Tuesday, 1 March 2016


Ketersedian atau kecukupan pangan, nutrisi atau apapun itu sebutan lainnya yang kurang lebih sama artinya, adalah bagian sangat penting atau mendasar setiap kehidupan manusia yang hidup di bumi ini. Bagaimana, kapan dan cara memenuhinya dan dari mana mereka mendapatkannya saja yang berbeda-beda. Ada yang cukup menekan layar ponsel dan tak lama kemudian makanan bisa tersaji di depan mata (delivery service) kita hanya perlu memilki uang saja dan apapun bisa dibeli, ada yang harus ‘membelah’ pegunungan maha tinggi dahulu demi mencari atau mendapatkan bahan pangan di daerah yang lain, ada yang menyusuri ratusan kilometer sungai-sungai besar di Kalimantan untuk mencari dan membeli bahan-bahan pangan, ada yang bertaruh nyawa di tengah samudera untuk mendapatkan ikan konsumsi dan atau dijual, dan lain sebagainya. Dalam konteks kecukupan pangan ini, menurut saya ada dua tipe manusia dalam berjuang dalam memenuhi kecupukan pangan untuk dirinya dan keluarganya. Pertama melalui cara-cara yang direstui Tuhan dan ada juga yang melakukan cara-cara yang tidak tepat dan lebih jauh lagi ada yang kemudian melupakan hal dosa. Manusia memiliki keistemawaan karena selalu memiliki pilihan, ada yang selalu bisa memilih cara yang barokah dan ada juga yang tergoda dengan cara yang tidak semestinya. Hal ini kata orang bijak adalah ujian kehidupan di dunia yang fana ini.

Apa yang saya lihat di Kampung Brang Bako di Pulau Sumbawa di penghujung Januari lalu, adalah cara yang pertama, cara yang tidak hanya terpuji tetapi juga bersahabat dengan alam meskipun mengandung tingkat resiko atau bahaya yang sangat besar. Menjaring ikan di tepian terjal pantai dalam gempuran ombak besar (jaring ombak istilahnya) demi mendapatkan ikan-ikan konsumsi harus dilakoni masyarakat dikarenakan kondisi geografis pesisir selatan yang sangat ekstrim ini adalah salah satu pernyataan perjuangan pencarian pangan paling ‘gagah’ yang pernah saya lihat di negeri ini. Mereka melakukannya hampir setiap hari usai bekerja di ladang, kadang sore hari sebelum pulang ke rumah, dan kadang dilakukan malam hari ketika bulan cukup terang. Terlepas dari banyak hal yang menjadi tantangan ketika proes dokumentasi dilaksanakan kemarin, misalnya saja karena faktor kendala bahasa dalam melakukan komunikasi dua arah, kurang rapinya koordinasi di antara semua yang terlibat karena kurangnya pemahaman konsep dokumentasi petualangan, mungkin cara penyampaian kami dna terutama saya dan lain sebagainya, sungguh saya ingin menyampaikan rasa hormat kepada beberapa pemuda asal Desa Jotang Beru, masyarakat Kampung Brang Bako dan Kampung Tero, termasuk juga seluruh kru lokal dan beberapa sahabat dari kota Sumbawa Besar yang ikut nimbrung dalam proses dokumentasi saat itu. Mungkin wajah saya kurang bersahabat apalagi kalau ada sesuatu yang missed, mungkin kata-kata saya dalam berbicara kurang halus apalagi ketika ada yang tidak berjalan normal, tetapi jujur saya tidak ada niatan secara sengaja apalagi mengarah ke personal tertentu saat itu. Semua saya lakukan dalam konteks ‘profesional”, demi hasil dokumentasi terbaik yang layak ditampilkan ke seluruh dunia, sehingga perjuangan kalian semua mencari sumber penghidupan dalam kondisi geografis yang sangat unik tersebut dapat menginspirasi khalayak yang lebih luas siapapun itu. Misalnya untuk pemerintah daerah siapa tahu kemudian menjadi tergerak untuk ‘menyapa’ Brang Bako dengan lebih intensif, misalnya LSM kemudian merancang program-program untuk masa depan yang lebih baik bagi masyarakat disana, yang selama ini lupa Brang Bako menjadi ingat lagi misalnya, dan lain sebagainya. Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan dalam suasana yang lebih hangat karena tidak perlu lagi kita tambah panasnya matahari Sumbawa yang luar biasa itu dengan ketegangan urat-urat saraf kita.

Masyarakat Brang Bako, dan juga Kampung Tero, adalah masyarakat agraris, meskipun telah berulang kali saya sebutkan di dua catatan sebelumnya, mereka memiliki halaman belakang maha luas bernama Samudera Hindia. Praktis mayoritas profesi masyarakat di daerah ini adalah petani. Kampung Brang Bako oleh pemerintah daerah digolongkan dalam Komunitas Adat Terpencil (KAT), terdiri dari sekitar 20 KK yang mana kampungnya berada sekitar 100 meter dari bibir pantai selatan. Rumah di kampung ini seragam semua baik model bangunan dan juga warna catnya, ini terjadi sejak tahun 2011 ketika dilakukan relokasi dari lokasi kampung pertama di dekat pantai, usai terkena tsunami. Tetapi kita tidak perlu khawatir nyasar karena kampung ini sangat kecil dan isi halaman rumahnya pasti beda-beda. Jadi ingat saja halaman rumahnya jangan rumah dan warna catnya karena kita bisa bingung. Untuk mencapai Brang Bako kita harus menempuh jarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kecamatan Empang di sisi utara Sumbawa. Secara jarak dengan roda dua atau roda empat harusnya bisa ditembus 30 menit saja, tetapi karena kondisi badan jalan menuju kampung ini macam-macam (ada yang berbatu rata, turunan tebing terjal, jalan tanah, dan lain sebagainya) kemarin kami tiba setelah berjuang selama hampir 3 jam lamanya. Untungnya kami melintas ketika cuaca sedang panas-panasnya, jadi jalanan tidak terlalu licin meski di beberapa titik masih licin karena adanya rembesan air dari kebun sekitar jalan. Andai saja kemarin tiba-tiba hujan, bisa jadi kami bermalam di tengah jalan karena sangat beresiko melintas jalur ini ketika hujan. Kendaraan paling tepat untuk digunakan mengakses Brang Bako adalah kendaraan double gardan, dan kendaraan roda dua. Motor standar pun bisa asalkan yang mengendarainya jago, lebih baik lagi adalah motor trail dengan ban ‘tahu’ akan lebih aman lagi perjalanan kita. Hal kondisi jalan dan juga guna lahan di sekitar Brang Bako dan Kampung Tero sedikit banyak sudah saya jelaskan di dua catatan sebelumnya. Iya saya memang terganggu dengan pembukaan lahan yang di beberapa titik seperti membabi buta, karena banyak yang langsung bersentuhan dengan pantai. Tetapi karena ini bukan kapasitas saya untuk membahas lebih dalam tentang hal ini, saya berharap bahwa semoga ke depannya tidak ada ancaman abrasi yang membahayakan kehidupan disana. Di beberapa titik jalan saya sih sudah beberapa efek nyatanya, karena sudah ada jalanan yang berada persis di bibir pantai karena tidak ada lagi yang menahan gempuran ombak ketika musim angin besar dan pasang tinggi.

Kita kembali lagi ke masalah perburuan pesisir yang oleh masyarakat disebut dengan nama jaring ombak. Karena semua masyarakat daerah ini adalah petani, pencarian nutrisi di pesisir ini dilakukan dalam waktu sela saja. Mungkin sore hari ketika usai bekerja di ladang atau sawah (sungguh saya melihat satu areal persawahan di tepi pantai di daerah ini), dan atau kalau malam misalkan masyarakat sedang susah tidur misalnya. Intinya sih ketika sedang perlu lauk-pauk ikan saja. Jadi memang tidak ada yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Saya sempat melihat dua buah kapal kayu cukup besar yang sedang jangkar di daerah ini dan rupanya perahu-perahu dari daerah lain yang jauh. Mereka tergoda dengan potensi ikan di pantai-pantai sekitar Brang Bako dan Kampung Tero yang jarang disentuh oleh masyarakat sekitarnya hingga hari ini. Saya membatin semoga mereka bukanlah kapal-kapal pengebom ikan yang biasa beroperasi di laut-laut ataupun kawasan pesisir yang sepi dari kegiatan kapal lain. Masalah kapal ini ada yang menarik untuk saya bahas, betapa sebenarnya jauh dalam hati masyarakat ada keinginan untuk memilikinya sehingga dapat dipakai untuk mencari sumber penghidupan lain di laut selatan. Suatu hari ketika masih belum beranjak berangkat suting (baru bangun pagi tepatnya) tiba-tiba saya didatangi oleh tiga orang bapak-bapak entah dari mana (yang pasti bukan warga Brang Bako) yang karakternya khas sekali; ramai, semangat, dan sedikit banyak juga ngeyel. Mereka memohon dengan sangat agar diterima dalam tim karena ingin ikut kapal ke tengah laut supaya bisa mancing ikan-ikan besar. Saya jelaskan bahwa tidak ada rencana seperti itu dalam kedatangan saya kali ini, bahkan sampai nanti pun juga tidak ada rencana seperti itu. Mereka ngotot tetap ingin ikut karena kata seseorang saya berencana ke tengah laut dengan kapal besar untuk mencari ikan. Berkali-kali saya jawab tetapi tidak mempan juga, akhirnya tiga orang ini saya kasih tahu sampan-sampan yang kami bawa. Ini Pak “kapal” kami, dan akan kami gunakan di sungai, kalau mau ikut silahkan. Mereka tanpa pamit kemudian ngeloyor pergi sambil berbicara dalam bahasa yang tidak saya pahami, dan saya pun speechless, termangu. Buset dah pak?!

Masyarakat yang melakukan perburuan jaring ombak ini juga tidak banyak, kemarin misalnya dari sepuluhan orang yang terlibat dokumentasi, saya lihat hanya dua orang saja yang memang biasa melakukan hal ini. Lainnya bukan tukang jaring ombak. Perburuan ini memang sangat ekstrim, dua orang ini saya lihat seperti bermain-main dengan maut. Jaring yang dipakai adalah jaring biasa untuk ikan-ikan berukuran konsumsi (ikan kecil). Satu atau dua orang biasanya akan masuk ke air ke titik dekat ombal pecah untuk menebarkan jaringnya, kemudian akan membentangkannya di areal sekitar pecahnya ombak tersebut, jika jaring selesai dibentang kemudian ditarik beramai-ramai kembali ke pinggir. Yang paling berani bermain-main dengan maut ini selama proses suting kemarin ya hanya dua orang ini saja, satunya adalah Kepala Dusun Brang Bako, dan satunya lagi warga Kampung Tero bernama Pak Man. Jika tidak ada dua orang ini, saya yakin dokumentasi kegiatan ini bisa gagal total! Saya memahami banyak warga yang sehari-hari enggan melakukan kegiatan ini, karena potensi bahayanya yangs angat besar. Hasilnya adalah ikan-ikan kecil seperti ikan serinci (jenis ikan Damsel fish) dan ikan trevally kecil. Ada satu jenis ikan yang sepertinya endemik daerah sini namanya ikan elle’, ikan ini belum pernah saya lihat di pesisir manapun di negeri ini. Tetapi khusus untuk ikan elle’ ini katanya paling mudah didapatkan ketika malam hari. Hasil perburuan dengan cara jaring ombak ini sebenarnya cukup menjanjikan, karena ekosistem pesisir di kawasan ini masih sangat sehat. Tetapi masyarakat tidak pernah menjaring ikan banyak-banyak, karena toh tidak bisa dijual, mau dijual kemana, kepada siapa? Mau dijual ke utara ke Kecamatan Empang jaraknya juga terlalu jauh, ikan keburu rusak sampai di pasar. Mau disimpan di rumah juga tidak bisa, tidak ada es batu ataupun lemari pendingin. Jangankan lemari pendingin, listrik saja tidak ada! Jadi perburuan benar-benar dilakukan secukupnya saja untuk memenuhi kebutuhan makan dengan perhitungan waktu yang cermat, jadi jaring ombak akan diselesaikan ketika proses masak memasak akan dilakukan di rumah setelahnya. Foto-foto yang saya pasang di catatan ini lebih bisa menjelaskan definisi “bermain dengan maut” dan juga “perburuan ekstrim” ini. Kiranya cukup sekian saudara-saudara catatan kecil saya tentang Kampung Brang Bako, semoga dapat menjadi renungan kita bersama. Salam petualang!



























* Pictures mostly by Me at Brang Bako, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers