Friday, 25 March 2016


Malam-malam di Jakarta adalah perjuangan berat mencari nikmat lelap yang selalu seperti hilang entah kemana. Jauh berbeda dengan ketika saya berada di pedalaman, seberat apapun medan dengan segala keterbatasan yang menaungi perjalanan, lelap itu terasa begitu mudah sekaligus nikmat. Di Jakarta kata “lelap” itu bagi saya begitu sulit didapatkan, sepertinya Jakarta memang sebuah ‘belantara’ yang tidak saya kenal dengan baik. Dua bulan terakhir ini bagi saya terdapat dua perjalanan penting yang mempengaruhi banyak pandangan saya terhadap sebuah unit sosial yang tinggal di pedalaman. Pertama adalah perjalanan ke daerah Kalimantan Tengah, tepatnya di sebuah kampung kecil di tepian Sungai Rungan, kampung ini adalah salah satu unit sosial yang dihuni oleh masyarakat Dayak Ngaju. Kedua yang baru saja selesai pada bulan Maret ini adalah perjalanan ke daerah Mahakam Ulu di Kalimantan Timur, ke wilayah orang-orang Dayak Long Gelat, salah satu sub suku Dayak Bahau (atau Modang?). Terlalu banyak hal ingin saya tuliskan di bolg iseng ini, akan saya mulai dari tepian Sungai Rungan, tempat orang-orang Dayak Ngaju, yang sebagian dari mereka sudah menganggap saya seperti keluarga sendiri

Ada yang sedikit menggelitik setiap kali saya mengingat Sungai Rungan dan sebuah kampung kecil yang disebut Petuk Barunai. Telah beberapa kali saya berkunjung ke kampung ini dan hingga hari ini saya seperti selalu mendapatkan sedikit ‘oleh-oleh’ dari orang-orang tertentu di Palangkaraya yang merasa memiliki wilayah ini, melebihi masyarakat Dayak Ngaju sendiri yang memang pemilik sah petak danum (tanah air) di sekitar Sungai Rungan ini. Orang-orang tersebut yang notabene juga pemancing seperti saya, merasa memiliki wewenang untuk mengijinkan orang untuk masuk ataupun tidak ke wilayah ini. Jadi kalau mereka bilang tidak, maka kita tidak boleh masuk, kalau mereka mengijinkan, artinya kita ‘direstui’ oleh mereka. Yang menggelitik menurut saya, mereka ini bahkan juga hanya pendatang yang kebetulan kemudian mendapatkan kemurahan hati dari masyarakat Kalimantan Tengah untuk kemudian tinggal dan berusaha mencari hidup di kota Palangkaraya. Setiap kali kelompok aneh ini kemudian tahu saya masuk ke Sungai Rungan tanpa ‘restu’ mereka, kemudian mereka beramai-ramai menggalang opini publik di media sosial dengan berbagai tuduhan tidak berdasar dan sebagian sangat kasar. Inti ‘drama’ murahan ini adalah saya dianggap tidak sopan oleh seorang tokoh komunitas, karena tidak permisi kepada dirinya. Kemudian ketidaksopanan ini disebarluaskan di media sosial dengan kata-kata kasar dengan bumbu beberapa tuduhan yang dikarang sembarangan, orang-orang yang tidak tahu, kemudian ikut-ikutan nimbrung kasar karena solidaritas komunitas dan kedaerahan. Saya tidak perlu menyebut nama orang-orang ini, salah satu dari mereka adalah orang tua post power syndrome, sebagian lagi adalah anak-anak muda yang tidak tahu duduk masalah dan sedang berusaha menjilat orang-orang tua di komunitas mereka (sialnya salah satu dari anak muda ini bahkan pernah saya bantu ketika sedang menghadapi masalah bertahun silam). Saya jujur kemudian merasa kasihan kepada kelompok aneh yang entah dimana akal sehatnya ini. Apa mereka tahu? Bahwa orang tua yang menjadi biang kerok tuduhan itu sebenarnya sakit hati karena sudah di-block oleh orang-orang Sungai Rungan sejak lama karena attitude-nya yang bossy dan tidak memanusiakan masyarakat yang selama ini membukakan pintu lebar-lebar untuk kerakusannya ‘mengeruk’ semua ikan di Sungai Rungan? Apakah mereka tahu bahwa saya dihadirkan dalam ‘drama’ murahan olehnya sebagai pelampiasan amarah akibat terhentinya aktifitas ketamakan orang tua tersebut di Sungai Rungan? Orang-orang desa, orang-orang Dayak Ngaju itu yang sah memiliki wilayah Sungai Rungan secara turun temurun saja begitu gembira mengundang langsung dan menerima saya seperti saudara di rumah mereka, segelintir pendatang di Palangkaraya banyak yang berteriak tidak sopan kepada saya di media sosial tanpa tahu duduk persoalan. Mereka tidak tahu, hampir dua tahun lebih saya menahan orang-orang di tepian Sungai Rungan itu agar tidak ‘turun kota’ menemui mereka. Harapan saya sederhana, semoga kelompok aneh ini segera sadar dan kembali menjadi orang-orang yang lebih dewasa dan memiliki pandangan yang lebih luas dan tidak mudah terprovokasi, karena akibatnya bisa tidak baik untuk mereka sendiri.

Banyak hal yang saya dokumentasikan di tepian Sungai Rungan pada bulan Februari lalu. Seperti biasa merupakan kombinasi antara kearifan lokal perburuan di perairan tawar, kuliner tradisional dan tentunya petualangan memancing. Konsep dokumenter yang kami pegang adalah mempekuat kearifan lokal masyarakat dalam menjaga perairan tawar mereka yang selama ini diterapkan dengan cara-cara yang ramah lingkungan. Sehingga perairan tawar menjadi ‘lahan’ yang baik itu potensi dan manfaatnya terus dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh masyarakat dan dapat diwariskan kepada generasi penerus dalam keadaan yang sehat. Salah duanya adalah potensi bunga tagarun (Crataeva magna) dan asam gandis yang terdapat di sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) Sungai Rungan. Dua tanaman penuh manfaat ini banyak tumbuh liar di sekitar Sungai Rungan namun kini mulai susah didapatkan karena populasinya semakin menurun akibat banyaknya aktifitas penebangan yang tidak bertanggung jawab, yang menurut masyarakat banyak dilakukan oleh para pendatang dan juga perusahaan tertentu karena pembukaan lahan. Dengan menghadirkan dokumentasi inspiratif tentang dua tanaman kesayangan ibu-ibu rumah tangga Dayak Ngaju ini, harapan kami akan muncul kesadaran kolektif pada masyarakat luas terutama di Kalimantan Tengah, sehingga ke depannya ada usaha bersama untuk menjaga populasi dua tanaman unik ini. Hal tentang tanaman asam gandis sepertinya banyak bertebaran di internet, jadi saya tidak akan mengulang informasi yang sudah banyak dikenal tersebut. Intinya dalam konteks Sungai Rungan, buah asam gandis merupakan bahan sambal dan merupakan pasangan pas untuk disantap dengan ikan bakar. Ikan bisa jenis apapun (biasanya yang berukuran besar) akan dibakar dahulu sampai matang, baru kemudian disuwar-suwir kecil-kecil, kemudian dimakan dengan dicocolkan ke dalam sambal asam gandisnya. Rasanya? Luar biasa nikmat!

Seperti telah saya sebutkan sebelumnya, bunga tagarun adalah tanaman penting dalam dinamika kuliner masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Sebenarnya tanaman ini juga dikenal baik oleh masyarakat lain semisal orang Banjar di Kalimantan Selatan (disebut tigarun) bahkan di masyarakat Sunga di Jawa Barat (disebut barunday). Selama ini bunga tagarun banyak dikonsumsi sebagai lalapan. Manfaat dari tanaman ini bukan pada bunganya saja sebenarnya, kulit batang tanaman ini juga bisa dimanfaatkan untuk membuat bedak tradisional yang biasa dipakai oleh perempuan-perempuan Dayak di pedalaman dan bahkan juga bisa dimanfaatkan untuk membuat obat demam. Namun kini dua manfaat terakhir ini jarang ‘dipetik’ lagi karena banyak masyarakat telah beralih pada kosmetik modern dan jug aobat-obatan hasil produksi pabrik. Tinggalah manfaat bunga tagarun sebagai lalapan saja yang masih dinikmati oleh masyarakat. Penghentian pengambilan kulit batang tagarun juga dilandasi oleh pemikiran akan kemungkinan habisnya populasi tagarun jika ditebang terus menerus untuk dijadikan bedak dan obat demam. Meski memiliki segudang manfaat, saya melihat belum ada budidaya terhadap tanaman unik ini di Sungai Rungan. Kini mencari keberadaan tanaman tagarun konon seperti mencari jarum di tumpukan jerami, itu jika dilakukan pada musim kemarau saat tanaman tagarun tidak mengeluarkan bunga. Untungya kami berada di wilayah ini ketika musim penghujan, jadi banyak sekali tanaman tagarun yang berbunga sehingga keberadaannya mudah dikenali dari bunganya yang putih cerah di antara lebatnya vegetasi lainnya di sepanjang tepian sungai. Namun karena lokasi tumbuhnya yang unik (baca: cukup sulit) karena berada di tepian sungai, memetik bunganya praktis perlu usaha keras dan hati-hati. Saat itu dengan dibantu warga kami membuat semacam tangga kayu agar pemetik lebih mudah memanjat dan memetik bunga di bagian pucuk-pucuk batangnya. Hasilnya saat itu Puji Tuhan lumayan banyak dan dapat cukup untuk dinikmati oleh warga satu kampung.

Bunga tagarun yang dipetik adalah yang masih berwarna putih, karena pahitnya belum seberapa, kalau sudah kekuningan sangat pahit. Hidup di sekitar sistem perairna tawar yang kompleks (terdapat banyak danau air tawar, sungai kecil dan besar di wilayah ini) masyarakat relatif mudah mendapatkan ikan-ikan segar untuk dikonsumsi sehari-hari. Saat itu bunga tagarun juga disandingkan dengan seekor ikan gurame berukuran delapan kilogram! Ikannya masih hidup, tinggal diambil di keramba penyimpanan masyarakat di  tepi sungai kemudian diolah. Kalau di Jawa ikan gurame sebesar itu sudah menjadi indukan dan kebanggan yang empunya, di Sungai Rungan, adalah hal biasa. Saya melihat bahwa bunga tagarun dikonsumsi oleh masyarakat sebagai pelengkap pemenuhan kebutuhan nutrisi, tidak selalu dikonsumsi sebenarnya, tetapi jika kebetulan masyarakat menemukan bunga ini, maka akan dipetik karena ada kerinduan terhadap rasa pahit yang dimiliki oleh tagarun. Namun kini aktifitas mencari dengan sengaja bunga tagarun jarang dilakukan karena panjangnya aliran sungai dan juga mahalnya harga bahan bakar minyak. Jadi hanya saat masyarakat melintas di aliran sungai dan kebetulan ditemukan maka akan dipetik. Ketika kami mencarinya sengan sengaja, perlu waktu tiga hari untuk menemukan posisi pohon tagarun yang berbunga. Inuagata! Kata ibu-ibu yang juga menemani kami mencari tagarun ini, kami beruntung sekali baru tiga kali datang kesini langsung dapat kembang tagarun ini karena menurut mereka kini sudah susah banget ditemukan. Yang menarik saking disukai oleh masyarakat Dayak Ngaju, bahkan kadang orang jika mendapati bunga tagarun yang mengambang di air sungai saja maka akan diambil untuk dibawa pulang. Kami saat itu malah dapat pohonnya, besar pula, dan bunganya juga sangat banyak! Inuagata! Beruntung!

Yang menarik proses memasak bunga tagarun ini sangat sederhana! Tinggal bersihin bunga dari dedaunan yang ikut kepetik, cuci, dan siram sebentar dengan air panas! Maka tagarun sudah siap dikonsumsi sebagai lalapan! Hehehehe! Kita tidak boleh memasak tagarun dengan merebusnya karena akan menjadi sangat pahit sekali. Pada akhirnya makanan selalu bisa menyatukan masyarakat, dari satu bakul bunga tagarun yang kami bawa dari Sungai Rungan, hampir satu kampung berkumpul tanpa diundang. Suasana masak gurame dan makan tagarun menjadi meriah dan berkesan. Sayangnya saya tidak banyak mengerti bahasa Dayak Ngaju, tetapi jika melihat bahkan ada kelompok pemusik desa yang tiba-tiba nongol dengan sape-nya (alat musik tradisional dayak seperti gitar), juga kemeriahan dan kegembiraan alami masyarakat selama proses suting, saya merasa bahwa tagarun ini memang menjadi kerinduan seluruh lapisan masyarakat. Rasa bunga tagarun sendiri menurut saya (saya suka makanan pahit seperti pare dan bunga pepaya juga juhu singkah), tetapi tagarun ini jauuuuuh lebih pahiiiiit! Hahahaha! Hebatnya say alihat masyarakat begitu lahap menyantapnya. Tetapi saya sependapat dengan host Chintya Tengens, bisa jadi ini momen sekali seumur hidup kita bisa menikmati pahitnya tagarun ini. Demikian tulisan iseng ini saya akhiri, titip rindu untuk masyarakat Dayak Ngaju di tepian Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Kita ada agenda penting bulan Mei ini saudara-saudaraku, sampai jumpa segera!

















* Pictures mostly by Me at Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers