Skip to main content

Serasa Pulang ke Kampung Halaman: Upacara Sambut Tamu Ala Suku Dayak Berusu, Kalimantan Utara




Well, foto-foto berikut ini adalah juga dari hasil perjalanan kami ke daerah pegunungan di Kalimantan Utara pada bulan Mei lalu. Tentang beberapa hal sudah saya tuliskan di blog ini, misalnya saja tentang figur kepala suku Dayak Berusu, dan lain sebagainya. Dapat anda search di blog ini dengan keyword “dayak berusu” atau “kalimantan utara”. Dayak Berusu adalah sub suku Dayak Punan yang banyak tinggal di wilayah Kalimantan Timur bagian utara. Seperti biasa selalu banyak dokumentasi dan kesan personal dari sebuah perjalanan, dan sialnya, saya selalu memiliki dan mungkin juga sengaja, menyimpan banyak hal untuk kembali saya tuliskan karena siapa tahu, bisa berguna bagi siapapun. Kalaupun tidak berguna bagi siapapun, setidaknya saya telah menggunakan waktu untuk sesuatu yang mungkin berguna bagi banyak orang, daripada melamunkan hal ataupun orang yang juga tidak selalu peduli. Postingan kali ini adalah tentang bagaimana masyarakat Dayak Berusu menyambut tamu yang datang ke desa mereka.

Keterlibatan saya di program Jejak Petualang Wild Fishing terjadi setelah sekian lama produser meminta saya untuk kembali ikut serta di dalam program. Hal yang seharusnya mudah apalagi berkaitan dengan dunia memancing, tetapi memang proses come back saya ini lumayan lambat, karena saya memiliki trauma dengan program ini berkaitan dengan kejadian tidak mengenakkan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada bulan September 2014. Yang mana hal tersebut berimbas kepada kehidupan pribadi dan pekerjaan saya secara sangat signifikan dan rumit, secara garis besar adalah, ada seseorang yang begitu kuat dan memiliki ego besar di dunia mancing yang menginginkan saya ‘minggir’ dari program (bagaimanapun itu caranya), dan sialnya hal ini rupanya ‘didukung’ oleh seseorang yang selama ini saya anggap sebagai sahabat dekat. Tetapi setelah menimbang kembali semuanya, saya kemudian memutuskan kembali untuk ‘membesarkan’ program, seperti niatan awal kami dahulu membuatnya. Tentunya dengan catatan, saya hanya akan come back jika orang-orang yang dahulu menyingkirkan saya ‘minggir’ dari program ini.

Kembali ke penyambutan masyarakat Dayak Berusu di Kalimantan Utara. Desa yang menjadi ‘pintu gerbang’ kami untuk menjelajahi fishing ground yang akan kami datangi terletak di tepian sungai besar. Di salah titik di tepian sungai, mereka memiliki semacam balai kayu kecil. Melewati balai-balai kayu inilah dahulu orang yang datang ke kampung ini akan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di desa, sebelum terbangun jalan darat beraspal seperti sekarang sehingga dimungkinkan akses melalui kendaraan bermotor. Sekelompok penari remaja menyambut kami dengan tari-tarian khas Dayak diiringi dengan tabuhan gong, sementara para tokoh masyarakat menyambut kami dengan senyum lebar yang spontan. Hal ini tidak pernah kami bayangkan sebelumnya karena memang kami tidak pernah ‘memesan’ penyambutan seperti ini, bahkan dalam konteks pembuatan sebuah tv show sekalipun, yang pada beberapa hal memang kita sering melakukan setting tertentu untuk menghasilkan liputan yang meriah.

Usai tari-tarian dan pemberian kalung manik-manik ke presenter kami Chintya Tengens, kemudian dilanjutkan dengan minum pongasih (semacam minuman beralkohol tradisional dari fermentasi ubi kayu). Kami meminum secukupnya untuk menghormati keramahan dan penerimaan mereka terhadap kami. Melalui kepala adat, mereka menegaskan bahwa menerima kami dengan tangan terbuka dan akan membantu dan menjaga kami selama berada di wilayah mereka. Yang menarik dalam setiap upacara penyambutan tamu ala masyarakat Dayak, menurut saya pribadi, dimanapun itu mereka berada saya selalu melihat dan merasakan ketulusan yang sebenarnya. Begitu juga dengan canda tawa dan kemeriahaan bertutur kata yang apa adanya dan suasana yang sangat meriah. Mereka tidak membuat semuanya menjadi telalu seremonial atau kaku, sehingga kita akan selalu merasa nyaman dan seperti tiba kembali di rumah kita sendiri setelah sekian lama melakukan perjalanan jauh dari perantauan.  Hari-hari berikutnya di Dayak Berusu adalah penegasan komitmen kami dalam menunaikan tugas dan pembuktian tanpa pamrih bagaimana masyarakat Dayak Berusu menjamu’ tamu mereka dengan semaksimal mungkin selama di wilayah adat mereka. Rasanya ingin segera kembali lagi kesana merasakan ‘kehangatan’ keluarga baru tersebut, tetapi sebelum itu terjadi kembali, may God bless them all!!!


















* Pictures taken on May 2015 by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

Comments