Friday, 18 December 2015


Mengenang Nuku Muhammad Amiruddin/Sultan Nuku (1738-1805), dan orang-orang Tidore.

Pandai besi, pande besi, dan apapun itu sebutan yang merujuk kepada para ahli menempa besi menjadi berbagai peralatan, banyak terdapat di berbagai masyarakat di Indonesia. Di Pulau Jawa yang sudah semaju ini pun kita masih mudah untuk menemui keberadaan para pandai besi ini. Jadi sebenarnya ketika kemudian saya memutuskan untuk mendokumentasikan para pandai besi di Desa Toloa, Pulau Tidore bukan karena keunikan cara membuat peralatan atau apapun lainnya berkaitan dengan proses dan bahan. Karena secara umum cara kerja para pandai besi ini kurang lebih sama; baja (biasanya baja bekas per mobil kalau sekarang akan dipanaskan hingga titik panasnya, dengan dibakar di dalam arang membara yang ditiup angin dari blower tradisional, kemudian dipotong dan ditempa menjadi berbagai peralatan sesuai keinginan). Alasan saya mendokumentasikan para pandai besi di Desa Toloa pertama adalah karena masyarakat Maluku itu sendiri terutama masyarakat Maluku Utara. Kedua adalah karena alasan sejarah, yang pernah berkecamuk di Tidore berabad lalu, sehingga mengharumkan nama Pulau Tidore sebagai sebuah pulau yangmenurut saya sangat bermartabat. Parang dan pasangannya berupa salawaku (atau perisai khas Maluku) begitu indentik dengan masyarakat kepulauan Maluku ini. Tidak usah saya gambarkan dengan hasil penelitian yang rumit, lihat saja image Pahlawan Nasional kita yang berasal dari Maluku yang terdapat di selembar uang Rp 1000 keluaran Bank Indonesia tahun 2000, Pattimura (1783-1817) dia membawa sebilah parang dan salawaku. Begitu juga tarian perang cakalele yang menggambarkan keperkasaan kaum pria Maluku, menggunakan dua perangkat ini; parang dan salawaku. Karena selalu berpasangan maka sering disebut dengan parang salawaku.

Untuk menggambarkan identiknya parang dengan masyarakat di Pulau Tidore dan lebih luas lagi Maluku Utara (Moluku Kie Raha) mereka memiliki Sultan Nuku (1738-1805). Pahlawan Nasional dari Pulau Tidore ini adalah pejuang tulen yang gigih melawan keberadaan VOC di Maluku Utara hingga berhasil mengalahkan kompeni pada tahun 1797. Nuku berhasil mengusir kompeni angkat kaki dari Tidore setelah perang paling panjang dan paling heroik dalam sejarah Maluku Utara, beberapa sumber menyebut kompeni dan antek-anteknya (konon berasal dari Ternate) menyerah setelah Pulau Tidore dikepung 93 armada besar pimpinan Nuku yang banyak disebut dalam literatur sejarah dengan istilah pasukan kora-kora. Kora-kora adalah perahu yang ramping dan panjang tradisional khas Maluku Utara. Pasukan kora-kora ini kabarnya merupakan pasukan gabungan yang terdiri dari orang-orang Halmahera, Seram dan bahkan dari Papua Barat. Lalu hubungannya dengan Desa Toloa apa? Dalam perjalanan kemarin ke Tidore dan dari hasil ngobrol dengan beberapa orang ‘penting’ yang menemani kami, dikisahkan ketika Nuku berjuang melawan kompeni, konon parang-parang yang digunakan oleh pasukan kora-kora salah satunya dibuat di Desa Toloa ini. Saya gagal membayangkan bagaimana cara distribusi parang-parang dari Desa Toloa ke pasukan kora-kora yang berada di lautan, karena daratan Tidore saat itu dikuasai oleh kompeni. Nuku sendiri dapat dikatakan saat itu adalah pangeran yang terusir dari kerajaannya setelah Sultan Jamaluddin (ayahanda Nuku) ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Penaklukan Tidore ini terjadi pada tahun 1779 dan kemudian kerajaan Tidore oleh kompeni diserahkan kepada orang-orang yang berasal dari sebelah Pulau Tidore. Tetapi bagaimanapun itu situasi yang terjadi saat itu, saya kemudian mengambil kesimpulan bahwa apa yang hingga hari ini dilakukan oleh orang-orang Desa Toloa, setia menjadi pandai besi, patut untuk mendapatkan lapak di media nasional dalam kemasan apapun karena memiliki pijakan kuat untuk menggambarkan keuletan dan prinsip hidup yang dimiliki oleh sebuah masyarakat.

Pada hari yang panas namun berangin kami pun sudah berada di Desa Toloa mendengarkan alunan musik metal yang ditempa para pandai yang rata-rata berusia paruh baya ke atas tersebut. Mereka adalah generasi kesekian para pandai besi yang ada di desa ini, dan sebagian besar masih keturunan yang sama dari para pandai besi yang membantu Nuku pada masa lalu. Dahulu nenek moyang mereka menempa baja untuk membantu perjuangan agar masyarakat Tidore kembali menjadi masyarakat yang berdaulat sepenuhnya. Kini orang-orang Toloa menempa baja untuk melengkapi jaman yang berubah, namun tetap memerlukan peralatan-peralatan tradisional untuk berbagai keperluan praktis. Sebagian besar baja yang ditempa masih untuk dibentuk menjadi parang, tetapi parang-parang pendek untuk memotong rumput di ladang, bukan parang panjang yang lebih diproyeksikan untuk sebuah pertempuran. Tetapi ada perubahan signifikan dengan dibuatnya peralatan-peralatan rumah tangga seperti pisau potong daging, pisau potong bumbu, pisau untuk ikan yang diperlukan para nelayan di pesisir, alat penggaruk kelapa untuk ibu-ibu rumah tangga, dan lain sebagainya. Demikian kiranya saudara-saudara, maksud saya dengan catatan iseng ini adalah, jika ada yang tertarik merenungkan salah satu babak dalam sejarah Maluku Utara, Desa Toloa dapat menjadi salah satu point sehingga kita dapat merasakan jiwa sejarah yang pernah dan terus hidup di Pulau Tidore ini. Bukan melulu melalui monumen-monuman yang dingin kaku, atau buku-buku sejarah yang  semakin sulit kita temukan ada dimana sekarang ini, tetapi melalui nafas masyarakat itu sendiri dalam mencari dan memaknai hidup merdeka mereka hari ini. By the way, host kami saat itu adalah nona kelahiran Ambon, Chintya Tengens, sehingga sangat pas untuk presenting tentang parang Tidore ini. Salam petualang!




















* Foto-foto merupakan kumpulan behind the scenes dokumentasi Jejak Petualang Trans7. Kru: me (reporter and angler), Eko Priambodo (cameraman), Chintya Tengens (host). Picture captured from footage with Sony PMW 200 captured by Eko Priambodo. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers