Monday, 4 January 2016


Saya selalu tertarik dengan kanak-kanak, bagi saya mereka adalah pintu kenangan sebuah masa yang sering saya rindukan. Kepolosan, kejujuran, dan segala polah apa adanya yang mereka tampilkan bagi saya adalah ‘oase’ dari ruwetnya laku hidup yang banyak ditampilkan oleh manusia ketika sudah dewasa. Ketika berada di Pulau Makian, salah satu pulau penting dalam persaudaraan Moluku Kie Raha (Maluku Utara) Oktober lalu saya tidak menyangka akan mengalami interaksi menarik dengan bocah-bocah pulau yang juga dijuluki dengan Pulau Kenari ini. Sekedar info bagi yang tidak tahu tentang Pulau Makian, adalah sebuah pulau gunung api berdiameter sekitar 10-an kilometer, satu dari empat pulau gunung api penting di Maluku Utara (tiga lainnya adalah Pulau Ternate, Pulau Tidore, dan Pulau Moti). Pulau Makian pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Bacan, namun karena aktifitas vulkanik Gunung Kie Besi dengan ketinggian 1357 mdpl yang sangat aktif sejak jaman kuno (hingga sekarang), Kesultanan Bacan kemudian dipindahkan ke pulau yang kini disebut Pulau Bacan. Pulau makian adalah pulau kaya dengan komoditas utama kacang kenari. Pohon-pohon kenari tersebar di seluruh penjuru pulau ini dan sebagian besar telah berusia ratusan tahun dan masih menghasilkan kacang kenari hingga hari ini. Beratus tahun lalu ketika penjelajah-penjelajah Eropa mencari rempah-rempah ke nusantara, kenari termasuk yang menjadi salah satu incaran mereka karena 'ratu-ratu' Eropa pada masa itu kabarnya sangat suka ngemil kacang kenari ini (yang tentunya setelah diolah di Eropa menjadi berbagai penganan mewah).

Kembali ke bocah-bocah Pulau Makian. Sejak kapal yang kami sewa mendarat di salah satu tepian pantai di depan rumah yang akan menjadi basecamp kami beberapa hari ke depan, momen yang langka sudah tersaji di depan mata. Dua bocah kakak adik sedang bermain bersama di pantai sekitar lokasi kapal kami mendarat. Sang kakak menarik adiknya sepanjang pantai, sementara sang adik asyik berpegangan pada pelepah kelapa kering yang entah didapatkan dimana. Sang kakak ceritanya sedang menghibur adiknya dengan permainan, sangat mungkin mereka baru saja usai dari aktifitas berenang di pantai dan sang adik sepertinya kecapekan. Bagi saya ini momen yang sangat langka dan sudah sulit dijumpai pada kanak-kanak di pulau-pulau utama Indonesia yang diterjang arus deras kemajuan jaman. Di Jawa saja misalnya kanaksebagian besar kanak-kanak lebih suka mematung di depan layar kaca menonton film kartun (yang sialnya sebenarnya sebagian kartun di TV kabel itu sebenarnya diproyeksikan untuk penonton dewasa). Di Jakarta dekat tempat tinggal saya, kanak-kanak malahan lebih senang bermain Playsation sepanjang hari, bahkan di hari ujian sekolah sekalipun, dan atau menonton acara-acara televisi setipe dengan Smack Down! Dua bocah Pulau Makian yang bermain di tepi pantai dengan bersahaja dan polos tersebut tentu menggugah sanubari saya. Ada aliran kebahagiaan yang ikut saya rasakan, meski kini saya hanya bisa melihatnya saja. Ada sebuah lagu yang kira-kira liriknya berbunyi begini “He’s aint heavy, he’s my brother...!” Lirik salah satu lagu The Hollies tersebut menurut saya sangat pas untuk menggambarkan kegiatan dua bocah yang baru saja saya lihat tersebut. Saya ingat adik laki-laki saya di kampung halaman, dulu ketika kami masih bocah seperti ini, kami juga sering bermain bersama, permainan ala desa dengan bahan seadanya. Hiks. Terkadang ada hal-hal yang sulit untuk kembali dijelaskan.

Dua kelompok foto lainnya juga saya sertakan di catatan iseng ini. Keduanya sama-sama tentang keceriaan bermain yang dilakukan kanak-kanak di sekitar pantai Pulau Makian. Kelompok foto pertama adalah gerombolan bocah ketika melakukan ‘acara’ mandi bersama pada sore hari (sayangnya waktu itu langit sedang mendung, sehingga tidak ada siluet beragam warna indah yang patut dibanggakan). Entah kenapa sejak saya tiba di Pulau Makian, dan kemudian 'membangun' basecamp kegiatan di salah satu rumah tepi pantai yang strategis, bocah-bocah sekitar selalu berkumpul di sekitar tempat kami. Baik pagi, siang, ataupun sore hari. Mereka akan bermain apapun dengan volume suara yang aduhai (baca: sangat kencang). Sore hari menjadi acara mandi massal yang lebih aduhai lagi kegaduhannya. Ditambah lagi dengan faktor bahasa yang tidak saya mengerti, daripada saya 'sengsara' kemudian saya putuskan membuat beberapa foto sembari ikut-ikut berteriak. Kelompok kedua adalah bocah-bocah yang memanfaatkan tali jangkar sebuah kapal kayu besar yang sedang bersandar, dan kemudian meloncat dari anjungan kapal ke dalam air. Kapal memang satu-satunya sarana transportasi dari dan ke pulau ini. Untuk kapal-kapal kayu besar terkadang bersandar di Pulau Makian dalam waktu cukup lama menunggu loading muatan, bisa berupa kenari, dan hasil kebun lainnya untuk dikirimkan ke Pulau Ternate. Apapun itu, semoga catatan pendek dan foto-foto iseng yang saya sertakan dapat membuat kita semua juga bisa ikut berbahagia, setidaknya bisa sedikit membuka pintu kenangan pada momen-momen indah semasa kanak-kanak ketika kita masih seusia mereka!























* Pictures by Me at Pulau Makian, October 2015. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers