Sunday, 27 September 2015


Akhirnya saya berhasil menyisihkan waktu sehingga dapat kembali lagi ke Danau Begantung, dengan rombongan kecil sehingga kami bisa mereduksi pergerakan yang lambat pada kesempatan pertama. Tim dapat bergerak dengan cepat dan kesunyian danau menjadi sangat maksimal karena semua yang ikut memiliki pemahaman wild fishing yang lebih dari cukup. Kami mengeksplorasi kelima danau di kawasan ini dengan semangat yang sangat tinggi. Segala kemampuan kami kerahkan dengan harapan mendapatkan hasil terbaik. Jujur saya memiliki obsesi, melihat banyaknya tenggakan ikan-ikan besar di permukaan danau, setidaknya kami mendapatkan minimal satu ekor saja ikan size monster yang bisa dikenang untuk waktu yang lama. Saya sebenarnya sangat fleksibel, bahwa setiap trip memancing sebenarnya lebih untuk menikmati alam, tanpa terlalu memikirkan hasil. Tetapi entah kenapa di Begantung ini obsesi itu menjadi kuat. Semacam ada rasa penasaran yang tinggi untuk berkenalan dengan ikan-ikan monster penunggu danau kuno ini.

Saya pernah mendengar kisah lama, dari idola senior sekaligus ‘guru’ saya, ex boss saya di Mancing Mania Trans7, waktu itu ketika mengeksplorasi danau ini, dia kabarnya sempat melihat seekor buaya besar menyambar ikan di permukaan. Hal yang kemudian saat itu menghentikan eksplorasinya di danau ini dengan perahu kecil (sampan) milik masyarakat. Dia kemudian lebih banyak mengeksplorasi danau dari tepian sehingga lebih aman dari kemungkinan resiko sampan yang dia naiki dihantam ‘gigi jarang, sebutan orang Kalimantan untuk buaya. Keputusannya ini sangat masuk akal. Sebuah danau terisolasi, yang memiliki ‘hubungan’ dengan Sungai Kahayan merupakan perlindungan bagi banyak spesies. Baik itu ikan predator berbagai jenis dan juga predator lainnya yang mengikuti kawanan ikan ini, ini adalah teori rantai makanan sederhana. Namun karena sudah berpuluh tahun tidak ada kejadian apa-apa, ada rasa aman yang terlalu tinggi dari warga sehingga kenyataan bahwa Begantung bagaimanapun adalah ‘wild’ spot menjadi sedikit terlupakan.

Saya ditemani seorang rekan pemancing dari Pulang Pisau, Guruh Dwi Saputra. Pemancing yang cukup kondang di kalangan pemancing negeri ini karena cukup rajin melakukan trip, membuat report dan melakukan sosialisasi dengan komunitas mancing di Indonesia. Di Begantung karena perahu tidak mungkin memuat lebih dari dua orang, kami terpisah dalam dua sampan. Selama melakukan eksplorasi ini kami sempat beberapa kali terpisah jauh. Maklum masing-masing memiliki obsesi untuk mendapatkan sambaran dan sambaran. Di pertengahan hari, saya dan tukang sampan kemudian memutuskan untuk menuju ke danau terkecil di bagian ujung kompleks Begantung. Kira-kira luasnya hanya separo lapangan bola, tetapi ini kabarnya adalah danau terdalam di kawasan ini. Struktur tepiannya menjanjikan, banyak pohon-pohon besar tumbang membentuk perlindungan ikan yang kokoh sekaligus menyeramkan. Ketika saya melemparkan umpan froggie pada salah satu titik terlihat ada pergerakan ikan, dari gelombang yang diciptakan dalam mengejar umpan cukup besar, bahkan menurut saya sangat besar. Namun sang ikan seperti enggan keluar terlalu jauh dari sarangnya mungkin akibat panas yang menggila. Dia kembali lagi ke sarangnya. Beberapa kali say amencoba ‘mengeluarkan’ penunggu sarang tersebut tetapi dia selalu kembali. Tukang sampan saya suruh terus stay di tengah danau dan tenang supaya ikan tidak spooky. Saya bergonta-ganti umpan untuk mencoba menggoda ikan yang dari tadi seperti hendak menyambar tersebut.

Saya kemudian memutuskan mengganti umpan dengan umpan paling berisik yang ada, jum frog dengan tambahan propeler berukuran besar. Berharap ikan marah dan kemudian menghantam umpan saya. Sungguh saya sudah sangat rindu mendapatkan big strike! Saya semakin bersemangat karena tampaknya respon dari penunggu sarang tampaknya juga semakin meriah, ada gelombang-gelombang yang tercipta tetapi anehnya tidak ada sambaran. Saya berfikir bahwa sebentar lagi pasti ada big strike yang terjadi di tempat ini dan semua usaha saya akan terbayar lunas sehingga saya semakin semangat melempar umpan dan memainkannya. Jantung saya tiba-tiba seperti mau copot karena tiba-tiba tukang sampan saya berteriak histeris seperti orang kesurupan (padahal tengah hari bolong) dengan mata melotot kepada saya, dia berteriak-teriak dengan gugup dan takut, meminta saya melihat ke bawah sampan. Posisi saya saat itu berdiri, namun karena fokus saya di tepian danau ke sarang ikan-ikan di tepian saya lambat merespon teriakan tukang sampan ini. Saya ketinggalan momen . Yang terlihat oleh mata saya di bawah sampan kami saat itu, sampan kami kira-kira panjangnya empat meter dengan lebar satu meteran, hanyalah gelombang besar dengan bentuk memutar seperti sebuah pusaran air. Melihat ini saya langsung sigap dan kemudian duduk untuk antisipasi ada kejadian aneh menimpa sampan kami. Saya meminta tukang sampan tenang dan jangan berteriak-teriak lagi, saya menyuruh dia menghentikan pergerakan dayung supaya tidak ada kecipak dayung yang mengundang rasa ingin tahu dari apapun itu yang ada di bawah sampan kami. Mata dia masih melotot seperti kesurupan dan saya menjadi semakin waswas. Entah kenapa saat itu saya tidak begitu takut dengan apa yang ada di bawah sampan kami, tetapi say alebih takut melihat tukang sampan saya yang seperti kesurupan. Saya kemudian mengambil alih dayung dan dengan cepat mengayuhnya ke tepian, jarak ke tepian paling hanya lima belasan meter, tetapi rasanya saat itu saya seperti sedang mendayung satu kilometer jauhnya.

Saya tidak menanyakan apa-apa ke tukang sampan yang masih histeris ini, dan kemudian memintanya mendayung sampan meninggalkan danau kecil ini untuk merapat di sebuah ‘pulau’ yang selalu menjadi titik peristirahatan setiap pemancing yang datang ke kawasan ini. Tempatnya cukup teduh dan nyaman untuk beristirahat, setidaknya kita berada di daratan yang benar-benar daratan. Kenapa saya bilang demikian, karena hampir semua tepian danau ini sebenarnya adalah rawa. Sekilas memang terlihat seperti daratan kering ditutupi rumput tetapi sebenarnya bukan karena lumpurnya sangat lembek dan jika kita berdiri di atasnya bisa langsung terjebak. Sampan saya minta didayung dengan menyisir tepian danau, semacam pergerakan antisipasi jika ada sesuatu yang mungkin memang mengincar kami, setidaknya kami memiliki kesempatan lebih baik untuk selamat karena dekat dengan ‘daratan’ dan juga batang-batang kayu besar yang bisa menjadi solusi keadaan darurat. Ketika tiba di ‘pulau’ sampan rekan saya Guruh juga sudah merapat. Tukang sampan kemudian tidak mampu lagi menahan hasrat untuk menumpahkan segala cerita karena bertemu dengan rekan satu desanya, dan tumpahlah semua yang dia lihat ke rekan satu desanya itu dalam bahasa Dayak Ngaju. Intinya, bahwa dia melihat buaya super besar yang bahkan lebih besar dari sampan kami, berada persis di bawah sampan kami. Sudah puluhan tahun dia hidup mengais rejeki di danau ini, tetapi baru kali ini dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa memang ada ‘penunggu’ danau yang pernah dikisahkan  oleh ayahnya dulu ketika dia masih kecil. Tukang sampan saya kini telah berusia lebih dari tiga puluh tahun. Saya menjadi merinding dan bersyukur bahwa kami masih selamat karena sang penunggu danau tidak ingin berkenalan lebih jauh dengan kami hari itu.

Apapun itu, usai makan siang, rasanya tidak worthed jika kami kemudian kembali lagi ke danau kecil tersebut. Saya meminta seluruh rombongan bergerak ke arah berlawanan dari lokasi danau kecil ini. Okelah, jika memang itu buaya besar penunggu Begantung, biarkan dia tenang di danau kecil itu, kami akan mengindarinya demi segala resiko yang mungkin terjadi. Ajaibnya, kami hingga pukul 15.15 wib hari itu belum mendapatkan sambaran dari satu ekor ikan pun! Di danau terbesar di kawasan ini ada secercah harapan, ikan-ikan besar menggila dengan menyambar ikan-ikan kecil yang frenzy di permukaan. Kami kemudian mengepung schooling ini berharap ada keberuntungan. Tetapi memang bagaimanapun umpan tiruan tidak bisa mengalahkan umpan asli (ikan-ikan kecil yang schooling tersebut). Umpan kami tidak ada yang mencolek sama sekali! Lalu muncullah suara-suara itu, seperti ghok ghok ghok ghok, di dekat sampan saya. Saya tidak menghiraukannya. Begitu juga dengan tukang sampan saya yang biar bagaimanapun berharap saya mendapatkan sambaran. Tetapi tukang sampan satunya meneriaki kami, itu suara ular besar, berada di tepian berjarak sekitar sepuluhan meter dari sampan saya, di dekat rumput-rumput katanya. Anehnya saya tidak melihatnya, begitu juga tukang sampan saya. Tukang sampan saya malah berkata kepada saya, bahwa di tepian yang lain ada banyak orang sedang mencari ikan, sambil menunjuk salah satu tepian danau. Anehnya saya tidak melihat apa-apa.

Mata saya belum minus ataupun plus. Jadi saya simpulkan something wrong happening! Saya langsung berkata ke tukang sampan saya, kita pulang. Begitu juga say abilang ke rekan saya Guruh. Kami mendayung sampan dengan cepat menuju tepian danau yang ada jalan setapak menuju Desa Pusaka. Setiba di tepian, sepuluh menit kemudian, kami pun kemudian bergegas berjalan meninggalkan danau menembus hutan tanpa berkata-kata. Semuanya seperti sedang kalut dengan pikirannya sendiri-sendiri menyikapi kejadian hari ini dan yang pasti kami ingin segera keluar dari danau yang ‘mengapung’ ini, Danau Begantung. Danau yang konon terus hidup dan bergerak tidak menentu, karena konon berada di punggung kura-kura besar yang tidak pernah orang tahu seperti apa bentuknya! Salam ‘misteri’ wild fishing!





* Kru: Me (reporter), Eko Priambodho (cameraman), Madhina Suryadi (host). Pictures taken on August 2015 by me & Eko Priambodho. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers