Thursday, 14 April 2016

 
Satu-satunya yang menghibur saya selama trip ini adalah, bahwa sang tuan rumah yang rumahnya kami jadikan sebagai camp selama liputan, selalu siap membekali kami dengan konsumsi yang selalu mengundang selera jam berapapun kami berangkat ke lokasi. Kehidupan sebuah keluarga kecil tersebut tiba-tiba seperti sedang ada hajatan selama 8 hari penuh akibat kedatangan kami. Ketujuh sungai yang saya maksudkan adalah sungai-sungai payau (sungai yang terpengaruh pasang-surut air laut) di Morowali Utara yakni Sungai Tokala, Salato, Tiforo, Peo, Ula, Tente dan Tirongan. Bulan Oktober lalu saya pernah menjelajah dua dari tujuh tersebut yakni Sungai Salato dan Tokala bersama lady angler Chintya Tengens. Waktu itu Salato sedang dalam kondisi keruh dan tepiannya kurang mengundang hasrat mancing saya karena banyak lumpur, padahal saat itu sedang musim kemarau. Sepertinya setiap kali terjadi pertukaran air yakni saat air bergerak turun (surut) dan saat terjadi pergerakan masuknya air laut ke sungai (pasang), Sungai Salato menjadi keruh karena tepian yang ‘diaduk’ oleh pergerakan air masuk dan keluar sungai tersebut. Karena setiap hari terjadi pertukaran air yang mempengaruhi sungai setidaknya dua kali, Salato saat itu sangat tidak kondusif untuk dieksplorasi. Akan tetapi Sungai Tokala saat itu sepertinya sedang dalam kondisi yang mendukung aplikasi teknik casting dengan umpan buatan (lure). By the way sungai ini saya ‘temukan’ pada bulan April 2015, ketika secara tidak sengaja saya dan Vika Fitriyana sedang ‘silaturahmi’ dengan masyarakat Suku Wana, salah satu suku nomaden yang masih tersisa di Indonesia. Di Tokala saat itu (baik bulan April juga Oktober), setiap kali saya memainkan umpan di titik-titik tertentu (yang memiliki kriteria sebagai rumah ikan seperti rebahan batang pohon yang mati dan juga batu-batu besar yang tersembunyi di bawah permukaan), sudah hampir pasti lure kita akan disambar oleh beragam jenis ikan dan sebagian besar adalah spesies ikan prestisius yang disebut kakap hitam (Sulawesi)/somasi hitam (Maluku), nain (di Morowali Utara), tembaring (Kalimantan). Dunia internasional menyebut ikan ini black bass dan dalam bahasa Latin disebut Lutjanus goldei. Catatan perjalanan ke Sungai Tokala bersama lady angler Chintya Tengens yang terjadi pada tahun 2015 lalu dapat anda lihat di Demi Indonesian Black Bass. Ada rasa bangga yang membuncah saat itu karena trip ini berhasil menguak untuk pertama kalinya di layar kaca TV nasional bahwa spesies Lutjanus goldei terbukti eksis di Pulau Sulawesi. Ini cukup penting untuk menyambung rantai persebaran ikan black bass di Indonesia yang seperti terputus di Pulau Sulawesi, padahal di Papua banyak sekali, juga Halmahera, di ‘kampung halaman’ saya di Kalimantan dan bahkan hingga Pulau Sumatra. Saat itu, muncul kekhawatiran akan terjadi ‘serbuan’ besar-besaran jika saya update dengan jelas nama sungai dan posisi sungainya sehingga saya memilih untuk menutupinya sebisa mungkin. 

Yang terjadi dalam tujuh hari terakhir ini (meski yang full mancing baru tiga hari, karena empat hari lainnya adalah sisa waktu usai kami menggarap dokumentasi kearifan lokal perburuan masyarakat), yang artinya saat ini saya sedang berada di daerah Morowali Utara ini, semua sungai yang saya sebutkan di atas dan termasuk ‘cinta’ pertama saya di Morowali Utara yakni Sungai Tokala, sangat jauh dari harapan saya. Bahkan sangat-sangat jauh. Tujuh serangkai sungai payau Morowali Utara seperti bersepakat, menyuguhkan kekecewaan dari hari ke hari, padahal segala daya upaya telah kami kerahkan dengan semaksimal mungkin. Seperti misalnya memancing dari pagi hingga sore hari (dengan perhitungan waktu pasang surut tentunya), menyisir poin-poin potensial secara maksimal (belokan, struktur tepian yang bagus, memperhatikan arus masuk dan keluar), menjaga suasana sungai tetap sunyi agar ikan-ikan tidak menyadari kehadiran kami, rajin mengganti umpan (lure), dan lain sebagainya. Hasilnya berbanding terbalik dengan trip Oktober lalu yang jujur saja selain saya yang memang sangat doyan memancing, Chintya Tengens tergolong newbie dan memancing sekedarnya saja. Kali ini saya bersama salah satu ikon dunia mancing di Indonesia Joe Michael, pro angler dan wild fisher kesohor di negeri ini, yang artinya semangat eksplorasi dan juga kemampuan teknis sportfishingnya cukup mumpuni dan semangatnya nge-wild juga telah teruji di segala medan dari Aceh hingga Merauke. Jika diukur dalam kilometer, hasil kami menyusuri ketujuh sungai tersebut bisa jadi telah puluhan kilometer jauhnya, dan bayangkan sebagian besar penyusuran ini dilakukan sambil drifting (berhanyut) mengikuti arus masuk atau keluar (pasang surut), jadi bayangkan berapa banyak waktu yang telah kami alokasikan untuk kekecewaan ini? Bagi saya pribadi trip ini seperti memunculkan rasa malu yang sangat karena trip ini di-blow up terus di media sosial day by day oleh artis kita bang Joe Michael yang memang kesohor  dengan segunung fans tersebut. Meskipun saya sangat tahu semuanya dilakukan dengan maksud melucu dan mengolok kami sendiri, jujur saya menjadi malu karena belum pernah dalam sejarah mancing saya selama ini, boncoz (tidak mendapatkan ikan target) itu sampai segini parahnya!

Kenapa semua ini bisa terjadi di tujuh sungai yang kami datangi? Mari kita urai satu demi satu. Dugaan awal adalah kami datang terlalu awal alias belum tiba pada musimya. Maksudnya adalah begini. Jika kami melihat curah hujan yang masih tinggi di kawasan ini, bisa jadi air sungai terlalu tawar untuk spesies yang menjadi target kami, sehingga ikan-ikan tersebut bisa jadi lebih suka berada di laut dibandingkan masuk ke sungai yang payau. Padahal sungai-sungai ini sangat unik, meski hujan besar sekalipun, ketujuh sungai tersebut sangat sulit untuk keruh. Jauh berbeda dengan sungai besar kebanyakan yang di hulunya telah terjadi degradasi lingkungan yang parah, biasanya hujan sedikit, keruhnya seminggu lebih. Pengamatan saya, dalam kondisi curah hujan yang masih tinggi ini, kondisi dasar sungai memang berbeda dengan yang saya lihat Oktober lalu, yakni tidak berpasir putih melainkan banyak terdapat semacam pasir dan atau tanah hitam. Sekali lagi anehnya, kondisi sungai juga tidak keruh. Dugaan berikutnya adalah dugaan paling sederhana dan lebih tepat sebagai ‘buah’ kekesalan, yakni bahwa memang ketujuh sungai ini sudah tidak ada ikannya. Bisa jadi pernah diracun besar-besaran, di bom ikan mungkin (secara kawasan pesisir di daerah ini dihuni oleh masyarakat dari Suku B***) yang terkenal dengan kegiatan mencari ikan dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan? Saya sebenarnya tidak mau mendeskreditkan sebuah masyarakat suku tertentu, karena sebenarnya hal tersebut dilakukan oleh oknum, tetapi dugaan ke arah sana sulit saya hindari karena sepertinya kemanapun saya berkeliling Indonesia, mereka terkenal sekali dengan cara-cara negatif tersebut. Penyebabnya akan saya sebutkan di bagian belakang catatan saya ini. Saya mencoba melihat ke diri sendiri karena bisa jadi penyebab ini semua diri kami sendiri. Bisa jadi kami selalu missed dengan waktu pasang surut yang terjadi di kawasan estuaria tersebut? Saya bisa katakan tidak karena selalu datang tepat waktu betapapun jauhnya sungai tersebut. Kami selalu tiba ketika terjadi pergerakan arus baik itu turun maupun air naik. Memang untuk air turun kami tidak bisa datang ketika air mulai turun karena selama seminggu ini air surut ketika masih dini hari, praktis kami tiba ketika air sudah bergerak turun sejak dua atau tiga jam sebelumnya. Tetapi untuk air naik (pasang), kami selalu tepat waktu dan kemudian langsung berhanyut ketika air dari laut mulai masuk menyerbu ke dalam sistem perairan payau.

Karena semua teori dan dugaan belum juga memberi jawaban yang kami butuhkan, kemudian berkembang dugaan-dugaan yang ngaco lainnya. Dugaan ngaco ini ada yang bernada humor tetapi ada juga yang kemudian berkembang ke arah musrik. Dugaan yang bermaksud melucu dan mencairkan suasana antara lain adalah mungkin ikannya lagi bete jadi memang sedang malas menyambar umpan kami, atau bisa jadi ikan-ikan keren tersebut sedang puasa, sedang main ke sungai lain yang sangat jauh, sibuk pacaran, asyik tidur terus di dasar sungai, dan lain sebagainya. Hhhhhhhhhh! Sebenarnya penyebabnya bisa apapun dan kami tidak tahu dengan pasti. Namun godaan setan juga sesekali menghinggapi kami dan juga kru lokal kami sehingga kami terkadang lupa dan mulai berpikir musrik. Bisa jadi semua ini terjadi karena ada yang membawa sial dari salah satu kru kami. Hal seperti ini memang sulit dihindari sebab bahkan sejak jaman manusia pertama, ada semacam konsep sial yang selalu dipercaya oleh umat manusia (kalau saya tidak salah bahkan di Kitab Suci ada disebut tentang Nabi Yunus yang pernah dianggap penyebab sial oleh seluruh penumpang kapal ketika diterjang badai besar). Tudingan pembawa sial ini diam-diam kemudian terarah ke salah satu ‘kapten’ perahu kami, dalam trip ini kami selalu menggerakan tiga perahu setiap harinya. Penyebabnya adalah dia terus-menerus mengeluh dengan apapun rencana yang dirancang oleh kami. Keluhannya diucapkan dalam bahasa Suku B***. Awalnya kami tidak tahu bahwa dia terus mengeluh sepanjang trip (padahal perahu dia kami sewa dengan harga yang juga dia tentukan, dan bahkan masih ada konsumsi dan rokok dari kami). Tetapi kemudian seorang kawan yang mengerti bahasa Suku B*** kemudian berkisah dan bahkan menegurnya, bagaimana mau dapat ikan kamu terus mengeluuuuuh! Mulai dari pulang kapan (padahal hari masih siang), kapan berteduh (jika panas), kapan makan siang (padahal juga masih pagi), dan capek ngedayung perahu (padahal juga kami drifting mengikuti arus) dan lain sebagainya! Saya sedikit banyak sempat mempercayai bahwa bisa jadi memang dia pembawa sial dalam trip ini. Saya dan Bang Joe Michael pun sempat ikut-ikutan musrik. Mancing dengan baju dibalik, dan lain sebagainya. Hahahaha! Gila ini semua, gara-gara mancing kami jadi berdosa dan bukannya happy malah stress!

Meskipun demikian tekad dan semangat kami berdua (saya dan bang Joe Michael) tidak pernah surut sedikitpun, kami terus nge-push diri kami sendiri dengan pergerakan yang secerdas mungkin, seefektif mungkin, memancing segiat mungkin dan lain sebagainya. Apa yang kami lakukan mungkin lebih semangat dari nelayan yang hidup matinya terkait dengan hasil pancingan. Karena kami memang memiliki passion yang sama tingginya dengan kegiatan mamancing ini, dan untuk kasus Morowali Utara ini, rasa penasaran kami memang memuncak. Seperti tidak ingin menyerah dikalahkan oleh musrik, dan dugaan-dugaan lainnya yang juga tidak kami tahu dengan pasti. Yang kami tahu dengan pasti bahwa kami tidak boleh menyerah dan kalau perlu mengorbankan diri kami sendiri (dengan kurang istirahat, dibakar panas matahari, telat makan demi mengejar waktu bergeraknya air, dan lain sebagainya). Satu hal yang pasti, dalam trip ini kami nyata memang tidak mendapat rejeki (baca: ikan-ikan target) dari-Nya. Atau memang ikan-ikan black bass itu sudah musnah? Dalam waktu secepat ini? Entah bermula dari mana pembicaraan saat itu terjadi, sepertinya ketika sedang makan siang di sebuah gubuk kebun di Sungai Peo, dua orang warga yang menjadi kru kami terucap tidak sengaja, bahwa dia pernah nge-bom ikan di salah satu sungai dengan hasil ratusan kilogram ikan nain (black bass). Warga ini saat itu ‘terjebak’ dalam debat tentang keberadaan ikan-ikan nain di wilayah ini dan inilah yang ingin saya singgung di awal, bahwa kegiatan seperti yang dia lakukan seperti menjadi identitas dari Suku B*** dimanapun mereka tinggal. Adaaaaa, wong saya pernah ngebom dan dapat banyak kog?! Lhaaaaa?! Tetapi setelah berucap demikian dia kemudian menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi 10 tahun lalu. Saya bilang oooh bapak pelakunya, kalau gitu siap-siap dijemput polisi ya pak, ini bukan masalah 10 tahun atau sehari lalu, mau dipenjara di Luwuk karena itu melanggar undang-undang dan bahkan kategori hukumnya pidana. Waaah, dijemput polisi bagaimana bos, wong mereka saja tidak punya perahu kog, tinggal saya dayung ke laut sedikit dan lambaikan tangan deh. Ucapnya sambil tertawa. Begitulah kira-kira obrolan, debat dan gundah kami. Memang upaya penegakan hukum di wilayah ini begitu rendah, dan apalagi letaknya yang sangat jauh dari ‘peradaban’ sehingga sangat mungkin fungsi kontrol yang ada tidak berjalan (toh tidak ada yang tahu, pelanggar melenggang santai, penegak di daerah ini juga enggan melakukannya, begitu kira-kira). Secara letak geografis daerah ini juga cukup terisolasi, dari kota Luwuk daerah ini harus ditempuh selama 7-8 jam dengan kondisi jalan yang “aduhai” bikin sakit pinggang. Ngapain ngurusin penegakan hukum terkait dengan cara tangkap yang tidak ramah lingkungan, lebih baik nempel-nempel ke kebun sawit yang maha luas yang menjamur di wilayah ini?! Hhhhhh! Sudahlah, mari kita terima kekecewaan ini dengan lapang dada, hari ini adalah hari kedelapan kami berada di Morowali Utara, dan ini adalah hari terakhir kami akan mencoba lagi menggaet ikan paling prestisius bernama black bass sebelum lusa kembali ke Jakarta. Jika hari ini juga kosong, usai semua usaha dan doa selama delapan hari ini, maka biarlah kawanan agas dan nyamuk liar mencatat bahwa kami tidak pernah menyerah! Semua usaha, doa, dan dana ini sudah tidak lagi make sense untuk ditumpahkan lebih lama lagi di Morowali Utara ini. Salam wild fishing!




* Image by drone. Recorded and captured by Faisal Umar.

3 comments:

wijayadi said...

Hahahaha....pakai musrik segala ini keren ceritanya

Budiarto R. Sualang, SE IT BALUT 2015 said...

jangan menyerah Bang Michael Risdianto tetap semangat ..masih ada Mbuang-Mbuang, kepulauan Bokan yang setia nungguin kedatangan bang Michael Risdianto dan Bang Joe Michael beserta Tim Trans 7.

Rizaldy Ananda said...

ini oke punya

Popular Posts

Google+ Followers