Monday, 29 February 2016


Sudah sangat lama saya tidak menulis cerita perjalanan secara kronologis seperti ini. Masih tentang Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kali ini tentang ragam warna salah satu titik kehidupan masyarakat di garis pesisir selatannya, yakni Kampung Brang Bako, yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Jotang Beru. Perjalanan mencari Brang Bako (nama ini konon berasal dari nama sungai yakni Brang Bako, brang=sungai) ini telah dimulai sejak saya masih berada di Jakarta. Setelah menyelesaikan semua persiapan perjalanan menuju ke Teluk Saleh yang juga berada di Pulau Sumbawa, sebuah image peta digital tiba-tiba memenuhi layar ponsel saya, pertanyaan sederhana muncul kemudian, bagaimana kondisi arah ‘sebaliknya’ dari Teluk Saleh ini. Rupanya ada penampakkan yang begitu menyita mata, dua buah aliran sungai besar meliuk-liuk indah disana. Hitungan kasar saya salah satu sungai yang terlihat di sana (kemudian saya tahu namanya adalah Brang Tiram), panjangnya setidaknya lebih dari lima kilometer. Teori sederhana saya, dimana ada aliran air tawar yang besar, pasti ada kehidupan yang cukup ‘mapan’ di dekatnya. Pertanyaan saya ini kemudian dijawab seorang rekan di Adventurous Sumbawa (Bang Takwa) bahwa disana ada kampung kecil yang cukup terisolasi bernama Brang Bako. Awalnya rasa penasaran saya adalah lebih tentang apa kira-kira isi sungai yang lokasinya cukup terisolasi ini di pesisir selatan ini (siapa tahu ada spesies ikan tertentu yang menarik misalnya), tetapi kemudian semangat yang lebih dominan adalah mencari perbandingan antara sisi utara Kecamatan Empang yang begitu ramai dengan sisi selatannya yang bisa jadi sangat sunyi.

Sepuluh hari pertama dokumentasi Jejak Petualang yang kami lakukan di Kecamatan Empang adalah kesibukan menyelesaikan enam tema penting lainnya di sekitar Teluk Saleh. Proses berjalan sangat lancar meski kami sesekali tertatih melawan panasnya matahari Pulau Sumbawa di bulan Januari. Salah satunya adalah tentang ‘kemegahan’ musim ubur-ubur yang setiap tahun ‘meledak’ di Teluk Saleh, teluk terbesar di seluruh kepulauan Nusa Tenggara. Di antara sengatan panas sepuluh hari pertama itulah segala persiapan menuju Brang Bako dicicil satu demi satu. Mulai dari menghubungi kontak lokal yang terdiri dari para pemuda desa (saya salut dengan semangatnya meskipun secara komunikasi saya agak kurang lancar karena keterbatasan bahasa saya), menghubungi aparat desa, mencari moda transportasi yang cocok untuk jalan ke Brang Bako, persiapan logistik, peralatan pendukung seperti genset, dan lain sebagainya. Untungnya kami mendapat ‘suntikan’ semangat dari rekan-rekan Adventurous Sumbawa yang menyatakan akan bergabung juga dari dua sahabat dekat kami dari Desa Aipaya (Bang Yamin dan Pak Gading) sehinggga hectic persiapan menuju Brang Bako ini tidak sampai membuat ‘pecah’ korek api saya (daripada pecah kepala?). Hehehehe. Kepada semua pihak ini termasuk para pemuda Desa Jotang Beru secara pribadi sekali lagi saya mengucapkan banyak terimakasih untuk semangat kebersamaannya menyelesaikan semua ‘tantangan’ yang ada. Mohon maaf terutama kepada rekan-rekan dari Desa Jotang Beru (Bro Muhammad Amiruddin dan kawan-kawan) jika saya ada salah kata dan mungkin pernah terlalu ‘keras’ berbicara, semuanya demi hasil terbaik dan kebaikan kita semuanya. No offense ya bro?!
Jika ditarik garis lurus dari jalur transportasi di pesisir utara Pulau Sumbawa yang mulus itu, Kampung Brang Bako jaraknya tidak lebih 30 kilometer. Namun jalan menuju Brang Bako ini memang memiliki karakternya sendiri yang harus dijalani dengan konsentrasi tinggi. Saya pernah melintasi jalur-jalur transportasi berat di berbagai daerah di negeri ini, jalan menuju ke Brang Bako menurut saya termasuk cukup mengandung resiko. Karenanya sejak awal perjalanan kami melaju cukup pelan. Awalnya jalanan berbatu itu cukup bagus dan rata meski banyak lobang besar di beberapa titik. Setelah melewati ‘puncak teletubbies’ (saya menyebutnya demikian karena lahan pertanian luas berbukit di titik ini menyerupai perbukitan di film animasi Teletubbies) jalan berupa turunan curam yang mana sebelah kiri tebing curam dan sebelah kanan kita jurang cukup dalam. Saya tidak takut melewati jalur yang ada, banyak jalur berat lainnya yang pernah kami ‘lahap’, tetapi jujur baru kali ini dalam sejarah perjalanan saya, membawa semua peralatan (termasuk dua buah sampan kayu besar) dan rekan-rekan lokal yang terlibat dalam proses dokumentasi dengan alat angkut bernama dump truck! Hahaha! Untungnya semangat kami dan semua pihak mendapat dukungan juga dari Yang Kuasa, jalanan kering kerontang hingga kami tiba di Brang Bako tiga jam kemudian (kami cukup banyak berhenti medokumentasikan perjalanan dan juga mengabadikan beberapa titik menarik di jalur yang sudah berada di tepi laut). Andai saja ketika kami melintas turun hujan (atau taruhlah sehari sebelumnya turun hujan), ceritanya akan jauh berbeda karena bisa jadi kami stuck di tengah jalan. Padahal ketika baru meninggalkan Desa Jotang Beru kami sempat khawatir karena mendung tebal ‘menggantung’ di langit, rupanya mendung ini kemudian tertiup angin ke arah utara, menemui Saleh (maksud saya Teluk Saleh).
Sejak awal terasa sekali bahwa meskipun berhadapan Samudera Hindia, wilayah selatan Kecamatan Empang ini bercorak agraris dan bukannya bahari (sebagai gambaran tidak ada satu pun sampan di Kampung Brang Bako, apalagi perahu, thats why saya sengaja membawa sampan kayu dari Empang karena kemungkinan kami akan main air di sungai-sungai yang ada). Ladang jagung yang baru ditanami terhampar sangat luas di seluruh penjuru perbukitan, termasuk juga ladang-ladang bukaan baru yang masih berserak pohon-pohon yang baru ditebang dan atau dibakar. Jujur saya sedikit terganggu dengan ekspansi pembukaan lahan ini karena di beberapa titik sepertinya tidak memperhatikan ‘kesehatan’ kawasan pesisir di wilayah ini (entah kenapa sampai ini bisa terjadi). Karena beberapa lahan yang baru dibuka saya lihat hingga jauh ke pinggir menembus garis pantai?! Semestinya ada regulasi lokal yang mengatur tentang pembukaan lahan baru ini sehingga hutan di tepi pantai jangan sampai dibabat habis karena efek jangka panjangnya bisa jadi tidak baik (atau mungkin sebenarnya ada regulasi lokal tetapi banyak masyarakat yang abai karena didesak urusan perut yang lebih penting). Saya sulit berkata-kata kalau sudah urusan perut ini, karena ngurusin perut saya sendiri saja saya tidak mampu, buktinya saya tetap one pack hingga hari ini.
Karena sedang musim cocok tanam, tak heran ketika kami tiba di Brang Bako yang ‘menyambut’ kami hanya Kepala Dusun dan istrinya, warga kampung lainnya semuanya ada di ladang masing-masing. Kesan awal saya terhadap Kampung Brang Bako, memang tenang tetapi sunyi dan panas! Setidaknya terdapat dua puluh rumah yang bentuk dan warna catnya seragam (hasil dari program relokasi yang dilakukan pemerintah pada tahun 2011 melalui program Komunitas Adat Terpencil). Awalnya kampung ini katanya berada di ‘bibir’ pantai namun karena pernah ‘disapu’ tsunami kemudian dipindahkan lebih ke darat sekitar 100 meter dari garis pantai. Sisa hari pertama kemudian kami gunakan untuk menurunkan sampan di Brang Tiram (3 km dari kampung) mumpung jalan sedang kering, menetapkan dua rumah sebagai basecamp kegiatan, dan terakhir adalah mencari tempat untuk mandi yang kemudian kami temukan di sebuah sungai kecil berair jernih sekitar 200 meter dari kampung. Tidak banyak sebenarnya yang akan kami dokumentasikan di Brang Bako, berbanding terbalik dengan peralatan logistik dan total jumlah rombongan yang hampir 30an orang. Hanya tiga hal saja yang akan kami garap. Pertama adalah tentang tanaman keterkaitan masyarakat dengan tanaman geluning, perburuan pesisir yang disebut jaring ombak, dan terakhir adalah mencari jawaban apa isi sungai di sekitar kampung terpencil ini. Karenanya sejak menginjak Kampung Brang Bako saya bertekad bahwa apa yang kami garap disini haruslah menjadi ‘sesuatu’ yang bernilai bagi program kami dan juga masyarakat luas untuk jangka panjang dan bukannya ‘sesuanu’ yang biasa-biasa saja. Dari sejak melintasi jalanan dengan berbagai karakter medan menuju kampung ini, lalu melihat euforia pembukaan lahan, juga 'penampakan' lainnya, langsung terasa betapa tidak terperhatikannya sisi selatan ini.
Sudah cukup kiranya curcol saya, kini saatnya menuliskan sedikit tentang tanaman geluning. Kenapa sedikit, karena memang bahkan setelah mencari informasi kemana-mana saya tidak mendapatkan referensi yang bisa menambah wawasan saya tentang tanaman unik ini. Semoga ada pembaca blog iseng ini yang bisa membantu saya melengkapi deskripsi tanaman geluning ini secara lebih baik ke depannya. Ini pertama kali dalam hidup saya melihat tanaman geluning ini, terimakasih kepada bro Amiruddin untuk informasinya. Bentuk tanaman semak ini biasa saja menurut saya sama seperti tanaman semak lainnya yang tidak menonjol dalam sebuah kawasan vegetasi tertentu. Tumbuh berkelompok setinggi 3 meteran saja di hutan sekitar pantai yang landai dan berangin. Yang paling mencolok dari tanaman ini (tentunya ketika musimnya tepat) adalah bunganya yang berwarna ungu dan mengundang minat banyak kupu-kupu. Kesan pertama melihat tanaman ini yang terlintas oleh saya ini adalah ‘lavender’nya Pulau Sumbawa. Selama ini masyarakat Brang Bako banyak menggunakan tanaman ini sebagai pembungkus ikan-ikan asap yang akan dibawa pulang ke kampung utama (Desa Jotang Beru). Konon daun geluning ini memiliki kemampuan menjaga harum ataupun wanginya aroma ikan bakar yang dibawa bepergian jauh. Waktu itu yang saya lihat malah dipakai untuk alas mengasap ikan agar aroma ikan semakin harum. Kampung Brang Bako meskipun cukup settle, semua penghuninya konon berasal dari utara semua, yang artinya kampung terpencil ini hanya ‘hidup’ di waktu-waktu tertentu saja misalnya saja ketika musim panen dan cocok tanam. Jadi mobilitas warga ke kampung utama cukup intens, dan ‘oleh-oleh’ berupa ikan yang ditangkap dari pantai di kawasan ini untuk keluarga di kampung utama adalah oleh-oleh yang sangat diminati. Namun yang tidak terduga dari daun geluning ini adalah kemampuannya mengusir nyamuk. Potong saja satu ranting, kemudian bakar atau taruh saja di kamar ataupun kolong-kolong rumah panggung, nyamuk enggan mendekat. Saya sulit menjelaskan korelasi antara geluning sebagai pengusir nyamuk dan penjaga wanginya ikan bakar yang dibawa bepergian tetapi itulah nyatanya.
Saya mencoba melihat potensi geluning di Brang Bako ini secara lebih luas. Jika memang geluning memiliki kemampuan mengusir nyamuk, populasi semak liar yang melimpah ini bisa dikonversi menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual. Dengan disuling untuk diambil minyaknya misalnya, bisa dihasilkan obat nyamuk gosok asli Pulau Sumbawa. Siapa tahu?! Silahkan para peneliti dan mungkin investor menggarap potensi ‘lavender’ Pulau Sumbawa ini. Berikutnya akan saya tuliskan lebih jelas lagi maksud saya tentang “masyarakat agraris” Brang Bako. Sementara salam geluning saja dulu! Hehehehe!































* Pictures mostly by Me at Brang Bako, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200) & Adventurous Sumbawa. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers