Tuesday, 5 January 2016


Penghujung bulan Oktober, sinar matahari seperti membakar Pulau Makian di Maluku Utara. Saya mencoba melawan hari dengan berteduh di serambi belakang sambil ngobrol bersama masyarakat setempat yang berkumpul di sebuah rumah di tepian pantai yang menjadi basecamp kami selama beberapa hari di Pulau Makian, pulau yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Kenari (saking banyaknya tanaman kenari di seluruh penjuru pulau, sebagian telah berusia ratusan tahun lebih). Pemukiman pesisir Pulau Makian menurut saya cukup unik. Bagian depan rumah menghadap jalan raya beraspal yang belum tentu sehari sekali ada kendaraan roda empat melintas (di Pulau Makian, jumlah mobil bisa dihitung dengan jari), bagian belakang rumah memiliki halaman yang menghadap langsung ke pantai yang meski berpasir hitam tetapi cukup bersih (buktinya setiap hari masyarakat mandi dan anak-anak juga bermain di pantai ini). Sebelum lupa, tentang mandi ini ada yang unik menurut saya, meski berjarak beberapa meter saja dari tepian pantai, air yang muncul dari sumur-sumur yang digali oleh masyarakat di sepanjang pesisir ini sangat tawar dan sangat bening! Konon menurut warga dengan teori sederhana mereka, ini disebabkan karena daya dorong air tawar dari gunung ke bawah lebih kuat dibandingkan daya resapan air asin dari laut. Saya tentunya memilih mandi dari air sumur yang tawar ini daripada mandi di pantai, takut ada yang ngintip dan kemudian naksir. Ngarep! Hehehe. Info berikutnya bagi yang belum mengenal Pulau Makian, pulau ini adalah salah satu pulau gunung api di Maluku Utara, kontur pesisirnya sangat terjal, beberapa meter dari garis pantai langsung drop dengan kedalaman ratusan meter. Gunung api yang ada di pulau ini, Kie Besi (1357 mdpl), masih aktif hingga hari ini, dan sepertinya akan terus aktif selamanya. Letusan terakhir Kie Besi terjadi pada tahun 1988 dan bekas koyakan akibat letusan ini masih terlihat jelas di tengah-tengah Pulau Makian.

Sembari ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, saya melemparkan trigger dalam bentuk satu dua pertanyaan pendek tetapi berupa kata-kata kunci, mengalirlah beragam kisah kegiatan masyarakat di Pulau Makian. Kalau tentang keterkaitan masyarakat dengan tanaman kenari saya sudah tidak perlu menelusuri lagi, karena seluruh penghuni pulau ini terkait erat dengan tanaman unik ini, sudah terlalu mainstream jika saya hanya mencari informasi ini karena semua orang ketika ke Makian akan membahas tentang hal ini. Saya penasaran, adakah kegiatan-kegiatan lain yang unik yang mungkin bisa didokumentasikan. Masyarakat Pulau Makian ini menurut saya terbagi separo-separo antara yang agraris dan bahari, sama-sama kuat, malah kalau dilihat ramainya kebun dan perdagangan kenari sejak jaman kuno, tetapi lautan cukup sepi dari aktifitas nelayan (kapal-kapal yang beroperasi di Makian kebanyakan kapal transportasi barang, kalaupun ada perahu nelayan hanya perahu-perahu kecil yang mencari ikan di dekat-dekat pantai saja), Pulau Makian menurut saya lebih kental budaya agrarisnya dibanding maritimnya. Ini hasil pengamatan saya selama sepuluh hari di pulau ini, bisa jadi saya kurang tepat dalam menilai kehidupan di Pulau Makian saat ini, tetapi itulah yang saya lihat dan rasakan pada penghujung bulan Oktober tersebut. Di antara riuh-rendah perbincangan, yang sebagian besar tidak saya tahu artinya karena mereka berbicara dalam bahasa Makian, rekan yang paham bahasa Makian menerjemahkan kepada saya bahwa ada aktifitas yang kadang dilakukan masyarakat di pesisir dan cukup unik yang disebut bagapo. Yaitu kegiatan mencari ikan-ikan kecil untuk umpan mancing dengan menggunakan sapu lidi ketika air pantai sedang surut. Sedetik kemudian saya langsung menyahut, saya ingin mendokumentasikannya! Mereka meminta waktu ingin menjelaskan lebih rinci tentang kegiatan ini, tetapi saya dengan lebih yakin kembali mengulang, bahwa saya ingin mendokumentasikannya! Dan kami pun tertawa terbahak-bahak. Saat itu, saya memang belum tahu detail bagapo ini, tetapi dari visualisasi singkat saya tentang kegiatan ini menurut saya bagapo sangat unik. Dimana kegiatan perburuan pesisir yang dilakukan oleh masyarakat akan penuh dengan olah fisik, kegembiraan, lucu, namun juga dengan pemahaman tentang waktu pasang surut dan pengenalan wilayah perburuan. Saya sering mendokumentasikan perburuan masyarakat pesisir dengan menggunakan tombak, bubu, lukah, selambau, pancing, jaring dan lain sebagainya. Tetapi dengan sapu lidi?! Bayangkan!!

Singkat cerita, tiga hari kemudian, karena saya dan tim Jejak Petualang Trans7 (host Chintya Tengens dan kameraman Eko Priambodo) masih harus menyelesaikan tugas dokumentasi lainnya, speed boat kami sudah meluncur menuju Pulau Raja, pulau kosong yang berjarak empat puluh menit di seberang Pulau Makian ke arah Pulau Halmahera. Di atas speed boat sudah ada beberapa warga yang akan menunjukkan kepada kami tentang apa itu bagapo. Peralatan berupa sapu lidi dan juga joran/stick pancing dari pelepah nipah juga sudah kami bawa serta. Termasuk juga kami menyeret satu sampan kecil untuk memudahkan proses loading penumpang dan peralatan di Pulau Raja dan beberapa pelepah kelapa kering dan kayu-kayu untuk membangun gubuk darurat tempat berteduh kami selama di Pulau Raja. Seperti saya sebutkan di awal, penghujung bulan Oktober sinar matahari begitu garang membakar Maluku Utara. Kami memang orang-orang lapangan, tidak takut hujan petir badai dan panas, tetapi kalau setiap hari selama dua belas jam dibakar matahari, selama tiga minggu dalam satu bulannya, mohon dimaklumi jika kami mencoba menghargai kulit kami yang juga tidak mulus dan bersih ini. Hehehehe! Letak Pulau Raja ini menurut saya sangat strategis, jika kita tembakkan kamera ke arah selatan, maka persis akan terlihat kemegahan gunung api Pulau Makian dan Pulau Moti. Keduanya menyembul menantang di antara keluasan laut Maluku Utara. Siapapun yang memandang pulau gunung api Makian dari kejauhan, pasti akan berdecak kagum dan terdiam beberapa saat mengagumi keindahan dan kemegahannya. Kenapa saya bilang sesaat, karena kalau lama-lama mengagumi Pulau Makian, dan apalagi dari Pulau Raja yang ‘terbuka’ tanpa pelindung, maka kita akan terbakar! Jadi jangan lama-lama mengaguminya dengan berjemur dibakar matahari di tempat terbuka, kecuali kompensasi dan asuransi yang Anda terima lebih dari cukup untuk mengganti semuanya.

Kami tiba di Pulau Raja tepat ketika air bergerak turun, sebenarnya ini sudah saya hitung dengan cermat sejak dari Makian. Di ponsel saya ada aplikasi tentang pasang surut dan juga peta laut (ketika berada di Pulau Tidore yang memiliki koneksi bagus say atelah mencatat semuanya), jadi dimanapun itu kita berada di lokasi tanpa sinyal sekalipun kita dapat meprediksi dengan presisi tinggi tentang waktu dan bahkan ketinggian pasang surut ini. Speed boat kami jangkar di titik yang aman sehingga tidak ada kemungkinan nyangkut ketika puncak surut. Usai loading peralatan, manusia, perbekalan dan juga membangun gubuk darurat kami, acara bagapo pun kami mulai. Foto-foto dan terutama video sebenarnya lebih bisa menjelaskan keseruan, kegembiraan, kelucuan dan olah fisik dari kegiatan bagapo ini. Mereka intinya akan berlarian kesana kemari membawa sapu sembari terus memukul permukaan air pantai yang tergenang dimana-mana sembari berteriak-teriak dalam bahasa Makian yang tidak saya mengerti semuanya. Kenapa mereka harus berlari kesana kemari, karena mereka sebenarnya sedang mengejar ikan-ikan kecil yang terjebat surut, dan berharap dapat memukulnya dengan sapu lidi hingga klenger. Cukup sampai klenger saja, tidak perlu mati, dan kemudian mereka akan memungutnya untuk kemudian disimpan dan nantinya dijadikan umpan mancing dari daratan/landbased fishing. Tetapi meski ikan-ikan kecil banyak terjebak di sepanjang pantai yang mulai mengering tersebut, bagapo bukanlah hal yang ringan karena ikan-ikan kecil tersebut sangat gesit berlarian setiap kali mendengar kecipak kaki di air. Tetapi inilah uniknya kegiatan ini, ada usaha dan kegembiraan dalam mencari sesuatu, tetapi dilakukan dengan cara yang tidak biasa sekaligus ramah lingkungan. Saya iseng mencoba merasakan kegiatan ini dengan meminjam sapu yang mereka bawa, ketika mereka tampak kelelahan bagapo, saya mengejar ikan-ikan kecil dan mencoba mendapatkannya dengan memukulnya. Tidak mudah tetapi di sisi lain seru! Setiap kali kita memukulkan sapu ke air kita seperti melepaskan sesuatu yang terpendam, itulah kenapa ibu-ibu yang ikut bagapo dengan kami melakukannya dengan begitu ramai. Sesuatu yang terpendam itu bisa berupa hasrat agar berhasil mendapatkan target, dan juga bisa sesuatu yang lain yang tidak ada hubungannya dengan bagapo ini. Menariknya, ketika saya mengingat sesuatu yang menyebalkan dan ‘menaruh’-nya di sapu lidi yang saya pakai, saya malah semakin semangat dan kuat dalam menyabetkan sapu lidi tersebut ke atas permukaan air. Entah ini juga dirasakan atau tidak oleh masyarakat Pulau Makian, tetapi menurut saya bagapo ini cocok untuk melepaskan hasrat terpendam di sanubari kita dengan cara yang ‘sehat’. Kita tidak perlu bertengkar dengan seseorang, tidak perlu beradu mulut, tidak perlu menyiksa diri karena kelakuan seseorang, dan lain sebagainya. Hehehehe! Well, intinya hari itu kami sukses bagapo di Pulau Raja (kami mendapatkan beberapa ikan kecil untuk dijadikan uman mancing, kebanyakan adalah jenis ikan mud skipper), sukses juga mancing juga dengan cara tradisional (hasil mancing paling keren hari itu adalah ikan kerapu yang sangat cantik). Tetapi sayangnya hari itu kami gagal untuk tidak menambah semakin hitamnya kulit-kulit kami, karena di penghujung hari usai bagapo, tanpa kami sadari kami telah semakin legam! Host kami Chintya Tengens berteriak histeris karena langsung bisa mengkalkulasi biaya perawatan kulit di salon. Wkwkwk! Saya dan kameraman Eko Priambodo cukup saling pandang sembari nyengir, karena bagi kami-kami ini kalau tidak hitam di trip katanya kurang all out dalam berkarya! Salam petualang!
























* Pictures by Me at Pulau Makian, October 2015. ome pictures captured by Eko Priambodo. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers