Thursday, 27 August 2015


Untuk orang-orang Petuk Barunai di sekitar Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Yang tetap mampu bersikap dan melihat dengan keluhuran akal budi, ketika badai ‘jahat’ menimpa saya satu tahun lalu, dan efek-efek yang ditimbulkannya terkadang masih muncul sporadis hingga hari ini. Pernah terlintas untuk menghapus semua file foto, video, dan ingatan usai trip yang terjadi ke desa indah ini satu tahun lalu. Penyebabnya adalah isu-isu tidak bertanggung jawab yang ditimpakan kepada saya oleh pihak-pihak tertentu dengan segunung uang dan pengikut loyal yang sebagian besar hanya bisa menilai semuanya dengan ‘bias’. Untungnya, ketika saya merasa sendiri dan tertekan dan merasa dunia runtuh saat itu, saya masih diingatkan oleh Tuhan, bahwa semua selalu ada masanya. Tidak selamanya seseorang ataupun sesuatu mampu ‘menyetir’ semua orang. Mata yang silau akan mampu melihat kembali, yang lupa akan kembali sadar. Kini, setahun berselang, saya membuka kembali file Petuk Barunai, untuk mengenang orang-orang desa sederhana, penuh semangat dan gembira itu. Orang-orang Desa Petuk Barunai di tepian aliran Sungai Rungan. Kebangkitan saya kembali, salah satunya karena kalian melalui telepon itu yang menguatkan saya dengan kata-kata “Kami telah tahu yang sebenarnya Bang, sejak kalian semua menginjak desa kami pertama kalinya kami sudah tahu, mana yang bekerja apa adanya (baca: mana yang bekerja benar-benar mencari makan), dan mana yang ‘bermain’ dengan keberadaan dan keberlimpahannya, dan mana yang bekerja dengan tujuan lainnya. Datanglah kembali, pilihlah sesuka hati mau tinggal di rumah yang mana, kembalilah layaknya saudara yang pulang ke kampung halaman”.

Beberapa foto berikut ini adalah tentang kegiatan ngeruhi, yaitu menangkap ikan tangan kosong. Di Petuk Barunai kegiatan ngeruhi ini hanya dilakukan oleh kaum perempuan saja, biasanya usai mereka bekerja di kebun atau mencari pangan di hutan. Sangat jarang ngeruhi dilakukan oleh kaum pria Barunai (yang pria biasanya akan ngerempa, berburu, dan lain-lain yang lebih berat). Informasi kegiatan unik ini saya dapatkan hasil bonus ngopi bersama warga desa suatu malam, adalah seorang tokoh pemuda bernama Bang xxxx yang menceritakan kegiatan ini. Karena ini menarik, saya langsung me-request kegiatan ini untuk didokumentasikan. Saya melihat warga Barunai memang memiliki antusiasme tinggi dalam bekerja dan berkegiatan, tak sampai satu jam Bang xxxx sudah mengabari saya bahwa ibu-ibu siap. Nama tokoh ini saya samarkan, biar tidak ada yang memakainya untuk kepentingan tertentu, dengan mencatut nama saya. Ini pernah terjadi di daerah lain, jadi baiknya saya berjaga-jaga saja. Ngeruhi hanya dilakukan pada saat musim kemarau, yakni ketika debit air Sungai Rungan menyusut drastis. Yang mana akibatnya, anak-anak sungai dan danau-danau kecil di sekitar aliran sungai juga ikut menyusut drastis, dan bahkan sebagian mengering. Beberapa anak sungai dan danau hanya tersisa lumpur pekat. Beberapa sungai kecil mengering, tetapi menyisakan genangan-genangan pada titik-titik tertentu. Di lokasi-lokasi seperti inilah ngeruhi dilakukan. Tentunya setelah melalui mapping sederhana dengan menilai tingkat keamanan dan kemungkinan terdapatnya ikan-ikan yang terjebak di sana.

Saat itu yang dipilih oleh rombongan ibu-ibu yang akan ngeruhi adalah anak sungai dekat desa, jalan kaki hanya perlu waktu setengah jam menembus hutan. View sekitar lokasi ini ‘menarik’ tetapi sedikit menyedihkan (anak sungainya kering sekali, dan terkesan meradang) akibat dihajar kemarau panjang. Sempat terlintas ibu-ibu akan enggan berbasah-basahan di air berlumpur pekat tersebut. Dugaan saya salah, mereka malah bersemangat sekali bermain lumpur mencari ikan yang ada. Lumpur diaduk-aduk tidak karuan agar ikan panik dan lemas akibat menipisnya oksigen di dalam air, bawah batang-batang kayu dibongkar, dan sesekali mereka berenang di dalam air berlumpur itu. Pekerjaan seperti itu, menurut mereka, sudah biasa dilakukan. Jadi kalau kami sekarang antusias, ya memang begini aslinya. Begitu ucap salah satu dari mereka. Tidak ada kecanggungan sama sekali, padahal baru pertama kali itulah mereka mengenal apa yang namanya kamera video. Setiap kali mendapatkan ikan mereka akan berteriak “dinuuun!”, bahasa Dayak Ngaju yang artinya dapat ikan. Ikan kemudian dilemparkan ke tepian sekuat tenaga, dan mereka akan kembali melanjutkan aktivitas ngeruhi. Dari ikan-ikan yang didapatkan waktu itu, terlihat bahwa mereka memang memiliki kemampuan mapping perairan tawar yang canggih. Tak heran kami bisa mendapatkan tapah, belida, ikan gabus dan tomman di sungai kecil berlumpur itu. Menjelang senja kami kembali lagi ke desa dengan menyusuri jalan hutan yang sama, sementara ibu-ibu tetap ceria dengan bahasa Dayak mereka, usai menjadi artis perairan tawar mewakili Petuk Barunai. Hehehehe!





 







* Pictures taken on September 2014 by me. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers