Thursday, 24 December 2015



Ada suatu masa di sebuah desa di Malang Selatan, ketika padi-padi di sawah mulai berbulir, seorang anak kecil berkulit gelap, setiap usai pulang sekolah (saat itu dia masih duduk di bangku SMP), memiliki tugas tetap dari kakek dan neneknya (anak kecil ini tinggal dengan kakek dan neneknya semasa SMP) yaitu pergi ke sawah menjaga bulir-bulir padi dari gangguan burung-burung pipit. Pada masa itu areal persawahan di Malang Selatan adalah gambaran ideal dari sebuah wilayah agraris. Persawahan membentang luas sejauh mata memandang, berlekuk indah naik turun seiring kontur tanah yang ada, air irigasi mengalir jernih di saluran air ke segala penjuru persawahan, sungai yang ada di kampung itu juga masih mengalirkan airnya secara konstan sepanjang tahun. Hampir semua proses pertanian saat itu masih dilakukan dengan manual (baca: tenaga manusia). Baik itu saat menggarap sawah, menyemai benih, menanam benih, dan saat panen. Juga ketika melakukan pemupukan, pupuk yang digunakan juga bukan pupuk yang mengandung pestisida. Hasil pertanian dengan cara tradisional seperti ini memang ‘memakan’ banyak waktu dan tenaga, tetapi padi yang dihasilkan lebih berkualitas (bukan lebih banyak) karena lebih sehat padinya karena tidak ada campur tangan pestisida. Sawah-sawah di desanya saat itu selain ditanami padi juga dijadikan tempat memelihara ikan-ikan air tawar, areal persawahan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ada petak padi dan ada juga petak-petak kolam dangkal berisi ikan air tawar. Pada masanya, biasanya menjelang padi menguning tiga bulan kemudian, ketika sawah-sawah akan mulai dikurangi debit airnya dan kemudian dikeringkan, ikan-ikan yang dipelihara akan dipanen lebih dahulu.

Namun karena saat itu sangat jarang orang menggunakan pestisida (baik di sawah maupun di kebun/ladang), ditambah ekosistem pedesaan masih sangat sehat waktu itu, burung-burung pemangsa padi juga masih sangat banyak. Burung pipit, jika hanya satu atau dua ekor terlihat lucu menggemaskan, namun jika sudah ribuan berputar di angkasa mencari-cari sawah mana mereka akan landing dan kemudian memangsa bulir-bulir padinya, suasana dan persepsi kita akan berbeda. Akan tercipta ‘medan perang’ dadakan antara penunggu padi dengan kawanan burung pipit yang lapar itu. Bocah kecil itu biasanya berbekal ketapel (termasuk juga sudah mempersiapkan karet-karet pengganti jika putus) dan satu karung kecil berisi kerikil yang dikumpulkan dari sungai terdekat. Setiap kali kawanan burung pipit akan mendarat, dia akan ‘menembakkan’ meriam-meriam kecilnya sambil berteriak. Pokoknya jangan sampai kawanan lapar itu sampai mendarat dan kemudian memangsa bulir-bulir padi. Tetapi terkadang serangan kawanan burung ini terlalu agresif dan mengambil resiko (apapun kalau lapar menjadi beringas) sehingga ada beberapa kesempatan mereka akan ‘mendarat’. Ketapel akan terus ‘ditembakkan’ dengan harapan mengenai satu atau dua ekor burung yang kemudian akan membuat yang lainnya terbang lagi. Namun jika kawanan ini tidak juga beranjak, bocah kecil akan berlari marah sambil berteriak menghambur ke petak yang diserbu kawanan. Begitu terus yang dilakukan sang bocah saban hari semasa SMP. Ketika petang tiba, dan kawanan burung sudah kembali ke sarangnya (hanya satu dua jenis burung tertentu saja yang berkeliaran malam hari), sang bocah pun beranjak pulang, melintasi persawahan menyeberang sungai, mendaki bukit kecil dengan sedikit gelisah karena kata orang-orang tua banyak hantu keluar menampakkan diri ketika petang menjelang. Hari ini, berpuluh tahun kemudian, bocah kecil itu kebingungan mengisi waktu liburnya bekerja di sebuah stasiun televisi nasional di Jakarta, kemudian memutuskan untuk menulis tentang ‘secuil’ kisah hidupnya. Tidak ada lagi ketapel, kerikil kecil di karung kecil, teriakan-teriakan marah mengusir kawanan burung-burung pipit, dan tidak ada lagi gelisah akan hantu yang keluar saat petang. Yang muncul hanya kerinduan andai waktu bisa diputar sejenak sesuai keinginan, pada salah satu babak hidup yang indah yang ingin kita alami sekali lagi. Keinginan yang mustahil terjadi. Saya tiba-tiba teringat, tahun lalu bersama tim Jejak Petualang Trans7 (host Medina Kamil dan kameraman Eko Priambodo), sempat mendokumentasikan tentang sistem mina padi ini di daerah Sleman, Yogyakarta dalam rangka menampilkan kembali ‘kreatifitas’ petani di lahan pertanian dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan pemaksimalan sistem pertanian dengan tata kelola lahan dan rekayasa pengairan yang tepat.

Catatan berikutnya tentang mina padi ini saya kutip dari artikel Mina Padi Sebagai Ketahanan Pangan danWisata Lingkungan yang dimuat di website Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Timur, yang menurut sangat lugas dalam mengulas sistem mina padi ini. Sawah minapadi atau rice cum fish culture adalah sistem budidaya terpadu tradisional antara ikan dan tanaman padi di sawah. Minapadi dapat dilakukan secara tumpang sari (ikan bersama padi), penyelang (saat menunggu tanam padi) dan palawija (di lahan sawah yang digenangi air). Waktu pemeliharaan ikan selama 30-40 hari mulai dari waktu tanaman hingga penyiangan pertama atau kedua dimana benih telah berukuran 30-40 ekor/kg. Salah satu daerah yang sukses menerapkan minapadi adalah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pada awalnya sistem budidaya minapadi dikenal di China lebih dari 1700 tahun yang lalu. Minapadi kemudian menyebar dan mulai diterapkan di Thailand lebih dari 200 tahun lalu. Di Indonesia, praktek minapadi mulai dikenal sebelum 1860 di Ciamis Jawa Barat. Dari Ciamis inilah kemudian sistem minapadi menyebar ke daerah Jawa Tengah, Jawa Barat Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, Sulawesi Utara, Bali dan  Lombok dibawa oleh pelajar (santri), pedagang dan pegawai pemerintahan. Pengembangan minapadi saat ini lebih di mungkinkan seiring dengan perkembangan sistem irigasi persawahan dan didorong oleh peran pemerintah. Hanya saja, sayangnya menurut saya ikan yang dominan dibudidayakan untuk sistem mina padi ini adalah ikan non endemik kita, karena yang dibudidayakan hampir selalu adalah ikan nila (ikan introduksi!). Pada tahun 1934, pengembangan minapadi banyak diarahkan ke daerah-daerah di luar Jawa. Pada tahun 1950-an budidaya minapadi telah menyebar di pulau-pulau di Indonesia. Pada masa ini luas pertanaman minapadi mencapai 50.000 ha dengan rata-rata produksi 100 kg/ha/tahun. Luas pertanaman padi meningkat pesat pada tahun 1960-1969 namun menurun antara tahun 1974-1979 seiring dengan diterapkannya program intensifikasi pertanian oleh pemerintah. Pada tahun 1990an, pertanaman minapadi telah dilakukan di 17 provinsi di Indonesia. Pada tahun 1980-1984 areal pertanaman padi meningkat pesat mencapai 137.384 ha pada tahun 1982. Hampir semua daerah pengembangan ini berlokasi di Jawa. Pada tahun 1985, luas pertanaman padi di Jawa mencapai 69% dan Sumatra mencapai 15% dari total pertanaman padi di Indonesia. Produksi perikanan dari minapadi pada tahun 1975-1985 meningkat sekitar 200%. Salam Lestari! Sembari membayangkan sistem mina padi yang membudidayajan ikan asli (native fish) Indonesia!










* Foto-foto merupakan bagian dari behind the scenes Jejak Petualang Trans7. Saya abadikan di Sleman bulan Februari 2015. Saat itu saya, Medina Kamil, dan Eko Priambodo sedang membuat liputan untuk membangun kesadaran, mengingatkan kembali tentang kondisi (serta pentingnya) dan perlakuan kita terhadap air tawar yang unik sekaligus kondisi terkini utamanya di Pulau Jawa. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers