Sunday, 15 November 2015


Untuk Saruji dan para pemburu madu di pegunungan Desa Semongkat, Pulau Sumbawa. Salam “madu lestari”!

Kata “madu” di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat harus kita gunakan dengan hati-hati. Dalam konteks perburuan di alam liar, jika kita datang ke suatu desa di pegunungan Sumbawa untuk menemui para pemburu madu misalnya, tetapi kemudian bapak-bapak para pemburu sedang sibuk entah dimana, jangan bicara begini ke ibu/istri sang pemburu “Bu saya mau ajak bapak untuk mencari madu”. Sembilan puluh persen sang ibu/istri pemburu akan langsung merevisi kata-kata kita “Mau cari lebah madu atau air madu bang, jangan cari madu, kalau cari madu saya tidak setuju”. Kata “madu” yang digunakan tunggal rupanya digunakan untuk menyebut “wanita lain”. Hahaha. Intermeso saja maksud saya tetapi beginilah memang kenyataannya. Meski seringnya semua ini terjadi dalam suasana bercanda tetapi baiknya kita mengetahuinya. Sudah berkali-kali saya ke Pulau Sumbawa, meski saya tetap sering menggunakan kata “madu” secara tunggal untuk mencairkan suasana dan membangun tawa dengan orang-orang yang saya temui di beberapa ‘pusat’ madu Sumbawa.

Desa Semongkat, satu jam dari kota Sumbawa Besar, kembali saya datangi pada Oktober lalu untuk ikut dalam manisnya musim madu apis dorsata, jenis lebah terbesar dalam keluarga apis. Ibu Yamin yang saya kenal beberapa tahun lalu kembali saya datangi. Lewat beliau-lah segala urusan hulu-hilir dokumentasi madu Sumbawa ini menjadi lancar. Mulai dari menggerakkan para pemburu untuk survai lokasi dahulu, dan juga mengamankan proses lanjutan usai panan madu di hutan dilakukan para pemburu. Ibu Yamin termasuk salah satu pelaku bisnis madu paling mapan di seluruh Desa Semongkat karena memiliki kelompok pemburu yang sangat banyak sehingga sepanjang tahun UKM miliknya selalu ber-produksi. Hasil produk UKM yang dia miliki sangat populer di Pulau Sumbawa dan bahkan sudah berhasil dipasarkan di pasar madu nasional sejak beberapa tahun lalu. Berkat madu asli Sumbawa inilah (benar-benar asli madunya) perekonomian masyarakat Desa Semongkat begitu kuat dan bahkan di musim kemarau paling kering sekalipun, masyarakat tidak ada yang khawatir tentang kehidupan karena madu menjadi solusi ekonomi dan nutrisi yang telah teruji dari tahun ke tahun.

Menjelajah dataran tinggi Pulau Sumbawa ketika musim kering menurut saya adalah petualangan musim kemarau yang cukup menantang. Bentang alamnya yang kita lihat memang berbeda, hutan yang seperti meranggas dan matahari pun seperti sedang marah. Tetapi menikmati lanskap yang berbeda dan tidak banyak kita jumpai di buku-buku wisata dan atau foto-foto petualangan mainstream yang banyak terdapat di media sosial, menjadi pencerahan tersendiri bagi kita untuk memahami suatu tempat tidak hanya dari sisi keindahan umum saja. Hati kita seperti ‘dibasuh’ oleh kemarau yang menyengat yang seperti ingin mengatakan banyak hal kepada kita. Secara garis besar perburuan madu di pegunungan Sumbawa dilakukan sebagai berikut. Pertama adalah mapping kawasan hutan, dilakukan sambil terus berjalan menyusuri hutan. Selama perjalanan ini biasanya para pemburu akan beberapa kali melakukan orientasi medan dengan naik ke pucuk-pucuk pohon untuk mengamati lalu-lintas lebah yang beterbangan di sekitar pohon-pohon hutan tinggi yang berbunga. Arah pergerakan lebah ini (saya sendiri tidak mampu melihatnya hanya mendengar dengung suaranya) yang akan menjadi panduan para pemburu melakukan pergerakan perjalanan di dalam hutan. Pergerakan lebah terus diikuti dan setelah beberapa waktu (relatif ini sebenarnya, bisa dalam hitungan menit hingga jam), kita akan sampai di sarang yang kita cari-cari. Saya salut dengan kemampuan para pemburu ini melakukan perburuan lebah. Matanya sangat tajam, tetapi itulah, ala bisa karena biasa. Barulah setelah menemukan sarang kemudian akan disusun strategi memanen madunya dengan melihat arah bertiupnya angin, persiapan bahan membuat asap, penentuan shelter untuk berlindung jika ada insiden, dan lain sebagainya. Terlalu banyak detail perburuan ini, saya sarankan Anda datang sendiri ke Pulau Sumbawa dan berpetualang dengan para pemburu ini.

Hal terakhir yang ingin saya garis bawahi dari potensi madu di Desa Semongkat adalah sistem panen yang dilakukan oleh para pemburunya. Seluruh pemburu di Desa Semongkat menerapkan sistem panen “madu lestari”, yaitu cara panen ramah lingkungan yang hanya memotong bagian tolo atau sarang lebah tetapi yang hanya ada airnya saja. Jadi rumah lebah tidak diambil semuanya, misalnya saja dalam satu koloni lebah, dan hanya ada sebagian sarang yang berisi madu, dan lainnya telah berisi larva lebah, maka yang dipotong adalah yang ada madunya saja. Rumah lebah yang ada larvanya tidak diusik, ditinggalkan begitu saja agar besar dan menjadi dewasa. Menurut mereka dengan cara ini apis dorsata tidak akan kapok dan akan terus bersarang di kawasan hutan mereka, tidak pindah ke hutan lain di daerah lain. Kalaupun kemudian mereka pindah sarang, tetap akan kembali lagi ke kawasan hutan yang sama suatu saat nanti. Tak heran sepanjang tahun sarang lebah apis dorsata selalu mudah dijumpai, baik itu di musim penghujan atau kemarau. Meski memang ada bulan-bulan tertentu jumlah koloni lebah ini akan sangat banyak. Saking terbiasanya dengan apis dorsata panen pun dilakukan siang hari dengan modal asap saja. Resikonya memang besar tetapi saya telah beberapa kali mengikuti para pemburu madu di Sumbawa ini dan meski siang hari bolong sekalipun, tidak pernah ada satu sengatan pun yang hinggap ke tubuh saya. Betul kami menggunakan topi jaring, jaket dan seluruh tubuh tertutup untuk berjaga-jaga. Tetapi maksud saya kami benar-benar tidak mendapatkan serangan sama sekali dari lebah-lebah ini. Musti diingat lebah apis dorsata jika menyerang kita rasanya seperti sebuah 'kiamat' kecil. Ada banyak detail rupanya dalam panen madu apis dorsata siang hari ini jika kita ingin aman, dan para pemburu madu di Pulau Sumbawa telah memahaminya di luar kepala dan menerapkannya dengan konsisten. Kiranya cukup demikian catatan iseng ini, semoga ada yang pernah menonton hasil tayangan yang kami buat Cerita Dari Pegunungan Samawa di Jejak Petualang Trans7! Happy Sunday!




















* Kru: me (reporter), Eko Hamzah (cameraman), Muhammad Iqbal (cameraman), Vika Fitriyana (host). Pictures taken on Oktober 2015 mostly by me. Another pictures are screen captures of Sony PMW 200. Drone shot by crew CNN Indonesia. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers