Monday, 2 November 2015



Semoga Anda para pembaca artikel iseng ini pernah menonton tayangannya di Trans7 (ataupun juga di YouTube.Com), Jejak Petualang episode "Tradisi Malagak Tikolok Tanjung Luar".

Suatu siang sebuah pesan ‘pendek’ dari seorang rekan di Pulau Lombok masuk ke ponsel saya, mengabarkan tentang akan digelarnya pesta adat besar-besaran masyarakat Suku Bajo di Tanjung Luar. Pesan pendek yang sepertinya merupakan ‘forward’-an dan aslinya ditulis serampangan oleh orang Tanjung Luar, karena tidak ada titik koma, awalan dan akhiran, tetapi sementara pesan ‘pendek’ ini sudah seperti sebuah proposal saja. Apapun itu, saya merasakan ada semangat dari si penulis pertama pesan pendek ini karena meski dengan tata bahasa yang berantakan, dari pesan yang dia sebarkan tersebut, saya berhasil mendapatkan sebuah gambaran tentang sebuah acara kuno yang akan digelar besar-besaran di Tanjung Luar, Pulau Lombok. Tanjung Luar selama ini dikenal sebagai salah satu pendaratan ikan terbesar di Pulau Lombok, sempat terjadi pembicaraan besar di media sosial akibat banyaknya gambar tentang ikan-ikan hiu yang didaratkan oleh masyarakat nelayan di daerah ini. Masyarakat Tanjung Luar memang merupakan masyarakat ‘laut’ yang terdiri dari empat suku besar; Bajo, Mandar, Bugis, dan Makassar. Saya sendiri dalam tiga tahun terakhir ini telah beberapa kali ‘main’ ke Tanjung Luar, tetapi belum pernah sama sekali bersinggungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi ataupun adat yang ada dalam kehidupan masyarakatnya, baik itu upacara adat, pesta adat, apalagi kawin secara adat. Halaaah!!!


Singkat kisah suatu hari tanggal 4 September saya sudah mendarat di Lombok bersama tim Jejak Petualang, dan kemudian di tanggal 5-7 September ‘melebur’ bersama masyarakat Tanjung Luar merayakan tradisi lama yang dibangkitkan kembali ini. Kenapa saya menggunakan kata ‘dibangkitkan’ kembali sebenarnya bukan karena tradisi ini pernah ‘mati’. Namun karena sebelum dua tahun terakhir ini, Nyalamaq di Lauq dirayakan lebih untuk kalangan sendiri. Namun kini tradisi ini sengaja dibuka seluas-luasnya sebagai perwujudan niat untuk menempatkan Tanjung Luar di peta pariwisata Lombok yang memang berkembang pesat. Secara umum acara ini terdiri dari dua rangkaian utama: arak-arakan keliling kampung mengarak kerbau selama tiga hari penuh, dan kemudian puncaknya adalah larung laut, dan diakhiri dengan ‘perang’ air. Ada kesadaran, ini juga setelah saya ngobrol dengan beberapa sesepuh masyarakat, bahwa hanya dengan keterbukaan maka mereka akan mendapatkan perhatian baik itu dari masyarakat luas dan pemerintah. Sehingga nama Tanjung Luar tidak hanya dikenal sebagai tempat pendaratan ikan saja tetapi bisa menjadi alternatif wisata bahari di Pulau Lombok. Saya tidak akan menulis tentang urutan, detail dan lain sebagainya terkait tradisi ini. Banyak yang sudah menuliskannya dengan luar biasa di beberapa blog, dapat anda search di Google dengan keyword "nyalamaq di lauq". Secara pribadi saya terkesan dengan semangat generasi ‘muda’ Tanjung Luar untuk membawa tradisi ini menjadi lebih terbuka. Namun di sisi lain ada sedikit kekecewaan dengan kekakuan para ‘orang tua’ yang menginginkan tradisi ini berjalan ‘misterius’ dan tertutup seperti dahulu. Sebagai contoh, ketika kameraman saya menginginkan akses khusus ke berbagai ruang sakral sering terjadi pertentangan antara ‘orang muda’ dan ‘orang tua’. Meski ada kompromi yang kami harapkan, kondisi ini menyadarkan saya bahwa masih perlu waktu untuk membuat tradisi ini lebih terbuka, lebih cair, dan lebih menghibur banyak orang.

Beberapa fenomena supranatural yaang terjadi dengan masyarakat ketika perhelatan ini digelar juga patut menjadi perhatian penting. Saya melihat banyak sekali orang kesurupan, sebagai akibat (konon) masuknya roh-roh ke mereka. Ini ‘ranah’ yang kurang saya mengerti, saya mencoba memahaminya dari sisi masih kuatnya budaya animisme di tradisi ini. Namun ketika orang-orang kesurupan ini banyak yang ‘fokus’ mencoba mengganggu pengambilan gambar yang kami lakukan, hal tersebut menjadi tidak masuk akal. Saya sendiri kena pukul satu kali sangat keras dari belakang dari seorang warga yang dianggap kesurupan. Dari kejauhan saya melihat rekan saya seorang kameraman CNN Indonesia juga digebuk orang-orang seperti ini. Dua kameraman saya juga dikejar orang kesurupan yang membawa senjata tajam. Host kami Vika Fitriyana beberapa kali juga mendapatkan intimidasi dari orang-orang kesurupan ini. Panitia telah melakukan pengamanan khusus terhadap kami para kuli berita yang meliput kegiatan ini. Setiap awak media selalu dikawal dua hingga tiga orang panitia untuk menjaga kami. Tetapi kadang para ‘pengawal’ ini juga sibuk dan kewalahan mengamankan pergerakan kami yang memang sangat tinggi mobilitasnya, di sisi lain massa yang terlibat dalam acara ini sangatlah banyak. Hal tentang kseurupan ini kemudian menjadi tidak masuk akal dan sangat tidak aman, tidak ramah dan lain sebagainya. Saya berharap suatu hari nanti Nyalamaq di Lauq berubah wajah menjadi lebih ramah, lebih menghibur. Tradisi menurut saya tetap bisa terus dilanjutkan tanpa harus membuat orang takut dan merasa tidak nyaman, perubahan bukanlah hal tabu dalam konteks tertentu karena sebuah tradisi ada dalam jaman juga terus berubah dengan arus yang juga tidak tentu.

Nyalamaq di Lauq sendiri awalnya adalah tradisi masyarakat Suku Mandar yang dibawa ke Tanjung Luar oleh para pelaut Mandar yang membangun komunitas di Tanjung Luar, Lombok. Tradisi ini jika dilihat kembali ke masa silam, adalah cara masyarakat Mandar mengusir penyakit ataupun menolak 'bala' yang menyerang desa mereka di Mandar sana (Sulawesi Barat). Dalam perkembangannya Tanjung Luar kemudian berkembang pesat dengan beragam etnis, paling besar kini adalah masyarakat Suku Bajo. Tradisi ini kemudian 'diteruskan' oleh orang-orang Bajo. Ada percampuran banyak hal jika saya amati sekilas dalam pelaksanaan tradisi ini. Ada nuansa religinya (dalam hal ini Islam, meski teman saya yang muslim pun bingung ini Islam yang mana), dan juga ada nuansa kuat animismenya. Beberapa yang terlihat sekilas oleh mata saya menjadi lebih menggelitik lagi. Orang-orang yang kesurupan tersebut, bisa 'mendikte' para tokoh masyarakat dan bahkan juga sandro (dukun) yang menjalankan upacara dalam bahasa yang saya tidak mengerti. Mereka bisa marah-marah jika pelaksana upacara dianggap lamban dan atau keliru tentang sesuatu. Orang-orang kesurupan ini juga yang mengarahkan perahu larung yang akan membuang kepala kerbau di tengah laut, padahal titiknya secara penglihatan mata saya sudah jelas-jelas ditandai dengan bendera. Terus kenapa sebegitu banyak orang harus mengikuti petunjuk arah dari orang kesurupan ini!? Disini saya kemudian bertanya, 'portal' manakah yang kalian buka sebenarnya?! Salam!






















































* Kru: me (reporter), Eko Hamzah (cameraman), Muhammad Iqbal (cameraman), Vika Fitriyana (host). Pictures taken on September 2015 by me. Another pictures are screen captures of Sony PMW 200. Drone shot by crew CNN Indonesia. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers