Sunday, 23 August 2015


Semacam coretan dibuang sayang dari apa yang saya tahu dari hasil ngobrol sambil ngopi dengan masyarakat Desa Paduran, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng di sela-sela suting. Sejak 2013 saya sudah bolak-balik empat kali ke desa ini, dari sejak jalanan masih ‘busuk’ seperti kubangan kerbau sampai tahun ini (2015) sudah cukup beradab. For your info, kami pernah ikut terlibat dalam memperkuat semangat warga dalam merawat jalanan desa mereka yang sangat hancur itu pada tahun 2013, dengan membuat bantalan dari pohon galam. Jenis pohon kayu putih yang sangat kuat yang memiliki karakter semakin terendam air atau tertimbun tanah atau lumpur, maka batangnya akan semakin keras. Meski sudah cukup beradab, untuk sampai di Desa Paduran ini tetap memerlukan waktu 4-4,5 jam sejak mobil kita berbelok dari jalur Trans Kalimantan di dekat Jembatan Pulang Pisau (ini jika kita datang dari arah ibukota propinsi Kalimantn Tengah, Palangkaraya). Di musim penghujan pun, mobil kita masih terpaksa menginap di tengah jalan setelah kita melewati Desa Maliku, di salah satu titik yang masih mungkin dilewati kendaraan roda empat, untuk kemudian kita melanjutkan perjalanan menggunakan kelotok ojek menuju desa melalu kanal yang berada persis di sisi jalan. Pada musim penghujan biasanya akan secara otomatis muncul pangkalan ojek kelotok dadakan yang dikelola warga, disitulah kita menyimpan mobil kita dengan sedikit was-was karena lokasinya sangat jauh dari pemukiman penduduk.

Kembali ke masalah “gigi jarang”, sebutan warga terhadap buaya penghuni Sungai Sebangau, ada sesuatu yang ingin saya tuliskan sedikit, ya itu tadi daripada terlupakan begitu saja, siapa tahu informasi ini ada gunanya untuk entah siapa. Hehehehe! Desa Paduran berada di ‘tepian’ Taman Nasional Sebangau, salah satu taman nasional rawa gambut terbesar di Indonesia. Kawasan ini merupakan habitat buaya Sebangau yang kabarnya merupakan spesies yang dilindungi. Salah satu batas luar kawasan taman nasional ini adalah Sungai Sebangau, di sekitar sungai besar inilah tersebar puluhan desa sejak di Kereng Bangkirai di Palangkaraya hingga Desa Paduran di Sebangau Kuala, Pulang Pisau. Dengan menggunakan speed boat saja, perlu seharian penuh untuk menyusuri aliran Sebangau menuju muara, jadi memang sungai ini sangat panjang. Pada musim air besar sungai ini juga menjadi jalur transportasi barang dan kargo yang cukup padat dengan menggunakan kapal-kapal kayu berukuran besar (up 35 GT).












Nah Desa Paduran ini kalau di peta Kalteng, berada di bagian ‘kiri bawah’ kalau di peta kawasan Taman Nasional Sebangau, tepatnya di sekitar kawasan penyangga di sekitar aliran Sei (Sungai) Paduran Alam. Intinya begini, kehidupan ribuan orang di sekitar Sungai sebangau tidak dapat dilepaskan dari memanfaatkan hasil hutan dan juga hasil perairan sekitar kawasan, yang artinya ada potensi persinggungan yang tinggi dengan “gigi jarang” Sebangau. Interaksi yang tidak begitu diharapkan oleh warga sebenarnya, tetapi bagaimana lagi, semuanya sama-sama hidup dan mencari makan di kawasan ini?! Saya mendengar pertama kali tentang buaya Sebangau ini pada tahun 2012 ketika menjelajahi Sungai Bakung dengan seorang rekan mancing di Palangkaraya Masbro Anang Taktik, pemilik ces kami, Pak Bella, rupanya keturunan langsung penakluk buaya Sebangau di masanya. Penaklukkan yang tidak diharakan, tetapi lebih pada reaksi akibat rusaknya hubungan harmonis antara manusia dan buaya, yang dipicu oleh ulah buaya menyerang (hingga mengakibatkan kematian warga) yang dilakukan buaya yang tinggal di areal tertentu. Ayah Pak Bella, kabarnya menjadi andalan warga Kereng Bangkirai saat ada buaya berulah membunuh manusia, beliau-lah yang turun tangan membuat perhitungan dengan sang pelaku di kawasan hutan rawa gambut Sebangau. Hal yang wajar dilakukan oleh warga, bukan tidak bermaksud tidak menghormati status konservasi yang ada. Namanya juga warga merasa sedih dan kehilangan anggota keluarganya, reaksi apapun tentunya harus kita coba mengerti dan bukannya membenturkannya secara text book dan kaku hanya kepada status konservasi saja.

Sebenarnya hampir tidak ada friksi yang berarti antara dua makhluk hidup ciptaan Tuhan ini. Orang-orang sekitar Sungai sebangau yang saya lihat justru memiliki respek yang tinggi terhadap spesies pruba ini dengan mengkeramatkannya dalam berbagai cerita, yang say alihat ini sebagi bentuk agar semua orang waspada terhadap potensi resiko yang terjadi jika kita lengah, dan tidak memburunya untuk kepentingan ekonomi atau apapun lainya. Namun konfrontasi bertegangan tinggi terjadi lagi di Desa Paduran pada tahun 2012, desa kecil yang sudah seperti menjadi desa saya sendiri saking seringnya saya kesini, dimana saya juga sudah seperti memiliki keluarga sendiri saking diterimanya oleh seluruh warga desa setiap saya tiba. Seekor buaya dikabarkan menyerang warga dan secara masif di kawasan tertentu, serangan ini terjadi secara beruntun, dari yang akibatnya hanya cacat berat, sampai kematian salah satu warga desa, yang mana yang meninggal ini adalah kerabat Kepala Desa Paduran sendiri, Bapak Rudi Hamid. Kepala desa sederhana yang sudah menjadi seperti ayah saya sendiri. Oleh karena sudah kelewatan, setelah melalui musyawarah adat, kemudian diputuskan untuk memburu “gigi jarang’ pembuat onar ini. Perburuan dilakukan dengan berbagai cara yang sebagian besar dengan melalui cara-cara supranatural. Namun cara ini tidak berhasil dan malahan membuat warga semacam diporotin para pawang buaya yang didatangkan dari luar daerah.

Akhirnya diputuskan dengan cara sederhana, dipancing dengan pancing khusus yang dibuat sendiri oleh warga (dibuat dari besi baja besar, saya pernah menyimpan pancing ini tetapi sayangnya hilang), kemudian sang pelaku dipancing di titik dimana dia sering menyerang manusia. Singkat kata akhirnya pelaku ini berhasil digoda untuk menyambar umpan yang dipasang oleh warga, dan kemudian ditangkap. Paling sulit kabarnya adalah cara membuat buayanya naik ke permukaan air, karena setelah tahu terpancing dan ternyata tidak mampu meloloskan diri, buaya tersebut terus berada di kedalaman air dan berdiam diri di sana. Beratnya yang luar biasa menyulitkan warga mengangkatnya, akhirnya diputuskan diselami dan ‘dipanggil’, yang memanggil naik ini adalah Rudi Hamid sendiri. Yang bertugas menyelam adalah pemuda pemberani bernama Sudi (ada di foto-foto yang saya pasang ini), anak bungsu Rudi Hamid. Setelah naik buaya kemudian diikat dan kemudian dibunuh (setelah dipertontonkan selama kurang lebih satu Minggu), selanjutnya dikubur di tanah sekitar kediaman Rudi Hamid sendiri. “Sebenarnya kami ini tidak tega melakukannya (membunuh buaya), apalagi dia juga menitikkan air mata ketika kami tangkap, tetapi bagaimana lagi, dia sudah membunuh keluarga kami,” demikian ujar Rudi Hamid.

Yang ingin saya sampaikan dari coretan iseng ini adalah, betapa warga sekitar Sungai Sebangau sebenarnya tidak ingin berurusan dengan “gigi jarang” yang juga mendiami kawasan ini. Namun bagaimana lagi, terkadang penegasan antara akal versus insting memang harus dilakukan ketika terpaksa. Buaya menyerang manusia dikarenakan insting predatornya yang termahsyur itu. Tetapi manusia harus menegaskan akal budinya, meski itu harus melalui cara yang tidak biasa dengan membunuhnya. Secara konservasi, adalah baik tidak ada kasus apapun yang menimpa buaya-buaya Sebangau, tetapi secara kelaziman manusia hidup, apa iya jika ada “gigi jarang” yang nakal akan dibiarkan saja, demi apa, agar korbannya semakin banyak? Oleh karenanya saya salut dengan warga Desa Paduran, yang bahkan demi untuk membuat perhitungan dengan satu “gigi jarang” pun, sampai diadakan musyawarah secara adat. Saat ini tengkorak "gigi jarang" ini disimpan di rumah kepala Desa Paduran. Dijadikan pengingat kehidupan alam liar yang ada di sekitar warga yang memerlukan kewaspadaan, sekaligus sebagai sarana bertutur terhadap situasi kawasan dimana masyarakat hidup hingga hari ini. Demikian dan salam wild fishing!

* Pictures taken on August 2015 by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers