Tuesday, 29 March 2016


Setiap kali melakukan perjalanan ke berbagai daerah, kemanapun itu lokasinya, pembicaran intens dengan masyarakat setempat selalu menarik minat saya. Dari merekalah kita bisa mendapatkan beragam informasi, apapun itu, dengan apa adanya dan kebanyakan tanpa ‘interest’ kuat yang menyertainya. Mereka selalu antusias ‘mengajari’ saya tentang budaya mereka, adat, dan hal-hal menarik lainnya dengan apa adanya. Dan yang paling keren dari semua hal tersebut (baca: sharing informasi) adalah, bahwa apapun itu pengetahuan dan informasi yang saya dapatkan adalah hal-hal yang tidak akan kita jumpai di internet ataupun saluran-saluran informasi yang mainstream seperti televisi, koran, majalah dan lain-lain. Apalagi di media sosial yang menurut saya malahan banyak karakter anti sosial dan juga dipenuhi informasi dan gambar ‘sampah’. Terkadang pencerahan itu say adapatkan sembari ngopi bersama di sebuah teras rumah sederhana, terkadang ketika sedang break dokumentasi di bawah pohon rindah entah di sudut hutan yang mana, terkadang sembari lalu ketika papasan dengan seseorang di sebuah tempat yang acak (dermaga, warung desa, dan lain sebagainya). Orang-orang yang menurut saya apa adanya tersebutlah yang mengajari saya hingga sedikit banyak mengerti tentang sebuah masyarakat suku tertentu dan lain sebagainya. Terimakasih, meski saya tahu kalian semua tidak akan mungkin pernah membaca catatan ini sekarang ataupun nanti.

Yang ingin saya ceritakan sedikit sekarang adalah sesuatu kegiatan biasa, tetapi kemudian menurut saya menjadi sangat unik, sangat lokal, dan sedikit banyak ada nuansa primitif-nya saking sederhana dan erat kaitannya dengan kondisi geografis sebuah masyarakat. Kenapa saya sebut primitif, bukan dalam konteks ndeso ataupun kampungan ya kata ini, tetapi saking tidak banyak perubahan sejak entah kapan. Sekitar dua tahun lalu saya berkenalan dengan seorang tokoh karang taruna sebuah desa di dekat Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Dari pemuda yang meski pendiam ini mengalirlah banyak hal tentang cara hidup, kearifan lokal, cara perburuan, adat istiadat dan lain sebagainya dari masyarakat dimana dirinya menjadi bagiannya, yakni Dayak Ngaju. Saya membuat catatan singkat di buku kecil tentang apapun yang diucapkan oleh pemuda ini, dan tanpa terasa hingga hari ini sudah empat kali saya bolak-balik ke sekitar Sungai Rungan dengan ‘bekal’ informasi yang saya dapatkan dari seorang pemuda ini dua tahun lalu. Dari yang awalnya tidak kenal, kemudian menjadi sekedar kenal, menjadi kawan dekat, dan kini sudah menjadi layaknya keluarga. Kampung yang menjadi tempat tinggal pemuda ini juga sudah seperti kampung halaman sendiri, tempat saya sering kembali pulang sesekali, mencoba membasuh hati, melepaskan penat dan gundah akibat ‘deraan’ kota Jakarta yang kejam!

Saya memiliki keyakinan kuat, bahwa banyak hal dalam kehidupan manusia modern saat ini, memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan manusia jaman dahulu (nenek moyang). Beberapa hal dalam dunia modern ini memang benar-benar tercipta saat ini (baca: inovasi), tetapi lebih banyak lagi hal-hal yang sebenarnya hanya pembaruan saja dari cara-cara hidup manusia terdahulu. Beberapa hal lagi bahkan masih sama persis seperti dilakukan oleh manusia terdahulu dengan sedikit sekali perubahan. Dalam konteks mancing dan sportfishing, tak heran saya sering kali merasa geli sendiri dengan polah banyak orang yang begitu mengagungkan peralatan dan kemampuanny amenguasai teknik tertentu, seakan-akan dia sendiri yang menemukannya karena terjatuh dari langit. Sampai-sampai banyak orang yang ingin dianggap sebagai “guru” dan atau “tokoh” yang harus menjadi panutan, hanya karena menguasai suatu teknik mancing. Sangat sedikit yang mencoba meluangkan waktu sejenak menengok ke belakang, dan kemudian melihat sejenak, bahwa apa yang mereka tekuni sekarang ini sebenarnya hanyalah bentuk modern saja dari apa yang telah dilakukan pada jaman dahulu oleh manusia dalam mencari pangan untuk bertahan hidup. Oleh karenanya saya merasa beruntung bahwa tanpa di sengaja, pada suatu hari di tepian Sungai Rungan, seorang renta dari Desa Panjehang (masih memeluk keyakinan Kaharingan) membagi kisah kepada saya tentang teknik mancing kuno yang disebut dengan nama “upih”. Teknik mancing kuno sekaligus mistis yang bahkan di komunitas Dayak Ngaju pun sudah semakin berkurang jumlah orang yang mengaplikasikannya untuk keperluan pencarian nutrisi hewani berupa ikan-ikan sungai.

Menurut bapak renta bernama Ipin ini, upih adalah teknik mancing khusus untuk ikan spesies tapah (Wallago) yang telah ada sejak jaman kakeknya (hitungan kasar saya sudah dua ratus tahunan lebih berarti, setidaknya). Tapah adalah jenis ikan berkumis yang banyak terdapat di perairan Indonesia terutama di Kalimantan dan Sumatra. Jenis ikan ini tergolong sangat bergengsi karena bentuknya yang unik serta populasinya yang semakin sedikit, serta sulitnya kita mendapatkan jenis ikan ini karena karakter berburu mangsa-nya yang sangat spesifik. Ikan tapah adalah spesies ikan berkumis dengan karakter nocturnal yang kuat, ikan ini seringnya muncul atau berburu mangsa pada malam hari dan cukup disegani oleh berbagai masyarakat. Karenanya perburuan terhadap spesies ini pun paling sering dilakukan oleh masyarakat pada waktu tersebut. Namun dalam dunia sportfishing Indonesia saat ini, banyak pemancing telah membuktikan bahwa ikan tapah juga bisa dipancing siang hari meskipun perlu usaha dan doa yang lebih. Teknik upih pun hanya dilakukan pada malam hari saja, dan tidak pernah dilakukan pada siang hari. Bukan pada malam harinya yang membuat teknik ini memiliki nuansa mistis, tetapi karena setiap pemancing upih di Dayak Ngaju, selalu akan melafalkan doa-doa tertentu agar niatannya memancing ikan dengan upih ini dapat berhasil. Saya tidak mengerti dengan baik arti doa tersebut apa karena saya tidak mengerti bahasa Dayak Ngaju. Tetapi menurut orang-orang Sungai Rungan, kegiatan berdoa ataupun meminta restu dari nenek moyang ini disebut proses “menimang”. Umpan teknik upih yang berupa pancing (dahulu pancingnya dibuat dari paku yang dibengkokan) yang diberi rumbai-rumbai dari serutan pelepah pinang, akan ditimang-timang layaknya seorang bidadari yang sangat cantik. Barulah kemudian setelah “menimang” kegiatan mancing upih bisa dilakukan.

Tentang tapah sebagai spesies ikan yang banyak disegani maksud saya begini. Di daerah Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, tepatnya di Desa Paduran (yang mana memiliki sungai ulayat bernama Sungai Paduran Alam) saya diberi tahu masyarakat bahwa mereka meyakini adanya “raja tapah” di sungai mereka. Raja tapah inilah yang menjadi penguasa tertinggi di sungai, menjaga sungai dari kegiatan yang tidak pantas, mengatur keseimbangan alam tidak kasat mata di sungai, dan lain sebagainya. Jika “raja tapah” ini muncul, sungai akan bergejolak layaknya lautan yang dihantam badai. Siapapun yang masuk ke Sungai Paduran Alam otomatis selalu diminta rasa hormatnya terhadap eksistensi “raja tapah” ini. Bagi orang yang pertama kali masuk misalnya, diharuskan selalu membasuh muka dan mengusapkan air di bibir ketika pertama kali masuk ke Sungai Paduran (biasanya kegiatan ini harus dilakukan di pertigaan dimana Sungai Paduran ‘bermuara’ atau bertemu dengan Sungai Sebangau). Desa Paduran adalah desa heterogen, penduduknya sebagian orang transmigran dari Jawa, orang-orang Banjar (Kalimantan Selatan) dan sebagian lagi adalah orang Dayak. Kebanyakan mereka adalah muslim, tetapi semua orang mempercayai tentang legenda “raja tapah” ini. Di Desa Petuk Barunai, di tepi Sungai Rungan, terdapat legenda yang sama tentang “raja tapah” ini. Tetapi isi kisahnya sedikit berbeda, ikan tapah sebesar kelotok (ukuran kelotok ini kira-kira seukuran bemo yang dijejer empat) tersebut konon hidup di muara tempat Sungai Barunai bertemu dengan Sungai Rungan. Tetapi sangat sulit ditemukan dan dilihat, hanya orang-orang tertentu yang ‘beruntung’ saja yang  mampu melihatnya. Ikan tapah super monster ini konon menjadi penunjuk musim, jika kepala mengadap melawan arus, maka pertanda musim kemarau akan menjelang, jika kepala menghadap ke bawah (searah dengan arus sungai) maka musim hujan di depan mata. Ikan ini tidak mengganggu, namun karena kisah kuno ini, tidak ada satupun orang berani memancing malam dari atas sampan/perahu di lokasi yang menjadi kediaman “raja tapah” Sungai Rungan ini hingga hari ini! Termasuk juga ini dilakukan oleh Bapak Ipin, orang tua yang menurut saya penuh ilmu, yang masih memeluk kepercayaan Kaharingan tersebut.

Teknik mancing upih, karena sifat nokturnal dari ikan tapah itu sendiri, praktis hanya dilakukan pada malam hari saja. Teknik ini sebenarnya kalau saya telaah lebih jauh lagi adalah teknik mancing top water (surface) atau permukaan. Pemancing tersebut, akan berhanyut dari arah hulu mengikuti aliran air menyisir tepian, dalam kegelapan malam yang penuh resiko (karena pantang menyalakan lampu apapun selama berhanyut). Jadi yang memancing upih selama proses mancing ini tidak boleh merokok, menyalakan senter, dan penerangan lainnya. Menurut Pak Ipin hal ini adalah pantangan, akan menggagalkan upih. Dia menuturkan kata “pantang” ini dalam kalimat karena kita akan ketiban sial, celaka dan lain sebagainya. Meski menurut saya memang ini sebenarnya adalah bentuk kearifan lokal, dimana pemancing memang diharuskan menyatu dengan alam, sehingga ikan target tidak ada yang menyadari bahwa bunyi-bunyian dari rumbai yang telah dipasangi pancing yang dimainkan di permukaan air tersebut, sebenarnya adalah ‘jebakan’. Bayangkan jika ada penerangan lampu selama berhanyut, ikan tentunya akan menjadi lebih waspada (spooky) dan enggan menyambar umpan.

Karena berhanyut dalam kegelapan sungai, kegiatan upih ini juga mengandung resiko yang besar. Sampan bisa menabrak tonggak kayu dan terbalik, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, sampan upih yang selalu terdiri dari dua orang (pendayung dan pemancing), selama memancing upih ini kita juga diharuskan diam seribu bahasa, apapun yang terjadi, apapun yang terlihat di depan mata dan lain sebagainya. Masalahnya, kalau berhanyut malam-malam begini konon banyak ‘penampakan’ di sepanjang aliran Sungai Rungan, dan karena saya tidak siap mental, saya tidak berani ikut ketika Bapak Ipin mengajak saya memancing dengan teknik ini pada malam hari. Sifat mistis teknik ini memang telah terbangun sejak pemancing hendak mulai memancing, serangkaian doa dalam bahasa yang tidak saya mengerti menyertai proses menimang umpan. Belum banyaknya pantangan selama proses memancing ini (tidak boleh menoleh ke belakang, tidak boleh berbicara, dan lain sebagainya). Sebelum berangkat memancing pun biasanya orang tersebut juga sudah akan melakukan puasa tertentu dan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Info yang lebih menyeramkan adalah, jika kita melanggar pantangan-pantangan tersebut (atau syaratnya ada yang tidak lengkap), kita bukannya didatangi oleh ikan tapah tetapi bisa jadi malah didatangi buaya besar dan juga roh-roh yang mendiami Sungai Rungan. Hhhhhhhh. Begitulah sekilas tentang teknik mancing upih ini. Terakhir kenapa foto-foto yang dicantumkan dalam postingan ini siang hari? Karena mau tidak mau kami harus menempuh upaya yang berbeda agar bagaimana caranya proses teknik mancing kuno dan mistis ala Dayak Ngaju ini bisa didokumentasikan dalam konsep yang berbeda tetapi tetap memiliki estetika gambar yang sesuai harapan seluruh audience. Dan ternyata, selama kita memiliki niatan yang baik, selalu ada jalan untuk mencapainya, siang itu di Sungai Rungan, mungkin pertama kali dalam sejarah, teknik upih siang hari ternyata juga bisa mendapatkan ikan tapah!!! Salam wild fishing!














* Pictures mostly by Me at Sungai Rungan, Kalimantan Tengah. Some pictures captured by Eko Priambodo (screen captured Sony PMW 200). No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers