihat kebenaran, saya juga mengamati bahwa sumber berita buruk tersebut juga sepertinya mendapatkan balasan dari Tuhan. Saya sebenarnya sudah hampir tidak peduli lagi dengan citra ataupun nama baik, dan sempat terpikir untuk 'menepi' secara permanen dari dunia mancing. Apa yang saya pegang hanyalah, bahwa saya tidak seperti kabar buruk yang disebarluaskan oleh pihak tertentu tersebut, meskipun sebenarnya sanubari saya tahu dengan pasti dari mana sumbernya. Saya tidak memiliki karakter berkelahi dengan orang yang tidak jantan (maksud saya yang tidak gentleman terang-terangan), sehingga dengan situasi yang ada saya juga tidak ingin melakukan konfrontasi, apalagi hanya karena hal tersebut berasal dari kegiatan memancing, menurut saya tidak ada gunanya. Saya lebih memilih untuk memberi penjelasan kepada rekan-rekan yang jelas-jelas peduli kepada saya, itupun jika ada yang melakukan konfirmasi langsung terhadap saya, sehingga mereka akhirnya memiliki dua informasi berbeda yang bisa dijadikan bahan pertimbangan. Menurut saya lebih penting mengurus orang-orang yang peduli saja, daripada mengurusi kelompok besar komunitas. Meski dalam hati saya sempat terpukul, betapa banyaknya orang tertawa sinis, padahal tidak tahu menahu kebenaran yang sebenarnya. Disinilah saya kemudian malah mendapatkan pencerahan, sehingga dengan siapa seharusnya kemudian saya akan berteman dengan lebih dekat di masa mendatang. Namun lebih jauh lagi, saya memilih untuk bekerja. Mencari sekeping hidup yang memang harus diperjuangkan oleh orang biasa seperti saya.

Saat ini saya merasakan  sepertinya 'angin' jahat tersebut telah berhenti bertiup dan 'perairan' hidup saya kembali tenang. Saya mengucapkan terimakasih kepada semua rekan pemancing dimanapun berada yang memberi semangat selama ini dan tidak pernah pergi meninggalkan saya bagaimanapun kabar buruk yang beredar. Dan yang lebih penting lagi adalah, tampaknya ikan-ikan juga merindukan saya. Pada sebuah perjalanan melintasi sebuah muara di Sulawesi Tengah, saat itu kami sedang berpindah basecamp ke desa lainnya untuk melanjutkan pekerjaan kami, saya iseng meminta waktu sebentar ke rekan-rekan satu tim saya untuk melempar umpan kasting beberapa menit. Hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, meskipun rekan-rekan satu tim saya selama ini terus mendorong saya untuk kembali memancing. Kata mereka, saya sangat gembira kalau memancing, oleh karenanya mereka sering kali menyemangati saya untuk melakukannya kembali, dan melupakan prahara yang terjadi.

Anehnya, cukup dua lemparan saja untuk mendapatkan sambaran dari ikan prestisius perairan payau ini. Ikan blackbass (Lutjanus goldei), atau juga sering disebut black snapper (di Maluku, Halmahera, Papua ikan ini disebut ikan somasi hitam), tergolong ikan bergengsi di duni sportfishing. Ini dikarenakan kemampuan bertarungnya yang luar biasa tangguh. Saya sendiri menyebutnya GT air tawar karena ikan ini juga mampu merangsek masuk hingga ke perairan tawar yang terhubung langsung dengan laut. Dan untuk spesies air tawar dan payau, saya belum pernah mendapati ada yang memiliki tenaga sekuat black bass ini. Banyak pemancing dari seluruh penjuru dunia mendambakan kesempatan bertarung dengan ikan ini. Ada yang rela melakukan serangkaian ekspedisi hingga ke pedalaman Indonesia untuk mendapatkannya. But fish dont care what we paid, hasil tidak selalu seperti harapan. Oleh karenanya, saya menganggap bahwa apa yang saya dapatkan sembari bekerja di Sulawesi Tengah ini adalah sebuah 'panggilan', panggilan untuk kembali lagi ikut meramaikan dunia sportfishing di Indonesia.


Setelah saya bicara banyak dengan warga sekitar sungai ini, kata mereka belum pernah ada orang menipu ikan seperti saya. Berarti ini adalah spot baru black bass? Yang belum 'ternoda' digerayangi para pemancing lainnya? Bahkan oleh pemancing Sulawesi Tengah sendiri sungai ini kata mereka belum pernah didatangi. Baiklah kalau begitu, oleh karenanya saya hanya akan membagi informasi lokasi ini ke para pemancing yang peduli dengan sustainable sportfishing, ataupun jika tidak ada orang yang seperti itu, setidaknya kepada rekan-rekan pemancing yang dapat saya percaya dan tidak lebay dengan mengobral informasi lokasi. Kenapa? Karena saya sudah capek melihat begitu banyak spot mancing potensial di Indonesia (baik spot perairan tawar, perairan payau, dan juga spot di laut) yang hancur oleh keserakahan para pemancing tipe "pasukan kuras sungai" dan "pasukan kuras laut"!!!


Jelas ini bukan ikan blackbass pertama yang landed di daerah ini, karena menurut warga banyak nelayan sering mendapatkan ikan yang oleh mereka disebut dengan nama "na'in" ini. Tetapi sejauh saya mengamati dunia sportfishing di negeri ini, saya belum pernah melihat ada sportfisher melaporkan keberadaan ikan ini di perairan payau Pulau Sulawesi, khususnya untuk wilayah Sulawesi Tengah. Selama ini banyak orang menganggap black bass hanya ada di Kalimantan, Maluku (terutama Halmahera, saking populernya spot Halmahera usai saat itu ditayangkan oleh program Mancing Mania Trans|7), dan terutama di Papua. Saya mohon revisinya dari rekan-rekan pemancing di Sulawesi jika pendapat saya ini ternyata salah. Ataukah sebenarnya selama ini banyak sportfisher yang berhasil landed ikan blackbass dengan artifisial lure di Sulawesi tetapi juga merahasiakannya? Kalau memang demikian adanya, revisi terhadap opini saya ini melalui email saja broooooo! Hahahaha!!!

* Pictures taken on March 2015. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!! Pada foto ikan archer fish (ikan sumpit), terlihat jelas jenis umpan yang saya gunakan, itu adalah Rapala Shad Rap Purple Olive Craw. Semoga bisa jadi tambahan referensi jenis lure untuk blackbass, karena selama ini yang populer untuk blackbass hanya lure Halco, Killalure, dan Barra Classic saja (setahu saya lho ya....).

Comments

Tulisan menarik... Hanya sebaiknya curhat colongan di awal bisa dipotong sedikit atau bahkan semuanya? Mnrt Saya tidak ada sangkut pautnya dengan pesan utama yg ingin Saudara sampaikan terima kasih
Sudah dipotong Pak. Thanks.
Unknown said…
maklum saya baru2 aja belajar mancing jdi saya msh ga ngerti nih apa yang terjadi di dunia pemancingan hehe.... btw tulisan nya keren gan jdi ngelamun kapan ya ikan sejenis bass gitu ada di sini ...
Anonymous said…
oh... sea bass kirain largemouth atau smallie ada di indonesia...
Anonymous said…
Lagi nyari bener ikan ini di daerah saya berhubung sempat diiming-imingi photo tidak bertanggung jawab (karena tempat masih diragukan)
Apalagi saya hanya pemancing pemula berjenis kelamin perrmpuan tertawaan selalu datang menghampiri hiksss