Friday, 26 June 2015



Awal bulan Juni udara di daerah di Paya Benua, Bangka Induk terasa sangat menyengat. Waktu menunjuk angka delapan pagi, berarti satu jam penuh waktu yang kami perlukan untuk sampai di lokasi ini sebab kami berangkat dari Pangkalpinang pukul tujuh pagi. Saya dan tim Jejak Petualang Wild Fishing Trans7 ditemani oleh rekan-rekan pemancing Bangka, salah satunya karib saya Thomas Mayase. Paya Benua adalah sebutan warga desa terhadap kawasan rawa perairan tawar yang ada di sekitar desa mereka. Perairan rawa yang cukup luas namun kanan-kiri kawasan sudah berubah menjadi kebun sawit dan atau kebun karet. Paya Benua ini adalah salah satu ‘ladang’ penghidupan masyarakat nelayan di daerah ini namun letaknya memang jauh sekali dari perkampungan, sekitar lima kilometer dari rumah paling ujung desa. Suasananya berbeda sekali dengan danau ataupun kawasan rawa yang menjadi lahan perburuan nelayan di daerah lain karena sepanjang mata memandang saya tidak menemukan perahu nelayan berukuran besar, melainkan hanya sampan-sampan kecil (paling banyak dapat memuat doa orang saja).

Hamparan tanaman air tampak rapat di seluruh penjuru kawasan bagian tepian, di bagian tengah kawasan adalah sungai utama yang berair tenang dengan aksen tanaman rasau (pandan air), di kejauhan terlihat samar seperti sebuah punggungan bukit memanjang yang rendah. Langit kelabu tetapi tidak mampu juga mengusir ‘kemarahan’ matahari yang membakar udara di kawasan ini. Bahkan beberapa rekan pemancing dari Bangka yang menemani kami, sepertinya juga tidak kuat berlama-lama di bawah paparan sinar matahari di Paya Benua ini. Kabarnya sejak sekitar rawa berubah menjadi kebun sawit, udara di daerah ini menjadi lebih panas tidak seperti dahulu lagi. Entahlah, yang pasti saya takut lama-lama berada di bawah sinar matahari langsung, takut kulit hitam saya berubah menjadi putih!

Beranjak pukul sembilan pagi rombongan warga yang kami nanti pun tiba, ada tiga ibu-ibu dan dua bapak-bapak. Saya sempat terpikir mereka akan datang dengan pickup mengingat harus membawa banyak barang mulai dari alat masak dan lain sebagainya. Tetapi dugaan saya salah, mereka datang dengan kendaraan yang super cool yaitu Jeep Willys kuno yang menurut saya tetap gagah. Jeep yang entah bagaimana caranya bisa nyasar ka Paya Benua di Bangka ini. Tetapi apapun itulah, yang pasti saya pribadi begitu bersemangat hari itu dengan rencana kami apalagi warga juga sangat antusias dan persiapan yang dilakukan baik oleh mereka ataupun kami sangat rapi. Jadi meskipun kawasan Paya Benua hari itu begitu panas, kami bisa menyelesaikan tugas kami hari itu dengan lancar dan kenyang. Kenapa saya bilang kenyang, karena kebetulan hari itu adalah suting masak memasak ala warga desa Paya Benua. Hehehehe!

Yang kami masak hari itu adalah ikan kepalau, begitu warga Paya Benua menyebutnya. Jenis ikan air tawar yang memiliki warna sisik yang sangat indah. Dengan kombinasi warga coklat, titik-titik, garis terang horisontal dan beragam warna lainnya. Ikan jenis barb ini baru pertama kali saya lihat di alam liar dengan jumlah yang cukup banyak. Di berbagai literatur ikan kepalau ini disebut cherry barb, hampir mirip dengan red line barb yang banyak di perairan tawar India. Populasinya di Paya Benua sangat melimpah, meskipun demikian ekploitasi nelayan terhadap ikan ini sangat rendah karena sulit dijual sebab durinya banyak. Selain itu ikan kepalau juga cepat mati kalau terkena jaring sehingga jarang ditangkap dalam jumlah besar untuk alasan ekonomi. Penangkapan yang dilakukan warga lebih untuk konsumsi sehari-hari saja.

Olahan yang kami buat sebenarnya sederhana, yakni pepes atau pais. Di seluruh penjuru bumi hingga planet Mars, kalau yang namanya olahan pais atau pepes ini ya kurang lebih dama saja cara membuatnya. Bahan bisa berupa ikan, jamur, tawon atau apapun itu akan dicampur dengan beragam bumbu-bumbu, sambal, parutan kelapa, dan kemudian dibungkus dengan daun tertentu, baru kemudian dikukus atau dibakar. Di Paya Benua ada perlakuan yang cukup berbeda dalam membuat olahan kuno ini. Bumbu yang dipakai banyak didominasi dengan cabe rawit dan kunyit, tanpa parutan kelapa, dan kemudian dibungkus dengan daun kunyit juga, baru paling luar dibungkus lagi dengan daun pisang untuk pengaman bungkus daun kunyitnya. Ini adalah warisan kuliner kuno di Paya Benua, menurut mereka perpaduan antara ikan sungai dengan daun kencur akan menciptakan sensasi pais yang sangat berbeda dengan pais yang dicampur dengan parutan kelapa semata.








Dan memang setelah menyantapnya, rasa pais khas Paya benua ini memang luar biasa. Saya belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini saat memakan pais ikan. Baru di Paya Benua ini pais ikan menurut saya selain menjadi begitu kuat rasa bumbu dan pedasnya, berubah menjadi olahan yang seperti berbeda. Atau mungkin karena yang di-pais adalah ikan kepalau? Kalau begitu nanti saya akan ke Paya Benua lagi untuk mencari tahu rahasia dibalik pais kepalau ini, baru kemudian melanjutkan lagi catatan iseng ini! Tetapi kalau sampai Paya benua saya ternyata asyik memancing ikan tomman, anggap saja catatan iseng ini telah selesai sampai di sini. Hehehehe! Salam?!

 * Pictures taken on June 2015 by me, others by my crew. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers