Skip to main content

Daging Ayam dari Rawa: Sekilas Tentang Tanaman Paku Rawa, Paku Cai, Warakas, Pappa dan apapun itu Namanya


Apa yang saya tuliskan di sini adalah hasil merangkum pencerahan baru tentang ketersediaan nutrisi sesuai kondisi geografis yang khas, yang ada di Desa Labuhan Haji, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Hampir setengah tahun lalu informasi awal tentang tanaman kumar saya dapatkan sembari ngopi dengan beberapa nelayan di sekitar Teluk Saleh, setengah tahun kemudian obrolan sambil lalu tersebut mewujud dalam sebuah dokumentasi yang dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia dan bahkan dunia. Kenyataan tentang tanaman kumar dan pemanfaatannya ini sekaligus memberi wawasan baru kepada saya bahwa pemenuhan nutrisi terbukti memang tidak harus selalu dari hasil budidaya, ataupun dari tanaman umum (mainstream) yang banyak dikenal oleh masyarakat. Karena alam sejatinya memiliki beragam potensi yang bermanfaat asalkan kondisi alamnya masih terjaga, dan kita juga jeli memahami dari potensi yang dimilikinya tersebut. Jadi jangan terlena dengan nutrisi yang itu-itu saja karena alam Indonesia ini sangat kaya, pemahaman tentang hal ini menurut saya penting karena semakin kita mengenal diri-sendiri (alam kita maksudnya), maka akan semakin tinggi respek kita terhadapnya, yang menurut saya bisa memberi harapan yang lebih tinggi pada kelestarian alam yang kita miliki.

Desa Labuhan Haji masuk dalam wilayah Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa. Komposisi demografis di desa ini fifty-fifty antara masyarakat asli dengan masyarakat perantau yang berasal dari Bugis, dan sebagian kecil lagi dari dari Jawa. Sebagian besar wilayah desa berada di dataran rendah dan sebagian lainnya masih merupakan kawasan rawa-rawa karena berada persis di tepian Teluk Saleh. Kawasan rawa-rawa ini cukup luas, di beberapa titik telah mulai diupayakan dengan sangat giat untuk merubah kawasan rawa ini menjadi lahan yang lebih produktif misalnya saja menjadi kebun dan lain sebagainya. Sedangkan kawasan rawa yang masih ‘liar’ selama ini seringnya hanya dijadikan sebagai lahan penggembalaan kerbau dan pencarian pangan pada saat tertentu saja. Yang menarik kondisi tanah rawa di Labuhan Haji ini bukanlah rawa dengan air dan lumpur yang sangat lunak, tetapi agak-agak keras seperti sebuah adonan kue, jadi kita masih relatif leluasa untuk berjalan-jalan di atasnya. Meski demikian masyarakat seperti telah memiliki jalur khusus yang sangat aman di atas tanah yang sangat tidak stabil tersebut sehingga kami tidak perlu terlalu khawatir. Tetapi memang meski kemarin bulan Januari kawasan rawa ini sebenarnya berada di puncak musim keringnya (iklim di Sumbawa berbeda dengan kita di Jawa atau di Sumatra), beberapa genangan yang tersisa malah kemudian menjadi pusatnya lintah yang beberapa di antaranya berhasil ‘mencuri’ darah berharga kami.

Tanaman kumar atau paku laut merupakan bagian dari ekosistem mangrove (ekosistem bakau yang tentunya payau). Nama ilmiahnya adalah Ascrotichum aureum. Masyarakat Sunda menyebutnya paku cai, orang Jawa dan Betawi menyebutnya warakas. Masyarakat Bugis di sekitar Teluk Saleh menyebutnya dengan nama “pappa”. Kumar mampu tumbuh baik di ekosistem mangrove yang tidak lebat di dekat pantai juga sekitar muara. Tanaman ini memiliki peranan penting dalam ekologi mangrove salah satunya sebagai penyokong stabilitas tanah rawa yang cenderung labil. Maksudnya begini, akar-akar kumar ini sangat kuat mencengkeram tanah mangrove, sehingga mampu membuat kawasan rawa mangrove lebih stabil dan tidak ‘bergerak’ kesana-kemari. Masyarakat sekitar Teluk Saleh selama ini seringnya memanfaatkan untuk obat-obatan tradisional dan juga untuk asupan nutrisi, tetapi bukan asupan nutrisi utama. Saya kesulitan menemukan manfaat yang real dan valid dari sumber di internet tentang manfaat mengkonsumsi pakis rawa ini, tetapi kalau menurut seorang warga Labuhan Haji yang memandu saya, intinya membuat kita kembari bugar. Kata mereka, loyo-loyo hilang kalau kita mengkonsumsi pucuk pakis rawa ini. Pakis rawa yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat adalah bagian pucuknya yang masih berwarna merah kehijauan.

Saya tiba-tiba teringat tanaman kelakai, paku rawa gambut yang banyak terdapat di daerah Kalimantan, ini adalah ‘saudara’nya pakis rawa kumar. Masyarakat Dayak yang tinggal di daerah lowlands juga suka mengkonsumsi pucuk pakis rawa kelakai ini untuk dijadikan sayuran. Bahkan saya pernah mendokumentasikan pemanfaatan masif dari kelakai di Kalimantan Tengah tepatnya di Kuala Kapuas dekat Pulang Pisau. Bukan hanya untuk dijadikan sayuran khas, seorang ibu rumah tangga di daerah ini juga berhasil mendirikan UKM besar dari mengolah kelakai menjadi beragam penganan unik. Potensi kelakai di Kalimantan ini memang luar biasa besar, tepatnya sangat besar, dan bukan hanya untuk asupan nutrisi tetapi telah berhasil dikonversi menjadi manfaat ekonomi yang signifikan. Paku rawa yang disebut kumar dan ada di sekitar Teluk Saleh, belum sampai pada kondisi seperti kelakai di Kalimantan tersebut karena ya seperti sudah saya gambarkan di awal bahwa pemanfaatannya masih sangat rendah dan hanya sesekali untuk pemenuhan nutrisi saja. Padahal dari pengamatan sekilas saya, populasi dan sebaran tanaman ini sangat luas yang sangat mungkin untuk dieksploitasi secara berkelanjutan dan konstan. Singkat cerita begini, ketika sudah dimasak menjadi sayuran bersantan, rasa pucuk kumar ini luar biasa lezat, seperti kita memakan daging ayam tetapi lebih tawar dan segar dan tentunya rendah lemak! Anda harus mencobanya!















* Pictures mostly by Me at Teluk Saleh, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

Comments

Nank_blue said…
jadi inget masa kecil di tepian sungai kampar (riau) mas.. dulu suka masuk ke hutan or pinggiran sungai buat nyari pakis2an.. mungkin masih satu keluarga sama yang mas posting.. jujur tekstur sayuranya bikin nagih.. paling doyan di tumis.. makasih ya buat semua info di blognya.. saya senang baca-baca artikelnya.. semoga sehat selalu ya mas biar bisa nulis trus.. aminnn
Aris Munandar said…
Ow pernah ke labuan aji ya mas. Sy penduduk asli Des.lab aji dsn.ampu, kumar kebanyakan di tanah inel. Inel itu sebutan utk rawah yg bergoyang. Hahaha