Saturday, 18 July 2015



Banyak hal bisa dibahas dari perairan tawar rawa Paya Benua (selanjutnya ditulis Payben) di Bangka Induk. Bagi yang tertarik dengan rawa air tawar mungkin akan terkesan dengan rapatnya ganggang air di sepanjang tepian rawa ini. Bagi yang takut binatang air semisal buaya dan ular atau pacet, mungkin akan memasukkan lokasi ini ke dalam black list. Bagi yang memperhatikan perubahan ekosistem mungkin akan menjadikan ini salah satu contoh ekosistem yang berubah. Dahulu Rawa Benua tidak sepanas sekarang ini, yakni ketika kebun kelapa sawit belum ‘mengepung’ perairan tawar yang sangat kompleks ini. Saya tertarik semuanya tetapi titik berat saya hanya pada dua hal; Payben sebagai ekosistem perairan tawar yang menjadi ‘ladang’ penghidupan nelayan individual setempat dari jaman kuno, dan kedua Payben sebagai habitat ikan dalam keluarga snakehead (gabus dan tomman) yang masih cukup potensial. Artikel ini tentang yang pertama, terutama dikaitkan dengan kearifan lokal masyarakat Payben dalam ‘memetik’ potensi alam yang tersedia di Payben. Caranya sangat unik, ada yang menggunakan umpan pecahan piring!

Dengan niatan ikut-ikutan memecahkan piring inilah, kemudian bersama tim Jejak Petualang Wild Fishing Trans|7 kemudian kami pun berangkat menuju ke Payben. Bagi saya ini kali kedua saya ‘nyemplung’ di perairan ini, yang pertama pada pertengahan tahun lalu. Yang menarik dalam konteks pekerjaan yang sama hanya saja kali ini timnya lebih meriah, lebih kekeluargaan, lebih menyatu, dan lebih saling menjaga satu sama lain layaknya sebuah keluarga. Berbeda dengan yang terdahulu yang penuh kompetisi dan ego yang anehnya harus satu pihak saja yang terpuaskan. Kabar tentang penggunaan pecahan piring sebagai umpan mencari ikan saya dapatkan dari sahabat saya Thomas Mayase, pemancing Pangkalpinang yang merupakan kepala sukunya para pemancing di seluruh Pulau Bangka. Dalam konteks artificial lure (umpan palsu/umpan buatan) yang digunakan manusia dalam mencari ikan, umpan pecahan piring ini sama sekali baru/aneh/unik bagi saya dan setahu saya juga belum pernah ada tayangan di media televisi nasional kita yang membahas tentang hal ini. Mungkin nanti baru akan ramai setelah hasil dokumentasi kami di Payben ditayangkan. Hehehe!

Piring yang digunakan bisa piring apa saja asal piring “beling” atau piring keramik. Bukan piring “seng” atau “alumunium” karena setengah mati mecahinnya. Warna putih yang paling efektif untuk digunakan karena perairan rawa benua relatif gelap akibat banyaknya tanaman air dan memang secara umum, air di Payben cenderung gelap meski di hari panas sekalipun. Pertama-tama piring harus kita pecahkan dahulu dalam ukuran empat jarian. Bukan dipecahkan dengan dihancurkan berkeping-keping dalam ukuran yang tidak jelas ya, apalagi sambil dilempar-lempar, kalau itu sih sedang berantem namanya. Jadi dari satu buah piring paling-paling bisa kita dapatkan sekitar lima atau enam pecahan yang layak pakai. Setiap kali berangkat mencari ikan, nelayan Payben biasanya memecahkan empat atau lima piring yang tidak selalu baru. Kalau ada piring rusak milik sendiri atau milik tetangga yang dihibahkan bisa dibawa ke lokasi ini untuk dijadikan hal yang kembali berguna. Hanya saja saat itu memang kami membawa piring baru dengan warna putih terang yang kami beli di Pangkalpinang.

Saya mencoba menelusuri dengan menggali informasi ke beberapa nelayan tua di Payben, siapa pertama kali yang memiliki ide “gelo” ini. Atau bagaimana awal mulanya sampai tercipta kearifan lokal perairan tawar yang nyleneh ini? Tidak ada yang bisa menjawabnya karena mereka mengatakan hanya meneruskan ilmu yang memang sudah ada dari dahulu kala. Apakah mungkin awal mulanya karena perselisihan rumah tangga, banyak piring pecah di rumah, kemudian iseng dibawa ke Payben untuk dibuang? Tanya saya. Mereka hanya tertawa. Berarti cara ini memang sudah terjadi sejak lama, namun tidak semua nelayan selalu menggunakan cara ini setiap hari. Lebih tepatnya cara ini dilakukan berbarengan dengan cara yang umum. Selain dengan umpan pecahan piring, bubu ikan yang mereka pasang di Payben juga ditaruh umpan lainnya seperti potongan kelapa bakar, ikan-ikan kecil yang dibusukkan, dan umpan bau lainnya dari daging busuk dan lain sebagainya. Kalau ada yang sedang pesta misalnya di desa, berarti umpan yang digunakan serba berhubungan dengan sisa-sisa daging ayam. Kalau untuk umpan najur/neger/teger/nawau, mereka selalu menggunakan umpan lele lokal hidup dengan target utama ikan tomman besar atau ikan tapah.

Target utama bubu umpan pecahan piring adalah ikan-ikan kecil, rata-rata berukuran satu hingga empat jarian, yang berukuran kecil lebih mudah dijual di pasar lokal (bukan hanya ikan saja ini menurut saya, hehehe...). Berbeda dengan kita para pemancing yang lebih memilih ikan-ikan berukuran besar sebagai target utama dan malu dengan ikan-ikan kecil. Beberapa jenis ikan kecil yang banyak terdapat di Payben antara lain ikan dalam keluarga barb fish (paling banyak adalah ikan kepalau), ikan keperas (menyerupai betok tetapi bukan betok), dan ikan-ikan patin sungai berwarna gelap. Yang paling menarik perhatian saya adalah ikan kepalau. Barb fish ini sangat cantik. Dengan garis horisontal dari bagian ekor hingga kepala. Menyerupai ikan cherry barb yang banyak diperlihara pehobi aquarium fish dan atau juga red line barb yang banyak terdapat di upper river India. Secara jumlah tangkapan, hasil bubu dengan umpan piring ini rata-rata berkisar antara satu hingga tiga kilogram saja per hari. Lebih dari cukup bagi nelayan Payben untuk menyambung hidup (dengan asumsi harga ikan stabil, per kilogram ikan air tawar Payben laku dijual 35 ribu rupiah ke tengkulak atau di pasar lokal). Oh ya hampir lupa, nelayan Payben adalah tipikal nelayan individual. Mereka mengais rejeki sendiri-sendiri dengan menggunakan sampan-sampan kecil yang idealnya hanya mmapu menampung maksimal dua orang saja. Dengan dimuati dua orang ini saja sampan sudah sangat riskan terbalik, karena batas airnya yang sangat mepet dengan ‘bibir’ sampan. Seperti saya alami sendiri, kena goyang sedikit langsung “numplek!”.

Kenapa pecahan piring bisa menarik perhatian ikan-ikan kecil di perairan tawar, menurut saya penjelasannya sebagai berikut, inipun juga usai mengamati sekilas gambar-gambar underwater yang kami rekam selama di Payben. Umpan pecahan piring, saat di dalam air, padahal sekilas kalau kita lihat dari atas (permukaan), air di kedalaman rawa pasti gelap hitam kehijauan, ternyata piring memancarkan pendar cahaya tertentu. Karakter cahayanya ini berbeda-beda tergantung sudut cahaya yang masuk ke dalam air, intensitas cahaya, dan juga posisi pecahan piring itu sendiri saat di dalam air. Ditambah dengan arus (meski pelan sekalipun), pendar cahaya ini menjadi semakin unik dan memang terlihat ‘menggoda’. Bayangkan saja seluruh kedalaman air di penjuru rawa rata-rata memiliki cahaya yang sama, buram. Dengan hadirnya ‘lampu-lampu’ pecahan piring ini, ikan-ikan menjadi tergoda untuk datang, mengamati dan kemudian bergabung di dalam bubu. Mungkin mereka menganggap pecahan piring ini adalah makanan, dan atau bisa jadi menganggapnya kawan main baru. Yang pasti pendar cahaya pecahan piring ini menjadi sesuatu yang baru di dalam air rawa Payben. Bubu biasanya diletakkan di perairan sedalam dua meteran, di lokasi yang permukaan airnya sedikit terbuka dari tanaman air, tetapi sebisa mungkin di atas bubu kemudian diberi peneduh dari rerumputan atau ranting berdaun sehingga bagian dalam bubu tidak terlalu panas.

Singkat cerita, kami sukses besar membantu nelayan Payben memecahkan piring-piring dan membuktikan bahwa umpan aneh ini memang proven dapat dipakai untuk mencari ikan di perairan tawar. Salut kepada seluruh nelayan Payben untuk kreatifitasnya, dan juga atas komitmennya terhadap kegiatan menangkap ikan ramah lingkungan yang mereka terapkan disana dari waktu ke waktu. Tak heran, jika perairan Payben ini mampu menghidupi ratusan nelayan di desa-desa sekitarnya dari wakut ke waktu. Mungkin sedang ada yang ingin mencoba menjajal sensasi aneh memecahkan piring-piring tetapi untuk sesuatu yang bermanfaat, tanpa harus marah-marah? Silahkan datang ke Paya Benua! Salam wild fishing!
























* Pictures taken on June 2015 by me otherwised mention. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers