Saturday, 12 September 2015


Mencoba membuka kembali lembaran kenangan lama, hasil trip ke Danau Ayamaru di Kabupaten Maybrat, Propinsi Papua Barat, pada bulan Agustus 2014. Ini adalah trip Jejak Petualang Wild Fishing kedua pada tahun tersebut, setelah satu bulan sebelumnya kami berjibaku dengan perairan tawar di Sungai Rokan Hulu dan di Sungai Kampar, Propinsi Riau. Danau Ayamaru berada di 170 km di selatan kota Sorong (perjalanan tujuh jam dengan kendaraan 4WD melintasi pegunungan berkelok tiada henti). Ada satu pos tentara harus kita lewati menuju Maybrat ini (pos untuk memeriksa peredaran miras dan katany ajuga senjata api), dan puluhan pos tradisional (maksud saya warga kampung yang selalu nongkrong di depan kampung mereka, mencari tumpangan setiap kendaraan yang melintas). Saran saya jika berniat kesana, pakailah kendaraan double cabin dari Sorong macam Hilux atau Strada. Jika ada yang menumpang, tinggal disuruh naik ke bak belakang. Bukan apa-apa, banyak yang menumpang tersebut kondisinya setengah sadar dan ada juga yang sebenarnya sudah tidak sadar (alias mabuk). Lokasi danau ini konon terletak di hamparan karts/gamping di Plato Ayamaru dengan ketinggian 280-382 meter dpl. Lokasinya cukup tersembunyi di wilayah Kepala Burung Papua (Semenanjung Vogelkop), tak heran tidak banyak orang yang mengenal keberadaan danau indah ini. Nama ‘ayamaru’ berasal dari kata aya (air), dan maru (danau). Di dalam kompleks Danau Ayamaru, terdapat danau-danau kecil antara lain Jow, Semitu, Yate. Kota Ayamaru sendiri merupakan ibukota Kab. Maybrat, Papua Barat.

Dahulu sekali kabarnya Bung Karno pernah berkunjung dan tinggal ke Ayamaru, rumah yang pernah ditinggali ini dijadikan cagar budaya. Danau Ayamaru juga tercatat sebagai sakah satu lokasi pendaratan kendaraan amfibi jenis beavier pada masa PD 2. Danau Ayamaru tergolong dalam danau yang termasuk dalam aliran kaskade tipe paternoster atau berada di elevasi yang mengalami penurunan secara bertahap. Ini terjadi akibat tumpukan lempeng Pasifik dan lempeng Australia yang bertabrakan. Sebagai danau karts, Ayamaru tidak mampu menampung limpahan air pada waktu musim hujan, jadi saat kemarau airnya tersisa sedikit. Danau termuda di kompleks Ayamaru disinyalir berusia 10,000 tahun. Mata air pramu memiliki warna air yang sangat jernih seperti air di laut yang bersih. Total luas Ayamaru adalah 890 hektare dengan kedalaman air saat ini menurut warga tidak sampai dua puluhan meter.

Danau Ayamaru merupakan habitat ikan endemik Melanotaebia boosemani, M. Ajamaruensis, dan M. Fasinensis. Ikan-ikan yang dikenal sebagai Rainbow fish of Papua ini pada tahun 1990-an banyak dieksploitasi besar-besaran karena banyaknya permintaan dari luar negeri akan ikan hias dari Papua. Kini populasi spesies cantik tersebut sudah menurun sangat drastis dan kondisi habitatnya juga cukup memprihatinkan. Tokoh Masyarakat Ayamaru, Johnson Salossa, seperti dikutip Antara pernah mengatakan bahwa biota air tawar dari Danau Ayamaru dulu pernah menjadi bahan yang sangat penting untuk kontak atau transaksi antara masyarakat Ayamaru dengan masyarakat luar dengan sistem barter tradisional atau sistem kona. Pada masa lalu, Danau Ayamaru juga menjadi persinggahan burung flamingo yang bermigrasi dari Australia. Namun kini sang flamingo juga sudah jarang singgah dalam jumlah besar seperti dahulu. Ikan rainbow fish apalagi, sudah cukup lama menghilang dari pandangan mata, kemanapun kita menjelajahi perairan tawar di danau ini. Mungkin masih ada sebenarnya, tetapi sangat sulit menemukannya karena populasinya sudah tidak sebanding lagi dengan luasnya danau.

Pada tahun tersebut (2014 maksud saya) debit air di Danau Ayamaru menurun secara drastis, saya berpikir mungkin karena kemarau, tetapi ternyata bukan karena itu. Dari pengamatan saya mungkin hampir 50% lebih air danaunya menghilang. Menurut penuturan beberapa warga Kampung Woman, hal ini diakibatkan oleh gempa besar yang pernah terjadi sekitar tahun 1990an. Gempa ini menciptakan retakan besar di tengah danau, sehingga air danau menghilang entah kemana. Saat momen ini terjadi, warga menuturkan, air danau seperti berputar dengan sangat kencang membentuk pusaran air raksasa, menandai menghilangnya sebagian air danau. Kini retakan atau crack di tengah danau tersebut sudah mulai tertutup lumpur sehingga tidak ada lagi pusaran air yang berbahaya tersebut. Tepian danau yang mulai mengering menciptakan rawa karts maha luas di seluruh penjuru danau. Rawa-rawa ini sangat spesifik, berpasir putih dan berair sangat jernih. Jika kita berjalan di atasnya, air yang sebening air mineral tersebut bisa tiba-tiba bisa berubah seperti baru saja ditumpahi tepung terigu. Tetapi beberapa detik kemudian bisa jernih kembali dengan cepat. Kami pernah menjelajahi mungkin 10% di luas rawa-rawa ini dengan berjalan kaki (dengan back up sampan warga), menurut saya, yang berbahaya di rawa-rawa ini adalah adanya kemungkinan areal lumpur hisap ataupun hole dalam yang mematikan. Saat kami menjelajahi rawa-rawa di bawah Kampung Woman tersebut tak heran waraga mem-back up kami dengan tujuh sampan yang mengiringi pergerakan kami.

Kegiatan yang kami dokumentasikan di sekitar Danau Ayamaru saat itu adalah; menombak ikan, meraba-raba ikan, dan kemudian memasak ikan dengan campuran buah merah, buah khas Papua. Yang akan saya sertakan di catatan ini adalah tentang meraba-raba ikan air tawar yang uniknya, hanya dilakukan oleh kaum perempuan sekitar Danau Ayamaru. Kami memilih ibu-ibu penuh semangat dan juga berisik dari Kampung Woman yang memang biasa melakukan raba-raba. Raba-raba adalah aktifitas handfishing (menangkap ikan dengan tangan kosong) ala masyarakat sekitar Danau Ayamaru. Dokumentasi kegiatan masyarakat di sekitar danau sebenarnya hampir dibatalkan, karena kejadian paling aneh yang pernah saya alami sepanjang bekerja di media. Saat mobil kami sampai di sebuah desa, menepi dan kami turun untuk melihat danau serta mencari tahu informasi dari warga sekitar, sembari mengusir penat usai long ride dari Sorong, tiba-tiba kami didatangi oleh serombongan orang yang kemudian memaki-maki dan memarahi kami dan memberi kuliah tentang sopan santun dan tata krama. Yang intinya meminta kami meminta ijin dan lain sebagainya yang entah apalagi saya lupa. Kabarnya danau ini milik keturunan bla bla bla dan seterusnya. Tetapi setelah kami bilang dengan santai, kami mau suting keunikan danau ini beserta masyarakatnya, dan justru ini kami sedang mencari informasi kepada siapa kami harus meminta bantuan, dan yang terlibat mendapatkan imbalan wajar uang lelah, semua gembira dan tertawa. Saya mulai dengan bertanya sewa kano per hari, mereka menyebut angka ‘gila’ 1 juta perhari. Saya tawar Rp 150rb, dan deal! Jika tidak ada deal ini dan makian dan sumpah serapah itu terus berlangsung, mungkin kami jadinya akan suting program kontroversi, dan bukannya suting potensi dan kegiatan unik masyarakat pedalaman.

Kembali ke raba-raba. Teknik primitif fishing ini kurang lebih sama sebenarnya dengan di daerah lain. Warga mengambil posisi agak jauh ke arah ‘hilir’ aliran salah satu sungai kecil (yang juga sudah mulai dangkal), tetapi airnya memang luar biasa jernih dan dingin, kemudian bergerak menuju ke arah hulu atau ke arah mata air. Sambil bergerak dalam rombongan tersebut, mereka mengacau dan membuat kegaduhan di sepanjang jalur yang mereka lalui, sembari meraba-raba (yang kemudian dijadikan nama teknik/kegiatan ini) dasar sungai dan tepian sungai yang berumput ataupun memiliki struktur perlindungan. Ikan yang panik biasanya akan bergerak liar dan cepat, dan kemudian berdiam diri di salah satu titik perlindungan baik di tengah maupun di tepian. Disitulah kemudian dilakukan pengepungan beramai-ramai oleh ibu-ibu Kampung Woman tersebut. Jika beruntung ibu-ibu bisa mendapatkan ikan mas, mujaer, nila dan juga ikan gabus. Ikan-ikan yang diintroduksi oleh pemerintah, sebagai solusi atas menghilangnya populasi ikan di Danau Ayamaru bertahun-tahun belakangan ini. Agak aneh sebenarnya, jauh-jauh ke Papua, naik gunung dan lain sebagainya, ketika menangkap ikan yang kita dapatkan ikan mas dan juga ikan gabus. Tetapi inilah kenyataannya. Warna sisik ikan-ikan tersebut memang menjadi lebih terang dan bersinar, akibat warna air danau yang sangat bening. Yang menghibur saya selama kegiatan ini adalah semangat luar biasa, candaan, dan kegilaan dari mama-mama Kampung Woman yang begitu gempita dan meriah ‘mengacau’ seluruh penjuru areal yang kami dokumentasikan. Yang pasti, kami juga tidak melihat satu ekor ikan pun rainbow fish. Padahal saya ngebet sekali ingin mendokumentasikan ikan cantik ini di habitat aslinya di Danau Ayamaru.

Ikan-ikan air tawar seperti ikan mas dan nila yang diintroduksi ke Ayamaru, dan terutama ikan predator jenis gabus (keluarga snakehead fish) juga memiliki peran siginifikan menghambat pulihnya kembali populasi rainbow fish di Ayamaru. Pertama adalah tingginya kompetisi mencari makanan yang sekarang tercipta di danau tersebut. Padahal secara debit air, dan luas permukaan air di danau jelas sudah berkurang secara drastis. Khusus untuk ikan gabus, kehadirannya menjadi marabahaya terbesar sebab ikan ini merupakan ikan predator (hidup dengan memangsa ikan lain). Rainbow fish yang imut tentu bukan tandingan ikan gabus yang di perairan tawar merupakan saudaranya top predator freshwater fish, ikan tomman (Giant snakehead). Saya sedikit heran dengan program introduksi ikan gabus ke perairan Ayamaru ini. Apakah mereka entah siapapun itu tidak memperhitungkan kemungkinan pulihnya rainbow fish yang termahsyur itu? Tetapi sudahlah, yang pasti kegiatan raba-raba ini sukses besar dan meriah, serta mendapatkan hasil yang cukup menghibur. Sebagai penutup, semua ikan yang kami dapatkan kemudiana kami masak dengan buah merah. Meski kami tidak kebagian rasanya seperti apa, karena semuanya tiba-tiba habis oleh puluhan warga yang datang entah darimana ketika masakan baru saja diangkat dari atas kompor. Hehehehe!





























* Pictures taken on August 2014 by me. Otherwised mention. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers