Tuesday, 23 February 2016


Pagi yang sunyi dan dingin. Hujan terus membasuh bumi sejak semalam, sudah hampir delapan jam titik-titik air jatuh dari langit dan belum ada tanda-tanda akan berhenti, seluruh isi kampung belum juga terbangun dari pelukan dingin. Saya termangu di beranda sebuah rumah panggung di tepian sebuah sungai di pedalaman Kalimantan, menghitung waktu, menghitung konskuensi jika hari ini ‘lepas’ dari genggaman. Alam memang memiliki ‘nyawa’-nya sendiri yang tidak bisa sepenuhnya kita mengerti, kita sebagai manusia hanya bisa menyesuaikan diri. Menurut saya, semakin kita menjelajah maka kita akan semakin menyadari betapa ‘kayanya’ negeri kita tercinta Indonesia. Maksud saya begini, kaya bukan karena kita memiliki sesuatu yang dapat kita gunakan untuk membeli atau memiliki segala sesuatu apapun itu bentuknya, (meski konon katanya negeri kita ini memilikinya), tetapi karena kita memiliki banyak sekali hal yang tidak dimiliki oleh negara lain, oleh masyarakat di negara lain. Ah, hal ini sebenarnya debatable tergantung dari sudut yang mana kita melihatnya. Apa yang kami lakukan di sebuah desa kecil yang dihuni oleh masyarakat Dayak Ngaju dalam trip kali ini masih jauh dari selesai, sehingga tidak banyak yang bisa saya tuliskan, bahkan kami baru tiba dua hari lalu, oleh karenanya agar kopi hitam pagi ini tidak ‘tenggelam’ dalam lamunan tidak berguna, saya akan ‘menukarnya’ dengan sebuah cerita tentang boa-boa yang saya dapatkan dan lihat di Teluk Saleh

Boa-boa adalah cara perburuan khas pesisir yang dilakukan oleh masyarakat nelayan Teluk Saleh di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sangat mungkin ini juga dilakukan oleh masyarakat lain di pesisir Teluk Saleh, misalnya saja oleh orang-orang Soro, Dompu, dan juga orang-orang Sumbawa Besar karena teluk ini sebenarnya ‘mengikat’ banyak sekali unit sosial berbeda suku di wilayah ini. Tetapi Januari kemarin yang menunjukkan kepada saya tentang boa-boa ini kebetulan adalah kelompok nelayan perantu keturunan Bugis yang mendiami Desa Aipaya, Kecamatan Empang (ada kemungkinan boa-boa adalah teknik perburuan pesisir ala Bugis karena saya mendengar bahwa teknik ini dibawa ke Teluk saleh oleh para perantau Bugis di masa lalu). Seperti saya sebutkan di awal, boa-boa adalah sebuah cara perburuan di pesisir, konon teknik ‘primitif’ ini (maksud saya dengan kata primitif adalah teknik yang sangat mendasar sekali terkait cara perburuan) muncul sebagai sebuah solusi ketika cuaca di tengah laut sedang tidak bersahabat; badai, mati arus sehingga ikan susah makan, dan lain sebagainya. Means, pencarian ikan di tengah laut terlalu berbahaya dan juga terlalu ‘makan’ tenaga dan biaya tetapi hasilnya belum dapat dipastikan. Masyarakat yang tetap memerlukan hasil tangkapan entah itu untuk alasan ekonomi ataupun dikonsumsi sendiri kemudian menciptakan teknik unik ini, tetapi kapan teknik ini muncul tidak ada yang tahu. Seorang warga Desa Aipaya mengatakan bahwa sejak jaman kakek nenek mereka boa-boa sudah ada, warga ini usianya sekarang sudah hampir 55 tahun, yang artinya jika kita hitung mundur, kata “kakek” ini setidaknya mengacu pada masa (hitung mereka semua hidup sehat maka setidaknya berusia rata-rata 70-an tahun), berarti boa-boa ini sudah ada sejak 210 tahun yang lalu. Saya yakin sebenarnya usia boa-boa ini lebih tua lagi dari angka 210 tahun tersebut, tetapi setidaknya ini memberi gambaran kepada kita betapa sejak jaman dahulu kala, cara perburuan yang dilakukan oleh nenek moyang ‘kita’ itu sangat cerdas dan juga sangat ramah lingkungan (kalimat ini didasari karena saya juga mendapati banyak cara perburuan khas yang diciptakan oleh masyarakat di daerah lain).

Selain ramah lingkungan, teknik boa-boa menurut saya juga sarat dengan kerjasama antar individu dalam sebuah kelompok, karena perburuan ini hanya bisa dilakukan oleh setidaknya lima orang. Mereka akan mencari areal yang mendukung untuk aplikasi teknik ini, biasanya berupa kawasan pesisir yang berpasir tetapi landai, itupun perburuan hanya bisa dilakukan ketika air sedang surut. Jadi tidak bisa dilakukan sembarang waktu karena akan sangat sulit juga menguras banyak tenaga. Kawasan pesisir sekitar Pulau Rakit (Pulau Rak) sangat mendukung aplikasi teknik boa-boa ini karena pantainya cukup landai sekaligus bersih, dan juga seluruh kawasan pesisirnya tidak ada bangunan sama sekali (pulau ini adalah pulau kosong yang ditetapkan sebagai pulau penggembalaan ternak saja), sehingga ketika air surut kondisinya menjadi sangat ideal; sepi, bersih, minim polutan, dan tentunya kemudian ada ‘banyak’ kawanan ikan bermain di tepian. Setelah menemukan areal yang cocok, rombongan akan dibagi dalam dua bagian. Dua orang akan bertugas memegang lari-lariang, sebuah tali panjang dengan puluhan potong tongkat kecil yang terbuat dari kayu yang ringan dan tahan air. Panjang tali ini antara 30-50 meter dengan puluhan potongan kayu kecil yang diikatkan di sepanjang tali tersebut. Lari-lariang ini adalah alat pengacau, atau alat pembuat gaduh, atau alat penggiring ikan. Tiga orang lainnya kemudian akan mengurus jaring. Kedua bagian pemburu ini kemudian akan mengambil posisi berlawanan arah atau berhadapan, tetapi dengan space jarak yang cukup jauh, bisa 50-an meter atau lebih. Sementara kelompok pemegang jaring akan stay di titik tertentu dengan membentangkan jaring berukuran kecil, kelompok yang satunya akan membawa lari-lariang berlari dari arah berlawanan dengan teriakan. Lari-lariang akan menciptakan sebuah bentuk kegaduhan yang unik berupa splash air tetapi dalam baris yang teratur. Inilah yang membuat ikan ketakutan dan secara alami akan berenang menjauhi lari-lariang, tetapi apesnya adalah ternyata di ujung satunya sudah ada jaring yang menghadang.

Perburuan ini secara kasat mata sangat ramai dan penuh semangat, tetapi di balik itu semua sekaligus melelahkan! Bayangkan saja, yang memegang lari-lariang akan berlari puluhan kali membelah air bukanlah pekerjaan ringan. Jangankan berlari, berjalan kaki biasa saja kita akan memerlukan tenaga dua hingga tiga kali lipat dari kita berjalan di atas tanah? Hasilnya? Tidak ada yang pasti dalam setiap perburuan di alam liar, termasuk juga dengan boa-boa ini. Konon dahulu hasil perburuan dengan teknik ini cukup menjanjikkan (targetnya adalah ikan-ikan yang bermain di tepian pantai seperti jenis trevally atau ikan kue/mangali/bobara, belanak dan lain sebagainya), setidaknya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan ekonomi rumah tangga. Tetapi seiring dengan perubahan ekosistem perairan, hasil perburuan boa-boa juga menurun dengan drastis. Masifnya perburuan ikan-ikan besar dan kecil di tengah Teluk Saleh berimbas pada semakin sedikitnya ikan yang ‘bermain’ ke kawasan pesisir, ditambah lagi sedikit banyak kawasan pesisir di Pulau Rakit ini juga kualitas lingkungannya juga mulai berubah. Banyak hal berubah di perairan kita, tetapi tidak dengan semangat dan cara yang ditempuh oleh sebagian masyarakat nelayan kita. Warga Desa Aipaya ini menunjukkan kepada saya arti semangat dan kesetiaan, meski banyak sekali godaan untuk melakukan cara tangkap yang tidak bersahabat dengan lingkungan, mereka tetap teguh dengan teknik perburuan warisan nenek moyang yang sudah teruji ratusan tahun masa ramah dengan lingkungan. Sayangnya menurut saya, orang-orang yang teguh dan baik ini jumlahnya bisa jadi kalah banyak dengan mereka yang rakus dan melakukan cara tangkap yang cenderung merusak (karena godaan hasil yang melimpah begitu sulit ditolak oleh sebagian masyarakat nelayan kita). Meskipun demikian saya melihat bahwa bagaimanapun masih ada ‘harapan’ di perairan kita dari cara-cara tradisional seperti boa-boa ini. Saya sebagai tukang keliling hanya bisa mendokumentasiknnya, menceritakannya, syukur-syukur ada yang tergerak untuk meniru dan atau mengkampanyekan teknik tradisional seperti boa-boa ini kepada khalayak yang lebih luas. Atau siapa tahu kemudian ada pihak-pihak lain yang memiliki kewenangan besar tertentu kemudian memikirkan masa depan  perairan kita dengan lebih semangat lagi demi masyarakat luas, demi generasi penerus kita yang saya yakin juga pasti masih akan perlu ikan-ikan untuk dimakan, ataupun untuk memenuhi hasrat berpetualang seperti saya yang suka memancing ini. Salam!

















* Pictures mostly by Me at Teluk Saleh, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers