Sunday, 7 June 2015


Entah kenapa foto-foto berikut ini bisa nyelip di laptop saya hampir satu tahun lamanya. Saat itu saya sengaja mengambil cuti dari rutinitas kerja dan mengambil waktu untuk diri sendiri menikmati hobi. Popping adalah teknik mancing yang bisa membuat siapapun ketagihan. Sensasi strike memancing dengan teknik ini memang 'sadis' apalagi jika yang menyambar umpan kita adalah ikan-ikan yang berukuran besar. Bahkan mulai dari ikan dengan berat sepuluh kilogram ke atas pun, sensasinya sudah enak. Kurang lebih begitu kesan saya untuk teknik popping ini. Memang mencari strikenya jika perairannya sudah 'sakit' tidak mudah. Melemparkan umpannya pun tidak ringan karena popping memerlukan heavy duty tackle kelas 50 lbs ke atas. Namun jika lokasi mancing kita masih bagus, semua tenaga yang kita keluarkan saat melemparkan umpan, retrieve dan lain sebagainya saya jamin bisa lunas terbayar.

Saat itu ada satu ekor hiu (blacktip shark) yang juga ikut menghantam popper saya. Beberapa kali dalam trip popping yang saya lakukan, hiu blacktip sering menghantam popper. Dahulu ketika belum mengenal dunia ramai, hehehe, biasanya saya langsung melepaskan begitu saja hiu-hiu yang tidak saya harapkan ini. Karena apa, ikan hiu bukanlah game fish target saya. Konon ikan ini merupakan peyeimbang ekosistem laut karena merupakan top predator di lautan, jadi saya harus berpihak pada sustainable sportfishing sebisa mungkin. Baunya juga luar biasa memuakkan, fighting ability-nya menurut saya lemah dibandingkan giant trevally (kuwe gerong) misalnya, sudah begitu ikan hiu juga akan membuat popper saya juga rusak parah dan biasanya menjadi tidak balance lagi karena gigi hiu akan merusak badan popper yang kita pakai. Namun sebagai pemancing, kita tidak bisa memilih ikan target persis seperti harapan kita. Jika saya hanya menginginkan ikan GT ketika memancing dengan teknik popping, bukan berarti hanya akan strike GT. Andai ada cara memilih ikan target persis seperti keinginan, sudah pasti saya hanya akan memilih ikan ukuran 50 kg ke atas, dan yang pasti itu bukan hiu. Atau andai ada saltwater fishing ground tanpa adanya ikan hiu, mungkin saya akan memilih memancing di sana. Saya sebagai pemancing sport, hanya bisa sebisa mungkin membatasi agar hanya ikan target yang memiliki kemungkinan paling besar akan menyambar umpan popping kita. Karena target utama popping adalah jenis ikan seperti GT, big grouper, barakuda, tenggiri, dan juga ikan tuna dan bukanlah hiu. Dan begitu juga harapan saya terhadap ikan yang akan menyambar popper saya. 

Ada banyak gerakan menjaga ekosistem laut yang dilakukan banyak pihak. Ada yang mengkhususkan pada terumbu karangnya, ada yang fokus pada mengurangi kegiatan cara tangkap yang tidak ramah lingkungan, dan juga ada yang fokus pada hal yang lebih spesifik lainnya. Khusus untuk ikan hiu, di Indonesia ada gerakan #SaveSharks yang dilakukan banyak pihak, beberapa orang yang sangat giat di dalamnya adalah rekan-rekan saya sendiri yang notabene adalah para presenter Jejak Petualang Trans|7. Ikan hiu konon merupakan penjaga keseimbangan ekosistem laut, sehingga dengan masifnya overfishing (untuk diambil siripnya) terhadap ikan ini, banyak pihak khawatir ekosistem laut akan terganggu jika ikan ini dibiarkan tanpa perlindungan. Saya setuju sekali dengan gerakan ini, dan berharap program ini berhasil menyadarkan banyak pihak. Sehingga laut kita dapat abadi dan terus dapat menjadi lumbung pangan, destinasi wisata dan lain sebagainya yang dapat terus dinikmati generasi berikutnya.

Yang ingin saya tegaskan di sini adalah, karena saya sering diprotes teman-teman karena terkadang ada ikan hiu yang tidak saya harapkan menghantam popper saya, bahwa jika dalam trip popping saya ada ikan hiu hooked up itu bukan karena saya tidak peduli dengan kelestarian ikan hiu. Tetapi (dan saya yakin kita semua paham), karena memang tidak bisaa melarang ikan apapun untuk menyambar popper saya. Yang bisa saya pastikan, ikan hiu yang menyambar popper saya sebisa mungkin akan saya release kembali dalam kondisi terbaik yang mungkin bisa saya lakukan. Sehingga ikan tersebut dapat kembali melanjutkan takdirnya di lautan. Saya tidak mungkin harus berhenti memancing di laut hanya untuk menyatakan dukungan pada gerakan peduli ikan hiu bukan?












* Pictures taken on August 2015 by me and my boatman. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers