Thursday, 5 November 2015



Well to the point saja. Ini adalah pencerahan baru bagi saya, hasil perjalanan ke Teluk Saleh di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat bulan lalu. Bermula dari pesan pendek yang ‘nyangkut’ ke ponsel saya dari seorang rekan di Empang, pertengahan Oktober lalu bersama tim Jejak Petualang Trans7 kami kemudian 'berjemur' membakar diri di teriknya matahari Sumbawa di Teluk Saleh. Nelayan sedang ‘panen’ telur ikan terbang di Teluk Saleh. Ikan terbang adalah salah satu spesies pelagis yang banyak terdapat di perairan laut kita. Di dunia, ikan ini memiliki 50 jenis spesies yang tergolong dalam sembilan keluarga. Banyak terdapat di perairan tropis dan sub tropis terutama di Samudera Pasifik, Hindia, dan Atlantik. Banyak orang paham tentang ‘kelakuan’ ikan terbang ini, yaitu sering terbang di atas air dalam melakukan mobilitas, dari sinilah kemudian disebut ikan terbang (Parexocoetus brachypterus). Di Empang, Pulau Sumbawa masyarakat menyebut ikan ini dengan nama tuing-tuing. Mungkin nama ini karena kelakuan ikan yang sering meloncat-loncat terbang. Istilah tuing-tuing cukup populer di masyarakat nelayan Indonesia, buktinya di Sulawesi Selatan masyarakat nelayan juga menyebut dengan nama yang sama. Namun sebenarnya yang mempopulerkan ikan ini di Indonesia bukanlah para nelayan, melainkan sebuah stasiun televisi yang memakai profil ikan ini untuk station id mereka. Anda pasti tahu stasiun televisi yang mana. Hehehe!

Sejak dahulu, hampir tidak ada eskploitasi yang masif terhadap ikan terbang ini. Mungkin karena ikannya sangat kecil, sulit ditangkap dan juga rasa dagingnya biasa saja. Sebagai spesies pelagis dengan mobilitas sangat tinggi, menangkap ikan tuing-tuing untuk alasan ekonomi memang tidak masuk akal untuk nelayan. Intinya ikan ini bukanlah komoditas penting untuk diburu dan diperdagangkan. Namun beberapa tahun terakhir ini di Indonesia ikan tuing-tuing cukup menyita perhatian masyarakat nelayan dari Sulawesi Selatan, Maluku dan hingga Pulau Sumbawa. Di daerah Empang sendiri perhatian nelayan pada ikan terbang baru terjadi dua tahun terakhir ini. Penyebabnya adalah lakunya harga telur ikan terbang di pasaran. Saya tidak akan menyebut angka-nya tetapi memang sangat menjanjikan, lebih mahal dari daging ikan tangkapan apapun. Konon saat ini banyak permintaan telur ikan terbang dari luar negeri untuk dijadikan bahan kosmetik dan pendamping makanan. Efeknya jelas, eksploitasi besar-besaran. Saya sempat berfikir apakah ini tidak akan berimbas negatif jika eksploitasinya berlebihan, populasi ikan terbang bisa terancam. Rupanya para nelayan Empang memiliki caranya sendiri sehingga selalu ada kuota telur-telur yang dibiarkan tetap menempel di rumpon apung mereka menetas dan ‘kembali’ ke laut. Jadi tidak semuanya dipanen tanpa sisa. Misalnya seorang nelayan memiliki 30 rumpon apung, maka yang akan dipanen hanya 27-an rumpon saja. Ada simbiosis mutualisme dalam cara tangkap yang dilakukan nelayan di Empang, Sumbawa. Rumpon-rumpon yang terbuat dari batang kelapa menyediakan perlindungan dari predator bagi telur-telur ikan terbang, yang jumlahnya jutaan butir tersebut. Ini mempertinggi kemungkinan sebagian telur untuk tetap menetas karena memang panen juga tidak dilakukan setiap hari. Ada sustainable fishing yang diterapkan karena masyarakat sadar bahwa berkah ini harus terus berlangsung hingga nanti. Alhamdullilah!




















* Kru: me (reporter), Eko Hamzah (cameraman), Muhammad Iqbal (cameraman), Vika Fitriyana (host). Pictures taken on Oktober 2015 mostly by me. Another pictures are screen captures of Sony PMW 200. Drone shot by crew CNN Indonesia. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers