Wednesday, 9 December 2015


Ketika melakukan dokumentasi perburuan khas ala Suku Banggai ini, secara tidak sengaja salah satu pemburu yang terlibat dalam kegiatan ini adalah seseorang (saya lupa namanya) yang cacat, tangan kanannya diamputasi karena mengalami kecelakaan di laut ketika menjadi nelayan. Namun apa yang dia lakukan selama proses dokumentasi yang kami lakukan seharian, dia layaknya orang normal biasa saja. Semua dilakukan seperti dia tidak memiliki kekurangan fisik apapun! Ditambah lagi kebripadiannya juga sangat baik dengan emangat kerja yang luar biasa. Banyak orang norml secara fisik saya lihat memiliki mental ataupun semangat kerja yang ‘melempem’. Dia bagi saya pribadi dengan caranya sendiri dalam kesederhanaan mengajarkan kepada saya tentang arti semangat hidup yang sebenarnya. Terimakasih!

Setelah berlalu sekian lama, apa yang mengendap di kepala akhirnya menemukan alasan untuk dituliskan. Kesunyian rupanya masih menjadi obat yang mujarab untuk menulis, bisa jadi ini pelarian dari sepi yang mendera, bisa jadi ini sebuah usaha untuk mengisahkan sesuatu yang mungkin berguna bagi siapapun. Aiiih! Entahlah! Kembali lagi ke Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Morowali Utara, dimana banyak berdiam beragam suku bangsa. Ada komunitas masyarakat transmigran dari Jawa dan Bali (misalnya saja yang mendiami kawasan sekitar Toili), dan tentunya ada kelompok masyarakat asli mulai dari Suku Wana, Banggai dan lain sebagainya. Sebenarnya banyak sekali suku bangsa di Sulawesi Tengah ini tetapi yang pernah saya kenal secara langsung hanya beberapa, paling sering adalah suku Banggai, Sea-sea, Wana, Balantak, dan Bajo. Yang saya lihat, suku Banggai adalah kelompok suku yang paling banyak ‘beredar’ di Sulawesi Tengah. Sehingga tak heran misalnya, ketika saya berada di Morowali Utara, saya dengan mudahnya menemukan kelompok masyarakat yang merupakan Suku Banggai, padahal aslinya mereka berasal dari ‘seberang’ lautan yaitu di daerah Pulau Peleng, Bangkurung dan sekitarnya.

Setiap masyarakat ‘pedalaman’ (baik itu masyarakat pesisir ataupun masyarakat gunung/hutan) selalu memiliki cara perburuan yang unik sesuai dengan wilayahnya. Beberapa bulan lalu ketika berkeliling Pulau Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut, sembilan jam dengan kapal kayu dari kota Luwuk, saya secara tidak sengaja melihat kegiatan unik yang dilakukan oleh masyarakat disana. Mereka mencari ikan dengan cara yang menurut saya masih primitif dengan mendirikan tiang-tiang di atas reef dangkal ataupun di pantai. Kemudian mereka akan naik ke tiang tersebut dan berdiam diri beberapa lama untuk menombak ikan ataupun cumi-cumi yang melintas di bawahnya. Cara kuno ini cukup mengaggetkan saya mengingat kini banyak nelayan kita lebih banyak memikirkan volume tangkap. Cara menombak ikan ini (yang kemudian saya tahu namanya adalah nyingke) sama sekali jauh dari laku nelayan kebanyakan saat ini di Indonesia. Sudah caranya cukup sulit, hasilnya paling-paling hanya cukup untuk makan sendiri saja. Pertanyaan besarnya setelah melihat hal ini adalah bagaimana cara ini sebenarnya dilakukan, dan apa yang membuatnya terus bertahan di jaman yang ‘memuja’ banyaknya tangkapan ikan ini. Saat itu dokumentasi urung dilakukan karena perairan sekitar Banggai Laut diambang ‘badai’ dan kami harus segera keluar dari wilayah ini kalau tidak mau tertahan beberapa bulan.

Waktu kemudian membawa saya kembali ke Morowali Utara, dan satu hari diantaranya saya habiskan dengan kelompok masyarakat Banggai perantauan yang ada di wilayah ini. Apalagi kalau bukan untuk mendokumentasikan dan mencari tahu semua hal tentang cara nyingke yang pernah saya lihat di Banggai Laut beberapa bulan lalu. Kami berhasil mengakses kelompok masyarakat Banggai perantuan di wilayah ini berkat bantuan beberapa kawan di Luwuk dan juga di Morowali utara yang sukarela melakukan survay terlebih dahulu sebelum kami datang, terimakasih kawan!  Salah satu kawan di Luwuk rupanya asli dari sebuah desa kecil di Morowali Utara, dan kebetulan sekali memiliki banyak kerabat dari Banggai Laut. Singkat kata setelah jadilah kemudian suatu hari, kami sudah berkumpul di sebuah pantai yang berjarak sekitar satu jam dari desa terdekat untuk merekonstruksi cara nyingke ini. Ada tiga orang ahli nyingke, mereka aslinya dari Pulau Peleng tetapi merantau di Morowali Utara, dan ada lagi sekitar lima belasan warga yang menjadi tim support untuk melancarkan kegiatan yang akan kami lakukan (ada porter, tukang perahu, tukang ikan keramba untuk back up, tukang makan dan tukang tidur). Hahaha!

Kapan cara nyingke muncul di komunitas masyarakt Banggai dan sekitarnya agak sulit untuk dipastikan, sejak jaman dulu sudah ada kata mereka. Tetapi yang mereka tahu dari penuturan nenek moyang, cara unik ini konon muncul sebagai solusi ketika laut sedang tidak bersahabat (musim angin/ombak besar). Jadi ketika mencari ikan ke tengah laut dengan perahu kecil ataupun kapal besar sedang berbahaya dilakukan, dan juga hasilnya sedang sulit diprediksi, atau juga secara hitungan ongkos sangat sulit dicari kemungkinan dapat balik modal, maka cara nyingke ini kemudian dilakukan. Cara ini adalah kegiatan perburuan yang menurut saya sifatnya personal, dalam artian lebih untuk dilakukan perseorangan bukan dalam kelompok besar. Tombak yang digunakan disebut serampang, ujung tombaknya bermata tiga, saya pernah melihat  pemakaian masif jenis tombak ini di komunitas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, mereka menyebutnya serapang. Gagang tombaknya terbuat dari bambu kecil yang sangat kuat dengan panjang rata-rata lima meteran (sebenarnya ini fleksibel dengan tinggi tiang yang akan dibangun nantinya).

Jika kita rekonstruksi dari awal, kegiatan nyingke ini urutannya sebagai berikut; mencari tiang penyangga yang biasanya adalah pohon-pohon bakau atau batang tanaman keras lainnya yang lurus tetapi berdiameter kecil (akan dipilih jenis kayu yang kuat terendam air laut), kemudian membangun tambula (semacam penyangga berkaki tiga) dari tiang-tiang tersebut di titik tertentu yang potensial, dan berikutnya kemudian melakukan perburuan dari atas tiang tambula. Yang dimaksud titik potensial untuk membangun tambula adalah titik yang dirasa memiliki ‘lalu-lintas’ ikan dan cumi yang paling baik. Ini bisa berupa tubiran atau batas kedalaman (jika kita membangun tambula-nya di reef atau karang dangkal). Atau jika tambula dibangun di dekat muara sungai akan dipilih tanjungan yang paling dekat dengan ‘pintu’ yang menjadi pertemuan sungai dan laut. Atau jika dibangun di kawasan pantai yang dangkal tetapi tidak berbatu, akan dipilih yang kedalamannya cukup dibandingkan titik lainnya, sehingga ketika air surut, maka ikan ataupun cumi cenderung bermain di areal ini. Jadi sebelum membangun tambula, dimanapun itu, para pemburu harus melakukan mapping areal dahulu. Dan masih banyak lagi pertimbangan lainnya, tetapi intinya yang paling besar kemungkinannya mendapatkan ikan. Tambula akan dibangun setinggi sekitar dua meter dari permukaan air, mengukurnya dengan mempertimbangkan air pasang, tetapi dalam tiang yang terendam air kira-kira maksimal dua meteran. Pada bagian atas semua tiang tambula saling silang dan diikat menjadi satu dengan tali rotan. Di ikatan inilah kemudian semua pemburu akan nangkring selama berjam-jam demi mendapatkan target buruannya. Jadi bayangkan seekor burung yang bertengger di batang kayu mengamati permukaan air untuk mencari ikan kemudian menyergapnya, kira-kira penampakan perburuan cara nyingke ini seperti itu.

Nyingke konon hanya dilakukan pada siang hari saja atau ketika ada matahari saja, sangat jarang nyingke dilakukan malam hari. Saya setuju, siapa yang bisa tahan duduk berjam-jam seperti itu jika malam hari? Mau bergerak pecicilan kita takut jatuh ke air dan basah (kemudian kedinginan), padahal kita tidak boleh gaduh jika ingin mendapatkan ikan. Siang hari duduk di tambula juga tidak mudah, jika panas kita akan kepanasan, hujan pun akan kehujanan, sudah begitu pantat kita juga akan panas karena dudukan kita cuma ikatan tali rotan yang mengikat tiang saja. Sudah begitu, mata kita harus terus mengamati permukaan air melihat jika ada pergerakan ikan atau cumi yang melintas, sementara kedua tangan kita harus terus konsentrasi memegang tombak. Saya bukan orang Banggai, tetapi jika terpaksa suatu hari harus melakukan kegiatan ini demi mendapatkan ikan untuk makan demi melanjutkan hidup, sepertinya saya baru akan bisa nyingke jika saya membawa bekal yang banyak. Jadi sembari nangkring menunggu ikan saya bisa ngemil misalnya. Tak heran jika sejak awal melihat cara nyingke ini dulu pertama kali di Banggai Laut beberapa bulan lalu, saya sudah terkesan dengan cara ini dan juga para pelakunya. Keren!

Satu hal yang pasti cara nyingke ini menurut saya sangat ramah lingkungan. Memang berat dan banyak mengandalkan kemampuan fisik, tetapi sangat bersahabat dengan lingkungan pesisir serta sebenarnya dari segi biaya sangat murah! OK pemburu tetap memerlukan perahu untuk mencapai titik tertentu dalam membangun tambula, tetapi sekali dibangun, tambula ini bisa berumur hingga setengah tahun, jadi bisa terus digunakan lagi. Tiang tambula juga gratis mengambil di rawa-rawa, bambu untuk gagang tombaknya pun gratis, mata tombak juga belum tentu sepuluh tahun sekali beli (asalkan tidak hilang hehehe...). Yang mahal adalah tenaga yang harus dikeluarkan banyak oleh para pemburu. Keteguhan hatinya juga yang mahal karena kita harus bersabar berjam-jam menunggu target buruan berenang di bawah tambula untuk kemudian kita tombak. Nelayan juga tidak perlu bahan bakar minyak dalam jumlah besar, tidak perlu berkeliling tidak jelas dengan hasil yang juga belum pasti? Tetapi, itu tadi, cara nyingke bukanlah cara tangkap yang diproyeksikan untuk hasil tangkapan yang banyak. Hanya untuk pemenuhan kebutuhan protein atau nutrisi keluarga secukupnya saja, sembari menunggu musim angin berlalu. Tetapi menurut penuturan orang-orang Banggai yang ada di Morowali Utara kemarin itu, cara ini sekarang juga dipakai sebagai bentuk respon terhadap musim ikan/cumi ketika banyak bermain di tepian/pesisir. Cara nyingke ini menurut mereka sekarang juga menyebar kemana-mana di Sulawesi Tengah. Baguslah batin saya, semoga cara ramah lingkungan yang unik ini kalau bisa menyebar ke seluruh masyarakat nelayan di Indonesia! Sehingga masih ada harapan adanya ikan-ikan yang cukup dan beragam untuk anak cucu kita nanti. Hampir lupa, sepengetahuan saya dokumentasi kegiatan nyingke yang kami lakukan ini adalah pertama kalinya televisi nasional melakukannya, ini sungguh "sesuanu" buat saya dan tim. Salam wild fishing!



























* Foto-foto merupakan kumpulan behind the scenes dokumentasi Jejak Petualang Wild Fishing Trans7. Kru: me (reporter and angler), Muhammad Iqbal (cameraman), Chintya Tengens (host). Pictures taken on Oktober 2015 mostly by me. Another pictures are screen captures of Sony PMW 200. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers