Friday, 25 December 2015


Ketika akhirnya saya tiba di Pelabuhan Rum, Pulau Tidore, mobil yang kami naiki sejak dari Bandara Ternate kemudian melaju cepat menuju arah timur menuju Soasiu melintasi jalanan kecil mulus di sisi selatan Tidore. Sepanjang perjalanan rekan-rekan dari Tidore yang menjemput saya banyak berbagi cerita tentang kondisi terkini Pulau Tidore dan rencana-rencana yang akan kami laksanakan di hari-hari mendatang. Mata saya mencoba mengamati Pulau Maitara yang ada di sebelah kanan jalan di seberang laut, ketika saya kemudian melihat beberapa perahu kecil dengan jaring di depannya (bentuk jaringnya unik, ada di depan perahu, sekilas seperti dua capit kepiting) seperti sedang berebutan memburu kawanan ikan di dekat tepian pantai. Saya bertanya kepada kawan yang asli Tidore dan mengatakan itu adalah nelayan ikan “gesao”. Mereka berburu di dekat pinggiran pantai (paling hanya berjarak 100-200an meter saja dari garis pantai), tiap perahu terdiri dari dua orang, yang depan tukang jaring, yang belakang mengendalikan perahu dengan mesin dan danau. Saya memutuskan untuk berhenti di perjalanan, dan melihat sekilas aktifitas kelompok nelayan tersebut. Unik! Begitu kata saya dalam hati, riang. Karena dekat dengan pantai saya kemudian berteriak kepada kelompok nelayan tersebut, asal desa mana om!? Desa Tahua! Sahut mereka lebih keras. Bapak pu nama siapa?! Om Maya! Lebih keras lagi. Saya sudah mengantongi dua informasi penting, asal desa dan nama nelayannya. Rencananya saya akan mendatangi mereka kalau ada waktu luang nanti. Pulau Tidore, meski tergolong besar dan panjang, hampir seluruh desa penting terdapat di sekitar jalan utama yang mengelilingi pulau ini. Jika kita sudah mengantongi nama dan asal desa, siapapun pasti akan bisa kita temukan. Saya yakin itu! Saya kembali berlari masuk ke dalam mobil, dan rombongan pun melaju kembali menuju kota Soasiu, tempat kami akan bermalam selama delapan hari mendatang.

Singkat cerita suatu pagi yang cerah saya sudah berada di Desa Tahua, dalam perjalanan sudah sempat menelepon ke kelompok nelayan “batue” ini untuk bersiap-siap. Setiba di desa kami seluruh rombongan kemudian melaut. Ada lima perahu “batue” dan satu kapal kecil pendukung untuk emergency. Mencari ikan “gesao” hanya dilakukan ketika musimnya saja, yakni ketika laut sedang teduh sehingga banyak kawanan ikan kecil yang bermain di tepian. Mungkin juga sebenarnya saat berombak ikan “gesao” masih bisa dijumpai namun karena perahu nelayan-nelayan ini sangat kecil, akan sulit jika dipakai melaut saat ombak besar. Pastinya setahu saya kalau musim ombak, mencari ikan apapun itu menjadi sangat sulit karena permukaan air yang choppy. Uniknya aktifitas batue ini, mereka cukup melakukannya di perairan pesisir sekitar desa saja. Saya melihat ekosistem pesisir di Tidore masih cukup sehat sehingga masih banyak ikan-ikan kecil yang bermain. Ikan “gesao” ini bentuknya sangat kecil, seukuran jari kelingking kita. Sekilas mirip ikan teri tetapi pendek, tetapi kalau dari warna menyerupai ikan sarden, saya kemudian menyebutnya sarden mini. Kawanan ikan biasanya bermain di tepian di sekitar drop off antara laut dalam dengan perairan yang dangkal sekitar pantai. Sebelum melakukan penangkapan, nelayan akan melakukan mapping dahulu dengan berkeliling ke beberapa sudut pantai sekitar Tidore. Ketika sudah didapatkan kawasan yang dirasa ideal, ditandai dengan banyaknya tanda-tanda kawanan ikan “gesao”, maka pengepungan dan perburuan akan dilakukan hanya di sekitar kawasan tersebut.

Memang kalau dilihat secara umum kondisi perairan pesisir Tidore, Ternate, juga Maitara, sebenarnya sudah “maju” dalam artian sudah tidak terlalu banyak yang alami lagi. Karena banyak sekali desa dan kota kecamatan yang dibangun di sekitar pesisir, lalu lintas laut antar desa di kepulauan ini juga sangat padat.  Belum lagi ditambah “bisingnya” transportasi antar pulau dengan kapal feri besar dan atau speed boat, yang jumlahnya ratusan speedboat di seluruh Tidore dan Ternate dengan jadwal yang sangat padat ke berbagai tujuan. Jadi sebenarnya “lapak” mencari ikan gesao yang sepi dan juga memiliki view yang cukup indah sebenarnya sudah tidak seperti dahulu lagi. Untungnya, hari itu kami mendapatkan hasil yang lumayan, setelah menjaring selama kurang lebih tiga jam, total ikan yang kami didapatkan dari lima perahu sekitar 7 kg. Lebih dari cukup untuk menyatukan seluruh masyarakat Tahua dan kemudian membuat pesta kecil dadakan di pantai Desa Tahua. Kami kemudian segera merapat kembali ke Tahua untuk selanjutnya memasak ikan-ikan imut ini. Warga Tahua memiliki beberapa cara olahan ikan gesao. Pertama yang disebut dengan “ikan kue”, sekitar sepuluhan ikan akan dicampur dengan tepung kemudian akan digoreng, hasilnya seperti sebuah perkedel ikan. Olahan kedua adalah ikan “masak kering”. Ini unik. Ikan akan disusun rapi sedemikian rupa di atas sepotong daun pisang, dalam beberapa puluh susunan yang rapi, kemudian akan dikukus. Perlu kesabaran tingkat dewa untuk menyusun ikan di atas daun pisang yang juga mungil tersebut, tetapi warga Tahua melakukannya dengan cekatan. Lalu masih ada satu lagi cara olah yang tidak kalah njlimetnya, yakni sate ikan gesao. Bayangkan, kita menusuk ikan-ikan unyu-unyu ini dengan stik bambu seperti yang biasa dipakai untuk tusukan sate?! Olahan berikutnya adalah adalah gohu. Ikan cukup dibersihkan saja kemudian dicampur dengan segala bumbu gohu seperti sambal dari cabe kecil yang super pedas, dan kemudian ditambah dengan air jeruk lemon yang banyak. Ikan gohu ini nantinya akan dimakan mentah-mentah. Gohu ini adalah olahan ikan mentah khas Maluku dan Maluku Utara dan termasuk olahan favorit yang banyak dibuat warga. Semua olahan ini rasanya sangat nikmat! Terutama ikan kue-nya. Rasanya sangat gurih dan juga renyah. Saya tidak ingat habis berapa banyak ikan kue tersebut saking nikmatnya. Entahlah, mungkin sore itu saya sedang lapar-laparnya.

Sudahlah begini saja catatan iseng ini, kalau terlalu lengkap tidak baik juga. Kalau ada yang ingin ditanyakan kirim sms saja. Hahahaha! Yang terasa menyenangkan saat berada di Desa Tahua ini selain kenikmatan ikan gosao adalah kehangatan dan semangat warganya. Kami merasakan dengan nyata apa itu keramah-tamahan yang sebenarnya. Saat mencari ikan para kelompok nelayan melakukannya dengan cekatan. Saat memasak ibu-ibunya pun begitu ramai tetapi cekatan dan semangat dalam segala hal. Apalagi kalau saat makan jangan ditanya, satu kampung langsung nimbrung tetapi semuanya kebagian nikmatnya gosao ini. So, bagi Anda yang tertarik merasakan nikmatnya ikan “gesao” dan juga merasakan semangat bertahan hidup dari para nelayan “batue”, dan kehangatan Desa Tahua silahkan datang sendiri ke Desa Tahua, Pulau Tidore, Maluku Utara. Salam!















* Pictures by Me. Pulau Tidore, October 2015. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

3 comments:

Pris Bhe said...

Indaaaahh banggggeddd ya mas Mike..
Keramahtamahan dan "wellcome" para penduduk desa Tahua yg sangat menyenangkan..
Selamat Natal dan kirim salam buat nelayan "batue"..
Pris..

Pris Bhe said...

Indaaaahh banggggeddd ya mas Mike..
Keramahtamahan dan "wellcome" para penduduk desa Tahua yg sangat menyenangkan..
Selamat Natal dan kirim salam buat nelayan "batue"..
Pris..

Pris Bhe said...

Indaaaahh banggggeddd ya mas Mike..
Keramahtamahan dan "wellcome" para penduduk desa Tahua yg sangat menyenangkan..
Selamat Natal dan kirim salam buat nelayan "batue"..
Pris..

Popular Posts

Google+ Followers