Thursday, 11 February 2016


Saya sering terpana dengan cara Tuhan memberi pencerahan kepada saya, karena caranya terkadang sangat tidak terduga. Pada saat bersamaan saya juga menjadi tersadar betapa masih banyak hal yang tidak saya pahami dan harus terus saya pelajari. Keingintahuan tidak dapat disangkal harus menjadi semangat setiap orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik. Tetapi semangat keingintahuan ini terkadang memang kadarnya berbeda-beda, ada yang bisa secara stabil menerapkannya, ada yang jika dibuat grafiknya akan naik turun tidak tentu, dan kadang ada yang memilahnya dengan sangat jelas. Saya mencoba menerapkan semangat keingintahuan ini se-konstan mungkin, dimanapun, dengan siapapun saya bersosialisasi. Ternyata ini menurut saya menjadi cukup efektif karena kata “riset” kemudian menjadi laku sehari-hari tanpa batasan yang jelas tetapi malah kemudian menghasilkan banyak hal yang tidak terduga dari berbagai ‘saluran’ informasi. Pengalaman menunjukkan bahwa informasi-informasi paling menarik bukan saya dapatkan dari dunia internet ataupun saluran-saluran informasi mainstream lainnya, tetapi malahan dari masyarakat biasa. Meski memang cara riset yang tidak umum ini memerlukan beberapa syarat misalnya saya effort lebih untuk berkomunikasi dengan intensif dalam berbagai bahasa dengan siapapun, dan juga keingintahuan yang ‘liar’ sehingga kita tidak terjebak dalam pencarian informasi yang dangkal dan hanya di ‘permukaan’ saja.

Siang itu matahari seperti membakar Pulau Sumbawa, saya dan tim Jejak Petualang Trans7 berteduh di sebuah ‘pabrik’ tradisional pengolahan ubur-ubur. Bau ubur-ubur yang diawetkan di bak-bak penampungan menyengat hidung dan membuat kepala seperti kliyengan, mabuk bau ubur-ubur yang sangat aduhai itu. Saya ngobrol dengan seorang warga Desa Aipaya yang selalu menemani saya dan tim selama di Pulau Sumbawa. Awalnya pembicaraan adalah tentang ubur-ubur dan ubur-ubur. Tetapi kemudian mata tertuju pada sebuah pohon besar yang tumbuh di pojokan lahan ‘pabrik’ (pabrik ubur-ubur sebenarnya adalah sebuah bangunan bedeng semi permanen beratap terpal, dengan bak-bak penampungan sedemikian rupa), dan biasanya dibangun di kebun-kebun luas tepi pantai yang landai. Singkat cerita warga tersebut mengatakan bahwa pohon yang menarik perhatian saya tersebut disebut pohon galumpang atau kalumpang, dan biji buahnya disebut okal. Masyarakat sekitar Teluk Saleh di Pulau Sumbawa menurutnya sering memanfaatkan biji okal tersebut untuk membuat sambal khas yang disebut sirauwir. Dan apakah banyak terdapat di kebun-kebun atau hutan-hutan di sekitar Teluk Saleh ini pohon ini? Banyak bang! Cocok! Saya mendapatkan satu materi tentang tanaman yang pantas dan menarik untuk didokumentasikan. Kenapa saya sebut pantas? Karena begini, sebuah masyarakat tidak terlepas dari alam di sekitarnya. Cara mereka hidup dan memperlakukan alam sekitar ini penting untuk dirangkum dalam konsep “nutrisi untuk bangsa”. Sehingga apa yang dilakukan oleh sebuah masyarakat, misalnya saja terkait dengan satu tanaman tertentu misalnya, menurut saya bisa menjadi ‘lahan’ inspirasi bagi masyarakat lainnya yang memiliki potensi yang serupa (tetapi belum digarap maksimal misalnya).

Beberapa hari berikutnya setelah menyelesaikan beberapa ‘garapan’ lainnya yang memang sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan, kami mendarat di sebuah pulau yang hanya dihuni kerbau, sapi, kuda dan babi dan beragam tanaman tentunya. Pulau Rakit, adalah pulau yang oleh masyarakat sekitar Teluk saleh sebagai kawasan “lar” atau kawasan penggembalaan hewan ternak dan tidak boleh dibangun rumah hunian. Isi pulau ini ya itu tadi, ribuan hewan ternak yang dibiarkan hidup merdeka tanpa pengawasan berarti. Di Pulau Sumbawa pada umumnya ternak-ternak hanya diberi tanda tertentu untuk menyatakan tanda kepemilikannya. Kalau di daratan utama, maksud saya di Pulau Sumbawa, ternak dilepaskan bebas di kebun milik masyarakat yang memiliki hewan ternak tersebut (kebun-kebun selalu memiliki pagar rapi berapapun luas kebun tersebut), sehingga ternak tidak beredar kemana-mana dan merusak kebun orang lain (akan kena denda pemiliknya jika ternak yang dimiliki merusak kebun orang lain). Pulau Rakit ini adalah solusi jitu yang sudah berlangsung entah berapa puluh generasi, sebuah kearifan lokal, yang menjadi solusi ketika daratan utama di Pulau Sumbawa sekitar Teluk Saleh telah memasuki musim tanam. Ribuan hewan ternak akan diseberangkan melalui laut untuk dipindahkan ke pulau ini (banyak televisi nasional dan internasional telah mendokumentasikan tentang proses penyeberangan hewan ternak ini, termasuk juga Jejak Petualang), yang tujuannya tentunya agar ribuan ternak yang ada tidak merusak kebun milik warga di daratan utama Pulau Sumbawa. Di Pulau Rakit inilah saya dan tim hendak mendokumentasikan tentang tanaman galumpang/kalumpang karena masih banyak sekali pohon galumpang yang berukuran besar dan berusia puluh atau mungkin lebih dari seratus tahun. Pohon-pohon galumpang ini terus dijaga karena itu tadi, memiliki beragam manfaat untuk masyarakat luas.

Agar tidak ngelantur kemana-mana baiknya saya sarikan sedikit tentang ‘pohon setan’ ini. Galumpang atau kalumpang adalah jenis pohon yang konon termasuk dalam keluarga jauh pohon randu-randuan, orang Jawa menyebutnya kepuh (Sterculia foetida). Lokasi tumbuh tanaman ini konon banyak terdapat di lahan/kawasan dekat air dan pantai atau secara umum di hutan dataran rendah hingga ketinggian 500 mdpl. Di Jawa dan Bali dahulu banyak tanaman ini tetapi sekarang kebanyakan hanya tersisa di areal pemakaman atau areal yang dianggap mengandung hawa gaib saja sehingga muncul anggapan bahwa pohon ini adalah ‘pohon setan’ atau pohon hantu dan semacamnya. Ada yang menyebutnya pohon genderuwo karena katanya banyak diminati oleh makhluk astral ini sebagai ‘rumah’-nya. Di daerah Kepulauan Nusa Tenggara Timur tanaman ini sering disebut wukak, dan masih banyak lagi sebutan yang lainnya. Nama marga dari tanaman ini diambil dari Sterculius atau Sterquilinus, yakni nama dewa pupuk pada mitologi Romawi, sekaligus juga nama spesiesnya, foetida (artinya, berbau keras, busuk), nama ilmiahnya sendiri sebenarnya merujuk pada bau kurang enak yang dikeluarkan oleh pohon ini terutama dari bunganya. Penyebarannya mulai dari Afrika Timur, Asia Selatan & Tenggara hingga ke Australia.

Kayu dari pohon kalumpang memiliki warna putih keruh, berkarakter ringan, dan kasar, kayunya dikenal kurang kuat serta tidak tahan terhadap serangan serangga sehingga jarang dimanfaatkan sebagai papan ataupun tiang bangunan untuk tempat tinggal. Paling sering di beberapa masyarakat nelayan digunakan untuk membuat sampan, peti pengemas, dan batang korek api. Akan tetapi, sudah sejak jaman kuno daun daun-daunnya sering digunakan untuk mengobati demam, mencuci rambut, dan sebagai ‘kompres’ tradisional untuk meringankan sakit pada kaki dan tangan yang terkilir atau patah tulang. Kulit kayunya konon juga bisa diseduh sebagai obat penggugur kandungan, yang terakhir ini semoga tidak ada yang mengaplikasikannya karena menurut saya itu sebuah dosa besar. Buat apa digugurin kalau pas membuatnya penuh semangat dan gairah? Jangan mau enaknya saja! Manfaat lainnya terdapat pada bagian kulit buahnya yang bisa dijadikan sebagai bahan tambahan pewarna kain. Masih banyak lagi manfaat lainnya dari ‘pohon setan’ ini antara lain biji kepuh (masyarakat Sumbawa menyebut bijinya dengan nama “okal”) mengandung minyak kuning yang bisa dimanfaatkan sebagai minyak lampu sekaligus minyak goreng. Namun dari beragam manfaat ini, yang paling sering dilakukan orang hanyalah memanfaatkan ‘kacang’ okalnya sebagai cemilan ataupun untuk bahan tambahan membuat sambal sebagai pengganti kemiri.

Intinya bahwa pohon galumpang memiliki banyak manfaat untuk kehidupan manusia, tentunya selama tanaman ini masih ada. Sudahlah saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang pandangan sebagai ‘pohon setan’-nya karena saya tidak memiliki keahlian tentang hal ini, menurut saya juga setan-setan paling mengerikan sekarang ini juga sudah tidak hidup di pohon lagi tetapi di apartemen-apartemen dan rumah mewah dengan kekuasaan terhadap kehidupan dan nasib banyak orang. Jadi konteks ‘pohon setan’ ini tidak terlalu penting untuk dibahas. Kesadaran masyarakat sekitar Teluk Saleh menjaga populasi pohon ini menjadi secercah harapan dan sekaligus inspirasi, bahwa meski terkadang mereka juga menyebut bahwa pohon ini memiliki aura magis, tetapi akal sehat mereka lebih menang, terbukti sehari-hari mereka memanfaatkan kacang okalnya untuk pembuatan sambal dan cemilan yang nikmat. Sayangnya pemanfaatan yang ada sekarang hanya sebatas itu saja, belum ada pemanfaatan lebih lainnya. Mungkin karena belum tercipta ‘pasar’ yang lebih luas, sebab di lokal Teluk Saleh memang tidak mungkin untuk memasarkan misalnya saja untuk okal-nya karena semua masyarakat bisa memungut kacang okal dari pohon manapun kapan saja diperlukan.

Secara pribadi kemudian saya berharap ke depannya ada inisiatif dari masyarakat atau pihak tertentu yang tergerak melirik potensi menggerakan ekonomi masyarakat berkelanjutan melalui manfaat yang dimiliki oleh kalumpang ini. Karena saya melihat sendiri di daerah sekitar Teluk Saleh populasi tanaman ini masih cukup banyak. Bahkan saya melihat sendiri ada satu pohon raksasa dengan potensi biji okal yang luar biasa, dan menariknya menurut masyarakat pohon kalumpang bisa terus berbuah sepanjang tahun! Bayangkan jika kacang okalnya kemudian diolah secara lebih baik dalam skala yang lebih besar, bukan hanya masyarakat yang mendapatkan sumber pendapatan ekonomi tambahan, tetapi juga bisa mengangkat nama daerah dari kacang okal yang selama ini kebanyakan hanya berserakan di atas tanah dan diambil sekedarnya saja? Saya mungkin terlalu khawatir dengan semua hal yang mengancam, tetapi begini, jika kemudian pandangan ‘pohon setan’ ini kemudian lebih diterima oleh banyak orang di berbagai daerah, apa tidak sayang jika pohon kaya manfaat ini lambat laun akan hilang karena ditebang sembarangan? Pun kalau memang pohon ini menjadi favorit tempat tinggal makhluk astral, biarkan saja, kita petik saja manfaat lainnya yang berguna, bukankah kita punya Tuhan?! Demikian!









* Pictures mostly by Me at Teluk Saleh, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers