Tuesday, 14 July 2015


Teriring ucapan terimakasih kepada seluruh sahabat pemancing yang membantu kami selama di Tanjung Selor, Kalimantan Utara dan Pangkalpinang, Pulau Bangka. Catatan kecil ini juga diniatkan sebagai bentuk salam kepada seluruh rekan kerja di Jejak Petualang, terutama yang ikut ‘gedubrakan’ pada produksi empat episode pertama ‘new’ Jejak Petualang Wild Fishing ini. You know who you are!


Juni 2014, kota Palangkaraya di Kalimantan Tengah terasa membara saking panasnya. Matahari begitu dekat dengan bumi dan ‘membakar’ tanah Borneo dengan garang. Hanya saja waktu itu kebetulan tidak terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan (sebenarnya sebagian besar terjadi karena pembukaan lahan) seperti akhir-akhir ini sering terjadi saat kemarau tiba. Sehingga meskipun cuaca begitu panas ‘menyengat’ kepala saya masih cukup nyaman dengan keadaan yang ada dan bisa beraktifitas di luar ruang seperti biasa. Hanya memang aktifitas masyarakat kota Palangkaraya waktu itu tergolong sepi karena kebetulan sedang bulan puasa bagi umat muslim. Saat siang hari kota terasa begitu lengang dan kurang aktifitas, hanya setelah senja hingga malam saja suasana kota Palangkaraya begitu hidup. Bisa jadi sebenarnya keadaan seperti ini terjadi karena saat siang hari banyak orangt tidak tahan untuk berkegiatan lama-lama di luar rumah saking panasnya, sehingga memilih melakukan banyak hal setelah matahari tenggelam.



Saya tiba di kota Palangkaraya setelah melakukan perjalanan panjang selama lima jam dari Desa Paduran, Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau. Desa kecil di tepian Taman Nasional Sebangau, lokasi dimana selama hampir sepuluh hari sebelumnya saya dan beberapa rekan kerja lainnya di Jejak Petualang Trans|7 melakukan dokumentasi tentang rawa gambut. Ketika kemudian kaki berhasil menjejak sebuah lobby hotel berbintang di Palangkaraya hati kemudian terasa begitu dingin dan pikiran pun berangsur tenang. Seperti baru saja terlepas dari ‘hukuman’ berat bernama cuaca yang mungkin saja ini semua akibat pemanasan global yang entah di mana ujung pangkalnya. Pada situasi seperti inilah saya bertemu untuk pertama kali dengan seorang gadis rupawan (masih kuliah) yang juga menjadi seorang presenter televisi bernama Chintya Tengens. Hari-hari berikutnya saat itu adalah bekerja melanjutkan tugas kami yang belum selesai di derah Kalimantan Tengah, mendokumentasikan siasat kehidupan masyarakat di pedalaman akibat kemarau yang merajalela. Melanjutkan tugas kami yang sebelumnya kami kerjakan bersama dengan presenter Vika Fitriyana yang karena suatu hal harus segera kembali ke Jakarta lebih dahulu.

Usai trip Kalimantan Tengah ini kami kembali ke Jakarta dan ‘tenggelam’ dalam kesibukan masing-masing. Saya harus kembali melakukan perjalanan ke berbagai daerah dan belajar banyak di program baru bernama Jejak Petualang, program yang berbeda dengan program saya bertugas sebelumnya; Jejak Si Gundul & Mancing Mania. Dan sepengetahuan saya melalui berbagai media sosial, nona Tengens ini tampaknya kembali sibuk di bangku kuliah yang konon karena ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu sehingga off untuk sementara waktu dari dunia pertelevisian nasional. Waktu berlalu tanpa terasa, dan kami bisa kembali bertemu dalam tugas pada bulan Mei 2015 di daerah Kalimantan Utara, atau setelah dua belas bulan kemudian!






Sebelum kami memasuki daerah pegunungan di Kalimantan Utara tersebut, memang kami sudah sempat bertemu beberapa kali di kantor Trans|7 di Jakarta. Yaitu dalam rangka mempersiapkan beberapa hal dan tentunya membangun kesepahaman bersama mengenai perjalanan dengan corak baru yang akan kami tempuh bersama di waktu mendatang.  Selama ini kegiatan alam bebas memang telah menyatu dengan kehidupan nona Ambon manise ini. Utamanya kegiatan naik gunung dan tentunya secara otomatis dia telah begitu dikenal di kalangan pegiat alam bebas Indonesia. Tentunya wajar jika pada beberapa pertemuan kami (yang juga disertai produser program) kami perlu untuk mengikrarkan niat bersama dalam rencana tugas yang akan kami jalani ini, sebab apa yang menunggu di depan jauh berbeda dengan dunia petualangan yang identik dengan naik gunung. Melainkan dunia petualangan sportfishing yang dekat dengan perairan baik itu perairan tawar (freshwater) dan juga laut (saltwater). Belum lagi ditambah dengan bahwa kita harus menguasai teknik dan pemahaman sportfishing yang mumpuni agar bisa luwes menjalaninya.

Perbedaan playground ini tentunya akan memerlukan efforts lebih dari kru yang terlibat yang selama ini mungkin belum sering bersentuhan dengan perairan. Saya tentu tidak memiliki masalah dengan perairan baik itu tawar maupun laut, karena sudah sangat sering bersinggungan baik dalam pekerjaan ataupun melalui hobi sportfishing yang saya tekuni selama ini. Tetapi bagi Chintya Tengens ini adalah wilayah yang sangat berbeda baik itu sebagai hobi dan pekerjaan. Yang menggembirakan, saat itu dengan disaksikan dengan kelamnya langit Jakarta (karena memang kami bertemu di kantor saat malam hari, hehehe...), dia bersedia terlibat menjadi presenter program Jejak Petualang Wild Fishing. Melanjutkan peran presenter yang sebelumnya dipegang oleh seorang pemancing terkenal Indonesia bernama Joe Michael. Padahal nona Ambon ini sebelumnya sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia mancing memancing ikan, kecuali mungkin seperti sering dia ucapkan yakni “memancing keributan”. Paham gw Ngens! Hahahaha!  Kami yang berkepentingan dengan program ini pun merasa lega dengan antusiasme yang dia tunjukkan dan dalam hati ikut tersenyum, karena negeri ini sebentar lagi akan memiliki lady angler jelita yang akan “mengguncang” dunia sportfishing nasional!

Sungai pegunungan di wilayah Kalimantan Utara yang kami datangi Mei lalu sebenarnya adalah fishing ground yang sangat ideal untuk petualangan wild fishing. Sayangnya saat itu kondisi sungai relatif keruh akibat aktifitas pembukaan lahan kelapa sawit di wilayah hulu. Jadi meski di kawasan yang kami jelajahi tidak hujan misalnya, seluruh badan sungai hingga hilir akan sangat keruh jika di wilayah pembukaan lahan kelapa sawit tersebut turun hujan. Kondisi ini (menurut masyarakat Dayak Berusu yang menemani kami) katanya tidak seperti dahulu yang meskipun hujan besar sekalipun sungai akan cepat kembali jernih. Selama hampir sepuluh hari di pedalaman, kami tinggal di hutan tepi sungai yang menjadi hak ulayat Dayak Berusu. Di bagian hulu sungai tersebut, perjalanan dua hari dengan ketinting ‘mendaki’ ke arah hulu, kami tinggal di rumah panjang milik nenek moyang mereka yang kini telah ditinggalkan (Dayak Berusu direlokasi pada tahun 1970 ke arah hilir dekat dengan jalan raya antara Tanjung Selor - Malinau).

Sungai tersebut seharusnya adalah ‘surga’ wild fishing untuk spesies ikan pelian (mashseer), barop (hampala), klawor (kaloi), dan bahkan juga ikan tembaring (black bass). Saya pernah melihat di Biak Papua, bahwa spesies black bass rupanya juga suka naik ke sungai arus deras di bagian hulu. Rupanya di Kalimantan juga ada fenomena tersebut dan ini membuat saya semakin bersemangat. Nyatanya, sungai milik Dayak Berusu tersebut memang ‘surga’ memancing air tawar. Meski kami tertekan dengan situasi banjir yang terus datang dari arah hulu, kami berhasil menggaet hampir semua spesies ikan bergengsi yang kami harapkan. Untuk pemancing pemula, sungai pegunungan memiliki tantangan yang tidak mudah. Untuk urusan melakukan casting (melemparkan umpan) saja misalnya, kita dituntut mampu mengatasi rintangan berupa banyaknya sangkutan dahan pohon, sempitnya badan sungai, derasnya arus, dan itupun harus diimbangi dengan akurasi yang tinggi. Saya tidak menyangka seorang pemula seperti nona Tengens mampu mengatasi semuanya itu dengan cepat, padahal waktu di Jakarta waktu belajar yang ada juga tidak banyak. Tetapi kalau berkaitan kehidupan sehari-hari di pedalaman memang saya tidak ragu sama sekali dengan dia. Mandi di sungai, tidur beralaskan papan kayu, makan dengan menu seperti layaknya orang pedalaman, semua dilakoni dengan biasa saja dan malah saya melihat dia begitu menikmatinya. Kalau saya tidak salah mengingat, berat badan nona Ambon ini saat itu ‘membengkak’ beberapa kilogram, ditandai dengan semakin bulatnya pipi! Hahaha! Pekerjaan rumah memang masih ada, yaitu bagaimana caranya meningkatkan skill sportfishing, sehingga dia semakin luwes bermain dan mendapatkan semakin banyak sambaran dari hasil dia sendiri ‘membaca’ lokasi bermain yang ada di hadapannya. Tetapi wajar jika ini memerlukan waktu, mengingat dunia mancing sama sekali baru bagi dirinya. Melihat dia begitu bersemangat saja, sudah menenangkan bahwa apapun nantinya akan bisa teratasi seiring berjalannya waktu.

Pulau Bangka menjadi fishing ground kedua yang kami tuju dalam rangka dokumentasi ‘new’ wild fishing ini. Lokasi pertama adalah rawa-rawa Paya Benua di Bangka Induk. Ini adalah habitat ikan dalam keluarga snakehead (gabus dan tomman) yang sangat potensial. Namun Paya Benua ini memang sangat kompleks, dahulunya konon hanya berupa satu aliran sungai saja, tetapi dalam perkembangannya kemudian tercipta tepian rawa yang sangat luas, menjadikan sungai utama berada jauh di tengah ‘dikurung’ rawa air tawar yang lebat dengan tanaman air yang menguasai seluruh penjuru perairan. Memancing dengan teknik sportfishing di lokasi seperti, bahkan bagi pro angler sekalipun, memerlukan usaha yang ekstra keras. Baik dalam perpindahan atau mobilitas kita, kemampuan dan jarak casting dan juga menghadapi tantangan alam lainnya akibat karakter perairan yang sangat khas dan kompleks. Terendam air sepanjang hari bukanlah perkara mudah, apalagi kita dituntut terus beraktifitas dan mendapatan sambaran dari ikan target. Belum lagi ditambah dengan panas dan hujan yang datang silih berganti, kegiatan memancing menjadi sangat menguras tenaga dan sekaligus menguji mental kita. Sebenarnya ada terdapat sampan-sampan nelayan, tetapi ukurannya sangat kecil dan idealnya hanya untuk satu orang saja. Praktis hampir semua kegiatan kami di lokasi ini dilakukan dengan berendam di air rawa yang lebat dengan tanaman air tersebut. Rupanya ini juga bukan suatu masalah bagi new lady angler kita. Saya tetap melihat semangat yang sangat tinggi dalam melakukan kegiatan memancing dan lebih jauh lagi dalam menunaikan pekerjaan. Beberapa ikan tomman yang kami dapatkan pada akhirnya hanyalah penanda yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan kobaran semangat dan komitmennya kepada program.

Hari ini, 14 Juli, nona Ambon ini merayakan ulang tahunnya yang ke-22 kalau saya tidak salah ingat. Happy birthday nona...!!! Daaaan, pada tanggal 23 Juli 2015 nanti, salah satu episode hasil dokumentasi kami di sungai pegunungan (upper river) Kalimantan Utara bersama masyarakat Dayak Berusu bulan Mei lalu rencananya akan mulai ditayangkan di Trans|7. Ada senyum kelegaan dan kepingan memori yang kembali menyeruak di sanubari, mengingat banyaknya suka duka yang kami hadapi bersama dalam menunaikan tugas tersebut. Hati kecil berharap, semoga niatan seorang gadis pendaki gunung menjadi lady angler semakin kuat, dan niatan program mendokumentasikan kearifan lokal dan kekayaan perairan Indonesia dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Untuk nona Tengens, beta mengucapkan welcome aboard, may your adventure full with monster fish and fun! Tightlines!!!

 * Pictures taken between May & June 2015. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers