Thursday, 17 December 2015


Mengenang Nuku Muhammad Amiruddin/Sultan Nuku (1738-1805), dan orang-orang Tidore.

Unit sosial di Talaga, Pulau Tidore adalah kelompok masyrakat yang tidak banyak disebut di berbagai berita dan apapun itu dalam hiruk-pikuknya kehidupan pulau rempah Tidore, Maluku Utara. Jumlah warga Talaga totalnya tidak sampai seratus orang saat ini sehingga kemudian disebut sebagai RW saja dan (kalau saya tidak salah ingat) masuk dalam struktur Kelurahan Rum, Tidore Selatan. Letak Talaga ada di atas pegunungan yang merupakan bagian dari sisi barat daya Kie Matubu, dengan ketinggian kampung hanya sekitar 500-an meter saja di atas permukaan laut. Tidak tinggi-tinggi amat ketinggian desa ini tetapi jalan setapak menuju desa ini sangat terjal, kalau kita bukan pendaki tangguh diperlukan waktu tiga hingga empat jam untuk sampai ke desa ini dari jalan batas mobil di Rum. Saya mendengar telah dibangun jalan besar menuju desa ini dari sisi utara Pulau Tidore, tetapi belum rampung (baca: mungkin kata yang paling tepat entah kapan diteruskan atau terbengkalai) dan juga belum bisa dilalui kendaraan roda empat kebanyakan, mobil 4wd pun juga akan setengah mati kalau melintasi jalur yang belum rampung ini. Kabar lain yang saya dengar dari warga Talaga, jalur yang dibangun pemerintah ini tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang seringnya berhubungan dengan komunitas di sisi Selatan Pulau Tidore. Praktis saat ini masyarakat desa lebih memilih untuk menggunakan jalur tradisional mereka menembus hutan naik turun gunung setiap harinya, yang mana jalur setapak ini berujung di pesisir selatan Tidore tepatnya di ujung timur Kelurahan Rum. Jalur kuno ini sudah ada sejak jaman kerajaan berkuasa di Tidore, sudah berabad lalu ada, dan hingga hari ini masih digunakan oleh masyarakat. Inilah yang menjadi pertimbangan saya untuk kemudian memilih RW Talaga ini menjadi lokasi pengambilan gambar tentang perjuangan masyarakat ‘pedalaman’ dalam berhubungan dengan dunia luar dan memenuhi laku penghidupan mereka.

Konon Talaga pada jaman kuno adalah sebuah danau pada umumnya, berair dalam, banyak ikan cukup luas, menurut saya kalau melihat barisan bukit yang mengelilinginya tidak kurang dari lima kilometer diameternya. Kini karena perubahan alam yang terjadi Talaga hanya berupa cerukan super besar semacam lembah yang sangat dalam. Di tengah Talaga ada sebuah pulau besar, kini menjadi sebuah bukit yang dimanfaatkan oleh masyarakat Talaga untuk bercocok tanam, begitu juga barisan bukit yang mengelilingi Talaga saat ini adalah kebun-kebun masyarakat yang berada di ladang dengan kontur super terjal! Asal usul komunitas Talaga konon pada jaman kesultanan Tidore adalah para prajurit yang ditugaskan sultan untuk menjada Danau Talaga. Menjaga apapun itu isinya terutama hasil dari Danau Talaga baik itu ikan dan lain sebagainya. Saking sering dan lamanya berdiam di Talaga ada ikatan kuat antara para prajurit dengan wilayah tugasnya, mereka kemudian memutuskan menetap dan diteruskan oleh keturunannya hingga hari ini. Saya tidak tahu apakah cerita ini valid atau tidak, tetapi menurut saya ada kemungkinan memang seperti itu. Saya sempat bertanya iseng ke seorang warga Talaga yang cukup tua tentang hal ini, dan dalam bahasa yang kurang saya mengerti dia menjawab “betul nenek moyang kami dulu yang menjaga danau ini agar hasilnya tidak jatuh ke tangan orang lain”. Siapa orang lain itu bukannya hampir semua orang Tidore sama saja, maksud saya bersaudara. Maksudnya orang dari seberang pulau, yakni Ternate. Tampaknya ada semacam sensi berkepanjangan di hati sebagian orang-orang Tidore karena dahulu jaman VOC menguasai Maluku Utara, orang-orang Ternate sangat hangat (sekaligus tertipu) dengan membantu VOC (sebenarnya ini gara-gara kontrak monopoli perdagangan rempah antara Sultan Ternate dan VOC pada 26 Juni 1607, Ternate kemudian jatuh sepenuhnya ke tangan VOC pada 7 Juli 1683). Di sisi lain semua penguasa Kesultanan Tidore sejak awal mula tidak pernah menerima VOC. Namun kemudian VOC terus berusaha menguasai Tidore dan memang berhasil kemudian berkat bantuan Ternate. Namun pada masa hidup seorang bernama Nuku Muhammad Amiruddin (1738-1805), keturunan sultan Tidore yang diasingkan VOC, VOC kemudian mengalami mimpi buruk setelah Nuku membangun pasukan kora-kora, armada perang besar jagoan di laut yang terdiri dari orang-orang Halmahera, Seram dan bahkan orang dari Papua. Pada tahun 1797 Nuku berhasil menaklukan VOC dan mengusir boneka-boneka VOC dari Ternate untuk meninggalkan Tidore, ini juga menandai mulai runtuhnya dominasi VOC di Moluku Kie Raha (Maluku Kie Raha/Maluku Utara). Nuku wafat pada tahun 1805. Coba tengok buku sejarah untuk anak-anak SD atau SMP yang ada sekarang, ada nama pahlawan nasional bernama Nuku Muhammad Amiruddin (Sultan Nuku) disana, dan tidak pernah ada pahlawan nasional dari Ternate hingga hari ini yang ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Maafkan tulisan ngelantur saya pada paragraf di atas, tetapi itulah sekilas ulasan lembaran sejarah yang pernah terjadi di wilayah ini. Kembali ke komunitas Talaga, kini mereka telah menjadi komunitas agraris yang cukup mapan, meskipun ya itu tadi hidup cukup terisolasi di pelukan pegunungan Kie Matubu. Ladang-ladang memang terletak di perbukitan terjal yang mengelilingi desa tetapi tanah di pegunungan ini sangat subur. Yang ditanam oleh masyarakat juga beragam mulai dari sayur-sayuran dan juga buah-buahan. Cengkeh dan pala juga ada tetapi tidak seberapa banyak, khusus dua tanaman penting ini letaknya di dataran yang cukup rata yang artinya berada di atas bekas dasar danau yang kini mengering. Hidup agraris artinya sangat terpengaruh dengan musim, tanam dan panen. Kehidupan desa menjadi sangat ‘meriah’ ketika terjadi dua momen penting agraris ini. Ketika musim tanam mulai, seperti sekarang-sekarang ini, maka banyak warga Talaga ada di kampung mereka untuk mengolah tanah mempersiapkan bibit dan kemudian bercocok tanam. Ketika musim panen tiba begitu juga. Panen akan menghidupkan suasana kampung begitu juga proses kirimnya ke daerah pesisir Tidore di bawah mereka. Yang agak sepi adalah ketika musim menanti panenan usai musim cocok tanam usai. Kabarnya banyak warga Talaga memilih berusaha di daerah pesisir dengan membantu saudara-saudara mereka menjadi nelayan dan atau menjadi pedagang. Saya tida ketika musim tanam di ambang pintu, sehingga suasana cukup sepi. Kata warga akan sangat tepat jika saya tiba ketika musim panen tiba. Tetapi masyarakat ‘pedalaman’ memang selalu memiliki cara bertahan hidup dengan memanfaatkan alam sekitarnya. Pada musim tiada panenan seperti ini, mereka banyak memetik hasil hutan untuk diperdagangkan di kota pesisir Tidore. Ada yang mengumpulkan pakis hutan, buah pinang, sayu rlilin (terubuk), buah-buahan hutan dan lain sebagainya. Dengan hasil hutan yag tersedia gratis sepanjang tahun ini, mereka mendapatkan penghasilan yang cukup untuk meneruskan langkah ‘menjaga’ Talaga.

Awalnya agak sulit berkomunikasi untuk mengumpulkan masyarakat Talaga ini karena faktor bahasa dan asingnya kosa kata "suting" yang kami sampaikan, tetapi niat baik selalu mendapatkan jalannya sendiri. Sebenarnya aparat-aparat desa di Rum yang pernah berjanji menghubungi orang-orang Talaga beberapa hari sebelum kami datang ternyata cuma janji kosong belaka, karena ketika saya tiba di Talaga (setelah menempuh tiga jam jalan kaki dair kaki gunung), terbukti tidak ada satupun aparat desa Rum yang mendahului menyampaikan niat kami. Setelah melakukan sosialisasi niat dan berkeliling kampung yang tidak seberapa luas tersebut, pada pukul tiga sore, di ujung kampung Talaga, telah terkumpul sepuluhan warga yang memang hari itu akan turun ke kota membawa hasil-hasil hutan yang mereka dapatkan. Hari itu adalah Minggu sore, yang artinya esok akan ada hari pasar di Rum. Pasar di Rum adalah salah satu pasar tradisional penting di Pulau Tidore (satunya lagi ada di Soasiu) yang merupakan tempat pertemuan penting antara masyarakat pegunungan dan masyarakat pesisir di Pulau Tidore. Di pasar ini akan terjadi pertukaran barang, hasil laut dan hasil kebun dan hutan secara masif dan cepat. Kenapa saya bilang terjadi dengan cepat, karena untuk hasil kebun dan hutan Tidore biasanya kemudian akan langsung dilarikan para tengkulak ke Ternate menggunakan speed boat. Kota terbesar di Maluku Utara ini memang perlu banyak sekali komoditas kebun dan hutan sebab secara jumlah penduduk sangat banyak dan kehidupan kotanya juga sangat maju. Intinya banyak orang yang perlu makan di Ternate dan itu harus dipenuhi dengan hasil pertanian dan perkebunan yang tidak mungkin hanya dengan mengandalkan hasil-hasil dari Pulau Ternate sendiri. Apalagi orang-orang Ternate sejak jaman kuno lebih senang menanam cengkeh dan pala saja dibandingkan tanaman pangan.

Rombongan kecil kami kemudian menyusuri jalan setapak di pegunungan yang mengepung Talaga selama tiga jam lebih. Setelah beberapa jam lalu kami (tim Jejak Petualang Trans7 berikut tim support lokal kami dari Soasiu) sudah terengah-engah jalan kaki dari bawah ke atas, tak heran ketika kami kemudian kembali dari arah sebaliknya, dengkul kami pun mulai protes. Padahal kami membawa barang yang tidak banyak dan tergolong ringan, paling berat hanya alat-alat suting saja. Sebaliknya, orang-orang Talaga baik itu perempuan dan apalagi laki-lakinya yang ikut turun ke bawah membawa barang dagangan mereka, seberat apapun itu, begitu sehat cepat dan sigap. Trengginas kalau istilah Jawa-nya. Saya sendiri melihat seorang ibu-ibu paruh baya menggendong barang dagangan (isinya sayuran, buah, cengkeh, dll) seberat hampir 50 kg di punggungnya! Dengan beban seberat itu dia masih tertawa sepanjang perjalanan dan juga melangkah lebih cepat daripada kami para ‘petualang’ ini! Memaaaang e! Singkat kata perjalanan kami lancar tiada satu halangan berarti dan menjelang magrib seluruh rombongan sudah tiba di kaki gunung di bawah di batas jalan desa Rum. Dari titik ini warga Talaga kemudian berpencar menuju rumah sanak saudara mereka yang ada di bawah gunung, tetapi kami sudah sepakat untuk kembali bertemu kembali esok subuh di Pasar Rum melanjutkan dokumentasi yang kami lakukan. Agak tricky meneruskan sequence dokumentasi hanya dengan berpegangan pada janji, oleh karenanya saya ‘mengikat’ mereka dengan sebagian barang yang mereka bawa turun ini, besok akan saya beli semuanya. Dan mereka setuju. Selama perjalanan bolak-balik Telaga ini saya belajar tentang keteguhan sebuah masyarakat yang tinggal di ‘pedalaman’. Kesetiaan dan keihklasan mereka menjalani hidup di Talaga sungguh luar biasa. Karena begini, kalau hanya saja sebenarnya di kawasan pesisir lebih dinamis dinamika hidupnya. Sarana dan prasarana penunjang kehidupan ada semuanya dan banyak lapangan kerja yang bisa dilakukan oleh siapapun yang mau bekerja. Tetapi mereka tetap memilih Talaga sebagai rumah mereka meskipun itu berada jauh di kesunyian pegunungan Kie Matubu.

Senin pagi kami sudah bertemu kembali di Pasar Rum untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Orang-orang Talaga saya lihat sudah menyebar di lapak mereka masing-masing, sebenarnya mereka memilih tempat sedapatnya dimanapun di sudut-sudut pasar tradisional ini. Karena kalau lapak yang memiliki peneduh sudah pasti milik orang-orang Ru. Dagangan mereka laku dengan cepat, tetapi apa yang telah kami sepakati kemarin tidak ada yang berubah. Kami tetap berhasil mendapatkan gambar-gambar transaksi mereka dengan barang yang di belakang layar telah kami beli tersebut, karena kalau tidak begini semua akan langsung habis begitu saja. Lapak-lapak orang Rum lebih mapan, dan barang-barang mereka juga ditata dengan sentuhan estetika. Misalnya saja pedagang bumbu-bumbu dapur, akan menata dagangan mereka sedemikian rupa sehingga jenis-jenis bumbu tertata dalam gundukan kecil yang berbeda namun rapi. Sudut paling ramai di Pasar Rum adalah bagian yang berada di tepi pantai, dimana banyak terdapat para penjual ikan. Suara mereka lantang berteriak mengalahkan bunyi debur ombak yang menghantam pembatas pantai. Sepertinya sedang musim ikan karena banyak sekali jenis ikan yang diperdagangkan; ada kerapu, baronang, ikan gosau, cakalang, tuna ekor kuning, pisang-pisang, dan lain sebagainya. Pasar ikan inilah yang selalu menjadi tujuan akhir orang-orang Talaga sebelum kembali ke atas gunung. Pertemuan orang pantai dan orang gunung di Pasar Rum menurut saya sangat meriah meskipun itu tadi, berlangsung cukup cepat. Tetapi ikut merasakan hidupnya suasana di pasar tradisional ini saya kemudian menjadi ikut berbahagia. Karena ikatan kedua masyarakat berbeda karakter geografis di Pulau Tidore ini berlangsung sangat hangat dalam semangat persaudaraan yang juga kental, mungkin inilah salah satu yang diperjuangkan Sultan Nuku dahulu, bersatunya sebuah masyarakat merdeka yang dapat mencari hidup dengan tenang. Semoga suasana gembira dalam mencari penghidupan yang dilakukan masyarakat Tidore ini terus abadi. Sehingga apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu di Pulau Tidore tidak sia-sia. Salam petualang!
























* Foto-foto merupakan kumpulan behind the scenes dokumentasi Jejak Petualang Trans7. Kru: me (reporter and angler), Eko Priambodo (cameraman), Chintya Tengens (host). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers