Wednesday, 13 April 2016

 

Teriring salam untuk seluruh 'keluarga' Dayak saya di Lung Tuyoq & Liuq Mulang, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Catatan kecil ini dibuat di sela-sela waktu suting, di sebuah desa terpencil di Bungku Utara, Sulawesi Tengah.

Awalnya saya hendak mengupload sebuah video ‘prosesi’ sederhana penuh makna yang kami alami di sebuah rumah milik keluarga keturunan hipui (bangsawan) Dayak Long Glaat di Lung Tuyoq, Mahakam Ulu. Tetapi berada di pedalaman Sulawesi Tengah, koneksi internet kurang berpihak, dan juga secara ukuran kantong sebenarnya tidak make sense karena artinya menyedot sangat banyak kuota data internet “anak kos” seperti saya. Hehehehe! Yang pasti jika Anda ingin memahami latar tempat dan waktu yang kami alami saat itu, setidaknya pengunjung blog ini saya sarankan setidaknya membaca dua catatan kecil saya sebelumnya terkait trip ke Lung Tuyoq & Liuq Mulang, kampung orang-orang Dayak Long Glaat, pada awal Maret lalu. Dua catatan tersebut dapat dilihat di: Tentang Perempuan Dayak & Ikan Purba Dalam Kepercayaan Long Gelat. Terlalu banyak kisah manis sebenarnya ketika kami (tim Jejak Petualang Wild Fishing Trans 7) berpetualang bersama Dayak Long Glaat ini, saya akan mencoba menuliskan semuanya disini suatu hari nanti, ketika waktu luang berpihak. Dan sepertinya kisah manis itu terus berlanjut hingga hari ini, banyak sahabat baru dan juga banyak rencana-rencana baru lainnya, tidak terputus begitu saja setelah trip selesai kami lakukan, meski kami telah kembali ke Jakarta dan bahkan sudah kembali berkeliling ke daerah lain di Indonesia

Saya telah berkeliling negeri ini sejak 2005, dan jujur saya katakan begitu banyak orang yang kemudian menjadi keluarga. Mereka berasal dari berbagai suku bangsa, agama, adat yang berbeda, kebudayaan yang berbeda, beragam profesi, dan lain sebagainya. Dan jujur, keluarga baru saya paling banyak berasal dari Tanah Borneo (ada yang dari Punan, Berusu, Ngaju, dan lain sebagainya). Saya bersyukur karenanya sebab diterima dengan apa adanya, diterima dengan kewajaran yang tidak dibuat-buat, diterima dengan sepenuh hati, dengan ketulusan yang sederhana sekaligus sangat berkesan. Terlalu panjang daftarnya jika semua saya tuliskan siapa saja mereka-mereka itu (baik individu ataupun masyarakat). Hampir semua dari mereka hampir pasti juga tidak mungkin bisa membacanya disini, jadi biarlah semua terpatri abadi di dalam hati ini hingga Yang Maha Memiliki mengambil raga dan jiwa ini untuk kembali 'pulang'. Beberapa foto berikut ini dibuat di sebuah kampung terpencil di daerah aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur seperti sudah saya sebutkan di awal namanya Lung Tuyoq, di Kabupaten Mahakam Ulu yang baru berusia tiga tahun. Sekitar 2-3 hari jika kita mengaksesnya dari Balikpapan dengan pesawat-mobil-long boat, dan atau sekitar 2 hari perjalanan melalui sungai jika kita mengaksesnya langsung dari Samarinda dengan kapal kayu tradisional.

Foto-foto direkam di sebuah pagi yang biasa di pedalaman, sebenarnya hasil capture dari video yang dibuat salah satu rekan kami saat itu, sesaat sebelum kami sarapan dan selanjutnya bekerja di hutan dan sungai sekitar kampung. Amaay dan Inaay (bapak dan ibu) sang empunya rumah memanggil kami ke bagian belakang rumah dan terjadilah prosesi pengangkatan anggota keluarga khas Dayak Long Glaat ini. Amaay (ayah) kami bernama Huvat Ding. Dan Inaay (ibu) kami bernama Tukau Lejiu. Keduanya merupakan keturunan hipui Long Glaat, dan rumahnya berada menyatu di belakang Lamin Adat Lung Tuyoq. Nama Dayak Long Glaat saya Ngerung Huvat, bang Joe Michael mendapatkan nama Bayou Tukau, dan kameraman kami Eko Hamzah mendapatkan nama Jenau Huvat. Pemuda yang menjadi pendamping kami ketika proses ini berlangsung  adalah Dalung Lejau dan Minggang Lejau, keduanya keturunan hipui Long Glaat. Bukan maksud saya membuat perbedaan dalam catatan ini tentang hipui dan atau non hipui, saya hanya ingin memberi tekanan bahwa apa yang kami terima ini memiliki konteks dan nuansa yang sangat khusus juga spesial bagi saya. Even misalnya yang melakukannya bukan keturunan hipui sekalipun, bagi saya tetap akan sama berkesannya karena saya mengukurnya semua ini atas dasar hati dan niat baik yang mereka lakukan, dan bukannya strata. Tentang hal menjadi bagian keluarga di masyarakat Dayak, dimanapun itu mereka berada, ada yang bilang, jika kita berada di sebuah kampung Dayak dan kemudian sudah dikasih gelang manik-manik saja maka kita sudah dianggap keluarga, ini lebih-lebih dari itu semuanya. Bahkan jauh sebelum prosesi ini berlangsung, gelang manik-manik yang ada di tangan saya sudah hampir 10 buah jumlahnya yang dipasangkan oleh beberapa keluarga lainnya di Lung Tuyoq. Gelang saya mungkin paling banyak dari semua orang lain saat itu yang datang ke Lung Tuyoq karena dalam rangka persiapan tugas yang kami emban mengharuskan saya berkeliling bertamu dan berbicara ke banyak orang, banyak keluarga. Well, demikian catatan kecil untuk mengiringi foto-foto ini. Semoga kami menjadi anggota keluarga Long Glaat yang membanggakan dan mampu mengharumkan nama keluarga besar Dayak Long Glaat, masyarakat Dayak pada umumnya, dan juga bangsa Indonesia! Amin! Merdeka!






* Videos & photo captured by Minggang Lejau & Eko Hamzah. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers