Tuesday, 16 June 2015





Ada yang menyita perhatian saya ketika berada di Kecamatan Lamala, Sulawesi Tengah bulan November tahun lalu. Momen panen kelapa sedang berlangsung di seluruh penjuru kecamatan dan mungkin juga di seluruh penjuru kabupaten. Kebun kelapa berubah ramai menjadi seperti sedang ada pesta besar saking banyaknya orang. Banyak orang memindahkan kehidupannya ke tengah kebun dalam rangka panen. Jika kita ingin mendapatkan informasi yang tidak biasa, berbicaralah dengan orang setempat, meskipun itu sulit dilakukan karena faktor bahasa misalnya. Detail yang menggelitik saya adalah tentang profil para pemanen/pemetik kelapa. Kebun kelapa di Lamala memang dimiliki oleh hampir semua warga, tetapi ada juga yang tidak memilikinya. Namun yang kebunnya sangat luas, hanya beberapa orang kaya desa saja yang memilikinya. Di antara kemegahan potensi kelapa di Lamala, adalah para pemetik kelapa. Mereka ibaratnya ujung tombak bagi para pemilik kebun kelapa berskala luas. Tanpa kehadiran mereka, meski memiliki jutaan pohon kelapa misalnya, hasil kebun kelapa tidak akan dapat dikelola dengan baik.

Profesi pemetik kelapa bukanlah pekerjaan yang ringan. Rata-rata pohon kelapa di Lamala memiliki tinggi lebih dari dua puluh lima meter. Ditambah faktor angin dan licinnya pohon (saat usai hujan dan atau masih pagi misalnya), memanjat pohon kelapa adalah pekerjaan dengan resiko yang sangat berat. Sekali saja terpeleset, cacat sangat mungkin terjadi dan bisa-bisa nyawa menjadi taruhan. Tak heran, tidak banyak kamum pria di Lamala yang berani memilih pekerjaan ini sebagai sandaran mencari penghidupan. Namun sisi positifnya bagi mereka yang memilih pekerjaan memetik kelapa yang ada, tingkat kompetisi di pekerjaan ini tidak seberapa. Kelompok pemetik kelapa selalu kebanjiran order petik saat musim panen, dan tentunya bayaran menjadi tidak sedikit.

Tarif petik yang ditetapkan oleh seseorang pemetik kelapa, biasanya ditetapkan berdasarkan pengalaman petik yang pernah dilakoni oleh pemetik, biasanya ukurannya adalah kemampuan dan kecepatan petik di segala cuaca. Dari sinilah seseorang bisa menetapkan tarif mereka. Kemudian tarif dasar per individu ini akan dikalikan dengan jumlah pohon yang mampu dipetik dalam sekali momen petik tersebut. Seperti terlihat pada foto di atas, tulisan di golok yang dipegangnya bukanlah hiasan semata, melainkan tarif yang dia kenakan ketika bertugas. Jika sehari saja misalnya mampu memetik seratus pohon kelapa, bayarannya sehari tinggal dikalikan saja dengan Rp 2500,-. Namun rata-rata pemetik senior sekalipun, dalam sehari hanya mampu memanjat pohon kelapa sebanyak dua puluh hingga tiga puluh pohon saja. Lebih dari itu terlalu beresiko sebab kaki dan lutut biasanya sudah lemas.

Negeri kita disebut sebagai salah satu penghasil kelapa terbesar di dunia, karena memang hasil kelapa kita begitu melimpah. Sehingga sebutan "negeri nyiur melambai" itu memang benar adanya. Kalau peringkat berapa sebagai penghasil kelapanya, bisa ditemukan di internet. Yang saya sedikit bingung adalah, kabarnya ekspor kelapa kita justru kalah dengan Filipina. Padahal bukannya luas negara kita ya dibandingkan dengan Filipina? Urusan berdagang (baca: menjual potensi) tampaknya kita memang selalu kalah dengan negara lain. Kita hanya menang kalau urusan membeli saja. Membeli kedelai dari negara lain, dan termasuk membeli beras negara lain. Padahal kita pernah swasembada beras!!! Kembali kepada maksud catatan kecil ini dibuat.

Masalahnya tidak semua kebun kelapa, terutama yang dekat dengan pegunungan, memiliki akses jalan yang memadai. Jika jumlahnya panenan tidak seberapa, mungkin bisa diangkut dengan dipikul atau dengan gerobak sapi, namun jika sekali petik mencapai ribuan butir kelapa, tentu dibutuhkan cara angkut yang paling mudah tetapi sekaligus banyak. Sungai menjadi solusi untuk memindahkan ribuan kelapa ke titik dimana mobil pengangkut berada. Kebetulan sungai di daerah ini juga memiliki aliran yang tidak deras dengan kedalaman berkisar satu hingga tiga meter saja. Jadilah sungai menjadi jalan raya yang super padat di musim panen kelapa. Ribuan kelapa dihanyutkan dari hulu ke hilir, mengapung. Yang bertugas mengawal kelapa-kelapa ini pun saya lihat begitu menikmati pekerjaan ini, maklum bisa sambil main air! Hehehehe!













* Pictures taken on November 2014. Captured by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers