Thursday, 4 June 2015

video

Saat itu adalah hari ketiga kami berada di wilayah Kalimantan Utara, dan hari kedua kami berada di sebuah kampung yang dihuni oleh masyarakat Dayak Berusu. Rencana kami adalah menjelajahi wilayah pegunungan dengan mengaksesnya melalui sungai. Desa tempat kami saat itu (sengaja saya rahasiakan lokasi pastinya) adalah 'pintu' masuk paling mudah untuk 'naik' ke arah hulu. Sehari sebelumnya warga antusias menyambut kami dengan tari-tarian dan lain sebagainya di gerbang pintu masuk desa, what a very nice people. Hal yang selalu saya rasakan ketika berjumpa dengan masyarakat Dayak adalah betapa mereka gembira ketika ada tamu bertandang ke 'rumah' mereka. Warga menyampaikan siap membantu dan menjaga kami selama di wilayah mereka, dan menurut kami itu sudah lebih dari cukup untuk melancarkan tugas kami di wilayah mereka.

Desa kecil yang makmur. Hutan masih terjaga, begitu juga sungai milik mereka merupakan habitat ikan air tawar yang sebagian besar spesiesnya adalah ikan prestisius. Mayoritas pekerjaan masyarakat adalah menambang emas di sebuah gunung dekat desa, jadi sungai praktis tidak begitu tersentuh oleh mereka. Hari kedua, agak meleset dari perkiraan kami, rupanya warga belum bisa mengantarkan kami ke hulu karena ada pernikahan (pernikahan kedua tepatnya) salah satu tokoh masyarakat. Karenanya kami pun menanti di rumah kepala adat. Selama berlangsungnya acara pernikahan selama dua hari tersebut, yang terlihat oleh saya adalah kegembiraan. Sebenarnya kami tidak berencana untuk hadir, mengingat tidak kuat lagi jika harus ikut juga minum pongasih (minuman tradisional beralkohol yang ada di sana). Pongasih sudah kami tenggak ketika kami disambut sehari sebelumnya, dan menurut saya itu sudah lebih dari cukup untuk menyatakan kami adalah tamu yang baik.

Namun setelah berbagai ajakan dengan berbagai cara dari beberapa warga dan juga kepala adat, akhirnya kami pun ikut bergabung di acara pernikahan tersebut selama beberapa waktu. Ditambah lagi faktor kepohonan yang kami semua tidak ingin mengalami, kalau menolak tawaran tuan rumah. Kepohonan adalah istilah terkena sial yang diyakini masyarakat Dayak, kalau seseorang ataupun kelompok menolak ajakan-ajakan baik dari salah satu pihak lainnya (misalnya saja menolak makan dulu, menolak minum dulu, menolak tinggal dulu di rumah, menolak mampir, dan lain sebagainya).

Rumah panjang yang menjadi tempat pesta penuh warga Dayak Berusu dari segala penjuru. Beberapa di antara mereka adalah tokoh-tokoh adat penting. Jangan bertanya berapa banyak tempayan penuh pongasih yang ada saat itu, mungkin kalau dihitung volume isi total jika dituangkan semuanya bisa sebanyak satu truk tangki air, saking banyaknya. Most of them get drunk of course. Yang menarik adalah, ketika kami datang mereka kemudian mengamini dan kemudian makan bersama, dan kemudian silih berganti menari. Usai menyatakan kehadiran kami di acara pernikahan tersebut, kami pun pulang, dan lebih yakin lagi dengan bantuan yang akan dilakukan oleh warga esok hari.

Pagi hari berikutnya di dermaga kayu milik desa, kemudian bersiap lima ketinting, sebelas warga (tiga di antaranya ibu-ibu yang akan bertugas masak di pedalaman), dan juga segala persiapan lainnya untuk membantu tugas wild fishing kami di pedalaman. Sebagian dari mereka adalah Dayak Punan. Ketika menulis catatan kecil ini, dua minggu setelah meninggalkan mereka, ucapan terima kasih itu sepertinya masih ingin terus saya sampaikan kepada orang-orang baik itu.

* Gadget: Iphone 5s. Captured on May 2015. No watermark or credit title on the video, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my videos and pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers