Tuesday, 22 December 2015



Pagi yang hingar, musim libur sekolah telah tiba, anak-anak kecil dekat kontrakan saya berkumpul bermain di halaman sebuah PAUD, bising, tetapi bising yang terkadang membuat saya rindu akan sebuah masa yang telah lama berlalu dan tidak akan kembali. Mesin pompa air di halaman PAUD menyala, seutas selang air panjang mengarah ke sebuah rumah yang berjarak sekitar 30 meter dari PAUD. Sesekali saya melihat ibu-ibu dan bapak-bapak melintas membawa jerigen air, usai mengambil air dari rumah seorang warga dekat kontrakan saya. Ini di Jakarta, dan meski musim hujan sudah berlangsung hampir sebulan, ada sebagian warganya masih tidak memiliki air tawar untuk minum dan kebutuhan lainnya, karena sumur-sumur pompa mereka masih kering! Saya teringat komentar seorang kawan dari Jawa yang kemarin berkunjung ke Jakarta, kemudian kita ngopi di sebuah warung kecil di sekitar Lapangan Banteng, menurutnya beda ya rasa air tawar di Jakarta ini dengan di Jawa? Hehehe. Saya teringat sebagian masyarakat Pulau Lombok di daerah Sekaroh, harus berhemat air tawar sebab sumur-sumur tradisional mereka tidak lagi melimpah isinya. Hal yang sama juga terjadi di beberapa titik di Pulau Sumbawa dan masih banyak lagi di daerah lainnya. Intinya, alam sedang sakit!

Saya juga menjadi teringat sebuah komunitas kecil masyarakat di pesisir selatan Yogyakarta, Desa Ngobaran, mereka harus memperhatikan pasang surut demi mendapatkan air minum yang hanya bisa diambil dari cerukan karang di pantai cukup terjal di depan kampung mereka. Apa yang terjadi di Ngobaran berbeda dengan yang saya lihat pagi ini di Mampang Prapatan. Ngobaran berada di ujung bagian timur bagian selatan Pegunungan Karts Gunung Sewu, salah satu pegunungan karts yang ada di Pulau Jawa. Karakter pegunungan karts memang unik, pertama curah hujan relatif tidak banyak, dan kemudian kandungan air tanahnya tersimpan jauh di bawah tanah dalam sungai bawah tanah dan cerukan-cerukan berbatu yang terkadang menjadi sulit untuk dimanfaatkan. Dari usaha warga Ngobaran untuk mendapatkan air bersih ini, kita semakin memahami betapa air bersih harus diperjuangkan, karena memang air adalah elemen penting bagi apapun yang hidup, terutama untuk manusia (pelajaran SD ini sebenarnya, maafkan saya)! Warga Ngobaran, meski hidup di wilayah geografis yang unik, tidak kebingungan kemana mencari air bersih, hanya perlu sedikit usaha untuk mendapatkannya dari ceruk air yang tidak pernah mengering sepanjang tahun. Di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan sebagian warga mulai kesulitan air bersih karena sumur-sumur mengering, karena cadangan air tanah yang berkurang, lebih jauh lagi karena alam yang berubah. Saya bukan ahli yang mengerti perihal hidrologi, air tanah, apapun itu terkait dengan "air" dan kehidupan, disini saya hanya mencoba menghadirkan kenyataan dari apa yang terlihat oleh mata saya, siapa tahu bisa menggugah semangat sebagian pengunjung blog ini untuk menyadari kondisi lingkungan yang ada di sekitar kita.

Sekarang kita tengok secara umum perihal air tawar di negeri kita. Indonesia sebenarnya memiliki potensi perairan tawar yang luar biasa. Jumlah sungai misalnya ada sekitar 5.590 yang tersebar di seantero negeri. Beberapa sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia adalah Sungai Kapuas (terpanjang di Kalimantan dan di Indonesia): 1.143 km. Sungai Mahakam: 920 km. Sungai Barito: 900 km. Sungai Batanghari (terpanjang di Sumatera): 800 km. Sungai Musi: 750 km. Sungai Memberamo (terpanjang di Papua): 670 km.Bengawan Solo (terpanjang di Jawa): 548 km. Sungai di Indonesia menjadi bagian penting kehidupan masyarakat sejak jaman kuno antara lain sumber energi, air minum, irigasi, transportasi, perikanan, wisata, dan lain sebagainya.

Jumlah danau di Indonesia juga mencapai ribuan. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, sebagaimana disampaikan dalam Konferensi Nasional Danau Indonesia I tahun 2009, jumlah danau di Indonesia diperkirakan sebanyak 840 danau besar dan 735 danau kecil (situ). Dari total jumlah tersebut, danau di Indonesia mampu menampung hingga 500 km3 air atau 72% dari total persediaan air permukaan di Indonesia. Daya tampung air yang cukup besar tersebut, danau menjadi andalan persediaan air untuk sektor pertanian, sumber air baku masyarakat, perikanan, PLTA, pariwisata, dan lain sebagainya. Dari 1.575 danau besar dan kecil yang dipunyai Indonesia beberapa di antaranya mempunyai ukuran yang sangat besar sehingga layak dianggap sebagai danau paling luas dan besar di Indonesia. Danau Toba di Sumatera Utara misalnya memiliki luas 100 km x 30 km dan merupakan danau terluas di Indonesia dan Asia Tenggara. Di dunia Indonesia menempati peringkat ke-5 sebagai negara dengan cadangan air tawar sebesar 2838 metrik kubik, potensi ini masih belum digarap secara serius (Mapsoftheworld.com, 2013).

Sayangnya, warisan untuk seluruh kehidupan yang ada di negeri kita ini semakin mendapat ancaman strategis. Kawasan hutan di Indonesia pernah menempati urutan ketiga terluas di dunia (pertama Brasil, kedua Kongo) dengan luas 162 juta hektar. Kita bisa bayangkan manfaat dari “paru-paru dunia” ini dari keberagaman flora faunanya, fungsi tata air, untuk ilmu pengetahuan, farmasi, dan lain sebagainya. Sayangnya paru-paru dunia ini telah lama dan terus terkoyak oleh pembalakan liar dan kebakaran hutan dan lahan (tahun 2007 Indonesia mendapat juara sebagai negara dengan deforestasi tertinggi dari Guiness World Records dengan tingkat kerusakan 300 kali lapangan bola setiap jamnya). Dari kebakaran hutan dan lahan pada kurun waktu 1997-1998 saja terjadi deforestasi sekitar 9,75 juta hektare (ADB), namun menurut Walhi luasnya mencapai 13 juta hektar. Deforestasi lain yang menggerus hutan-hutan Sumatera, Kalimantan hingga Papua, hingga tahun 1997 diyakini tidak kurang telah merobek paru-paru dunia ini seluas 10 juta ha. Pertumbuhan ekonomi  Indonesia tahun 1980-1990an juga terjadi dengan mulai merosotnya kualitas lingkungan dan pelanggaran hak dan tradisi masyarakat setempat. Untungnya kita masih memiliki harapan dari hutan yang lain, misalnya saja luas hutan mangrove kita masih menempati urutan pertama di dunia dengan 19% dari luas negara atau sekitar 3,062 ribu ha, lebih luas dari Australia (10%) dan Brasil (7%). Beragam manfaat kawasan hutan mangrove Indonesia (pangan, perikanan, ekosistem, kemampuan menyimpan karbon) belum digarap secara maksimal, padahal dengan panjang total hampir 95,000 km di seluruh pesisir Indonesia, menyumbang 23 % ekosistem mangrove dunia. Jadi ibarat hutan tropis primer kita kolaps, kita setidaknya masih bisa berharap dari keberadaan hutan mangrove.

Yah lumayanlah masih ‘untung’ daripada buntung (hilang ekor kita), tetapi sampai kapan kita akan ber-‘untung’ terus? Keberuntungan akan musnah kalau kita tetap hidup seenak jidat sendiri. Buktinya mulai terjadi, untuk urusan perairan tawar saja misalnya, jika kemarau beratus daerah di negeri kita mulai kesulitan air tawar bahkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan air minum, tetapi kalau musim hujan, air juga terkadang seringnya tidak bersahabat, banjir dan tanah longsor melanda dimana-mana. Melimpahnya air tawar di negeri kita sekarang ini banyak diiringi dengan munculnya tragedi sebagai akibat alam kita sudah ‘penyakitan’. Banyak yang berargumen, tidak penting membahas air tawar dan apapun itu tentang cara hidup ramah lingkungan, itu bukan urusan saya! Yang paling penting adalah kita memiliki uang sebanyak-banyaknya maka apapun akan bisa kita dapatkan. Peduli setan hutan habis, sungai mengering, air tanah hilang, dan lain sebagainya. Memang sebanyak apa uang yang kita miliki, yakin bisa membeli semua ‘kehidupan’? Entahlah apa yang saya tulis ini, mungkin saya sedang lelah. Tetapi bayangkan begini, untuk kita saja yang ada di Jakarta misalnya, seandainya ketika kemarau tidak sulit air, ketika musim hujan juga tidak dilanda banjir (mau banjir kiriman dari Bogor ataupun karena sampah numpuk di kanal-kanal kota), apa hidup tidak menjadi indah? Nah kalau sudah begitu, bukannya uang kita rasanya lebih enak tuh?!









* Foto-foto merupakan bagian dari behind the scenes Jejak Petualang Trans7. Saya abadikan di Pantai Ngobaran, Yogyakarta bulan Februari 2015. Saat itu saya, Medina Kamil, dan Eko Priambodo sedang membuat liputan untuk membangun kesadaran, mengingatkan kembali tentang kondisi (serta pentingnya) dan perlakuan kita terhadap air tawar yang unik sekaligus kondisi terkini utamanya di Pulau Jawa. Daerah Gunung Kidul, Yogyakarta menurut kami dapat menjadi sumber inspirasi yang unik tentang air tawar ini. Mengingat daerah ini tepat berada di Pegunungan Karts Gunung Sewu. Curah hujan sedikit, air tawar banyak terdapat di sungai-sungai bawah tanah. Tetapi hebatnya sebagai bentuk timbal balik alam pada cara hidup orang Gunung Kidul yang ramah lingkungan, mereka selalu memiliki persediaan air tawar yang cukup untuk menyokong kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan di beberapa titik di Gunung Kidul, ketersediaan air tawar yang ada bisa dikonversi menjadi atraksi wisata yang menggerakan roda perekonomian masyarakat. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers