Sunday, 8 November 2015


Terimakasih Tuhan kemarau panjang tampaknya sudah ‘confirm’ berakhir. Hujan besar-besaran telah turun di seluruh penjuru negeri termasuk di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ketika saya menuliskan coretan iseng ini.  Beberapa kawan di Riau dan Kalimantan Tengah mengabarkan bahwa kabut asap akibat kebakaran hutan telah berkurang drastis akibat turunnya hujan lebat satu minggu terakhir. Musim telah berubah, saatnya menyambut kelimpahan air dengan syukur dengan bercocok tanam, bagi yang tinggal di daerah dan hidup dari pertanian. Bagi yang di Jakarta, saatnya bersiap-siap ‘menyambut’ datangnya banjir. Hahahaha! Bagi yang tinggal di daerah perbukitan yang telah gundul, saatnya mulai was-was dengan datangnya longsor. Bukan bermaksud mendoakan, tetapi memang inilah rutinitas tahunan kita saat musim hujan berlangsung di negeri kita. Lingkungan kita telah banyak berubah, sayangnya tidak banyak yang menyadarinya. Hanya ketika terjai bencana saja semua berteriak kepada Tuhan dan pemerintah kenapa semua ini terjadi, tanpa ingat bahwa kita mungkin punya kontribusi (meski kecil sekalipun) pada terjadinya semua bencana itu. Catatan pendek ini menjadi sinis, maafkan saya.

Postingan ini sebenarnya adalah tentang sebuah inspirasi kegigihan bertahan di musim kemarau yang dilakukan sebagian warga Desa Kereke, di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Bulan lalu sepuluh matahari masih membakar Sumbawa, kemarau seperti tiada ujung, pulau ini menjadi ‘mendidih’, panasnya minta ampun! Masyarakat desa di perbukitan Desa Kereke harus mulai memikirkan sumber pangan alternatif, sebagai akibat menipisnya cadangan pangan dari panenan musim sebelumnya. Umbi gadung adalah umbi beracun (racun yang terkandung di getah dapat masuk ke aliran darah kita dan dapat merusak saraf kita dengan sangat cepat), yang hebatnya malah umbinya besar-besar meski pada puncak musim kemarau sekalipun. Umbi ini memang unik dibandingkan dengan semua jenis umbi lainnya, tumbuh baik di tanah kering gersang tandus, ketika semua jenis umbi lainnya mati. Memang diperlukan perlakuan khusus yang njlimet agar umbi gadung ini dapat dikonsumsi. Di berbagai daerah banyak dimanfaatkan menjadi cadangan pangan ketika musim kemarau sedang tidak bersahabat dan cadangan pangan menipis, paceklik istilahnya. Saya sendiri, dahulu ketika masa kecil di kampung di Malang Selatan juga sering makan keripik dan makanan dari umbi gadung ini, rasanya sangat enak asal tahu cara memasaknya. Ibu saya sangat pandai mengolahnya dan rasanya baru kemarin saya makan makanan ndeso ini. Semoga semua keluarga saya di desa sehat selalu, terutama ibu saya. Sebelum tulisan ini menjadi curhat-an baiknya saya akhiri saja. Semoga pengunjung blog ini sempat menonton episode Jejak Petualang Trans7 episode Cerita Dari Pegunungan Samawa, di sana kisah para perempuan perkasa Desa Kereke ‘mengais’ pangan alternatif umbi gadung yang disulap menjadi makanan bongkabola ditampilkan. Salam petualang!



























* Kru: me (reporter), Eko Hamzah (cameraman), Muhammad Iqbal (cameraman), Vika Fitriyana (host). Pictures taken on Oktober 2015 mostly by me. Another pictures are screen captures of Sony PMW 200. Drone shot by crew CNN Indonesia. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers