Tuesday, 25 August 2015


Kembali kita akan membicarakan makanan khas pedalaman Kalimantan. Tepatnya yang saya jumpai di Desa Paduran, Sebangau Kuala, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Umbut ilatung sebenarnya nama lainnya adalah juhu singkah atau yang dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan umbut rotan. Awalnya adalah hasil obrolan sore dengan keluarga Rudi Hamid, kepala desa Paduran. Ibu raudah, istri Rudi Hamid yang meski berusia senja, selalu bersemangat kalau membicarakan sedang sesuatu, keluarga ini sudah menganggap saya seperti anak sendiri, jadi apapun diceritain blak-blakan. Di antara keseruan bercerita kemudian terucap kata umbut ilatung yang enak, begitu katanya. Usut punya usut rupanya ini adalah umbut rotan. Saya sendiri pernah mendokumentasikan cara memasak umbut rotan ini di sekitar Palangkaraya, sekitar dua tahun lalu. Tetapi waktu itu bahannya kami beli dari pengepul di pasar, jadi bukan bahan segar, terlihat dari warna luar kulit umbutnya yang mulai berwarna coklat. Pedagang sendiri mengakui bahwa umbut tersebut telah berusia tiga harian selama dia perdagangkan di pasar tersebut. Tak heran ketika kemudian kami masak, rasa pahitnya terlalu dominan, padahal seharusnya tidak demikian.





Saya mungkin tidak begitu tertarik, andai Ibu Raudah tidak melanjutkan kisahnya bahwa dia sendiri bersama saudara-saudara perempuannya suka blusukan ke hutan mencari umbut ilatung ini. Kebetulan, ini yang ingin saya dokumentasikan, yakni perburuan bahan pangan yang dilakukan kaum perempuan di pedalaman Kalimantan. Menurut saya perburuan pangan di hutan yang dilakukan kaum perempuan Dayak itu heroik, menginspirasi dan mengundang respek. Saya pribadi selalu salut dengan kaum perempuan dimanapun itu berada yang selalu semangat bekerja, dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda tentunya. Khusus tentang masyarakat pedalaman Kalimantan, beban bekerja ini secara kasat mata, bagi kita yang tinggal di Jawa, cukup berat. Namun saya selalu melihat, mereka melakukannya dengan ‘santai’, macam kita di Jawa pergi berbelanja di pasar pagi. Tetapi yang mereka lakukan ini pasarnya berbeda, yakni di hutan-hutan sekitar tempat tinggal mereka. Ini menurut saya dapat menjadi sumber inspirasi kerja keras, semangat, kesetaraan dan kemandirian menjalani hidup bagi orang di daerah lain yang terbiasa dengan kemapanan dan uang.

Singkat cerita, pagi itu kami pun sudah ikut bersampan, dan kemudian melanjutkannya dengan blusukan ke hutan terdekat untuk mencari umbut ilatung ini. Benar adanya, bahwa hutan Kalimantan itu masih merupakan pasar serba ada, apapun kebutuhan kita seperti tersedia di ‘pasar’ ini, tidak sampai setengah jam sejak kami menambatkan sampan di tepian sungai kecil, umbut ilatung yang kami cari sudah kami temukan dalam jumlah yang banyak. Umbut ilatung seperti telah saya sebutkan di awal, adalah umbut rotan atau juhu singkah. Namun karena kawasan Paduran adalah hutan dataran rendah, yang mana juga tidak banyak lagi pohon-pohon besar yang super tinggi, umbut ilatung yang kami temui juga tidak berukuran besar dan panjang layaknya di hutan tropis yang masih sangat alami di kawasan dataran tinggi. Umbut ilatung yang kami jumpai di sini berupa rumpun-rumpun dengan ketinggian tidak lebih dari lima meter dan tumbuh berkelompok. Bisa jadi ini akibat rendahnya persaingan mendapatkan sinar matahari yang dilakukan tanaman di hutan tersebut, jadi meski tidak tumbuh tinggi, semua tanaman mendapatkan bagian yang rata dari sinar matahari setiap harinya. Jadi tidak perlu tumbuh tinggi-tinggi untuk sekedar mendapatkan sumber daya untuk fotosintesis yang diperlukan oleh daun mereka.

Entahlah, biarlah itu menjadi ranah ahli tanaman saja. Yang pasti ada perhitungan tertentu dalam mencari umbut ilatung ini. Caranya dengan menggunakan sistem penanggalan bulan. Mencari umbut ilatung kata Ibu Raudah paling tepat dilakukan ketika bulan di langit sedang besar. Pada kondisi seperti itu ukuran umbut kabarnya sedang besar-besarnya dan lebih manis (karena mengandung banyak air). Namun jika bulan sedang kecil, maka umbut ilatungnya biasanya akan kecil-kecil dan kurang manis. Benar tidaknya saya hanya mengukurnya dari penglihatan saya saat itu. Memang benar banyak sekali saat itu umbut ilatung yang berukuran besar, dan anehnya meski mentah sekalipun, rasanya enak sekali, tetap ada rasa pahitnya, tetapi segar sekali. Ini jauh berbeda dengan yang pernah saya rasakan di Palangkaraya dua tahun lalu, yang bahkan meski sudah dimasak dengan ikan dan lain sebagainya, rasa pahitnya masih sangat kuat. Yang pasti kemudian semua umbut ilatung yang kami dapatkan kemudian dimasak kuah asam (bukan sayur asam macam di Jawa ya) dengan campuran daging ikan tapah segar (ikan tapah yang kami olah baru mati satu kali, ya mati ketika kami olah saat itu, bukannya ikan yang telah diawetkan beberap akali seperti di Jawa). Hasil akhirnya kuah asam umbut ilatung ini, luar biasa! Pahit pedas asam tetapi sangat enak!

Mengenai cita rasa pahit, entah kenapa masyarakat Dayak sangat menyukai rasa ini. Terutama rasa pahit manis dari umbut ilatung, Rudi Hamid, mengatakan kenapa orang Dayak menyukai makanan ini dilatarbelakangi kisah kuno yang dituturkan dari generasi ke generasi. Pada jaman dahulu tersebutlah kisah, nenek moyang orang Dayak mencari pangan dengan berburu ke hutan. Salah satu orang kabarnya digigit ular berbisa dan hampir meninggal. Secara kebetulan korban gigitan ular berbisa ini dibaringkan di dekat tanaman rotan besar di dekat sebuah pohon, dan ajaibnya korban yang hampir meninggal ini mulai sadarkan diri. Terbersit ide kemudian memberi minum terhadap korban dengan air yang mengalir dari batang tanaman rotan ini (dengan cara dibacok bagian atasnya dahulu baru kemudian bagian bawahnya), eh ternyata si korban bisa sembuh. Inilah sebabnya kemudian kenapa bagian umbut dari tanaman ini sangat populer dikonsumsi oleh masyarakat Dayak hingga hari ini. Bisa jadi ini cerita karangan bapak saya Rudi Hamid sendiri, tetapi kalau mengingat bahwa beliau adalah orang sederhana yang tidak pernah neko-neko, saya percaya cerita ini benar adanya. Apalagi beliau sendiri adalah keturunan Dayak Ngaju.

Cita rasa pahit umbut ilatung ini, kurang lebih seperti kalau di Jawa kita mengkonsumsi daun pepaya muda, dan atau pare/paria. Rasanya pahit segar tentunya dalam tekstur yang berbeda. Dengan tambahan bumbu dan cara mengolah yang tepat, kita bisa menghasilkan olahan sayuran khas yang bisa membuat lidah ketagihan. Rasa pahit dalam sayuran, bagi saya pribadi, yang saya rasakan, membuat badan segar. Berbeda dengan sayuran manis dan tawar yang menurut saya cenderung membuat kita mengantuk. Atau mungkin karena badan saya yang telah menderita penyakit gula? Saya rasa tidak seperti itu karena Rudi Hamid menambahkan, bahwa selain itu juga membuat darah kita pahit, dan cenderung dihindari oleh nyamuk dan serangga. Inilah kenapa sayuran ini menjadi sangat populer, karena cocok dengan keseharian sebagian besar orang Dayak yang suka blusukan ke hutan, rawa dan lain sebagainya. Jadi ibaratnya kita seperti membawa obat nyamuk khusus di dalam darah kita sepanjang waktu. Informasi keren seperti inilah yang selalu ingin saya temukan dari setiap makanan khas daerah di pedalaman, dimanapun itu saya menjelajah. Sayangnya saking asyiknya menyantap kuah asam umbut ilatung ini, saya lupa memotret hasil olahannya. Anda dapat melihat dan merasakannya langsung dengan datang sendiri ke Kalimantan! Salam wild culinary!









* Pictures taken on Juli 2015 by me, otherwise mention. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers