Sunday, 7 February 2016


Usai merasakan ‘anehnya’ hiruk-pikuk momen tahun baru di Jakarta perjalanan yang saya lakoni mengarah ke timur yakni Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat. Setelah beberapa kali mengakses pulau ini dari sisi barat yakni dengan menyeberang dari Pulau Lombok, saya ingin mencoba jalur yang berbeda dengan mendarat di Bima yang terletak di bagian timur Sumbawa. Perjalanan udara yang selalu melelahkan dan memakan waktu karena selalu tidak tepat waktu akhirnya usai sekitar pada pukul 2 siang pesawat mendarat di Bandara Sultan Muhammad Salahudin. Panasnya udara Sumbawa langsung menyambut kami yang usai mengurus bagasi kami yang segunung kemudian kebingungan mencari tempat yang menyediakan ‘obat lapar’. Tidak banyak yang bisa diharapkan di kota kecil di daerah seperti ini, putar sana sini mencoba menemukan tempat makan yang menyediakan keinginan hati selalu tidak ada, akhirnya mobil parkir di depan rumah makan yang sepi tetapi letaknya strategis di pinggir jalan yang mengarah ke Empang, sebuah kota kecamatan kecil yang letaknya sekitar 4-5 jam perjalanan darat ke arah barat. Perjalanan darat dari Bima ke Empang seharusnya adalah perjalanan yang sangat memanjakan mata karena bentang alamnya sangat cantik, baik itu antara Bima – Dompu dan antara Dompu – Empang. Tetapi mata yang lelah lebih memilih ‘panorama’ lain yang abstrak dan gelap yakni merem. Hanya satu jam pertama antara Bima – Dompu saja mata masih mencoba menikmati lanskap cantik yang ada, dan satu jam terakhir ketika perjalanan sudah hampir sampai di Empang. Ketika kita menyusuri jalur darat antara Bima – Empang, maka kita akan menyisir tepian Teluk Saleh, teluk terbesar di Kepulaun Nusa Tenggara. Jalur trans Sumbawa ini juga sangat mulus dengan kelokan-kelokan yang super ‘sexy’, saya sesekali membayangkan jika disini digelar balapan Moto GP maka Rossi akan meninggalkan semua lawannya satu jam di belakangnya. Haha!

Teluk Saleh yang maha luas pada akhirnya yang menjadi pemenang paling menyita mata dan hati. Nama “Saleh” yang disematkan pada teluk terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara ini (luas 1459 km persegi dengan panjang pantai 282 kilometer) bisa ditelusuri ke lembaran sejarah sebagai berikut (di peta-peta kuno awalnya dituliskan dengan “Salee”). Menurut saya yang paling kuat dan kemudian menjadi semacam kesepakatan umum dan berlaku hingga hari ini adalah “paradigma religi” dengan latar tahun 1815. Dalam Syair Kerajaan Bima yang diceritakan oleh Khatib Lukman disebutkan bahwa meletusnya Gunung Tambora (erupsi terjadi tanggal 10-17 April 1815) pada tahun tersebut terjadi karena Allah murka atas dosa-dosa yang dilakukan oleh orang-orang di Kerajaan Tambora (saat itu dipimpin oleh Raja Abdul Gafur). Tersebut kisah waktu itu seorang saudagar Arab bernama Said Idrus yang datang dari Benguku dianggap menghina raja karena marah setelah tahu bahwa makanan yang dihidangkan kepadanya saat itu ternyata adalah olahan dari daging anjing. Raja yang tersinggung kemudian memerintahkan untuk kemudian membakar Said Idrus (sejarawan Helius Sjamsudin menulis bahwa nama saudagar arab yang juga penyebar agara Islam ini bernama Syekh Muhammad Saleh), sedangkan versinya Roorda van Esynga (pejabat Belanda yang meninjau dan mengirimkan bantuan ‘sembako’ ke Pulau Sumbawa usai erupsi mengerikan Tambora) menyebutkan bahwa nama saudagar Arab tersebut adalah Haji Mustafa. Erupsi Gunung Tambora sendiri kala itu ‘menelan’ tiga kerajaan besar di Pulau Sumbawa yakni Tambora, Pekat, dan Sanggar. Letusan Gunung Tambora dianggap sebagai salah satu letusan terbesar yang pernah terjadi di dunia saking besarnya skala erupsi dan akibat setelahnya (bunyi letusan terdengar hingga radius 2600 km jauhnya di Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan, menimbulkan tsunami setinggi 4 meter hingga Kepulauan Maluku, dan membinasakan sekitar 117 ribu penduduk Sumbawa). Iklim global kala itu juga ikut berubah karena debu vulkanik Tambora memenuhi atmosfer dan menutup sinar matahari berbulan-bulan lamanya. Bumi bagian utara dan selatan tetap dingin dalam pelukan salju, dan bahkan Eropa dan Amerika Utara yang kala itu seharusnya musim panas tetap berada dalam pelukan musim dingin berkepanjangan, jutaan orang kelaparan akibat dingin dan bahan pangan yang menipis. Masa itu dikenal di dunia dengan istilah “A year without summer”. Bahkan menurut ahli botani Belanda, Junghuhn, dalam The Eruption of G Tambora in 1815, empat tahun setelah erupsi, seluruh penjuru lautan di sekitar Nusa Tenggara dipenuhi dengan batu apung yang menghambat pelayaran dan secara otomatis perdagangan dan lain sebagainya di Nusantara.

Dua hari berikutnya setelah kedatangan saya di Kecamatan Empang, setelah pengkondisian seluruh rencana kerja dan ‘menghidupkan’ seluruh jaringan yang saya miliki di wilayah ini usai, bersama beberapa nelayan keturunan Bugis dari Desa Aipaya saya dan tim sudah ‘membelah’ teduhnya perairan Teluk Saleh menuju ke arah timur laut dengan kecepatan yang konstan. Angin bertiup tenang, kemanapun mata memandang bentang alam begitu indah, dan sunset di belakang kami seperti berteriak-teriak meminta untuk terus dipotret dan diperhatikan. Teluk Saleh saat itu begitu mendamaikan, tiada lagi batu apung yang pernah disebutkan oleh Junghuhn, hehehe. Padahal hari itu kami sebenarnya sedang menuju ke ‘medan perang’ yang setiap setahun sekali selalu ‘pecah’ di Teluk Saleh, dimana ratusan perahu dengan beratus nelayan di dalamnya yang lintas suku dari sekitar Teluk Saleh akan bergabung  bersama untuk ‘bertarung’ bersama melawan ‘pasukan’ besar lainnya yang akan muncul dari kegelapan Teluk Saleh, yakni ‘pasukan’ ubur-ubur. Hehehe. Maafkan deskripsi saya yang lebay ini tetapi memang saya sangat sulit untuk menemukan kata yang bisa mewakili fenomena alam yang ‘megah’ sekaligus aneh tersebut. Bulan Januari saat itu sebenarnya posisinya sudah di penghujung musim ubur-ubur yang berlangsung di Teluk Saleh, karena musim ini sudah mulai sejak bulan November tahun sebelumnya. Di awal musim saya gagal melakukan perjalanan ke Teluk Saleh karena sebagian anggota tim sedang ada kesibukan penting lain yang tidak bisa ditinggalkan. Jadilah kami kemudian baru berhasil ikut ‘berperang’ bersama para nelayan Teluk Saleh di akhir musim. Saya sempat khawatir bahwa kedatangan kami tidak mendapatkan respon yang pantas dari ‘pasukan’ ubur-ubur yang menguasai Teluk Saleh selama tiga bulan terakhir tersebut, tetapi para nelayan menjamin bahwa kehawatiran saya tersebut tidak perlu sama sekali. Tiga jam berlayar akhirnya kami tiba di kawasan yang menjadi ‘markas besar’-nya ubur-ubur, waktu menunjukkan pukul 18.30 malam tetapi cahaya matahari masih temaram, sesekali say amelihat ke arah Gunung Tambora dan teringat kembali Said Idrus atau siapapun namanya. Hanya dua kapal kami yang sudah mengambil posisi di kawasan tersebut dan belum ada tanda-tanda kapal lain yang tiba di ‘medan perang’ yang sebentar lagi akan tercipta ini. Pak Gading yang menjadi ‘pemimpin’ kami hari itu menghibur saya dengan “Ngopi dulu bang Mek mumpung sempat” sambil tersenyum.

Waktu terus berlalu, satu dua tiga empat dan entah berapa ratus kapal lainnya satu persatu akhirnya tiba di kawasan tersebut, tepat ketika gelap total berkuasa di Teluk Saleh. Saya agak merinding sebenarnya ketika menuliskan hal ini. Awalnya permukaan air laut seperti biasanya ketika gelap, hanyalah lapisan cair monoton yang gelap mengkilat meski telah ditimpa cahaya lampu. Tetapi belum juga habis satu gelas kopi yang tadi dihidangkan oleh Pak gading tadi, tiba-tiba seluruh permukaan air laut kemudian telah penuh oleh jutaan atau mungkin bahkan milyar-an ubur-ubur yang naik ke permukaan air laut dan berenang kesana-kemari ‘menyerbu’ seluruh perahu nelayan yang ada di kawasan itu. Seluruh kapten perahu tanpa dikomando kemudian menghidupkan mesin mereka dan kemudian bergerak ke segala arah, empat atau lima orang lainnya di setiap perahu kemudian mengambil posisi di bagian kiri kanan perahu dengan serokan kecil bertangkai panjang, mengambil ubur-ubur berukuran besar sebanyak mungkin mereka bisa dapatkan, kalau perlu sampai perahu penuh dalam waktu secepat mungkin! Saya tidak pernah melihat momen seperti ini seumur hidup saya, saya merinding dan bahkan ketika menuliskan ini sekarang. Ratusan perahu terus meraung bergerak, dan ratusan manusia terus menyerok ke dalam air ‘memanen’ ubur-ubur yang terus naik ke permukaan memenuhi seluruh penjuru kawasan perairan. Teriakan, tawa, bunyi mesin perahu, dan musik musik dangdut membahana memecah kesunyian Teluk Saleh. Bahkan kota Empang sekalipun, yang notabene sebuah kota kecamatan pusat kehidupan masyarakat di kawasan ini, kalah benderang dan kalah meriah dengan ‘medan perang’ yang tercipta saat itu oleh karena perburuan fenomenal yang dilakukan oleh para pemburu ubur-ubur. Teluk Saleh membara!!! Itu yang bisa saya teriakkan ke Pak Gading, yang tertawa-tawa sambil terus memegang kemudi kapal, nelayan keturunan Bugis ini telah memenuhi janjinya, membawa saya ke ‘medan perang’ paling aneh yang terjadi tahun ini di Teluk Saleh, yang mempertemukan antara manusia dan ubur-ubur. Tiga jam berikutnya saya dan tim Jejak Petualang lainnya kemudian larut dalam kerja dokumentasi seperti biasanya kami lakukan, mencoba merekam sebaik mungkin momen klasik kehidupan bahari istimewa ini. Kami mungkin bukan tim pertama yang pernah mengabadikan ‘pertempuran’ antara manusia dan ubur-ubur ini Teluk Saleh, tetapi para nelayan mengatakan bahwa baru kami yang benar-benar ikut terjun ke ‘medan perang’ seperti yang kami lakukan malam itu, lainnya kata mereka hanya ‘bermain’ di pinggiran saja dan itupun dalam konsep dokumentasi yang jauh berbeda. Tidak ada kemegahan “Teluk Saleh membara” yang mereka rekam dalam konsep dokumentasi tersebut, sekedar mendapatkan gambar secukupnya saja, tidak mewakili momen aslinya seperti ‘kekacauan’ massal yang terjadi malam itu di tengah Teluk Saleh.

Ubur-ubur yang ‘dipanen’ oleh masyarakat nelayan di Teluk Saleh setiap musimnya, sama seperti yang dilakukan nelayan lain di Indonesia pada musimnya, adalah jenis ubur-ubur merah (red jellyfish), salah satu dari jenis hampir dua ratus jenis ubur-ubur yang ada di dunia. Itupun ada semacam seleksi langsung di alam terhadap ukuran yang boleh diambil dalam perburuan ini yaitu yang akan diambil oleh nelayan hanyalah ubur-ubur yang berukuran besar saja. Biasanya yang beratnya setidaknya lima kilogram, semakin besar semakin baik. Hal ini sebenarnya karena faktor karakter fisik dari ubur-ubur ini sendiri yang mana 95% dari ‘tubuh’ ubur-ubur terdiri dari air, itulah sebabnya binatang ini dalam dunia ilmu pengetahuan dimasukkan dalam kelas Hydrozoa (binatang yang diliputi hydra/air). Penyusutan yang dialami binatang ini ketika sudah mati memang luar biasa. Taruhlah jika yang ditangkap nelayan beratnya adalah 7 kilogram, setelah melalui proses pengolahan di pabrik, paling-paling akan didapatkan tidak lebih 2 kilogram ubur-ubur ‘kering’. Secara skala eksploitasi ini menurut saya ‘baik’, karena begini. Seperti waktu itu say alihat sendiri di Teluk Saleh, meskipun seluruh permukaan air laut penuh dengan ubur-ubur merah yang jumlahnya tak terhitung tersebut, nelayan meski bekerja seperti orang kesetanan, hanya akan menyerok ubur-ubur besar saja. Hebatnya lagi memang populasi ubur-ubur di Teluk Saleh pada musimnya memang luar biasa, dalam waktu tiga jam bekerja saja, perahu-perahu dengan berat 7 ton itu sudah akan penuh semua dengan ubur-ubur. Dan hampir semuanya juga akan dipenuhi hingga batas air kapal dengan air laut kira-kira hanya tersisa satu dua jengkal saja! Setelah semuanya penuh barulah ratusan perahu nelayan tersebut akan berlomba-lomba menuju darat untuk menyetorkan hasil tangkapannya ke pabrik-pabrik yang setiap musim ubur-ubur akan dibuka oleh para pemodal (setahu saya 50 % persen dari penampung ubur-ubur di Teluk Saleh adalah keturunan Cina, sisanya dari Jawa dan Makassar). Harganya menarik meski tidak stabil, berkisar antara 35-120rb per basket/keranjang. Satu keranjang ini kira-kira jika ditimbang beratnya hampir 100 kilogram. Ukuran keranjang ini diberlakukan mengingat penyusutan yang sulit ditebak dari ubur-ubur itu sendiri, jadi di Teluk Saleh diterapkan satuan keranjang agar cukup fair antara penampung dan nelayan. Volume produksi ubur-ubur di Teluk Saleh sendiri selama tiga bulan kemarin jujur saya tidak memiliki catatan yang valid, beberapa bos pabrik yang saya tanya sulit untuk membuka cacatannya dan malah ‘curcol’ tentang banyaknya pejabat daerah yang ‘malakin’ mereka setiap kali musim ubur-ubur berlangsung dengan berbagai dalih. Saya bisa memahami kondisi ini, tetapi angka ribuan ton ubur-ubur kering setiap musimnya adalah jumlah yang sangat mungkin mengingat setiap malam volume tangkapnya saja bisa mencapai angka ratusan ton (basah). Anggap penyusutan yang terjadi dalam semalam tangkap adalah 90 %, maka jika dalam semalam total tangkapan di seluruh nelayan di Teluk Saleh adalah seribu ton basah, maka masih akan didapatkan 100 ton ubur-ubur kering setiap harinya. Kalikan saja misalnya dengan operasi efektif seluruh pabrik di daerah ini adalah enam puluh hari?!

Di Indonesia perburuan ubur-ubur ini sebenarnya juga terjadi di banyak perairan lainnya, misalnya saja di Maluku, Sulawesi, kalau di Jawa di perairan selatan Cilacap dan beberapa daerah lainnya. Tetapi memang yang paling masif terjadi di Teluk Saleh  karena jika sedang musimnya, hampir 50 % masyarakat di Teluk Saleh akan banting setir menjadi nelayan ubur-ubur ( 99 % nelayan ikan sudah pasti akan berubah haluan menjadi nelayan ubur-ubur) dan atau menjadi pekerja pengolahan ubur-ubur. Secara fenomena alam yang terjadi di Teluk Saleh memang ajaib, karena perairan seluas ini akan dipenuhi dengan ubur-ubur! Efek ekonominya sangat luar biasa karena ubur-ubur akan menggerakkan banyak roda kehidupan masyarakat. Nelayan pemilik perahu, warga yang menjadi penangkap ubur-ubur, pekerja pengolahan, petani garam di Sumbawa (untuk pengawetan menggunakan garam), pemilik lahan (untuk membangun pabrik pengolahan ubur-ubur), pemilik truk-truk pengangkut untuk pengiriman ke luar Sumbawa dan pelabuhan, kapal-kapal kargo tradisional, warung makanan, dan lain sebagainya. Ini adalah salah satu contoh nyata yang positif dari sebuah fenomena alam yang kemudian dikonversi manusia menjadi bergeraknya penghidupan masyarakat dan termasuk masuknya devisa ke kas negara. Sebagai gambaran untuk tahun 2015 saja misalnya, menurut Badan Pusat Statistik nilai ekspor ubur-ubur dari Indonesia tercacat sebesar USD 14,7 juta. Pertanyaannya bagaimana ini bisa terjadi? Sebenarnya jawaban atas hal ini, atau tentang ubur-ubur sebagai komoditas dan juga kaitan manfaatnya untuk kehidupan dan kesehatan manusia ini yang tersebar di internet, saya hanya akan mengulasnya saja sekilas. Konon awal mulanya terjadi di masyarakat China yang banyak memakai ubur-ubur sebagai makanan pelengkap, misalnya saja dijadikan campuran sop dan lain sebagainya. Perburuan ubur-ubur kemudian masif terjadi di perairan Laut China Selatan demi memenuhi keinginan konsumsi masyarakat China yang semakin tinggi. Trend ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga hari ini, apalagi setelah melalui berbagai penelitian ternyata ubur-ubur ini juga memiliki manfaat dan kegunaan lainnya mulai dari untuk makanan, bahan campuran kosmetik hingga bahan campuran membuat kondom! Di Desa Aipaya saya juga mendapati olahan ubur-ubur dalam bentuk makanan tradisional yang dibuat oleh masyarakat.  Dari semua hal ini intinya jadilah ubur-ubur kemudian menjelma menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan secara otomatis meningkatkan skala eksploitasinya di berbagai perairan di dunia termasuk di Indonesia hingga ke Teluk Saleh. Saya belum berhasil menemukan efek negatif dari masifnya perburuan ubur-ubur terhadap ekosistem perairan, jika ada pembaca blog ini yang berhasil menemukannya dari sumber yang cukup qualified boleh memberi tahu saya.

Memang ada sentimen negatif terhadap ubur-ubur di masyarakat manapun di dunia ini, karena hasil interaksi yang tidak harmonis antara ubur-ubur dan manusia berujung pada menderitanya manusia, jika terkena racun dari sengatan ubur-ubur jenis tertentu. Pemberitaan media yang kadang tidak berimbang membuat citra ubur-ubur ini kurang baik dimanapun di muka bumi. Saya mengajak pembaca blog ini agar menakar semuanya secara lebih dewasa, sama seperti ketika kita ingin memahami tentang masuknya binatang buas seperti harimau atau gajah ke pemukiman warga. Binatang yang menyerang manusia, ataukah manusia yang sudah terlalu parah mencampuri dan merangsek masuk ke urusan binatang? Penjabaran tentang hal ini akan sangat panjang tetapi saya yakin kita semua bisa menelusurinya sendiri-sendiri sesuai keperluan masing-masing karena informasinya melimpah di jagat maya. Seorang peneliti Spanyol bernama Maria Luz Fernandes des Puelles mengatakan bahwa spesies ubur-ubur saat ini siap mengambil alih dominasi dua per tiga perairan laut di muka bumi ini. Penyebab meledaknya populasi ubur-ubur ini konon antara lain overfishing ikan-ikan predator, pemanasan global, semakin banyaknya polutan di laut, dan naiknya temperatur air laut. Ini memang sangat mungkin terjadi mengingat semua faktor yang disebutkan oleh Maria Luz tersebut sangat sulit untuk disangkal. Akan tetapi jika memang kekhawatiran ini kemudian menjadi nyata, saya berharap masih memiliki kesempatan untuk memberitahu seluruh masyarakat nelayan di Teluk Saleh agar bersiap-siap untuk ‘panen’ abadi dan atau kalau perlu saya akan pergi ke Bikini Bottom memberitahu Spongebob Squarepants (tokoh kartun fenomenal ini memiliki passion tinggi terhadap ubur-ubur)! Meski dalam hati saya tidak rela karena seluruh alat pancing yang saya miliki otomatis akan nganggur dan saya bisa jadi terpaksa harus ganti hobi karena lautan tidak akan ada lagi game fish yang pantas untuk saya buru! Salam ubur-ubur!!!



















* Pictures mostly by Me at Teluk Saleh, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers