Sunday, 28 June 2015


Foto dan video yang saya sertakan di catatan kecil ini saya abadikan dengan kamera saku (waterproof tentu saja) ketika saya dan rekan-rekan tim Jejak Petualang Trans7 sedang dalam perjalanan kembali turun ke desa di daerah Kalimantan Utara pertengahan Mei lalu. Saat itu adalah hari kesepuluh kami berada di wilayah Dayak Berusu, dan merupakan hari terakhir kami berjibaku dengan segala hal dalam menunaikan tugas liputan kami di wilayah ini. Dari warga desa yang tidak bisa saya sebutkan namanya disini (maafkan saya hanya melindungi jaringan kami karena dahulu sering terjadi  kasus ada orang entah siapa dan darimana masuk diam-diam mengatasnamakan kami ke daerah yang pernah kami datangi) kami mendapatkan bantuan tenaga dan pikiran yang luar biasa saat itu. Ada lima buah ketinting yang menemani kami menjelajahi wilayah pegunungan di daerah ini, dan termasuk juga 13 orang yang 'mengawal' kami selama 'blusukan' di hulu sungai dan hutan-hutan di wilayah tersebut. Di antara 13 orang tersebut ada tiga ibu-ibu yang ikut serta dengan tugas utama mengurus keperluan konsumsi seluruh rombongan selama 'mudik' ke hulu.
video

Mudik adalah istilah Dayak Berusu untuk menyebut perjalanan mereka kembali ke tanah leluhur di bagian hulu sungai yang jauh dari peradaban. Jaraknya sekitar dua hari perjalanan penuh dengan menggunakan ketinting. Ratusan jeram yang kami lewati agar sampai di wilayah leluhur mereka ini. Dayak Berusu aslinya mendiami kawasan di pedalaman hutan di Kalimantan Utara, tetapi pada tahun 1970an direlokasi oleh pemerintah ke wilayah hilir, yang katanya untuk memudahkan sensus penduduk dan urusan admistratif lainnya. Kalau menurut hemat saya sih, karena hutannya mau 'dibabat' oleh pihak-pihak tertentu saja makanya penduduk dipindahkan dengan alasan seperti tersebut diatas, buktinya sampai hari ini di wilayah hulu (perjalanan empat hari dari desa masih bercokol perusahaan kayu dan juga kelapa sawit). Tak sedikit tantangan yang kami hadapi selama mendokumentasikan wilayah hulu sungai yang menjadi hak ulayat Dayak Berusu ini. Tantangan paling besar adalah cuaca yang berubah setiap waktu, dari panas ke hujan petir, dari air sungai yang berarus normal menjadi banjir bandang mengerikan, gangguan dari binatang, dan belum termasuk tamu-tamu tak diundang yang sulit dijelaskan dengan akal sehat di waktu malam. Selama bekerja di pedalaman ini dua buah ketinting kami juga sempat tenggelam 'dimakan' jeram, salah satu kamera video kami (Sony PD200 juga sempat ada yang 'mandi'). Akan tetapi semua bisa kami lalui dengan pekerjaan yang juga tuntas, dan semuanya itu berkat bantuan dari warga Dayak Berusu dan Dayak Punan yang menemani kami.

Warga desa, sejak kami tiba di desa di hilir sungai (desa tersebut berjarak tiga jam dari Tanjung Selor, Kalimantan Utara), seperti umumnya tipikal orang Dayak, begitu antusias dan gembira menyambut kedatangan kami. Melalui serangkaian upacara sederhana pengalungan manik-manik dan termasuk juga minum pongasih, intinya kami diterima oleh warga, dan warga juga siap membantu dan menjaga kami. Komitmen yang selalu saya temukan ketika bertamu ke wilayah orang Dayak dimanapun berada. Mereka orang-orang yang gembira, ramah, dan begitu terbuka. Perjumpaan dengan mereka menurut saya selalu meriah dan menyenangkan, hal yang membuat saya selalu rindu untuk kembali lagi dan lagi ke pedalaman orang Dayak untuk menjalin silaturahmi dan bekerja bersama mereka.

Orang Dayak menurut saya memiliki sistem birokrasi tradisional (baca: lembaga adat) yang sangat kuat. Kepemimpinan tradisional yang dalam hal ini dipegang oleh kepala adat, merupakan hasil dari konsensus seluruh warga, dan kemudian juga dipatuhi oleh seluruh warga. Kepala adat praktis menjadi pemimpin yang mengurusi persoalan kehidupan yang sangat luas di kalangan orang Dayak, mulai dari hal ringan seperti pertengkaran antar dua orang, hak atas tanah, urusan keluarga dan urusan kehidupan seluruh masyarakatnya dalam artian seluas-luasnya. Sehingga kepala adat di kalangan orang Dayak merupakan pemimpin yang 'bertuah'; disegani, dihormati, dan mendapatkan kepatuhan yang luar biasa dari masyarakatnya. Jadi kalau Anda misalnya hendak 'blusukan' melakukan sesuatu ke pedalaman Kalimantan, kalau menurut saya paling lancar ya melalui lembaga adat ini dibandingkan melalui saluran lainnya. Saya tidak pandai menuliskan tentang hal ini, tetapi kurang lebih demikian. Banyak literatur yang membahas ini Anda dapat membacanya sendiri lebih mendalam dan komprehensif.

Kembali ke petualangan kami, Kepala Adat Dayak Berusu (saya sebut saja inisialnya HY) menjadi kunci penting sekaligus motor penggerak warga dalam membantu kami menyelesaikan tugas-tugas kami selama berada di wilayah ini. Mulai menyediakan tempat berteduh selama di desa, mengurus perjalanan kami ke hulu, mencari tempat bernaung (basecamp) selama di hulu dan lain sebagainya yang daftarnya sangatlah panjang. Yang menarik, apapun yang dilakukan oleh beliau selalu mendapatkan sokongan penuh seluruh peserta 'mudik' kami. Seluruh peserta mudik ini pun dipilih dari perwakilan warga yang pemilihannya pun melalui rapat besar yang dilakukan di desa (rapat dilakukan sebelum kami tiba di wilayah ini). Bapak HY ini benar-benar pemimpin dalam artian sebenarnya pemimpin, dam kami sungguh merasakan bantuan dan perlindungan yang luar biasa. Pembawaan beliau sendiri juga sangat menyenangkan; ramah, mudah sekali tersenyum, begitu bersemangat ketika berbicara dan begitu cekatan. Banyak 'pencerahan' yang kami alami selama berjibaku di pedalaman bersama mereka.

Ada rasa rindu yang kuat ketika saya menuliskan catatan kecil ini, rasanya ingin segera kembali ke desa mereka dan kembali melakukan sesuatu yang berguna bersama-sama. Sayangnya sementara ini hanya doa yang bisa saya panjatkan, semoga mereka semua baik-baik saja. Amin!

 * Pictures taken on May 2015 by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers