Wednesday, 26 August 2015




Telah beberapa kali saya melihat proses rempa (jaring ikan) yang dilakukan oleh masyarakat Dayak di berbagai daerah di Kalimantan. Uniknya selalu ada detail dan sesuatu yang baru sesuai dengan kondisi geografis ataupun karakter perairan tawar yang menjadi ‘playground’ nga-rempa ini. Desa Sigi adalah desa kecil yang berada di jalur trans Kalimantan yang menghubungkan Palangkaraya dan Kuala Kurun, ibukota Gunung Mas. Jika menggunakan mobil perlu waktu sekitar 1 jam 15 menit, satu tahun lalu agak lebih lama sebab ada ruas jalan sepanjang dua kilometeran yang rusak. Tetapi bulan Juli lalu saya lihat jalanan sudah mulus semua, ruas jalan yang rusak tersebut telah diperbaiki oleh dinas terkait dan semoga mulus selamanya. Maksudnya semoga bukan proyek perbaikan jalan dengan perhitungan tertentu yang akan rusak tidak lama lagi (dan kemudian diperbaiki lagi, begitu berulang terus).

Kawan mancing saya Guruh Dwi Saputra menjadi ‘pintu’ yang menghubungkan saya dengan masyarakat Desa Sigi. Pemancing kelahiran Palangkaraya ini sering blusukan kesana mencari spot mancing tomman. Jadilah dia kemudian dekat dengan masyarakat Desa Sigi, terutama keluarga besar Bapak Balinga. Melalui tokoh desa ini pula lah kemudian saya beserta tim mampu membuat banyak dokumentasi kegiatan masyarakat di Danau Sigi, terutama terkait dengan musim kemarau yang juga ‘meledak’ di seluruh penjuru negeri. Debit air di danau menyusut dengan drastis ketika musim kemarau, membuat wilayah sebaran ikan menjadi lebih sempit. Ini yang membuat banyak warga beraktifitas di danau ketika musim kering seperti sekarang ini.

Danau Batu, demikian masyarakat menyebut genangan air seluas kurang lebih 6x lapangan bola tersebut. Tetapi tidak terlihat ada batunya sama sekali. Yang terlihat hanya rimbunnya pepohonan berbatang unik di tepiannya, terlihat sekali ini hutan kuno, dan warna air yang tidak pernah jernih. Air danau ini selalu coklat keputihan, serupa dengan warna air di Sungai Kahayan. Danau ini pada musim banjir memang menjadi salah satu luapan air dari Kahayan, berikut juga lumpurnya. Hehehe. Mungkin kerana hal inilah, air di danau relatif keruh sepanjang tahun, dan lumpur di dasarnya juga luar biasa. Hebatnya, populasi ikannya tetap banyak! Nama Danau Batu ini diambil dari penemu pertama danau, yang merupakan nenek moyang perintis Desa Sigi pada jaman dahulu. Konon hingga hari ini sebenarnya, di tengah danau ini ada pintu gerbang besar terbuat dari batu, tetapi hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu. Itulah kenapa nenek moyang orang Desa Sigi menyebutnya ini dengan nama Danau Batu. Saya sendiri juga tidak mampu melihat gerbang batu ini, malah tamu-tamu aneh yang cukup ‘mengganggu’ yang terlihat sepanjang dua hari suting di danau ini. Tetapi sudahlah, alam kita dan mereka berbeda, toh niatan kami baik, membawa kegiatan masyarakat Desa Sigi ke panggung televisi nasional.

Rempa, atau nga-rempa, setahu saya seringnya hanya dilakukan kaum laki-laki saja. Dan saya tidak menyangka sama sekali bahwa request iseng saya, bisa nggak kalau yang nga-rempa ibu-ibu, ternyata disanggupi oleh warga dengan penuh semangat. Kami terbiasa melakukannya juga kata ibu-ibu Dayak Ngaju ini. Wah cocok! Saya sering memikirkan, bahwa pekerjaan berat nga-rempa itu hanyalah tanggung jawab laki-laki saja, rupanya tidak demikian dengan masyarakat Sigi. Ada kesetaraan dalam kegiatan perburuan pangan yang dilakukan mereka, pria dan wanita bisa saling berbagi bergantian melakukannya. Ini menarik, mengingat di daerah lain banyak kaum perempuan yang leha-leha saja, dan cenderung enggan melakukan pekerjaan berat, dan menimpakan semuanya ke kaum pria-nya saja. Saya yakin ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, semoga. Bukan maksud saya menyuruh kaum perempuan untuk selalu bekerja berat ya, tetapi masalah saling berbagi dan bergantian dalam mencari bahan pangan (baca: kehidupan) inilah.

Secara umum rempa yang diterapkan oleh masyarakat Desa Sigi saat itu sebagai berikut. Karena danau ini cukup dalam, rempa hanya dilakukan di sekitar tepiannya saja yang dangkal, paling dalam saat itu sedada orang dewasa. Pertama jaring sepanjang tiga puluhan meter dipasang di ‘pintu’ sebuah ceruk/teluk kecil di salah satu sudut danau, kedu aujungnya lalu diikatkan pada tiang yang ditancapkan kuat. Kemudian rombongan rempa (waktu itu terdiri dari empat ibu-ibu dan host kami Madhina Suryadi) mengambil kayu sepanjang satu meteran, yang akan dipakai untuk memukul-mukul air. Kekacauan ini dimulai dari tepian, mengarah menuju jaring yang dipasang di bagian danau yang lebih dalam. Kekacauan ini dilakukan selama kurang lebih satu jam lamanya. Jika ada tepian danau yang rimbun dengan ranting pepohonan, ataupun batang kayu yang terendam, maka akan dikeroyok beramai-ramai supaya ikan yang bersembunyi ketakutan. Tujuan kekacauan ini adalah menciptakan suasana panik terhadap ikan-ikan yang ada, sehingga mereka akan berenang menghindar, dan kemudian menabrak jaring yang telah dipasang sebelumnya.

Saya melihat beberapa detail yang menarik dalam kearifan lokal yang dilakukan masyarakat Sigi ini. Pertama adalah ketika menutup tepian terbuka, di dekat kedua ujung jaring. Cukup dibuat semacam pagar dari ranting-ranting kayu, kemudian diperkuat dengan lumpur dari dasar danau. Kedua adalah penggunaan kayu pemukul untuk mengacaukan air danau, ini juga diambil dari sekitar tepian danau saja, itupun bukan batang yang masih tumbuh, melainkan batang yang telah kering atau mati. Detail lainnya ya itu tadi, struktur tepian yang rimbun ataupun struktur perlindungan ikan yang ada, akan dikacau beramai-ramai oleh seluruh rombongan untuk memaksimalkan efek kekacauan yang dilakukan. Semangat dan kerja keras jelas terpancar dari wajah-wajah perempuan Sigi ini, dan bagi saya ini luar biasa, karena sejatinya pekerjaan ini cukup berat. Belum kaki kita terjebak lumpur di dasar danau, belum jika kaki kita terantuk batang tajam yang terendam, dan juga belum resiko lainnya yang lebih besar. Pekerjaan ini dilakukan dalam rombongan, juga untuk meminimalkan adanya insiden yang mungkin saja terjadi. Jika dilakukan sendirian, selain berat juga hasilnya menjadi lebih sedikit. Dan kalau ada sesuatu menimpa kita di danau, tidak ada yang menolong dengan cepat. Contoh kejadian insiden di alam liar seperti ini misalnya; serangan binatang buas di air, terjebak lumpur, tenggelam, dan juga akibat gangguan ‘aneh’ yang kadang sulit dijelaskan dengan akal sehat.

Tidak ada hasil yang pasti dalam setiap perburuan di alam liar. Namun hari itu kami harus bersyukur karena mendapatkan beberapa ekor jenis snakehead fish (tomman dan ikan gabus) dengan ukuran yang cukup besar, berikut ikan-ikan jenis catfish seperti baung. Hasil selalu disyukuri oleh masyarakat, tidak ada keluhan, semuanya gembira. Jika sedikit hasilnya maka cukup akan dimasak sendiri untuk pemenuhan protein keluarga, jika banyak sebagian dapat dijual di pasar lokal untuk ditukar dengan beberapa lembar puluhan ribu. Dari nga-rempa beberapa jam di Danau Sigi ini saya melihat potensi ikan air tawar yang dimiliki masih beragam dan danaunya juga cukup sehat. Mungkin ini karena masyarakat menerapkan aturan ketat berkaitan pemanfaatan yang boleh dilakukan. Hal-hal yang merusak di perairan tawar mereka, seperti meracun dan menyetrum ikan, akan dikenai sanksi adat yang cukup berat. Begitu juga aktifitas penangkapan berlebih yang berpotensi overfishing, akan diperingatkan karena sejatinya danau ini adalah warisan abadi yang harus diteruskan manfaatnya kepada generasi berikutnya. Kerennnn!

















* Pictures taken on Juli 2015 by me & Eko Priambodo. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers