Tuesday, 16 June 2015



Perjalanan ke Desa Petak Putih sebenarnya telah sangat lama saya lakukan, tepatnya satu tahun lalu, tetapi memang hampir tidak ada catatan kecil yang sempat saya tuliskan setelah itu, entah kenapa. Mungkin saya terlalu sibuk memikirkan pekerjaan atau memikirkan orang lain, sehingga mengetik catatan kecil pun sampai lupa. Saya agak lupa persisnya dimana Desa Petak Putih, yang pasti sekitar 7 jam kami baru sampai di desa setelah menyusuri jalanan aspal dan juga jalanan tanah dari Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah. Sekitar dua jam sebelum sampai desa adalah jalanan 'neraka'. Saat itu musim kemarau sedang berada di puncaknya, dan panas membakar permukaan bumi seperti sedang marah. Jalanan menuju kampung selepas jalan antar propinsi, adalah jalan tanah yang baru diperlebar akibat adanya aktifitas tambang yang kebetulan aksesnya dibuat melalui pinggiran Desa Petak Putih. Debu beterbangan laksana badai pasir, dan sesekali kami harus berjibaku dengan 'badai pasir' manakala truk-truk besar tambang lewat dengan kecepatan tinggi.

Intinya kemudian saat itu kami bertahan selama tiga hari di desa dan mencoba dengan susah payah menyelesaikan tugas kami di tempat ini. Warga Petak Putih mayoritas memiliki profesi sebagai nelayan dan juga berladang. Debit air menyusut drastis saat itu dan banyak sekali danau mengering dan sebagian yang memiliki sumber air yang baik, menyusut parah debit airnya. Anehnya meski sedang kering kerontang tiada hujan, air sungai dan danau seperti warna kopi susu. Usut punya usut ternyata ini semua kabarnya diakibatkan oleh aktifitas tambang yang berlangsung tidak jauh dari desa. Padahal kabar yang saya dengar sebelum tiba di desa ini, perairan tawarnya memiliki potensi ikan yang luar biasa dan size-nya pun besar-besar. Inilah alasan utama kami tiba di desa kecil di tepian Sungai Kapuas ini.

Meski kondisi air ketika kami tiba sedang keruh, kabar tentang potensi ikan di perairan sekitar desa bisa jadi memang benar adanya. Buktinya kami melihat sendiri ikan bakut/betutu/boboso 'monster' yang didapatkan warga desa di danau terdekat. Begitu juga kami melihat banyaknya ikan kihung/keehung (salah satu jenis snakehead) yang didapatkan nelayan tajur/nawau. Belum ikan-ikan jenis snakehead lainnya semisal gabus, sizenya pun tergolong besar dan banyak. Saya membayangkan jika kondisi perairan saat itu sedang jernih, setidaknya visibilitynya tinggi, bisa jadi kami akan mendapatkan ikan-ikan menarik dengan lebih mudah dan juga dalam jumlah yang banyak.

Petak Putih berarti kawasan ataupun areal dengan warna putih, dan memang begitu adanya. Tanah di desa ini memang didominasi oleh warna pasir putih, pasir yang sangat lembut dan bisa dibilang juga debu pasir berwarna putih. Namun bukan hal petak putih yang kemudian membekas di hati saya hingga hari ini. Olahan gabus bakar caluk/kaluk lah yang terus terpatri hingga hari ini. Intinya adalah olahan ikan gabus yang dibakar di atas api seperti biasanya. Namun saya melihat ada semacam perlakuan khusus yang unik dengan olahan ini. Ikan gabus, biasanya dipilih yang berukuran satu kilogram ke atas, akan dibelah bagian punggungnya, sisik ikan tidak dibersihkan, dan kemudian bagian atas punggung yang terbelah diiisi dengan bumbu. Bumbu ini sebenarnya bisa apa saja sesuai selera, namun saat itu kalau tidak salah adalah bumbu kuning.

Setelah bumbu dimasukkan ke dalam punggung ikan, barulah kemudian kepala dan ekor ikan diikat dengan tali rotan. Inilah kenapa disebut gabus bakar caluk/kaluk, karena dibuat seperti melingkar. Penempatan bumbu di punggung ikan ini juga baru saya lihat pertama kali. Menurut warga, ini adalah cara agar bumbu tidak menetes jatuh saat dibakar (dengan posisi perut menghadap api), sehingga rasa olahannya juga akan makin sedap. Dan nyatanya memang demikian, ikan bakar caluk khas Desa Petak Putih ini rasanya luar biasa! Jenis ikan sebenarnya bisa apa saja, namun saat itu kami memilih ikan snakehead untuk dimasak karena menyesuaikan dengan habitat ikan di perairan sekitar desa. Kabarnya ikan jenis snakehead sangat banyak di perairan sekitar desa, sehingga untuk dokumentasi program kami memutuskan bahwa ikan yang akan dibakar caluk/kaluk adalah ikan gabus (Channa striata). Rasa olahan gabus bakar caluk/kaluk ini memang 'nendang'! Saya belum pernah merasakan kuliner ikan gabus seenak di Petak Putih ini. Boleh diboba kawan!





* Pictures taken on June 2014. Captured by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers