Wednesday, 26 August 2015







Untuk orang-orang Petuk Barunai di sekitar Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Yang tetap mampu bersikap dan melihat dengan keluhuran akal budi, ketika badai ‘jahat’ menimpa saya satu tahun lalu, dan efek-efek yang ditimbulkannya terkadang masih muncul sporadis hingga hari ini. Pernah terlintas untuk menghapus semua file foto, video, dan ingatan usai trip yang terjadi ke desa indah ini satu tahun lalu. Penyebabnya adalah isu-isu tidak bertanggung jawab yang ditimpakan kepada saya oleh pihak-pihak tertentu dengan segunung uang dan pengikut loyal yang sebagian besar hanya bisa menilai semuanya dengan ‘bias’. Untungnya, ketika saya merasa sendiri dan tertekan dan merasa dunia runtuh saat itu, saya masih diingatkan oleh Tuhan, bahwa semua selalu ada masanya. Tidak selamanya seseorang ataupun sesuatu mampu ‘menyetir’ semua orang. Mata yang silau akan mampu melihat kembali, yang lupa akan kembali sadar. Kini, setahun berselang, saya membuka kembali file Petuk Barunai, untuk mengenang orang-orang desa sederhana, penuh semangat dan gembira itu. Orang-orang Desa Petuk Barunai di tepian aliran Sungai Rungan. Kebangkitan saya kembali, salah satunya karena kalian melalui telepon itu yang menguatkan saya dengan kata-kata “Kami telah tahu yang sebenarnya Bang, sejak kalian semua menginjak desa kami pertama kalinya kami sudah tahu, mana yang bekerja apa adanya (baca: mana yang bekerja benar-benar mencari makan), dan mana yang ‘bermain’ dengan keberadaan dan keberlimpahannya, dan mana yang bekerja dengan tujuan lainnya. Datanglah kembali, pilihlah sesuka hati mau tinggal di rumah yang mana, kembalilah layaknya saudara yang pulang ke kampung halaman”.

Tahun lalu itu, Kalimantan Tengah sedang dilanda badai asap akibat kebakaran hutan dan lahan dengan hebatnya. Seluruh penjuru Kalteng seperti gelap meski siang hari dobrak sekalipun. Saya dan tim Jejak Petualang Trans|7 ikut mendokumentasikan penanggulangan kebakaran hutan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait, dan sedihnya harus kami bayar mahal. Host kami menderita sakit asma akut dan sempat ‘tumbang’ beberapa kali hingga ke UGD akibat menghirup terkena kabut asap. Liputan yang kami lakukan saat itu memang berat dan mungkin tidak semua orang mau/berani mengambil resiko seperti kami; ikut helikopter membuat hujan buatan, masuk ke hot spot kebakaran hutan, ikut Manggala Agni (pemadam kebakaran) memadamkan api di berbagai titik kebakaran, dan lain sebagainya. Sebagai gambaran hebatnya kabut asap yang terjadi, bahkan di kamar hotel kita pun pengap penuh asap. Dan bahkan seluruh rumah sakit yang ada di Palangkaraya, penuh oleh pasien yang menderita serangan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Meski didera beban yang super berat ini, kami masih gigih menyelesaikan tugas kami, yang sedihnya lagi, ternyata tidak semua orang bisa mengerti beban berat yang kami pikul di lapangan saat itu. Ketika membuat tulisan ini saya teringat kembali perjuangan dan semangat pantang menyerah dari host Vika Fitriyana, meski terkena serangan asma parah, masih ngeyel ingin ikut menyelesaikan liputan 3 episode (yang artinya harus berada selama 15 hari di ‘neraka’ kabut asap). Gadis cantik keturunan Batak ini memang memiliki semangat kerja yang di atas rata-rata, meski secara jujur harus saya katakan, kemampuan fisiknya terkadang kurang mendukung utamanya saat sudah terkena paparan panas tinggi sinar matahari dan juga kabut asap yang menggila itu. Kabut asap ini juga yang ‘menyerang’ seluruh penjuru Sungai Rungan, destinasi kami berikutnya usai menyelesaikan semua tugas di Palangkaraya. Desa Petuk Barunai persis berada di tepian anak Sungai Kahayan ini, dapat kami jangkau dari Palangkaraya dengan waktu tiga jam (dengan menggunakan mobil dan juga kapal kayu), tidak ada jalan darat yang bisa dilalui mobil ke desa ini hingga hari ini.

Mengurus seorang perempuan yang berjibaku dengan tugas di medan yang berat dengan kondisi fisik yang sedang sakit (dari diagnosa dokter di Palangkaraya, ada luka selebar 5 cm di dada Vika Fitriyana), tidak mudah. Dan siapa yang mau berjibaku dengan segala daya menjaga sekuat tenaga agar tidak ada kejadian fatal terhadap publik figur tersebut, saya. Saya tidak mengharapkan pamrih apapun, saya melakukannya sekuat tenaga dengan kerelaan tertinggi yang saya miliki. Karena saya memiliki tanggung jawab bukan hanya memanage semuanya agar tugas selesai, tetapi juga bagaimana menjaga semua anggota tim (keluarga kita dalam perjalanan di pedalaman ini) selamat hingga kembali ke Jakarta. Tetapi ternyata niatan dalam konteks tugas (profesionalisme) yang saya lakukan dalam menjaga salah satu anggota tim ini kemudian menjadi bahan ‘serangan’ jahat yang dilakukan oleh seseorang berlimpah uang tersebut. Saya diisukan ada affair, meminta duit ke orang kampung (narasumber), saya dituduh menghabiskan duit program, saya dituduh tidak membayar mobil vendor, dan lain sebagainya. Hancur nama saya karena tuduhan ini kemudian dibawa oleh pendukung orang berlimpah uang tersebut ke ranah media sosial, dan termasuk saya disidang di kantor.

Meski kemudian saya bisa menjawab semua tuduhan tersebut di kantor, dan membuktikan bahwa semua itu memang tidak benar. Saya tetap menjadi bahan tertawaan dan cemoohan beberapa bulan lamanya di beberapa komunitas mancing Indonesia dan mungkin hingga hari ini. Apakah mereka tahu, bahwa orang yang mereka cemooh itu rela mengarungi gelap gulita di Sungai Rungan dengan sampan kecil demi membawa si sakit ke UGD di Palangkaraya? Apakah mereka tahu, yang mereka cemooh itu bahkan harus mengetok pintu demi pintu rumah sakit demi mendapatkan kamar perawatan di pukul 01.00 dini hari?! Apakah mereka tahu, kami harus menyusuri jalanan penuh berkabut asap pekat tengah malam layaknya siput sementara si sakit sudah pingsan di jok belakang mobil?! Apakah mereka tahu, yang merka cemooh dan tertawakan itu harus muter kepala dengan berbagai cara menutup ini itu demi hasrat hedon beberapa gelintir orang yang tidak terbiasa bekerja berat?! Usut punya usut, ternyata ada semacam ‘hasrat’ yang bertepuk sebelah tangan dalam serangan jahat ini, itulah kenapa saya kemudian dihancurkan oleh orang berlimpah uang yang ‘hasratnya’ ditolak dengan berbagai cara tersebut oleh si sakit. Pelampiasannya ke saya, mumpung ada ‘bahan’ yang bisa dipakai untuk melakukan serangan, padahal sih demi menutupi malu supaya tidak ketahuan belang yang sebenarnya.

Aiiiih, sudahlah lupakan kisah biru ini. Kita baiknya kembali ke masalah rempa yang dilakukan orang-orang Petuk Barunai. Begini prosesnya, sebelum rempa ditebarkan, mereka akan melakukan semacam pemetaan kawasan, dalam hal ini badan sungai. Titik-titik dimana rempa (jaring) akan ditebarkan didatangi dan dinilai kelayakannya; dari segi arus, halangan, keamanan, dan terutama kemungkinan populasi ikan yang ada di dalamnya. Biasanya titik-titik rempa akan ditebar ini berupa lubuk-lubuk dalam berarus tenang, tempat dimana biasanya ikan akan bersembunyi menghindari arus deras di Sungai Rungan. Pada titik penebaran rempa pertama, kami tidak mendapatkan hasil yang bagus. Ikannya sangat sedikit dan juga proses penebaran jaringnya berat karena kondisi badan sungai yang kompleks. Kami kemudian memutuskan pindah ke danau kecil yang terisolasi, di dekat tepian sungai. Biasanya pada musim penghujan, danau ini terkena luapan air akibat banjir, tetapi pada saat kemarau akan terputus dari sungai utama. Biasanya akan terdapat banyak ikan yang terjebak di dalamnya karena terlambat migrasi ke perairan utama.

Hasil tebaran kedua sangat menjanjikan. Beragam ikan seperti tapah, tomman, gabus, baung dan lain sebagainya. Jumlahnya pun sangat banyak, padahal hanya sekali tarik jaring saja. Di momen ini saya kemudian belajar tentang semangat pantang menyerah dan kemampuan melihat potensi alam yang mereka miliki, sesuai dengan perubahan musim yang terjadi. Seluruh warga desa yang terlibat juga begitu bersemangat dalam bekerjasama melakukan rempa danau terisolai ini. Ini menginspirasi saya tentang semangat kerja dan kebersamaan dalam menjalani hidup. Bukannya saling menjatuhkan dan melemahkan, tetapi saling melengkapi dan mendukung demi tujuan yang lebih penting dan berkelanjutan. Proses rempa tidak dilakukan lagi di danau yang bagus tersebut, karena warga tidak mau ada kegiatan overfishing di perairan tawar mereka. Inilah yang membuat perairan tawar di sekitar Sungai Rungan terus mampu menyangga kehidupan seluruh warga dari waktu ke waktu. Sebab ya itu tadi, pemanfaatan yang dilakukan pada takaran yang wajar dan seperlunya saja. Bukannya membabi buta dan merusak demi kepentingan sesaat atau jangka pendek.

Semoga saya segera bisa kembali ke Petuk Barunai di tepian Sungai Rungan. Ingin rasanya kembali merasakan semangat dan kehangatan warga desa yang bersahaja, dengan semangat tinggi dalam mencari hidup tersebut. Namun jika tidak bisa saya lakukan dalam waktu dekat ini, catatan ini semoga menjadi semacam doa untuk kesehatan mereka semua, dan penguat jalinan persaudaraan yang baik antara saya dan mereka. Semoga!











 * Pictures taken on September 2014 by me, Vika Fitriyana, Irfan Padli. Dua orang yang saya tulis ini adalah host dan kameraman, yang menurut saya fair dan masih memiliki penilaian yang fair terhadap sesuatu yang menimpa saya saat itu. Terimakasih kawan! No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers