Wednesday, 9 December 2015



Ketika akhir sebuah mimpi buruk menghampiri tidur saya, hawa dingin bulan Desember mencoba mendobrak pintu kontrakan saya yang sunyi di sebuah sudut entah Jakarta. Di teras masih terlihat tanah basah sisa hujan semalam, rerumputan di gang akses menuju kosan tampak sangat hijau, gembira dengan melimpahnya air yang datang sejak awal November lalu. Ada sedikit gundah dengan kisah-kisah dalam mimpi yang seperti berulang, namun sekejap ingatan saya tetiba terlempar ke sebuah desa kecil di ‘pojokan’ Sulawesi Tengah, Desa Taronggo. Entah kenapa tiba-tiba saya mengingat desa kecil yang menjadi akses terdekat ke Suku Wana ini. Padahal tiada yang istimewa sebenarnya di desa ini selain warganya yang meski pasif tetapi menerima kita apa adanya, bukan karena ada apanya. Mungkin dua yang sangat terasa berbeda ketika berada di desa ini adalah pemandangan Pegunungan Tokala yang tersaji indah di depan teras rumah kepala desa, dan riuh-rendah keramahan seluruh anggota keluarga kepala desa dalam menerima saya (dan rekan-rekan satu tim lainnya).



Sepertinya saya teringat Taronggo karena ketika Oktober lalu kesana, Sungai Salato yang indah dengan latar Pegunungan Tokala itu hampir mengering seluruhnya. Sungai besar yang menjadi saksi hidup kisah nomaden Suku Wana berabad-abad (sebagian besar masyarakat Suku Wana masih hidup berpindah di kawasan Pegunungan Tokala hingga hari ini), hampir kering kerontang. Beberapa genangan air besar memang masih tersisa di beberapa titik, tetapi tidak ada aliran lagi. Sungai lebar tersebut menjelma menjadi ‘neraka’ berkerikil dan berpasir yang sangat panas! Kabur asap yang ‘memeluk’ Pegunungan Tokala membuat hati siapa saja yang melihatnya menjadi semakin gundah dan terkadang terucap serapah. Melihat kenyataan ini saat itu saya sempat memberi kabar ke seorang rekan yang ada di Jakarta, bahwa apa yang saya lihat bulan Oktober tersebut dengan bulan April ketika kami berdua pertama kali ke daerah ini jauh berbeda. Kami berdua sulit mempercayainya. Apapun namanya itu, perubahan iklim, pemanasan global dan entah apa istilah lainnya itu nyata terjadi, dan tampaknya di seluruh penjuru bumi.

Tetapi siapa yang peduli? Semoga saya adalah bagian dari banyak orang di berbagai penjuru bumi ini yang khawatir. Dan semoga kekhawatiran saya menular ke banyak orang melalui catatan entah ini karena apa yang terjadi di Sungai Salato sebenarnya juga terjadi di berbagai penjuru negeri ini, dari desa hingga kota. Masalah hilangnya air tawar Sungai Salato hanya setitik dari banyak masalah lingkungan yang ada di seluruh negeri ini. Beberapa kawasan di Jakarta saja, ketika pada kemarau kemarin (saya melihatnya sendiri di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan), ada penduduknya yang tidak bisa lagi mengambil air bersih dari sumur-sumur pompa mereka, sehingga terpaksa membeli air mineral untuk mencukupi kebutuhan air bersih mereka, bukan hanya untuk minum, tetapi juga untuk memasak dan lain sebagainya. Kita perlu melakukan sesuatu, sekecil apapun itu sesuai dengan yang terjadi di sekitar kita, sehingga setidaknya perubahan buruk yang mendera lingkungan sekitar kita dimanapun kita berada dapat kita hambat. Namun pertanyaannya kemudian seperti kembali ke kalimat yang sama, siapa yang peduli? Saya menjadi sinis!

Kembali ke Sungai Salato di Sulawesi Tengah. Ketika debit airnya melimpah seperti pada April lalu, sungai ini sangat indah dengan aliran deras. Airnya pun terasa dingin sebab berasal dari pegunungan. Kita seperti berada di sebuah ‘kepingan’ surga yang terjatuh ke bumi. Bulan Desember seperti ini ketika curah hujan turun dengan derasnya, sungai ini akan dilanda banjir besar dan berbahaya. Semuanya masalah. Ketika kemarau, kering. Ketika hujan datang, banjir. Tidak ada lagi debit air yang naik perlahan ketika musim hujan, dan menyusut perlahan ketika musim kemarau menjelang. Semuanya berlangsung drastis sebab ekosistem sekitar sungai telah berubah. Hutan yang mungkin mulai gundul di hulu? Mata air di hulu yang mengering sebab gunung tak mampu lagi menahan limpahan air dan menyimpannya di dalam tanah? Yang terlihat jelas di mata saya, sekitar sungai ini terutama di dataran rendahnya, semua areal telah berubah menjadi kebun kelapa sawit!

Manusia mau tak mau harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi. Ada yang gelisah dengan ambil bagian melakukan berbagai usaha untuk mencoba mengentikan ‘kehancuran bumi’ ini. Ada yang beradaptasi dengan lebih praktis untuk mengamankan diri saja. Pola adaptasi ini bermacam-macam sesuai dengan yang terjadi di sekitarnya. Saya ambil contoh dengan kekeringan di sebuah titik di Mampang Prapatan yang saya lihat sendiri, tetangga yang biasanya tidak pernah tegur sapa berpuluh tahun, terpaksa menyapa yang masih memiliki air di sumurnya agar mendapatkan air bersih (karena kalau beli air mineral terus bisa tekor). Di sekitar Sungai Salato saya tidak melihat usaha apapun untuk mengembalikan kemegahannya seperti dahulu. Malah ketika musim kemarau menggila, banyak orang ikutan ‘latah’ membuka lahan mereka dengan membakar rerumputan dan semak yang memenuhi lahan mereka. Memang ini cara yang murah dan mudah, tetapi benarkah tidak ada cara lain selain hal yang menyumbang pemanasan global seperti ini?

Saya sebenarnya tidak ingin menyalahkan siapapun tentang mengeringnya Sungai Salato, namun rasa sayang saya ke sungai indah ini sepertinya telah berubah menjadi ‘luka’. Saya hanya ikut terluka bersama sebagian masyarakat Suku Wana yang kini terpaksa mencari ikan dan udang di anak-anak sungai kecil yang juga mulai mengering dalam kegiatan yang disebut disebut manongko (tangkap ikan dengan tangan kosong). Ikan dan udang yang juga sudah sangat sangat sulit didapatkan, padahal kita berada di sungai ‘pedalaman’ yang harusnya populasi ikan dan udangnya masih melimpah. Kemana perginya ikan dan udang di Morowali Utara? Kena racun jawab seorang ibu-ibu yang ikut dalam kegiatan manongko saat itu. Apakah seluruh perairan tawar di negeri ini memang sudah habis oleh keserakahan tukang racun dan tukang setrum ikan?! Daaaaaaamn!!!!

















* Foto-foto adalah behind the scenes trip Jejak Petualang Wild Fishing ke Morowali Utara, Oktober 2015. Kru: me (reporter), Muhammad Iqbal (cameraman), Chintya Tengens (host). Pictures taken on Oktober 2015 mostly by me. Another pictures are screen captures of Sony PMW 200. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers