Wednesday, 30 March 2016


Langsung saja, ini juga hasil saya ngopi dengan masyarakat Dayak Ngaju di sebuah desa kecil di tepian Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Laya, adalah bahasa Dayak Ngaju, yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah terpana, terpesona, terpukau oleh sesuatu. Istilah ini bisa dipakai untuk menerangkan kondisi seseorang atau juga binatang. Jika seseorang sedang terpana karena kecantikan atau ketampanan seseorang, dan kemudian jatuh cinta atau terkesan, tetapi kemudian perilakunya menjadi berubah (misal galau dan pendiam), maka dia bisa disebut laya. Begitu juga binatang baik yang berkaki empat ataupun ikan, bisa laya karena sesuatu yang terjadi di habitatnya. Ini pencerahan baru bagi saya karena selama ini saya tidak terpikir sama sekali tentang hal ini. Memang banyak pendapat yang menyatakan bahwa ikan-ikan perairan tawar dan juga laut, memiliki karakter respon tertentu menyikapi perubahan yang terjadi/berlangsung di habitatnya. Tetapi kata “terpana, terpesona, terpukau” benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh saya, karena kata ini normalnya pasti terkait dengan manusia.

Menurut masyarakat Dayak Ngaju, ikan-ikan pemangsa perairan tawar seperti ikan tomman, kerandang, tapah, belida dan lain sebagainya akan mengalami laya di satu dua bulan pertama musim penghujan. Yakni ketika banyak bunga warna warni bermekaran dan juga sebagian jatuh ke permukaan air baik itu di danau, sungai kecil, ataupun sungai besar. Ikan-ikan pemangsa terutama yang memiliki karakter menyambar mangsa di permukaan akan terpesona dengan perubahan pada permukaan air tersebut (karena menjadi lebih meriah juga indah), saking banyaknya bunga-bunga yang mengambang di permukaan air, laya. Oleh karena ikan-ikan predator sedang “baper” (bawa perasaan) itulah, mereka cenderung akan enggan/malas berburu u. Kog seperti manusia ya? Kalau sedang “baper” akan susah makan, susah bicara, susah bekerja, dan lain sebagainya. Hehehehe! Jadi bagi kita para pemancing sport, dalam momen seperti ini kita harus siap-siap tidak mendapatkan sambaran dan praktis hasil mancing bisa jadi akan nol, ataupun jika ingin tetap mendapatkan hasil mancing, kita harus berusaha lebih lebih keras lagi dari biasanya! Kondisi laya ini tidak mengenal tempat tertentu, tetapi bisa berlaku di semua perairan tawar terutama perairan tawar yang tenang seperti danau. Saya membuktikan sendiri, bahkan di spot mancing yang menurut saya one cast one strike sekalipun, sambaran sangat susah didapatkan. Kita harus berusaha sekuat terus melempar dan memainkan umpan. Trip mancing menjadi lebih sulit dibandingkan mencari jodoh! Nah saya jadi ikut-ikutan “baper” khan?!

Dengan melihat kondisi perairan tawar saat itu di sekitar aliran Sungai Rungan, saya mencoba mencari penjelasan yang lebih ilmiah atau lebih masuk akal dengan fenomena laya ini. Okelah, laya bisa jadi memang benar seperti dituturkan oleh ‘keluarga’ saya masyarakat Dayak Ngaju, bahwa ikan-ikan menjadi enggan menyambar umpan karena terpesona dengan keindahan bunga-bunga yang bertebaran di permukaan air. Itu satu pendapat yang menurut saya bagian menarik dari sebuah kearifan lokal masyarakat di sana terkait perairan tawar mereka. Saya mulai dari musim penghujan, fenomena laya ini terjadi pada satu dua hingga maksimal tiga bulan pertama musim hujan yang berarti debit air dimanapun menjadi meningkat dan juga sebagian permukaan air kemudian berubah warna menjadi keruh akibat banyaknya areal sekitar sungai/danau yang mulai digerus erosi (salah satunya karena masifnya penebangan hutan yang terjadi). Secara teori ini memang membuat ikan-ikan sulit menyambar umpan-umpan yang kita lemparkan. Pertama karena visibility air yang rendah (ikan menjadi sulit melihat umpan kita), dan juga karena luasan sebaran ikan menjadi bertambah banyak. Jika pada musim kemarau ikan cenderugn terkonsentrasi pada cerukan danau yang menyempit, atau badan sungai yang terbatas, pada musim penghujan ikan bisa berada entah dimana saking luasnya areal perairan tawar. Apalagi dalam konteks Pulau Kalimantan, jika musim kemarau sebuah sungai misalnya hanya selebar dua puluh meter saja dengan batas tepian yang jelas, ketika musim penghujan bisa jadi sungai melebar menjadi dua kali lipat, itupun masih ditambah bonus rawa-rawa yang jauuuh masuk ke daratan. Kedalaman air juga meningkat sangat tajam! Jadi menurut saya laya ini bisa jadi terjadi karena perubahan besar pada ekosistem tersebut yang pada akhirnya membuat intensitas perburuan mangsa yang dilakukan ikan predator menjadi lebih rendah.

Akan tetapi saya dan ‘keluarga’ masyarakat Dayak Ngaju di tepian Sungai Rungan memiliki kesamaan pendapat tentang hal berikut ini. Awal musim penghujan ikan-ikan predator cenderung memijah atau kawin, yang artinya menjadi malas berburu mangsa, yang artinya kompetisi berburu mangsa yang dilakukan ikan-ikan predator pada sebuah habitat menjadi rendah. Ikan-ikan cenderung menyimpan tenaganya untuk sesuatu yang lebih penting (yakni kawin, dan atau bersama pasangannya yang bisa jadi saat itu sedang bunting) dibandingkan berburu makanan dan atau ‘berantem’ dengan spesies lainnya. Atau jika predator itu betina, maka dia akan cenderung berlindung saja di tempat yang sangat tersembunyi untuk mengamankan keturunan mereka yang akan segera dilahirkan menjelang musim kemarau tiba (saat dimana makanan atau mangsa akan lebih mudah didapatkan seiring menyempitnya luasan ekosistem perairan tawar). Pendapat yang menggelitik tentang laya ini terkait musim kawin spesies predator air tawar, ikan-ikan betina pada momen ini konon sedang ngidam bunga-bunga warna-warni tersebut, jadi tidak mau menyambar makanan lain. Diet lah istilahnya! Itulah mengapa, di ujung musim penghujan ketika bayi-bayi predator ini lahir, dan kemudian diasuh oleh induknya di habitat tersebut, jika kita berhasil mendapatkan sambaran ikan-ikan predator permukaan misalnya saja untuk jenis ikan tomman, maka warna induknya ini bisa sangat menakjubkan! Kadang ungu hitam, hijau hitam, kemerahan hitam dan lain sebagainya yang membuat kita para pemancing begitu terpesona! Layaaaa! Salam wild fishing!








* Pictures mostly by Me at Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

1 comments:

MWB BLOG said...

takjub banget......walaupun ikan predator malas cari mangsa tetep ada jalan utuk bisa spot....jossss

Popular Posts

Google+ Followers