Saturday, 18 July 2015




Berkaitan dengan perairan tawar (sungai pegunungan) di Kalimantan Utara, rupanya ada yang lupa saya tuliskan. Yakni tentang spesies ikan air tawar yang dinamakan ikan klawor, ini adalah ikan jenis gurami atau ikan kaloi. Di hulu Sungai Berusu secara tidak terduga kami saat itu berhasil ‘menggaet’ beberapa ikan klawor size monster, karena semuanya up 7 kg. Bagi saya pribadi yang selama ini hanya mengenal ikan gurami budidaya yang sizenya berkisar setengah hingga satu kilogram saja (ini adalah ukuran sesuai permintaan pasar ikan gurami sebenarnya), tentunya sangat terkesan dengan size ikan-ikan kaloi yang ada di hulu Sungai Berusu ini. Penampilan ikannya pun sangat mengesankan. Berwarna merah muda dengan mata menyala merah, ditambah dengan ‘nonong’-nya bagian kepala ikan berisi dipenuhi lemak. Sirip-sirip ikan klawor ini (mungkin karena sizenya besar) juga sangat anggun. Sekilas ikan ini seperti berasal dari planet lain yang ada di bumi karena dibawa oleh alien.

Masyarakat Berusu memancing ikan ini dengan teknik yang disebut nawau. Sebenarnya teknik ini mirip dengan teknik “neger” atau “tajur”. Namun jika neger atau tajur identik dilakukan di danau tenang, dengan memanfaatkan tonggak-tonggak yang ada di lokasi (kalau tidak ada biasanya nelayan akan membawa tiang pancang talinya sendiri), nawau ini sedikit berbeda. Nawau dilakukan di sungai pegunungan berarus cukup deras, tali yang digunakan adalah tali nylon berukuran up 50 lbs dengan model pancing long shank (tangkai panjang). Umpan yang dipakai bisa buah lendungo atau buah lempasu. Keduanya bisa dipakai tetapi menurut mereka paling ampuh adalah buah lendungo. Buah hutan yang biasanya tumbuh di tepian sungai tetapi tidak bisa dikonsumsi manusia karena sangat asam. Keberadaan pohon lendungo juga menjadi indikasi bahwa areal di sekitar buah tersebut dengan arah ke hilir sungai, adalah habitat ikan-ikan jenis herbivora. Karena pohon buah ini secara alami menyediakan makanan untuk ikan-ikan di bawah-nya (di sungai). Jadi paling efektif teknik nawau dilakukan di sekitar keberadaan buah lendungo ini hingga ke arah hilir. Tali pancing untuk teknik ini diikatkan pada ranting-ranting hidup yang ada di sepanjang sungai, bukan dengan nenancapkan tongkat pancang di setiap titik kita meletakkan umpan. Biasanya umpan lendungo diletakkan di tepian arus di badan sungai yang cukup dalam tetapi sekitarnya cukup teduh.

Setelah meletakkan beberapa nawau di berbagai titik yang kami anggap strategis, kami kemudian pindah ke titik-titik nawau sehari sebelumnya. Hasil memeriksa pancing yang pertama kurang memuaskan karena hanya berisi ikan patin sungai (mendalong). Namun pada pancing nawau di titik kedua ikan yang berhasil kami dapatkan adalah ikan kaloi atau ikan klawor ini. Ukurannya sangat mengesankan karena yang pasti beratnya lebih dari 7 kilogram. Yang menarik, saat umpan nawau kita jelas berisi ikan besar, juru batu perahu selalu minum air sungai sebelum meng-handle ikan yang telah tersangkut di pancing nawau tersebut. Menurut orang Dayak Berusu, meminum air sungai (yaitu ketika telah yakin ikan besar ada di pancing atau jaring kita), akan membuat ikan yang berontak menjadi spooky dan lemas. Percaya tidak percaya tetapi saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ikan klawor besar tersebut langsung lemas dan kita pun dengan mudah dapat menaikkan ikan ke atas perahu kita. Begitulah bagaimana kami memancing ikan klawor tersebut, sehingga foto-fotonya kemudian bisa menjadi cerita disini. Salam wild fishing!!!

* Pictures taken on May 2015 by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers