Friday, 17 July 2015



Ketika hendak menulisk artikel omong kosong ini, pikiran saya kembali ‘terlempar’ ke kota Sambas di Kalimantan Barat. Kota kecil yang menarik, berada di ujung barat paling utara Kalimantan dan lebih dekat ke Malaysia dibandingkan ke Jakarta. Saya pernah berkeliling kota ini beberapa hari sekitar bulan Mei 2014 bersama tim liputan Jejak Si Gundul Trans|7. Di kota ini, warga jika ingin berpesiar atau berbelanja seringnya ke Malaysia dibandingkan ke kota-kota besar lainnya di Kalimantan Barat, misalnya saja Pontianak. Yang saya suka dari kota ini, letaknya bersebelahan dengan sebuah sungai besar yang sangat cantik. Bangunan di kota  beberapa masih mencerminkan kemegahan masa lalu Kesultanan Sambas. Tetapi ini bukan hendak membahas tentang masa lalu, ataupun keadaan sosial ekonomi suatu wilayah geo-politik Indonesia di dekat perbatasan, namun memang masih terkait dengan geografis.

Lagi, dan selalu akan begini, yang saya akan tuliskan adalah tentang ikan. Hehehehe. Pada waktu itu saya bersama rekan-rekan pemancing Sambas Sportfishing Club dijamu dengan one day trip memancing ke sungai di bagian hulu. Jarak lokasi mancing saat itu dari kota dengan menggunakan speedboat adalah empat jam perjalanan! Namun memang tidak terasa jauhnya sebab kami menggunakan speedboat dengan kecepatan tinggi, sudah begitu sungainya juga lebar-lebar dan banyak pemandangan. Singkat kata spot tomman (Giant snakehead) di sungai tersebut jauh berbeda dengan bayangan saya sebelumnya, yang saya kira berupa sungai berarus tenang dengan rawa-rawa lebar di kiri-kanannya. Rupanya spotnya berupa sungai dengan lebar antara lima hingga sepuluhan meter, dengan arus yang lumayan deras. Arus yang tidak pernah saya temui sebelumnya di beberapa spot tomman yang pernah saya pancingi di daerah lain yang berupa rawa-rawa tenang dengan tanaman ganggang dan teratai di segala penjuru. Tepian sungai ditumbuhi dengan tanaman rasau (pandan air) yang tinggi-tinggi tetapi selalu memiliki beberapa celah yang rupanya merupakan ‘pintu’ dengan selokan-selokan kecil di sepanjang tepian sungai.




Malam hari sebelumnya, saya mendapatkan hadiah hard froggie dari seorang lure maker Sambas. Maaf bro saya lupa namanya. Lure ini dengan segera sudah ready saya kasih skirt berikut double hook. Well, saya memang selalu membawa piranti mancing kemanapun saya pergi. Sebenarnya tidak selalu memiliki niat memancing, tetapi lebih untuk jaga-jaga siapa tahu ada kesempatan membasahi lure milik saya. Alasan klasik memang. Hehehehe. Intinya setelah memancing seharian di sungai tersebut, kami berhasil mendaratkan beberapa ekor ikan tomman (kalau saya tidak ingat ada 7 ekor berbagai size). Yang paling besar justru yang didapatkan oleh Heru Gundul, host Jejak Si Gundul padahal dia bukan pemancing, melempar saja masih ‘belepotan’, tetapi itulah uniknya memancing, kita tidak bisa memilih ikan mana yang akan menyambar umpan kita. Tetapi meski seorang newbie sekalipun, akan memiliki kesempatan yang sama dengan pemancing kawakan selama newbie tersebut memiliki semangat uncal! 

Pelajaran yang saya petik dari lokasi di Sambas ada beberapa hal. Pertama bahwa memang sungai berarus agak deras terkadang juga menjadi habitat ikan tomman yang potensial. Ini mematahkan anggapan saya bahwa ikan tomman itu, apalagi yang good size cenderung menghindari perairan berarus karena akan menguras tenaga mereka. Adaptasi, ternyata spesies apapun selalu memiliki tingkat adaptasi tertentu dengan habitatnya. Pelajaran kedua adalah, bahwa lure produksi lokal bisa jadi lebih ampuh dengan lure mahal yang kita beli di toko-toko pancing dengan harga ratusan ribu rupiah. Ini dikarenakan lure buatan lokal, dibuat atas dasar pengalaman lure maker di perairan sekitar mereka. Hebatnya menurut saya, lure yang kami pakai di Sambas itu warnanya tidak menarik, hanya hitam dengan lengkungan garis putih. Kalah cantik dan seronok dengan berbagai foggie mahal yang saya bawa dari Jakarta. Hasilnya, jagoan lokal menang telak setelak-telaknya! Tambahan propeler juga sangat membantu penciptaan ‘godaan’ dan shock therapy terhadap penghuni sungai berarus tersebut. Ketiga, pelajaran yang saya dapatkan di Sambas, meski sungai tersebut cukup bising, karena banyak sekali perahu-perahu besar lalu lalang (sebagian malah kapal feri kayu antar desa), ikan-ikan yang ada tidak terganggu. Tetap menghantam umpan kita dengan ganas! Keempat ini lebih pada penyesalan, jika ada momen bagus baiknya dipotret dahulu, jangan mancing terus agar tidak menyesal kemudian hari. Di sungai kami berpapasan dengan sampan  kecil nelayan penuh dengan pete yang baru dipanen di hutan! Saya enggan memotretnya padahal ini sayuran kesukaan saya, ditambah lagi momennya sebenarnya luar biasa. Kini kalau saya mengingat kenapa saya tidak memotretnya dahulu, saya kembali menyesalinya. Hehehehe!



Satu tahun lebih satu bulan kemudian, yakni bulan Juni lalu, di Sungai Kotawaringin di Pulau Bangka, Bangka Belitung, saya kembali bertemu dengan sungai yang karakternya kurang lebih sama dengan sungai di Sambas. Hanya saja minus kapal-kapal besar antar desa. Umpan hard froggie yang saya dapatkan di Sambas kebetulan juga ada di dalam kotak umpan saya. Hasilnya memang di luar dugaan (baca: mengaggumkan). Casting tidak sampai setengah jam sambil drifting, sudah landed very good size giant snakehead yang ‘cantik’! Dan lagi-lagi beragam umpan cantik mahal lainnya yang ada kembali kalah telak dibandingkan umpan hitam kusam dan apa adanya tersebut. Yang berbeda di Kotawaringin, karakter arusnya lebih deras dan sungainya juga lebih sempit. Namun kelebihannya, sungai ini sangat sepi dari aktifitas perahu nelayan. Repotnya saat itu, cuaca berubah tidak menentu sepanjang hari dair panas ke gerimis atau juga terkadang hujan deras. Sehingga waktu kami memancing kurang maksimal dan juga ditambah beberapa kawan menjalankan puasa, kegiatan memancing yang kami lakukan harus kami atur sedemikian rupa untuk menghormati rekan-rekan kami yang menjalankan ibadah puasa tersebut. Garis besar tulisan berbusa tidak menentu ini kira-kira begini. Dimanapun kita memancing, akan lebih baik jika kita juga sambil mempelajari sesuatu yang ada di lokasi tersebut. Bukan hanya berkaitan dengan memancing sebenarnya, tetapi bisa lebih luas lagi misalnya bahasa, adat, dan lain sebagainya. Nah kalau berkaitan dengan mancing, jika kita selalu mempelajari sesuatu di manapun kita memancing, ‘ilmu’ tersebut akan bisa kita aplikasikan kembali di tempat yang berbeda.

Catatan penting saya dari memancing ikan tomman di sungai berarus adalah bahwa kita dituntut ekstra konsentrasi dan melakukan casting retrieve dengan interval yang sangat tinggi. Sebab perahu kita terus berhanyut dibawa arus, sehingga kita memang harus sangat sigap melempar dan menarik umpan kita dengan konstan tetapi dengan kecepatan yang terukur. Cara kita memancing tomman di danau luas tenang yang cenderung santai tidak bisa kita gunakan disini. Di sungai berarus kita harus sangat sigap melempar dan menarik umpan, dan tentunya memiliki akurasi lemparan yang di atas rata-rata. Kalau perlu celah-celah kecil antara batang rasau dan atau ceruk-ceruk kecil di tepian dapat kita bidik dengan tepat terus menerus. Hanya dengan cara ini kita memaksimalkan karakter sungai yang ada sekaligus kondisi drifting yang kita lakukan. Terakhir, jangan lupakan yang telah dengan tulus membantu kita menemukan bahagia dalam bentuk trip mancing di sungai tersebut. Oleh karenanya tulisan ini saya haturkan kepada rekan-rekan pemancing Sambas Sportfishing Club di Kalimantan Barat, dan rekan-rekan pemancing tomman di Pulau Bangka. Salam wild fishing!!!

* Pictures taken on Juni 2015 by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers